Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 165 Ditolak


__ADS_3

"Saya ingin melamar Puteri Juwita."


Seketika semua mata tertuju pada lelaki jangkung yang berdiri menghadap Raja Satria dan Ratu Gita. Meski begitu, tak terlihat sedikitpun rasa gentar di mata merahnya, yang ada hanya tekad yang kuat.


"Jadi ini maksudmu mengumpulkan kami di sini?" Raja Satria memandang Eldrige.


"Benar. Saya tidak ingin menunda lagi," jawab lelaki jangkung itu. Sikapnya masih saja tenang.


"Sayang?" Ratu Gita memandangi wajah suaminya dengan perasaan bingung. Dia merasa suaminya itu telah mengetahui hal ini sebelumnya.


"Aku telah mengizinkan Eldrige melamar Juwita jika bisa membawanya kembali," jawab Raja Satria.


"Jadi begitu?" Ratu Gita mengangguk. "Apa kau mencintai Juwita?"


"Iya, saya sangat mencintainya," Eldrige mengangguk mantap.


"Bagaimana denganmu, Juwita? Apa kau mencintai Eldrige? Maukah kau menikah dengannya?" Ratu Gita mengalihkan pandangannya pada putri sulungnya yang duduk di sebelahnya.


Namun bukannya menjawab, gadis itu malah mengedarkan pandangannya ke semua orang yang hadir. Ke arah ibunya, ayahnya, Eldrige dan terakhir ... seorang wanita cantik yang duduk agak jauh dari mereka, Nona Sekar.


"Juwita?" tanya ibunya lagi.


"Ah, aku lelah ibu. Bisakah kita bicarakan hal ini lain kali?" gadis itu memandang ibunya dengan raut letih.


Alis Eldrige terangkat. Pandangan matanya menelisik raut wajah kekasihnya. Dia tidak mengerti kenapa seolah-olah gadis itu enggan menerima lamarannya.


Tidak hanya Eldrige yang merasakan hal itu, tapi juga semua orang di sana. Raja Satria memandang ke arah Puteri Juwita, naluri kebapakannya timbul. Naluri yang selalu ingin melindungi dan tidak rela menyerahkan putrinya pada orang lain.


"Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan hal ini Eldrige. Yang terpenting aku sudah mendengarkan maksud baikmu," ucapan Raja Satria menurunkan semangat Eldrige. Namun begitu, Eldrige tetap mengangguk patuh.


Tak lama kemudian, Puteri Juwita pamit untuk beristirahat di kamarnya. Setelah itu, karena merasa tidak enak, Raja Satria mengajak Eldrige bermain catur.


Ratu Gita yang menyukai permainan itu langsung bersemangat menonton. Tak seperti biasanya, Eldrige begitu mudahnya menyerah. Ratu Gita akhirnya menyadari bahwa Eldrige sedang kecewa, oleh karenanya dia mengajukan diri untuk menggantikan Eldrige melawan suaminya.


"Kau pergi istirahat saja Eldrige, biar aku yang menggantikanmu bermain," kata Ratu Gita sambil tersenyum.


"Apa? Jadi kau menyerah, Eldrige?" ejek Raja Satria.


Eldrige hanya terdiam. Ratu Gita menyentuh lengan suaminya agar tidak menambah kesedihan Eldrige. Raja Satria mengedikkan bahunya dengan tak acuh.


Kemudian setelah membungkuk hormat, Eldrige keluar dari ruangan itu diikuti oleh Nona Sekar.


"Bagus juga kalau Juwita menolak lamaran Eldrige. Juwita masih terlalu muda untuk menikah," sambil mengucapkan hal itu Raja Satria menjalankan bidaknya.


"Lamaran kan tidak harus langsung menikah. Tapi terus terang saja, aku akan lega jika Eldrige yang menjadi suami Juwita," balas Ratu Gita sambil menggerakkan kudanya untuk melahap benteng suaminya.


"Ah!" pekik Raja Satria dengan gemas. "Aku tidak mengatakan kalau aku tidak menyukai Eldrige, tapi sepertinya Juwita masih belum siap."


"Asal kau berjanji tidak akan mencampuri urusan mereka, sayang." sambil tersenyum lagi-lagi jari-jari Ratu Gita mengayunkan bidaknya menyerang pertahanan suaminya.


"Ah! Sayang, lembutlah sedikit padaku. Masa kau tidak membiarkan bidak-bidakku bergerak?" teriak Raja Satria merajuk.


"Jangan menyalahkan aku, tadi saja kau menyerang Eldrige tanpa ampun," Ratu Gita tersenyum ke arah suaminya.


"Bukan salahku kalau dia kalah begitu cepat, dia saja yang terlalu bodoh."


"Itu karena dia sedang bersedih, tega sekali kau malah mengolok-oloknya."


"Jadi sekarang kau malah membelanya?'


"Jangan bilang kau cemburu lagi. Dia calon suami Juwita."


"Itupun aku masih belum rela," gerutu pria itu.


Ratu Gita menjalankan pion rajanya ke depan sebanyak dua langkah. "Bagaimanapun selama ini yang melindungi Juwita adalah Eldrige."


Sambil menjalankan pion gajahnya untuk mengincar raja milik istrinya, Raja Satria menghembuskan napas kasar. "Aku tahu."


"Yang terpenting adalah kebahagiaan Juwita. Eldrige tidak mungkin berani melamarnya jika mereka tidak saling mencintai." Ratu Gita menjalankan bidak ratunya setelah tadi memancing suaminya dengan bidak raja.


"Dan apa kau tak heran kenapa Juwita malah menolak Eldrige?" tanya Raja Satria keras kepala. Gajahnya melangkah mengejar bidak raja istrinya.


Ratu Gita menggeser ratunya lagi. "Dia tidak menolak, hanya belum memberi jawaban."


"Bagiku sama saja. Mungkin Juwita merasa tidak enak jika menolak secara terang-terangan." Raja Satria semakin mendekati bidak raja milik Ratu Gita.


"Itu jelas tidak sama." Ratu Gita menutup jangkauan suaminya dengan menggeser bidak rajanya.


"Ah, wanita memang makhluk yang rumit," keluh Raja Satria.


"Skak mat!", bidak ratu milik Ratu Gita bergerak secara diagonal lalu mendorong dan menjatuhkan bidak raja milik suaminya. "Kami tidak serumit itu."


"Ah!" pekik Raja Satria karena terkejut.


*****


Puteri Juwita mendongak ketika Eldrige tiba-tiba masuk ke kamarnya dan mata gadis itu menyipit karena kesal.


"Kenapa kau mengacuhkanku begitu saja?" tanya Eldrige yang kini berdiri menjulang di hadapannya.


Kemarahan bercampur rasa jengkel dalam suara Eldrige yang menunjukkan ledakan emosi pria itu membuat Puteri Juwita bertambah kesal.


"Kukira apapun yang kulakukan bukanlah urusanmu, Eldrige," gadis itu berdiri dengan sikap anggun, namun cara dagu mungilnya terangkat menunjukkan kekeraskepalaan.


"Jadi begitu? Kau benar-benar sudah tidak menganggapku?" Eldrige menghembuskan napas kasar. Setelah semua pengorbanan yang dilakukan Eldrige untuknya, rupanya gadis itu ingin membuangnya begitu saja.


"Aku tidak pernah mengatakannya seperti itu, tapi jika itu pemikiranmu, aku bisa bilang apa?" jawab gadis itu.


Kecewa melihat reaksi Puteri Juwita, Eldrige dengan kesal berkata, "Sepertinya ingatanmu lemah. Apa kau lupa apa yang kau lakukan tadi?"


Tentu saja gadis itu ingat apa yang dia lakukan tadi. Tidak menjawab lamaran Eldrige di depan kedua orang tuanya telah membuat harga diri Eldrige terluka.


Namun itu tidak sepenuhnya salahnya, beberapa jam sebelumnya, di kebun istana dilihatnya Nona Sekar menggamit lengan Eldrige dengan erat. Mereka yang tidak menyadari kehadirannya terlihat berbincang pelan seolah-olah sedang menutupi sebuah skandal.


"Aku tidak melakukan apa-apa."


"Tepat sekali. Kau tidak melakukan apa-apa," ucap Eldrige sinis.


Puteri Juwita bertanya ketus, "Kau sendiri bagaimana? Apa yang sudah kau lakukan pada hubungan kita?"


"Kau masih bertanya?" tatapan Eldrige berubah, rasa pedih yang dirasakannya kian menumpuk.

__ADS_1


"Aku tidak menuntutmu menjadi seorang kekasih yang sempurna. Aku mengerti kalau saat ini kau masih dalam keadaan bingung, tapi teganya kau menanyakan hal itu." ucap Eldrige kecewa.


"Sejak kapan kau berhubungan dengan Nona Sekar?" tanya Puteri Juwita tiba-tiba.


"Apa maksudmu?"


"Sejak kapan kau mulai menemuinya secara diam-diam di belakangku?" Puteri Juwita menatap mata Eldrige lekat.


"Hah?" tersentak oleh pertanyaan dangkal itu, Eldrige menjawab kaku, "Aku tidak melakukan hal buruk di belakangmu. Sekar, dia..."


Nama itu membuat Puteri Juwita kontan meremas gaunnya, sementara pendaran kebencian dan kecemburuan menjalari sekujur tubuhnya.


"Nona Sekar!" pekiknya seraya menumpukan kedua tangan ke meja untuk menyeimbangkan tubuh.


"Nona Sekar!" ulangnya, suaranya meninggi, bercampur amarah dan tawa histeris. "Eldrige, jika kau benar-benar menginginkan dia katakan saja. Aku paling benci dikhianati!"


Eldrige, yang tadinya merasa kesal, kini memandangnya dengan iba. Puteri Juwita bertanya ketus, "Apa kau menginginkan dia?"


"Tidak," jawab Eldrige, tatapan matanya kembali lembut, "Satu-satunya wanita yang kuinginkan hanya dirimu."


Bibir gadis itu bergetar mendengar pengakuan Eldrige, antara ingin percaya dan tidak.


"Aku berjanji akan menjelaskan semuanya agar kau tidak salah paham. Aku ... ingin kita memperbaiki semuanya." ucap Eldrige.


"Memperbaiki semuanya?" Puteri Juwita memalingkan pandangannya, "Apa semuanya masih mungkin?"


"Tentu saja. Itu ... jika kau masih menginginkannya." Eldrige perlahan mendekat ke arah gadis itu. "Apa kau menginginkannya?"


Puteri Juwita kembali memandang Eldrige, ke arah matanya yang bersinar hangat dan menentramkan. Mengingat kembali semua yang dilakukan pria itu untuknya.


"Aku mencintaimu," Eldrige mengucapkan mantra ajaib itu sambil mengulurkan lengannya, mengelus rambut keperakan yang tergerai melewati bahu Puteri Juwita.


Dada Puteri Juwita berdenyut, seluruh sel di tubuhnya berteriak menginginkannya.


"Dengar," ucap Eldrige dengan sangat lembut, seluruh ucapannya terfokus pada otaknya, ucapan yang sangat penting ini, tawaran putus asa supaya tidak kehilangan gadis itu. "Aku sudah memikirkan ini. Mungkin kau masih meragukanku tapi ... aku akan membuktikan keseriusanku."


"Aku akan langsung ... " suara Eldrige perlahan menghilang dan digantikan suara dengungan yang memenuhi rongga telinga Puteri Juwita.


Gadis itu mengucek telinganya sambil menatap bibir Eldrige yang bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara.


"Uma."


Dengungan itu hilang lalu digantikan oleh sebuah suara memanggil.


"Uma."


Suara itu terus-menerus memanggil dan menguasai pikirannya. Puteri Juwita menoleh ke jendela. Dengan langkah terburu-buru dia segera membuka kaca jendela. Di luar gelap, tidak ada siapa-siapa kecuali para prajurit yang berjaga di pos di seberang sana.


"Uma," suara itu kembali memanggil. Gadis itu menjadi gelisah, seakan-akan dirinyalah yang dipanggil.


Wajah Eldrige tiba-tiba sudah di depannya, mulutnya bergerak mengatakan, "Ada apa?"


"Eldrige ... apa kau mendengarnya?" Puteri Juwita mencengkeram lengan Eldrige dan mengguncangnya. Namun sosok Eldrige semakin kabur.


"Ada apa ini?" tanya gadis itu kebingungan.


Mendadak tubuhnya seakan terdorong jatuh. Kedua tangannya menggapai-gapai ke udara. Tubuhnya meluncur ke bawah semakin cepat.!


Grep.


"Uma."


Seorang pemuda berparas rupawan menatapnya dengan senyum terkembang. Puteri Juwita merasa mengenalnya tapi dia tidak ingat siapa.


"Kau siapa?" meski bibirnya tidak mampu bergerak, namun pertanyaan itu keluar dengan lancar.


"Aku kekasihmu, Uma."


Puteri Juwita mendadak merasakan perasaan sakit yang teramat kuat pada jantungnya. Dahinya mengernyit dan napasnya terasa berat. Meski begitu, pemuda itu terus saja tersenyum seakan menikmati penderitaannya.


"Aku mengingatmu," Puteri Juwita menatap pemuda itu dengan nanar. "Mandala!"


Perasaan marah tiba-tiba menggelegak. Secara reflek ditepisnya tangan pemuda itu, akibatnya pegangan mereka terlepas dan tubuhnya kembali meluncur turun.


Sensasi pening dan perut terguncang kembali menyergapnya, setelah itu semuanya gelap. Kemudian, samar-samar didengarnya suara-suara. Dan cahaya terang menyeruak menyilaukan mata.


"Kau sudah sadar?" suara Eldrige tertangkap telinganya, matanya yang terasa berat bergerak mencarinya.


"Eldrige ...." ucapnya saat melihat wajah pria itu yang tengah menatapnya.


"Puteri Juwita telah sadar, tolong panggilkan orang tuanya." Eldrige menoleh ke belakangnya. Dari balik bahunya, Puteri Juwita melihat seorang wanita cantik mengangguk. Sebelum wanita itu pergi, mata mereka sempat beradu. Kedua tangan Puteri Juwita terkepal erat di samping tubuhnya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Eldrige ketika pandangannya kembali padanya.


Gadis itu tidak menjawab, dadanya terlalu sesak sehingga tidak mampu berkata-kata.


"Aku takut sekali, Juwita. Aku sungguh-sungguh takut," ucap Eldrige sambil menggenggam tangannya.


Puteri Juwita masih diam, tapi kini air mata mengalir membasahi pipinya. Perasaannya sekarang sangat sukar digambarkan. Sedih, marah dan juga sakit.


"Juwita!" tiba-tiba kedua orang tuanya datang menghambur. Mereka bertangis-tangisan sambil menciuminya bergantian seakan sudah lama tidak berjumpa.


"Syukurlah kau sudah bangun, sayang," ucap ibunya.


"Jangan menangis, ibu. Aku hanya tidur sebentar."


Ucapan Puteri Juwita itu membuat ibunya menangis semakin keras membuat gadis itu terkejut. "Tapi kau tidak sadar selama dua hari!"


"Sayang, sudahlah. Kau menakuti putri kita," Raja Satria berbisik di telinga istrinya namun masih terdengar oleh Puteri Juwita.


Eldrige langsung mendekat dan menggiring keduanya ke luar. Dan di ruangan itu kini hanya tersisa seorang wanita yang sedari tadi terdiam di dekat pintu.


"Kau lupa pada peringatanku," wanita itu berjalan mendekat.


"Apa ini semua ulahmu?" tanya Puteri Juwita.


"Sayangnya bukan," wanita itu menggeleng pelan. "Hidupmu rupanya lebih rumit dari yang kuduga, jadi aku tidak perlu lagi melakukan apa-apa."


"Lalu apa yang kau inginkan?"


"Tinggalkan Eldrige. Sebagai imbalannya akan kubantu kau terlepas dari cengkeraman dewa Murr."

__ADS_1


"Dewa Murr?"


"Dia adalah dewa dari segala kepahitan. Dia terbentuk dari jelmaan dewa yang mengakhiri hidupnya sendiri sehingga rohnya tidak dapat kembali ke Mayapada. Rohnya mengembara dan bersemayam di kuil pemujanya."


"Apa hubungannya denganku?"


"Dia menyukaimu. Dia memilihmu untuk menjadi cangkangnya."


"Kau pasti berdusta kan?"


"Aku tidak berdusta."


"Apa Eldrige tahu?" Puteri Juwita bertanya lirih.


"Dia hanya mengira kau terpengaruh mantera."


"Kenapa kau tak memberitahunya?" tanya Puteri Juwita curiga.


"Karena aku tidak ingin dia berkorban lebih jauh lagi. Kau sendiri tahu kan kalau tubuhnya semakin melemah? Bisa-bisa nyawanya melayang demi menyelamatkanmu. Apa itu yang kau inginkan?" Wajah Nona Sekar menegang.


"Tidak ... tentu tidak," Puteri Juwita menggeleng.


"Diantara kita yang bisa menolong Eldrige hanya aku. Sedangkan denganmu ... dia bisa mati."


"Ucapanmu bisa saja hanya untuk memaksaku melepaskan Eldrige."


"Apa kau mau bertaruh? Apakah kau baru puas setelah Eldrige kehilangan nyawa?" desak Nona Sekar.


Puteri Juwita merasa terpojok, seolah terkepung berbagai kenyataan yang menyakitkan. Tangannya memegangi dada karena jantungnya kembali terasa nyeri.


"Tapi apakah Eldrige akan bahagia denganmu, Nona Sekar?"


"Aku akan pastikan Eldrige bahagia bersamaku. Masih belum terlambat untuk kembali menjadi dirinya yang dulu."


"Jika kau sungguh-sungguh bisa membahagiakannya, aku bersedia melepaskan Eldrige untukmu." Air mata mengalir begitu saja tanpa bisa dicegah.


Tepat setelah mengatakan itu, pria yang sedang mereka bicarakan masuk sambil membawa mangkuk. Eldrige langsung melangkah menghampiri pembaringan, sementara Puteri Juwita buru-buru menghapus air matanya.


"Terima kasih sudah menjaga Juwita. Sekarang kau boleh keluar, Sekar."


Nona Sekar keluar tanpa merubah ekspresi wajahnya, namun sekali lagi hanya matanya yang menyorot tajam saat berpapasan dengan mata Puteri Juwita.


"Kepulangan kita ditunda sampai kau sembuh, tapi orang tuamu mungkin harus mendahului karena ada hal yang mendesak."


"Aku ingin ikut mereka pulang," bantah Puteri Juwita.


"Tidak bisa. Aku terpaksa bersikeras melarangmu," kali ini Eldrige tidak akan mengalah. "Lagipula orang tuamu pun telah memutuskan demikian."


"Kenapa kau membuat semuanya menjadi rumit, Eldrige? " suara Puteri Juwita terdengar letih.


"Apa maksudmu?"


"Aku ingin membebaskanmu dari kerepotan mengurusiku."


"Aku akan menganggap kau tidak pernah mengatakannya. Sekarang makanlah bubur ini," tanpa menghiraukan protes gadis itu, dia menyendok bubur dan menyuapinya.


Terpaksa Puteri Juwita menelan bubur itu meskipun rasanya tercekat saat meluncur melewati tenggorokannya.


"Aku ingin berpisah denganmu, Eldrige," ucapnya setelah dengan susah payah berhasil menelan buburnya.


"Aku tidak mau," Eldrige tanpa berhenti menyendok bubur.


"Jangan keras kepala, Eldrige!" Puteri Juwita menolak bubur yang disuapi Eldrige.


"Aku tidak akan menerima alasan apapun."


"Apa kau harus mendesakku, Eldrige? Aku tidak ingin mengatakan hal-hal yang akan lebih menyakitimu."


"Aku tidak perduli."


"Baiklah jika kau mendesakku. Aku ... tidak lagi mencintaimu," sambil memalingkan wajah, Puteri Juwita mengucapkan kata-kata kejam itu.


"Aku tidak percaya," balas Eldrige.


"Hah ... kau boleh tidak mempercayainya, tapi aku mengatakan yang sebenarnya."


"Katakan sekali lagi jika kau tidak mencintaiku!"


"Aku tidak mencintaimu," suaranya sedikit tercekat saat mengatakannya. Bahkan, matanya pun mulai berkabut.


"Lihat aku saat kau mengatakannya!" desak Eldrige.


Puteri Juwita mengerjap beberapa kali untuk menghalau air mata yang sudah siap-siap mengalir, kemudian dia menatap Eldrige tepat pada matanya.


"Aku tidak mencintaimu."


"Kenapa?" mata Eldrige terlihat berembun membuat hati Puteri Juwita seakan disayat.


"Entahlah. Mungkin karena aku bosan padamu."


"Bosan?"


"Kau tidak lagi menarik di mataku, Eldrige."


"Apa? Aku akan mengabaikan ucapanmu barusan. Jika tujuanmu mengucapkan kata-kata menyakitkan itu untuk menyingkirkanku, sayang sekali itu tak akan berhasil," meskipun sesungguhnya hatinya terluka namun Eldrige berusaha menepisnya.


"Kalau kau memaksaku untuk terus bersamamu aku akan ... membencimu." Gadis itu tidak tega mengatakannya namun kalimat itu meluncur juga.


Eldrige membeku mendengarnya. Berjauhan dengan gadis itu memang sangat menyakitkan. Tapi dibenci gadis itu rasanya lebih menyakitkan.


"Apa kau benar-benar membenciku? Apakah hubungan kita membebanimu? Inikah alasannya kau selalu menghindariku dan ... tuduhanmu bahwa aku diam-diam menjalin hubungan dengan Sekar hanya alasan saja?"


Baru kali ini Puteri Juwita melihat kesedihan dan keputusasaan yang sangat mendalam di mata Eldrige. Bahkan dulu saat dirinya menghadapi hukuman mati, Eldrige tidak sampai seperti ini.


"Apa kau sekarang sudah mengerti?" tanya Puteri Juwita dengan memendam rasa sakit.


"Apa jika aku melepasmu kau akan bahagia?"


"Iya Eldrige, aku akan bahagia," jawabnya tegar.


Eldrige menaruh mangkuk bubur di atas meja dengan asal. Kedua tangannya meraup wajahnya yang sudah dibasahi air mata. Dia tidak pernah menyangka akan tiba hari dimana dia harus rela melepaskan gadis itu.

__ADS_1


"Asal kau bahagia, aku rela melepasmu." Setelah mengucapkan hal itu dia segera meninggalkan tempat itu tanpa berpaling lagi.


Sementara itu gadis yang tadi meminta lepas darinya kini tenggelam dalam lautan air mata.


__ADS_2