Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 69 Bertambahnya Daftar Korban


__ADS_3

Malam ini Pangeran Gaurav menginap di istana Alsatia. Di luar hujan turun sangat deras. Berkali-kali terdengar suara petir menggelegar dan kilat menyambar-nyambar.


Entah kenapa malam itu dia merasa agak gelisah dan enggan memejamkan mata meskipun tubuhnya terasa sangat lelah. Dari tadi dia hanya berbaring di kasur dengan pikiran melayang.


Pria itu kemudian duduk bersandar di pembaringan dan matanya tak sengaja mengarah ke jendela kaca yang tertutup tirai panjang berwarna putih.


Bersamaan dengan itu cahaya kilat tampak terang membuat Pangeran Gaurav dapat melihat keadaan di luar untuk sesaat. Saat itulah pria itu melihat ada seseorang sedang berdiri di depan jendela.


Pangeran Gaurav segera beranjak ke jendela untuk memeriksa. Namun di luar sana tidak ada siapa-siapa. Bahkan penjaga yang tadi berjaga di dekat kamarnya, kini tak terlihat. Mungkin penjaga itu sedang patroli atau sudah kembali ke posnya.


Pangeran Gaurav berjalan kembali ke kasurnya dan mencoba memejamkan mata. Pria itu kemudian terlelap untuk beberapa waktu namun tidurnya terganggu ketika telinganya mendengar suara keributan.


Dengan tergesa-gesa Pangeran Gaurav keluar dan berjalan menyusuri koridor menuju arah keributan. Ternyata sudah ada kerumunan yang diiringi suara teriakan histeris.


"Ada apa?" Pangeran Gaurav maju menyibak kerumunan.


Pria itu melihat Puteri Elok berdiri mematung dengan wajah pucat. Di depannya seorang pelayan wanita terbujur kaku dengan kondisi mengenaskan. Tubuh wanita itu tercabik-cabik dengan usus terburai. Darahnya menggenang di lantai granit.


Pangeran Gaurav segera mendekati Puteri Elok dan memeluk wanita itu. Tubuh wanita itu gemetar hebat, jelas sekali jika dia sedang syok. Mungkin ini adalah pertama kalinya dia melihat pemandangan yang mengerikan seperti itu.


"Ayo, kembali ke kamarmu! " Ucap Pangeran Gaurav dengan suara lembut. Dia menuntun Puteri Elok berjalan menuju kamarnya.


Pangeran Gaurav membantu Puteri Elok berbaring dan menyelimuti tubuhnya. Tangannya mengelus kepala wanita itu dan mengecupnya sebagai bentuk empati.


"D-dia dibunuh karena aku! " Air mata menetes membasahi pipi Puteri Elok.


"Sshh...tenanglah! " Pangeran Gaurav berusaha menenangkan Puteri Elok yang mulai tersedu-sedu.


"Ini semua salahku! " Wanita itu memandang Pangeran Gaurav dengan mata basah. Kesedihan dan ketakutan tergambar jelas di matanya.


"Ini bukan salahmu! "


"Seharusnya aku yang mati, bukan dia! Nana.. " Wanita itu meratap pilu.


"Tidak! Bersyukurlah bahwa kau masih hidup. Aku sangat bersyukur karena tidak terjadi apa-apa padamu! " Pangeran Gaurav menatap mata Puteri Elok untuk menunjukkan kesungguhannya.


Kemudian dia memeluk Puteri Elok dan membiarkan wanita itu menangis di bahunya. Wanita bangsawan itu terlihat sangat rapuh bagaikan kelopak dandelion yang ditiup angin.


"Pria itu mengikutiku kemari. Dia akan mengambilku!"


Pangeran Gaurav memandang Puteri Elok dengan bingung.


"Pria siapa? "


"Pria yang kutemui di padang rumput Masserjarvi." Suara Puteri Elok menyiratkan ketakutan.

__ADS_1


*****


"Bagaimana ini bisa terjadi lagi? " Raja Satria sangat geram ketika mendapat kabar tentang penemuan korban pembunuhan lagi.


Pria itu langsung bergegas menuju lokasi kejadian bersama para pengawalnya. Kali ini lokasinya adalah pinggiran sungai yang jauh dari pemukiman. Disana sudah ada Penyidik Kerajaan yang bernama Radit.


"Apa kau sudah mengetahui identitas korban? " Raja Satria menanyai penyidik yang baru selesai memeriksa mayat korban.


"Sudah ada warga yang mengenali lelaki ini. Namanya adalah Seno, dia berprofesi sebagai penjual barang antik. Dia memiliki sebuah toko di pasar. "


"Apakah dia juga baru pulang bepergian? "


"Untuk hal itu saya belum mengetahuinya Yang Mulia. Nanti setelah bertemu keluarganya, kita baru bisa mengetahuinya. "


"Apakah ada saksi mata? "


"Ada seorang pemancing yang kebetulan lewat subuh tadi dan menemukan mayat korban tergeletak di sini dalam kondisi mengenaskan. "


"Apa orang itu tidak melihat seseorang?....atau sesuatu?"


"Orang itu mengatakan tidak melihat siapapun. Namun meskipun waktu itu hujan baru berhenti setelah turun semalaman, dia bilang kondisi mayat masih hangat. Jadi diperkirakan dia dibunuh tidak lama sebelum mayatnya ditemukan."


Raja Satria terdiam dan memikirkan segala kemungkinan yang terjadi pada korban. Lalu dia pergi untuk melihat kondisi mayat korban pembunuhan. Radit mengikutinya dari belakang.


"Siapa yang meletakkan potongan tangan itu di sana? "


"Saat ditemukan, potongan tangan itu sudah ada di sana. "


"Apa itu bekas cincin? " Raja Satria menunjuk jari manis pada potongan tangan itu.


Radit mengamati lebih dekat. Terlihat guratan melingkar di pangkal jari tengahnya, sepertinya korban terbiasa memakai cincin. Namun cincin itu sekarang tidak ada.


"Yang Mulia benar. "


"Apakah sisik ikan juga ditemukan pada tubuhnya? "


"Benar Yang Mulia, namun kali ini sisik itu tercecer di tanah. Jadi mungkin, sebenarnya si pembunuh tidak sengaja meninggalkan sisik itu pada tubuh korban. "


"Coba Yang Mulia lihat ini! " Radit menunjukkan jejak kaki yang agak dalam di tanah. Jejak itu menuju ke sungai.


"Jejak kaki siapa itu? Apakah milik si pemancing? "


"Itu bukan jejak si pemancing, kemungkinan jejak itu milik pembunuhnya! "


"Apa kau pernah mendengar tentang Rusalqa, Radit? "

__ADS_1


"Ya, saya pernah mendengarnya. Mereka adalah makhluk setengah ikan mirip para Duyung namun mereka bisa berubah wujud menjadi manusia. " Radit memandang Raja Satria dengan dahi berkerut.


"Apakah Yang Mulia mengira bahwa pembunuhnya adalah makhluk itu? "


"Ya, aku menduganya demikian! " Jawab Raja Satria.


*****


Ratu Gita membawa bayinya ke perpustakaan ditemani oleh dua orang pelayan pribadinya, Esme dan Talitha. Wanita itu tidak sabar menunggu Eldrige kembali supaya dapat menolongnya mencari tahu lebih banyak tentang makhluk yang sedang berkeliaran meneror ketentraman Kerajaan Elfian.


"Temanilah Puteri Juwita karena aku ingin mencari beberapa buku." Ratu Gita menyerahkan bayinya ke pelukan Esme.


"Baik, Yang Mulia." Kedua pelayan itu menjawab bersama-sama.


Ratu Gita berjalan perlahan menyusuri rak-rak yang tinggi dan dipenuhi buku-buku. Meskipun dia belum hapal letak buku-buku yang diinginkannya, namun dia berhasil menemukan beberapa buku yang terlihat menarik dan mungkin bisa membantu penyelidikan suaminya.


Dengan tekun wanita itu membaca halaman-halaman buku yang berada di hadapannya, namun semua itu masih belum menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu pikirannya.


"Fase mencari pasangan? " Gumam wanita itu.


Menurut buku yang dibacanya, pada usia dewasa bangsa Rusalqa akan mencari pasangan. Namun terkadang, mereka akan memilih manusia untuk menjadi pasangan mereka. Mereka akan menjerat calon pasangannya dengan berpura-pura menjadi manusia.


"Mencari pasangan? Tapi kurasa bukan hal ini yang aku cari. " Ratu Gita kembali membuka-buka halaman buku.


"Rusalqa akan kehilangan sisik-sisiknya saat tubuhnya tidak sehat atau sekarat." Bibir Ratu Gita berkomat-kamit ketika membaca pada halaman berikutnya.


"Apakah Rusalqa yang membunuh orang-orang itu sebenarnya sedang sekarat? "


"Ah, andai saja Eldrige ada di sini! " Ratu Gita menumpukan wajahnya pada kedua tangannya.


"Kenapa kau mengharapkan Eldrige? " Tiba-tiba terdengar suara yang sangat dikenalnya mencela.


"Kau mengagetkan aku! " Ratu Gita tersenyum melihat suaminya sudah berdiri di belakangnya.


"Kau mengunjungi perpustakaan setiap hari apakah karena merindukan penjaganya? " Raja Satria cemberut.


"Jangan berkata seperti itu, sayang. Aku kemari untuk membantumu. Lihatlah yang kutemukan!" Ratu Gita segera menghampiri suaminya dan mengajaknya duduk dan menunjukkan buku yang sedang dibacanya.


"Kau masih mengira bahwa makhluk yang bernama Rusalqa itu adalah pelaku pembunuhan ?"


"Iya."


"Kalau begitu, bagaimana jika kau membantuku untuk menangkapnya? "


Ratu Gita terdiam sesaat, namun akhirnya dia menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2