
"Aku tidak mau berhubungan dengan manusia. Kalian semua penipu! " Viviane menatap tajam ke arah mantan selir itu.
"Kau bisa mempercayaiku. Aku bisa membuktikannya. "
"Bagaimana caranya? "
"Aku bersedia mengantarmu ke Masserjarvi asal kau bersedia membantuku setelah kau berhasil menjadi pengantin Raja Pelvis." Mayang tersenyum licik.
Rusalqa betina itu sudah hampir berminggu-minggu berkeliaran tak menentu akibat ulah manusia-manusia biadab, tentu saja dia tidak bisa mempercayai wanita itu begitu saja.
"Aku merasa kau orang yang licik! "
"Meskipun begitu kau tidak punya pilihan lain selain mempercayaiku, Viviane. "
"Dengan kondisi tubuh seperti itu kau tak bisa datang tepat waktu untuk menghadiri upacara pernikahanmu nanti malam. Lihat, sebentar lagi gelap! "
Viviane menyadari bahwa perkataan wanita itu benar. Dia tidak mungkin mencapai Masserjarvi tepat waktu dengan berjalan kaki.
"Baiklah." Viviane akhirnya menyerah.
"Tunggu disini, aku membawa kereta kuda. "
Mayang berbalik dan berjalan meninggalkan Viviane. Tak lama kemudian dia datang lagi dengan kereta kuda. Viviane segera naik ke dalam kereta dan duduk menyandar. Tubuhnya terasa sakit semua.
Mayang kemudian melajukan keretanya cepat-cepat menuju ke padang rumput Masserjarvi.
Langit sudah gelap sepenuhnya ketika mereka meninggalkan perbatasan wilayah Kerajaan Elfian. Mayang terus memacu kudanya melewati tebing-tebing dan desa-desa. Di ufuk timur, bulan mulai muncul di cakrawala. Sudah tidak ada waktu lagi, mereka harus segera sampai di Masserjarvi.
*****
Puteri Elok menyelam ke dalam telaga yang berada di dalam gua bersama Pangeran Sagar. Mereka melewati terowongan yang airnya gelap dan dingin. Kemudian mereka memasuki dasar telaga yang luas.
Puteri Elok sama sekali tidak mengingat rute ini karena saat dia dibawa oleh Raja Pelvis, wanita itu dalam keadaan pingsan.
Selama beberapa menit mereka terus berenang sambil berusaha menahan napas sampai paru-paru terasa hampir meledak. Di atas sana permukaan air mulai tampak. Dengan sekuat tenaga mereka berusaha naik ke permukaan.
Saat kepala mereka keluar ke permukaan air, secara spontan mereka segera menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Kakak, ayo kita ke arah sana. Eldrige sudah menunggu kita."
"Baik."
Mereka mengayunkan lengan untuk segera mencapai daratan.
Beberapa prajurit yang melihat keduanya segera mencebur ke telaga untuk menolong mereka. Sedangkan sisanya tetap bersiaga sesuai instruksi dari Eldrige.
Namun sebelum para prajurit sampai, tiba-tiba mereka merasakan ada tangan-tangan yang menarik kaki mereka untuk kembali masuk ke dalam telaga.
Mereka berusaha menendang-nendang untuk membebaskan diri namun sepertinya ada lebih banyak lagi tangan-tangan yang menarik ke dalam telaga.
Kepala mereka sudah kembali tenggelam di dalam air, hanya tersisa tangan yang menggapai-gapai di permukaan air.
Tiba-tiba Puteri Elok dan Pangeran Sagar merasakan sesuatu membelit tangan mereka kemudian mengangkat tubuh mereka ke udara hingga mereka bisa melihat tangan-tangan yang menggapainya di permukaan air telaga.
Tubuh mereka melayang di udara menyeberangi telaga dan mendarat dengan sempurna. Sesuatu yang membelit tangan mereka kemudian lepas dan ditarik kembali oleh seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut berwarna keperakan yang berkibar-kibar ditiup angin.
"Eldrige! "
Mereka berdua memekik ketika melihat Eldrige berdiri menggulung cambuknya. Mereka segera berlari dan memeluk peri itu dengan penuh rasa syukur.
__ADS_1
"Tubuh kalian basah kuyup." Eldrige tersenyum ketika dipeluk kedua bangsawan Kerajaan Altasia itu. Matanya yang semerah ruby bersinar hangat.
Kemudian Eldrige segera memutar jarinya di udara dan membentuk seberkas cahaya berwarna kuning terang. Cahaya itu menyinari Puteri Elok dan Pangeran Sagar sehingga tubuh mereka segera kering dan hangat. Eldrige juga menyinari prajurit-prajurit yang tadi masuk ke dalam telaga.
"Eldrige, tolong selamatkan Pangeran Gaurav! " Puteri Elok menangis di dalam pelukan Eldrige. Wanita itu kini merasa sangat menyesal telah mengabaikan Pangeran Gaurav.
"Jangan cemas, Pangeran Gaurav pasti akan selamat. " Perkataan Eldrige menenangkan hati Puteri Elok.
Eldrige memerintahkan dua orang prajurit untuk menjaga Puteri Elok dan Pangeran Sagar. Sedangkan sisanya tetap bersiaga.
*****
Pangeran Gaurav kembali berhadapan dengan Raja Pelvis. Pria itu tahu bahwa disini dia hanya akan mengantarkan nyawanya. Pasukan Raja Pelvis pasti akan menghabisinya meskipun dia bisa mengalahkan pria itu. Dia harus mencari cara untuk bisa kembali ke daratan.
"Berani sekali seorang manusia mengambil pengantinku. Kau tak akan bisa lolos! " Ucap Raja Pelvis dengan geram.
"Wanita itu adalah tunanganku, dia calon istriku. Kaulah yang menculiknya! " Jawab Pangeran Gaurav.
"Dia mengikutiku atas kemauannya sendiri. Kau bahkan mendengar sendiri dia mengatakan bahwa dia mencintaiku. "
"Dia berbohong untuk melindungiku, karena dia sangat mencintaiku!"
"Kau membodohi dirimu sendiri." Raja Pelvis benar-benar marah.
"Kau yang bodoh, seharusnya kau mencari wanita dari bangsamu sendiri bukannya mencuri wanita dari bangsa manusia! "
"Aku tidak pernah mencuri, mencuri adalah perbuatan seorang pengecut. "
"Kalau kau bukan pengecut, mari tanyakan sekali lagi kepada Puteri Elok siapa diantara kita yang dia cintai! " Tantang Pangeran Gaurav dengan senyum meremehkan.
"Aku tidak takut. Bukankah sudah jelas kalau wanita itu mencintaiku? "
"Ayo buktikan! "
Raja Pelvis kemudian melompat ke dalam air dengan gaya yang sangat indah. Dia berenang dengan gesit menerobos lumpur dan air yang dingin tanpa takut kehabisan napas.
Pangeran Gaurav mengikuti berenang di belakangnya. Dia bisa melihat puluhan pasang mata yang bersinar di dalam air sedang mengawasinya. Namun tak ada satupun yang berani menyentuhnya.
Rupanya Raja Pelvis sudah memerintahkan para Rusalqa untuk tidak mencampuri urusannya dengan Pangeran Gaurav. Dalam hal ini Pangeran Gaurav merasa sangat bersyukur.
Di atas sana cahaya mulai terlihat, Pangeran Gaurav menggerakkan tangan dan kakinya agar tubuhnya bisa segera naik ke permukaan. Saat kepalanya muncul di permukaan telaga, langit sudah hampir sepenuhnya gelap.
Pangeran Gaurav tidak melihat Raja Pelvis, dia terus menggerakkan lengannya yang kokoh untuk berenang mencapai tepian. Dilihatnya sekumpulan prajurit berjaga di daratan.
Kemudian Pangeran Gaurav naik ke tepian telaga yang licin dan berlumpur kemudian berjalan melintasi rerumputan.
"Pangeran Gaurav, kau selamat? " Eldrige tersenyum senang. Nampaknya peri itu sudah menduga bahwa dia akan berhasil kembali, tidak ada raut cemas di wajahnya.
"Kau tidak mencemaskanku, Eldrige? "
"Sama sekali tidak, aku percaya dengan kemampuanmu. "
Pangeran Gaurav tergelak mendengar perkataan Eldrige. Dia tahu Eldrige sedang
mengejeknya.
Eldrige menyinari Pangeran Gaurav sehingga tubuh pria itu kembali kering.
"Dimana Raja Pelvis? " Pangeran Gaurav mencari-cari keberadaan Raja Pelvis.
__ADS_1
"Dia di sana! " Eldrige menunjuk ke arah tepian telaga. Di sana ada seorang pria berdiri seperti patung. Para prajurit tidak ada yang berani mendekatinya tanpa perintah Eldrige.
"Dia ingin menemui Puteri Elok untuk menanyakan siapa yang akan dipilihnya. Raja Pelvis atau aku. " Pangeran Gaurav berbicara sambil memandangi rivalnya itu.
"Begitu rupanya caramu bisa meloloskan diri dari dalam sana? " Eldrige tersenyum senang.
"Meskipun aku kalah tenaga, tapi aku masih punya akal. " Pangeran Gaurav tertawa.
Pada saat itulah Puteri Elok datang bersama Pangeran Sagar. Raja Pelvis yang dari tadi tidak bergerak kini langsung berjalan mendekat.
"Istriku! " Panggilnya.
Puteri Elok tidak tahu kalau ada Raja Pelvis di sana. Jadi ketika dia mendengar suaranya, tubuhnya gemetar hebat.
"Eldrige! " Puteri Elok memeluk lengan Eldrige untuk mencari perlindungan.
Raja Pelvis yang melihatnya menjadi sangat marah. Matanya menyorot tajam ke arah Eldrige.
"Lepaskan istriku, Peri! " Perintahnya.
"Puteri Elok bukan istrimu, Raja Pelvis. Saya yakin sudah ada seorang wanita dari bangsa Rusalqa yang sudah disiapkan untuk menjadi pengantinmu." Suara Eldrige sangat tenang dan sopan.
"Aku hanya menginginkannya. Aku sudah jatuh hati padanya." Raja Pelvis berjalan semakin dekat.
"Apa kau tidak bisa merasakannya? " Raja Pelvis memandangi wanita yang sedang menyembunyikan wajahnya pada lengan Eldrige.
"Puteri Elok, bisakah kau mengatakan perasaanmu dengan jujur? " Eldrige menunduk dan memegang bahu Puteri Elok.
Sebenarnya memang Puteri Elok tidak memiliki perasaan romantis pada Raja Pelvis, namun dia bisa merasakan betapa besarnya kasih sayang yang dimiliki pria itu padanya. Dan hal itu membuatnya bimbang.
"Maafkan aku, Raja Pelvis. Aku tak ingin menyakiti hatimu, tapi sesungguhnya aku memang tidak pernah mencintaimu. "
"Tapi tadi kau bilang... Oh, aku mengerti! Pria itu benar. Kau mengatakannya hanya agar aku mengampuni nyawanya. " Suara Raja Pelvis terdengar sangat pilu.
"Maafkan aku! Dari awal aku sudah mengatakan bahwa aku tidak mau. Tapi kau terus memaksa." Ucap Puteri Elok penuh penyesalan.
"Aku tidak bisa melepasmu begitu saja. Salah satu dari kami harus ada yang mati malam ini."
Ucapan Raja Pelvis membuat Puteri Elok kaget. Dia tidak bisa menghadapi hal-hal yang mengerikan lagi.
"Aku tidak ingin salah satu dari kalian ada yang mati! " Puteri Elok menjerit.
"Manusia, ayo lawan aku! " Tanpa menghiraukan ucapan Puteri Elok, Raja Pelvis menarik trisula kembarnya.
"Baik, aku akan meladenimu." Pangeran Gaurav juga menarik pedangnya.
Saat itu tiba-tiba angin dingin berhembus. Langit yang semula cerah kini tertutup mendung. Bulan purnama yang baru terbit kini terlihat suram tertutup awan hitam. Tak lama kemudian, hujan mulai turun.
Trang.. Trang.. Trang..!
Bunyi benturan logam mengiringi kilatan petir yang bersahut-sahutan. Air telaga yang gelap terlihat bergelombang. Beberapa mahkluk setengah ikan mulai naik ke permukaan.
"Aku lupa bahwa pemimpin Rusalqa mampu mengendalikan hujan. " Eldrige berkata sambil memperhatikan jalannya pertarungan.
"Maksudmu, Raja Pelvis yang menyebabkan hujan ini? "
"Benar. Raja Pelvis tidak akan merasa lelah selama tubuhnya selalu basah. Sekuat apapun Pangeran Gaurav, dia tidak bisa mengalahkan Raja Pelvis. "
"Eldrige, lakukan sesuatu! " Puteri Elok menatapnya penuh harap.
__ADS_1
"Kau telah mengucapkan mantera ajaibnya, Tuan Puteri. Aku akan melakukan sesuatu."
Eldrige segera memutar-mutar jarinya ke udara dan menimbulkan pusaran angin yang berpusat pada jarinya dan terus membesar ke atas hingga menyentuh awan-awan.