Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 53 Tiga Pria Dan Seorang Bayi


__ADS_3

"Apa kau sudah gila? Untuk apa kau membawanya kemari?" Raja Satria terbelalak heran.


"Gadis ini merindukanmu Yang Mulia! "


Eldrige menerobos masuk dan langsung menyerbu ranjang. Dia membaringkan bayi mungil dalam gendongnya ke atas kasur


"Apa maksudmu Eldrige? Aku di sini bukan untuk piknik! "


"Maaf Yang Mulia, bisakah saya beristirahat sejenak? Saya lelah dari tadi berputar-putar mencari tempat Yang Mulia menginap!"


"Apa selama ini kau mengikutiku Eldrige? "


"Tidak Yang Mulia, saya kemari menggunakan lubang dimensi."


Raja Satria menepuk dahinya. Lagi-lagi Eldrige membuatnya kesal karena membiarkannya berlayar di lautan selama lima pekan padahal dia bisa sampai kemari hanya dalam lima menit.


"Ingatkan aku untuk menendang bokongmu jika lain kali kau seperti ini lagi! "


Raja Satria berkacak pinggang memarahi Eldrige yang sedang berbaring dengan mata terpejam di sebelah Puteri Juwita. Eldrige sudah tidak mendengarkan ceramah dari pemimpin Elfian itu karena dia sudah tertidur pulas.


"Tok.. tok.. tok..!


Raja Satria membuka pintu kamar. Di sana berdiri seorang wanita cantik membawa nampan berisi makanan sambil tersenyum manis. Tapi senyuman wanita itu tiba-tiba menghilang begitu dia memandang wajah Raja Satria. Mulutnya yang bergincu merah itu menganga lebar dan matanya memancarkan kekaguman.


Wanita itu belum pernah bertemu seorang pria setampan itu. Dia hanya bisa menggambarkannya sebagai dewa.


"Bawa masuk! " Perintah Raja Satria.


Wanita itu tersentak dari lamunannya. Dia kemudian masuk dan menaruh nampan itu di atas meja. Matanya menatap Raja Satria dari atas ke bawah sambil menelan ludah seperti orang kehausan.


"Kenapa kau masih di sini? "


"Saya akan memberikan pelayanan istimewa untuk Tuan."


"Pelayanan istimewa? "


"Saya akan melakukan apa saja Tuan. Perintahkan saja, saya dengan senang hati akan melakukan semuanya! "


"Baiklah, aku memang ingin kau melakukan sesuatu. Kemarilah! " Raja Satria berjalan ke arah ranjang.


Wanita itu mengikutinya dengan gembira. Tanpa sadar dia menanggalkan pakaiannya dan melemparnya begitu saja.


"Aku ingin kau memeriksa popoknya! "


Raja Satria berbalik sambil membopong bayinya. Kemudian dia hendak menyerahkannya pada wanita itu. Tapi pria itu sangat terkejut ketika melihat wanita itu sudah setengah telanjang.


"Apa yang kau lakukan? Cepat pakai bajumu lalu segera ganti popok anakku! " Suara pria itu menggelegar.


Wanita itu cepat-cepat memakai pakaiannya lagi. Lalu dia mengambil bayi dari gendongan Raja Satria. Dengan jijik wanita itu mengganti popok bayi itu yang basah dan lengket.


"Kau harus membersihkannya dengan benar. Aku tidak mau anakku sampai iritasi !"


Setelah mengganti popok, wanita itu menyerahkannya lagi kepada Raja Satria. Pria itu memeriksa bayinya dengan puas.


"Aku ingin besok kau kemari lagi. Jangan khawatir, aku akan memberimu tip yang besar." Raja Satria memberikan sekeping perak kepada wanita itu.

__ADS_1


Wajah wanita itu berubah cerah. Dengan membungkuk wanita itu mengucapkan terima kasih kemudian pergi.


"Sekarang tidurlah, Sayangku."


Raja Satria membaringkan bayinya dan menepuk-nepuk pantatnya dengan pelan. Lama-kelamaan mata bayi itu terpejam. Dan dengkuran halus mulai terdengar.


"Eldrige, bangun! "


Dengan telunjuknya, Raja Satria menusuk-nusuk pipi Eldrige. Peri itu mengerjap-ngerjapkan matanya karena merasa tidak nyaman.


"Ayo makan! "


Mereka berdua duduk di depan meja. Raja Satria mengambil senjata andalannya, sebuah garpu pemberian Pangeran Gaurav. Dengan menahan senyum dia memperhatikan Eldrige yang menyentuh sumpit yang tergeletak di sebelah mangkuknya. Dia tidak sabar melihat peri itu kebingungan karena tidak bisa makan menggunakan sumpit.


Tapi Raja Satria kaget saat melihat Eldrige dengan lincah menggunakan sumpit di tangannya. Mulutnya yang tadi tersenyum mengejek, sekarang menganga lebar.


"Kenapa Yang Mulia tidak makan?"


"Kau bisa memakai sumpit? "


"Tentu saja, saya sudah hidup selama 300 tahun. Bagaimana mungkin saya tidak menguasai teknik dasar seperti itu? "


Dengan perasaan sebal, Raja Satria mengaduk-aduk mie dengan menggunakan garpunya. Ternyata hanya dia satu-satunya orang yang tidak bisa memakai sumpit !


*****


Pagi harinya wanita yang semalam datang lagi membawakan susu dan bubur. Dengan telaten wanita bernama Ming itu memandikan dan menyuapi Puteri Juwita.


"Da.. da.. da.. "


"Terima kasih, Ming. Kau bisa kembali lagi nanti, kami akan memanggilmu." Raja Satria kembali memberikan sekeping perak lagi ketika wanita itu hendak pergi.


Pangeran Gaurav datang tepat pada saat wanita itu membuka pintu. Ming memandanginya sesaat kemudian pergi.


"Kenapa wanita itu keluar dari kamarmu?" Pangeran Gaurav berteriak marah.


"Aku yang memintanya." Jawab Raja Satria.


"Kau yang memintanya? "


"Ya, semalam dia sudah ke sini dan aku memintanya datang lagi. "


"Kenapa? Apa kau sudah tidak sabar menunggu Gita? " Pangeran Gaurav sangat geram.


"Aku tidak bisa menunggu istriku untuk melakukannya. Aku senang dia bisa melakukannya untukku."


"Brengsek kau! Aku tidak tahu ternyata kelakuanmu seperti ini! " Pangeran Gaurav menggebrak daun pintu.


"Maksudmu apa sih? Sejak kapan menyuruh seseorang untuk mengganti popok menjadikannya brengsek? Memang kuakui, aku tidak bisa mengganti popok anakku. Tapi itu tidak membuatku menjadi orang brengsek!" Raja Satria menjawab dengan berapi-api.


"Popok? "


Pangeran Gaurav masuk ke dalam kamar dan melihat keponakannya sedang dalam gendongan Eldrige.


"Halo, Paman! "

__ADS_1


Sapa Eldrige sambil melambai-lambaikan tangan Puteri Juwita. Sedangkan bayi itu menatapnya dengan rasa ingin tahu.


"Bayi? Maaf, kukira kau.. dengan wanita itu.. " Pangeran Gaurav tergagap.


"Sudahlah, aku juga kaget waktu mereka datang semalam." Raja Satria menjatuhkan tubuhnya ke kasur.


"Jadi, hari ini kita akan ke mana? " Tanya Eldrige.


"Hari ini kita akan berjalan-jalan mengelilingi kota Baiyun yang indah ini. " Ucap Pangeran Gaurav dengan riang.


"Ayo, jangan bermalas-malasan! " Ujar Pangeran Gaurav.


Kemudian mereka semua turun ke bawah. Hari ini mereka tidak akan menunggang kuda. Mereka akan menyusuri setiap sudut kota Baiyun untuk mencari Ratu Gita.


*****


Chen mengajak Fen untuk mengunjungi Pagoda Putih di dekat sungai Lan Se. Untuk membuat Fen senang, Chen mengajaknya menaiki sampan.


"Sungai ini indah sekali. " Tangan Fen menyentuh permukaan air yang terasa sejuk.


"Kau menyukainya, Sayang? " Tanya Chen sambil memasangkan topi anyam pada kepala Fen.


"Ya, aku suka Chen. "


"Lihatlah bukit-bukit itu, di atas sana ada sebuah rumah yang sangat indah. Dari atas sana kita bisa menikmati pemandangan sungai Lan Se dan hamparan kota Baiyun yang indah. Kalau kau mau, kita bisa tinggal di sana setelah menikah. "


Fen tidak suka setiap kali Chen membicarakan tentang pernikahan. Baginya tidak akan ada pernikahan jika belum terbukti bahwa Chen benar-benar tunangannya.


"Boleh aku tahu siapa Nona Bao Yu?" Fen mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Kau tahu dari mana soal Nona Bao Yu? " Kening Chen berkerut.


"Aku mendengar para pelayan dari gedung utama membicarakannya. "


"Nona Bao Yu adalah cucu dari Tuan Liu. Ayahnya adalah seorang pangeran, sedangkan ibunya telah meninggal. Sejak kecil kami telah berteman."


Fen terdiam. Dia ingin mengatakan bahwa wanita yang pantas mendampingi Chen adalah Bao Yu bukan dirinya, tapi Fen menahan diri.


"Tapi jangan khawatir, aku tidak memiliki hubungan romantis dengannya." Chen mengelus pundak Fen dengan lembut.


Fen mengangguk. Suasananya menjadi sangat canggung dan tidak nyaman di antara mereka.


Sampan yang mereka naiki kemudian melewati rombongan yang terdiri dari tiga orang pria yang sedang bersiap menaiki sampan. Mereka bertiga mengenakan jubah dengan penutup kepala. Pria yang paling tinggi menggendong seorang bayi di dadanya.


Saat salah seorang dari mereka menoleh ke arah Fen, entah kenapa mata pria itu seakan menghipnotisnya. Pria berkulit putih itu memiliki sorot mata ungu yang hangat. Dan entah kenapa, rasanya Fen tidak ingin berpaling darinya.


"Fen, apa kau melamun lagi? "


Panggilan Chen membuatnya berpaling. Dia menggeleng ke arah Chen.


"Tidak Chen, aku tidak melamun. "


Saat wanita itu mencoba menoleh kembali ke arah pria tadi, sampan yang dinaikinya sudah melaju terlalu jauh meninggalkan ketiga pria itu di belakang.


"Ataukah aku memang sudah melamun?" Bisiknya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2