
Hal pertama yang dilihat oleh Puteri Juwita ketika dia membuka mata pada pagi harinya adalah seraut wajah asing yang tampak berseri-seri memandanginya. Karena terkejut, gadis itu segera melompat bangun.
"Siapa kau?" tanya Puteri Juwita merasa ketakutan.
"Ah, rupanya kau si gadis kecil?" ucap Mandala agak kecewa. Dia berharap jika roh Uma tidak pernah keluar-keluar lagi dari tubuh gadis di hadapannya itu.
"Kau ... Kau lelaki itu!" Puteri Juwita terbata-bata begitu mengenali siapa yang berada di depannya.
"Ah, kau mengingatku?" tanya Mandala.
"Bukankah kau sudah mati?"
"Benar, dan aku hidup lagi. Untuk menemuimu."
"Untuk apa kau menemuiku? Aku sama sekali tidak mengenalmu!"
"Kau memang tidak mengenalku, gadis kecil. Tapi roh Uma yang bersemayam di tubuhmu mengenalku. Sesuai kesepakatan kami semalam, dia akan menetap dalam tubuhmu agar kami bisa bersatu kembali."
"Mana bisa seperti itu? Kalian tidak berhak menguasai tubuhku, akulah pemilik raga ini. Aku berhak menolak keinginan kalian."
"Hahaha, sayangnya kau tidak berdaya melawan kami, gadis kecil. Ah, bagaimana aku bisa terus-terusan memanggilmu gadis kecil sedangkan di dalam tubuhmu bersemayam jiwa kekasihku? Lagipula meski usiamu masih muda, namun tubuhmu sudah tampak dewasa. Kurasa tidak apa-apa jika kami menggunakan tubuhmu." Mandala mengamati sekujur tubuh Puteri Juwita yang mulai terlihat seperti wanita dewasa.
"Kurang ajar! Kau pasti sudah berpikiran mesum! Kalian ... tidak boleh berbuat seenaknya begini!" teriak Puteri Juwita sambil menyilangkan tangan di depan dada.
"Hahaha, jangan cemas. Saat kami nanti bermesraan, aku hanya akan memikirkan Uma." Mandala terkekeh pelan.
"Dasar kurang ajar! Aku tidak akan sudi kau sentuh!"
"Hahaha, saat tubuhmu dikuasai kekasihku, kau mana tahu?" Tangan Mandala bergerak seakan ingin menyentuh pipi Puteri Juwita.
Kemarahan menjalar dari dada Puteri Juwita hingga ke ubun-ubun. Meski dia tahu bahwa Mandala bisa sangat berbahaya namun dia tidak terima jika dilecehkan seperti itu. Tanpa sadar tangan gadis itu melayang ke arah tubuh Mandala.
Duak! Blaar!
Tak disangka, tubuh Mandala yang menjulang tinggi di hadapan Puteri Juwita tiba-tiba terdorong hebat hingga membentur tembok yang sudah rapuh di belakangnya dan menyebabkan tembok itu hancur berhamburan. Hal itu membuat Mandala terkejut, begitu juga dengan Puteri Juwita sendiri yang tidak menyangka bisa mengerahkan tenaga sekuat itu.
"Akh, apa-apaan sih kau ini?" Mandala memijat lengannya yang terasa sakit sambil sesekali menepuk-nepuk tubuhnya yang kotor terkena debu.
"Itu peringatan supaya kau tidak berani macam-macam!" jawab Puteri Juwita ketus meski pikirannya masih diliputi kebingungan.
"Jangan galak-galak. Bagaimanapun juga aku ini suami Uma."
"Itu bukan urusanku. Kuharap kau tidak dekat-dekat denganku kalau tidak mau merasakan pukulan seperti tadi," ancam gadis itu sambil berusaha terlihat tegar.
"Ah, sudahlah. Aku sebenarnya hanya ingin menawari makan, tapi kau malah kasar begini," sungut Mandala sambil meletakkan ayam bakar yang dibungkus daun.
__ADS_1
"Aku tidak lapar."
Kruuuuk ...
Namun sayangnya perut Puteri Juwita berhianat dan langsung bergemuruh.
"Aku tidak akan membiarkan Uma menderita lapar. Sekarang, makanlah!"
Puteri Juwita melirik bungkusan yang menguarkan aroma sedap itu dengan air liur hampir menetes. Namun dia takut jika makanan itu telah diracun.
"Aku tidak meracuni makanan ini. Lihatlah!" Seolah mengetahui kecurigaan Puteri Juwita, Mandala menyuwir daging ayam lalu memasukkannya ke dalam mulut. "Atau kau mau kusuapi?"
"Aku terima makanan ini tapi tolong kau menjauhlah. Aku tidak selera makan jika melihatmu."
"Apa? Bisa-bisanya kau bicara seperti itu, gadis kecil? Kau tidak tahu saja kalau semalam kita berdua sudah ..."
"Cukup! Aku mohon menjauhlah." Puteri Juwita hampir menangis membayangkan apa yang sudah dilakukan Mandala dan Uma menggunakan tubuhnya di saat dia tidak sadar.
"Hahaha ... Aku hanya bercanda. Kau ini mudah sekali menangis. Baiklah, aku menyingkir dulu. Makanlah yang banyak supaya tubuhmu kuat saat nanti kita melakukan aktifitas yang menyenangkan."
"Dasar mesum!" teriak Puteri Juwita sambil mengibaskan tangannya.
Duak! Bruk!
Mandala terdorong ke belakang dan lagi-lagi membuatnya membentur dinding. Namun kali ini tubuhnya sampai terhempas ke luar dari bangunan rumah.
"Tidak usah kau jelaskan. Aku tidak ingin mendengarnya," pekik Puteri Juwita.
"Huh, padahal aku cuma mau mengajak bertanding memanah," gerutu Mandala sambil menjauh.
Puteri Juwita menatap kepergian Mandala dengan kesal. Dan setelah lelaki itu pergi, dia meraih bungkusan yang diletakkan Mandala dan membukanya. Puteri Juwita segera menggigit ayam bakar dan segera berdecak merasakan lezatnya daging ayam yang empuk.
"Hmm, enak juga," gumamnya sambil menikmati makanannya.
Setelah makan dia segera pergi ke sumur yang berada di belakang bangunan itu. Melihat airnya yang jernih, selain ingin minum, Puteri Juwita ingin membasuh tubuhnya. Namun tentu saja dia harus waspada jangan sampai Mandala mengintipnya mandi. Oleh karena itu, dengan susah payah dia mencoba menutup dinding di sekitar sumur dengan papan-papan lapuk yang ditemukannya terserak di sekitar sana.
"Kau sudah mandi?"
Puteri Juwita tidak menyangka bahwa Mandala akan berada di sana begitu dia habis mandi.
"Bukan urusanmu," jawab Puteri Juwita sambil berjalan menjauhi Mandala.
"Setelah ini kita akan ke istana Dewanatha. Seorang pesuruhku sudah menunggu di sana."
"Terima kasih kau mau melepasku."
__ADS_1
"Jangan berterima kasih, aku tidak bermaksud melepasmu."
"Huh, aku seharusnya bisa menduganya," ucap Puteri Juwita sambil menghela napas.
Setelah itu Mandala segera meraih tangan Puteri Juwita namun secara reflek gadis itu menepisnya. "Tolong jangan sentuh aku."
"Lalu bagaimana cara kita ke istana?" tanya Mandala agak jengkel.
"Kita bisa berjalan tanpa saling bersentuhan."
"Lalu mau sampai kapan kita sampai ke istana jika aku harus mengikuti langkahmu?" tanya Mandala lagi.
"Jangan meremehkanku, aku bisa berjalan cukup cepat."
"Tapi tidak secepat lompatanku." Sambil berkata begitu, tiba-tiba tangan Mandala meraih pinggang Puteri Juwita. Dia kemudian langsung membopong tubuh gadis itu. Dalam sekali lompatan, mereka sudah berada beberapa puluh meter ke depan.
*****
Eldrige mengendus udara. Matanya yang merah berkilat manakala menemukan jejak samar aroma tubuh Puteri Juwita. Dia melompati beberapa cabang pohon yang tumbuh rapat. Ketika dia mulai melihat sisa-sisa bangunan desa, Eldrige berhenti.
Tatapan matanya menyorot dingin ke seluruh area bekas desa itu. Dengan langkah tenang dia menuju salah satu bangunan yang salah satu sisinya sudah rubuh. Di sana tampak bekas api unggun dan sisa makanan. Eldrige yakin bahwa belum lama ini Puteri Juwita dan Mandala berada di sini. Namun setelah mencari ke seluruh tempat itu, mereka sudah tidak ada.
"Apa mungkin mereka kembali ke istana?" gumam Eldrige.
Tidak menunggu lama, dia langsung mencabik udara dan melangkah masuk ke dalam lubang dimensi. Dan begitu lubang di ujung sana terbuka, dia sudah berada di halaman belakang istana.
"Tuan Eldrige, Tuan ke mana saja? Saya menunggu di sini semalaman." Tiba-tiba Eshwar datang mendekat.
"Apa kau melihat Puteri Juwita?"
"Itulah yang ingin saya sampaikan, Tuan. Baru saja seorang lelaki datang sambil membopong Puteri Juwita."
"Ke mana mereka?"
"Saya rasa mereka menuju kediaman ibunda raja."
Eldrige segera melangkah masuk ke istana, namun tiba-tiba beberapa prajurit menghadangnya.
"Tuan tidak diperkenankan memasuki istana."
"Aku hanya ingin menjemput Puteri Juwita," jawab Eldrige.
"Maaf, tapi kami diperintahkan untuk melarang Tuan masuk ke istana." Prajurit itu berkata dengan sopan.
"Atas perintah siapa?"
__ADS_1
"Atas perintahku," tiba-tiba seseorang berkata dari arah belakang. Eldrige menoleh dan melihat ke arah orang itu.
"Aku tidak terkejut," sahut Eldrige kalem.