Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 93 Tugas Tambahan


__ADS_3

"Strix? " Bu Padma terlihat kaget mendengar ucapan Eldrige.


"Bukankah bangsa Daemonie telah menyingkir dari Liga Kerajaan? " Kedua tangan Bu Padma mengepal di bawah dagunya.


"Saya rasa mereka menyusup kemari. Kemungkinan mereka menggunakan jalur udara di malam hari, dengan cara itu mereka mungkin bisa melewati penjagaan perbatasan."


"Saya rasa ini adalah hal yang serius, kita harus melaporkannya pada Raja Sagar. "


"Saya juga berencana seperti itu, tapi Raja Sagar saat ini pasti sedang berada di Kerajaan Watu Ijo untuk menghadiri Pertemuan Liga Kerajaan."


"Tapi sekolah ini membutuhkan penjagaan dengan segera. Saya tidak bisa membayangkan jika ada wali murid yang mengetahui hal ini." Wajah Bu Padma mengeras.


"Saya akan mencoba melindungi sekolah ini sampai Raja Sagar kembali. " Ucap Eldrige.


"Benarkah anda mau melakukannya? " Ada binar kelegaan di mata Bu Padma yang berwarna abu-abu.


"Tentu saja, saya tidak akan membiarkan Puteri Juwita dalam bahaya! " Suara Eldrige terdengar datar saja tanpa emosi.


"Saya benar-benar berterima kasih jika anda mau melindungi sekolah ini! " Ucap Bu Padma.


Nona Sekar yang dari tadi diam, kini memandang Eldrige dengan kekaguman. Sejak awal dia mengenal pria itu, Eldrige memang selalu menunjukkan kepedulian dan sikap tanggung jawab.


"Jadi, apakah saya diizinkan untuk tinggal di sini sementara? "


"Tentu saja. Nona Sekar akan menunjukkan kamar anda. " Bu Padma mengalihkan pandangannya pada Nona Sekar.


"Terima kasih, saya permisi. " Setelah membungkuk sejenak, Eldrige keluar mengikuti Nona Sekar.


Sepanjang lorong sekolah, gadis-gadis menatap kagum ke arah Eldrige sambil berbisik-bisik. Mereka sangat penasaran kenapa pria tampan itu masih berada di sini.


Tiba-tiba Eldrige berhenti dan menatap tajam ke arah seorang gadis yang baru memasuki gedung.


"Apa yang kau lakukan? " Suaranya terdengar lembut sekaligus tegas, meminta penjelasan pada gadis itu.


"Aku mau sekolah." Jawab gadis itu sambil mendekap buku-bukunya.


"Siapa yang mengizinkanmu? " Tanya Eldrige


"Aku sudah sehat, Eldrige. Aku bosan jika terus-terusan di kamar. "


"Aku akan menemanimu, kau tak akan bosan." Jawaban pria itu langsung membuat gadis-gadis yang menontonnya bertambah histeris.


Puteri Juwita yang merasa risih segera berjalan ke arah Eldrige dan menarik tangannya, kemudian menyeret pria itu keluar dari gedung sekolah.


"Astaga, Eldrige! Kau membuat teman-temanku histeris! Bisakah kau tidak mencolok? " Gadis itu terlihat sangat kesal.


"Apa maksudmu, Juwita? " Tanya Eldrige tak mengerti.


"Apa kau tidak lihat gadis-gadis itu terus-menerus memandangimu? Atau jangan-jangan kau suka ya, mendapat perhatian mereka? " Puteri Juwita cemberut.


"Aku tidak tahu. Aku tidak pernah berniat menarik perhatian siapapun! " 𝘒𝘦𝘤𝘶𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶. Sambung Eldrige dalam hati.


"Lagipula, apa sih yang kau lakukan di sini?" Puteri Juwita memandang Eldrige dengan tajam, membuat peri itu kebingungan.


"Eldrige akan tinggal di sini untuk sementara waktu. " Tiba-tiba sebuah suara memotong perdebatan mereka.


"Nona Sekar? " Puteri Juwita tersentak kaget.

__ADS_1


"Bu Padma meminta Eldrige untuk membantu menjaga keamanan sekolah. Saya sangat senang karena Eldrige mau menerimanya. " Nona Sekar Sekar berbicara dengan sangat anggun.


"Mari Eldrige, akan kutunjukkan kamarmu! " Nona Sekar tersenyum pada Eldrige dan berjalan melewati Puteri Juwita begitu saja.


"Aku pergi dulu, Juwita! " Eldrige segera menyusul Nona Sekar yang masih berdiri di lapangan untuk menunggunya. Mereka kemudian berjalan menuju gedung asrama bersama-sama.


"Ini serius? " Puteri Juwita memandangi punggung Eldrige dengan rasa tak percaya.


Puteri Juwita sampai ternganga melihat hal itu. Gadis itu merasa kecewa dan kesal bukan main. Sekarang dia benar-benar yakin bahwa ada sesuatu di antara mereka berdua.


*****


Pertemuan Liga Kerajaan telah usai. Beberapa delegasi perwakilan anggota Liga Kerajaan sudah pulang. Namun Raja Satria dan Raja Sagar masih di sana untuk berkumpul dengan keluarga kerajaan yang masih kerabat mereka.


"Bagaimana kabarmu Sagar? " Ratu Gita menyapa sepupu suaminya ketika mereka sedang berkumpul malam itu.


"Kabarku baik, Kak Gita. Beberapa waktu yang lalu aku dan istriku telah bertemu dengan Juwita. Dia benar-benar gadis yang menarik! " Ucap Raja Sagar.


"Terima kasih karena kau mau menemuinya. Meskipun dia terlihat dewasa, namun sifatnya masih kekanak-kanakan." Jawab Ratu Gita merendah.


"Tidak, dia gadis yang cukup bijaksana. Sebenarnya, keponakan istriku datang. Dia hampir seusia dengan Juwita, dan kulihat Ryo mungkin tertarik padanya. Namun putrimu menanggapi pemuda itu selayaknya seorang Puteri yang terhormat! " Rupanya sikap Puteri Juwita yang agak menjaga jarak dengan Pangeran Ryota membuat Raja Sagar terkesan.


"Ryo? " Raja Satria langsung menatap Raja Sagar dengan waspada.


"Pangeran Ryota adalah keponakan istriku, Ratu Akemi. Dia datang ke Alsatia juga untuk bersekolah. " Raja Sagar tidak menyadari aura permusuhan dari Raja Satria begitu dia menceritakan tentang Pangeran Ryota.


Raja Gaurav yang memahami sifat Raja Satria segera mencari akal agar pria itu tidak marah.


"Kudengar sekolah-sekolah di Alsatia sangat ketat? " Tanya Raja Gaurav pada adik iparnya itu untuk mengalihkan pembicaraan.


"Bagaimana dengan siswa yang memiliki fisik yang agak lemah?" Tanya Raja Gaurav.


Raja Sagar memahami arah pembicaraan Raja Gaurav yang menuju pada Puteri Devi.


"Untuk siswa dengan kondisi seperti itu lebih disarankan untuk belajar secara privat. " Jawab Raja Sagar dengan suara lemah.


Raja Gaurav mengangguk paham. Namun tiba-tiba saja dia melihat istrinya menegakkan punggung.


"Aku berencana meminta Eldrige untuk membawa Devi ke Lucshire bertemu Ratu Malea. " Ucap Ratu Elok, wajah wanita terlihat tegar.


"Darimana kau dapat ide seperti itu? " Raja Gaurav merasa agak gusar. Dia tidak bisa membayangkan putri kesayangannya tinggal di tengah hutan.


"Aku yang menyarankannya, Gaurav." Ucap Ratu Gita dengan lembut. Senyuman wanita itu tidak pernah gagal melembutkan hati Raja Gaurav.


"Tapi apakah Ratu Malea akan menerima anakku? " Raja Gaurav terlihat agak ragu.


"Ratu Malea sangat bijaksana. Aku yakin putrimu akan aman bersamanya." Kali ini Raja Satria ikut meyakinkan. Pria itu tidak akan pernah melupakan perjumpaannya dengan penguasa Kerajaan Lucshire itu.


"Kalau menurut kalian seperti itu, aku tak punya alasan lagi untuk menolak." Jawab Raja Gaurav sambil meneguk minumannya.


Senyuman terkembang di bibir Ratu Elok ketika mendengar perkataan suaminya. Dia berharap keputusannya kali ini bisa membawa perubahan yang positif bagi putrinya.


*****


Saat makan malam, Eldrige terlihat bergabung di meja Nona Sekar. Mereka berdua menyantap makanan dengan tenang. Para gadis berbisik dan melempar kode berupa tatapan dan deheman untuk menanggapi kehadiran Eldrige.


Puteri Juwita terlihat menatap sengit ke arah kedua orang itu dan tidak mempedulikan teman-temannya yang ingin menanyakan perihal Eldrige padanya.

__ADS_1


"Kenapa mukamu kusut sekali? " Bisik Ningrum.


"Aku masih tidak enak badan." Jawab Puteri Juwita tidak kalah pelan. Namun entah kenapa saat itu Eldrige langsung menoleh padanya seolah mendengar ucapan gadis itu.


"Pantas saja makanmu sedikit. Bolehkah sosis yang kau singkirkan itu aku minta? Aku suka sekali sosis itu. " Tanya Ningrum.


"Ambillah! " Puteri Juwita memindahkan semua sosisnya ke piring milik Ningrum. Gadis itu tidak menyadari kalau Eldrige mengawasinya dari tadi.


"Apa nanti malam kau tidak lapar? " Tanya Ningrum lagi ketika melihat temannya itu menyudahi makannya.


"Aku masih punya persediaan manisan pemberian pengasuhku." Puteri Juwita tersenyum tipis.


Dahi Eldrige berkerut menatap gadis yang telah diasuhnya sejak bayi itu.


"Huh, malam-malam makan manisan? Pantas saja dia jadi sakit!" Gerutu Eldrige tidak senang.


"Kau suka sekali menguping pembicaraan Tuan Puteri-mu, Eldrige!" Sindir Nona Sekar.


"Dia tanggung jawabku, Sekar! " Jawab Eldrige dengan nada datar.


"Kau salah! Sekarang dia tanggung jawabku." Balas Nona Sekar.


"Bagaimanapun juga aku di sini untuk melindunginya. " Ucap Eldrige sambil memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya.


"Tidak hanya dia, kau berkewajiban untuk melindungi kami semua." Wanita itu meralat ucapan Eldrige.


"Ternyata setelah menjadi ibu asrama kau jadi semakin pintar bicara. "


"Terima kasih atas pujianmu, Eldrige. " Nona Sekar tersenyum sarkastik.


Eldrige mengangkat gelasnya sambil tersenyum ke arah Nona Sekar.


Setelah makan malam, gadis-gadis menikmati waktu istirahat mereka. Puteri Juwita bergegas kembali ke kamarnya di lantai dua. Dia ingin mendinginkan pikirannya yang sejak tadi uring-uringan.


Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka dan teman-temannya masuk ke dalam.


"Apa kau masih sakit? " Tanya Sari sambil menjatuhkan tubuhnya di sebelah Puteri Juwita yang sedang berbaring di ranjang.


"Sudah agak mendingan, kenapa? " Tanya Puteri Juwita.


"Nanti malam kami ingin merayakan ulang tahun Sapna ke delapan belas di kamarnya." Ucap Sari.


"Aku sangat berharap kalian semua bisa datang. Tadi aku mendapat kiriman banyak kue-kue dan permen dari orang tuaku." Wajah Sapna terlihat cerah saat menceritakan hal itu.


"Aku ingin tapi.. " Aku tidak yakin Eldrige akan mengizinkannya. Puteri Juwita menggerutu dalam hati.


"Aku tidak akan memaksamu jika kau masih sakit. Jangan khawatir, aku akan memberimu kue-kue lezat itu! " Sapna ikut duduk di ranjang yang sempit itu.


"Terima kasih, Sapna. Sebelum terlambat, aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun padamu! " Puteri Juwita mengangkat tubuhnya dan duduk di sebelah Sapna kemudian memeluk gadis itu.


"Terima kasih, Juwita! " Sapna tersenyum gembira sambil membalas pelukan gadis itu.


Setelah berbincang sebentar, Sari dan Sapna keluar. Puteri Juwita kembali sendirian di kamarnya. Gadis itu segera bergegas mengunci jendela, dia takut Nicolae tiba-tiba masuk lagi ke kamarnya.


Ketika Puteri Juwita berbalik, gadis itu terperanjat melihat ada seseorang di belakangnya.


"Mau apa kau kemari? " Tanya gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2