Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 101 Terhempas


__ADS_3

Ketika Faye tiba di Griya Pitutur dia tidak bisa menemui Nona Sekar. Menurut para staf, ibu asrama itu sedang ada urusan. Dan ketika dia menanyakan soal Puteri Juwita, mereka mengatakan bahwa gadis itu sedang pergi bersama teman-temannya.


Faye memutuskan untuk menunggu. Menjelang sore, gadis-gadis mulai berdatangan ke asrama. Namun Faye tidak melihat Puteri Juwita.


Akhirnya Nona Sekar datang, wanita itu tampak kaget ketika melihat Faye ada di sana.


"Ada apa Faye? Apa kau mencari Eldrige?"


"Tidak, aku kemari untuk menemui Puteri Juwita. "


"Apa dia belum kembali? Aneh, ini sudah larut. Tidak biasanya gadis itu terlambat pulang. " Dahi Nona Sekar berkerut.


"Coba akan kutanyakan pada teman-temannya." Nona Sekar segera pergi.


Wanita itu menaiki tangga menuju lantai dua. Kemudian dia pergi mencari Ningrum, ternyata gadis itu juga tidak ada di kamarnya.


Nona Sekar kali ini mencari Sari karena gadis itu sering bersama-sama dengan Puteri Juwita. Nona Sekar menemukan gadis itu di kamarnya, ada sebuah memar di pelipis kirinya.


"Kau kenapa, Sari? " Tanya Nona Sekar.


"Saya tadi terjatuh, Nona Sekar!" Jawab Sari.


"Apa kau melihat Juwita? "


"Tidak, tadi kami menonton pertandingan Baggata di stadion. Namun saat terjadi kerusuhan, kami semua terpencar."


"Jadi kalian tadi pergi ke stadion? " Nona Sekar tersentak kaget. Dia baru saja dari sana untuk menyelidiki pembantaian yang terjadi di stadion. Sayangnya dia kehilangan jejak para pemuda yang menurut saksi mata segera berubah menjadi burung hitam.


"Apa kau betul-betul tidak melihat Juwita lagi? "


"Saya berani bersumpah, Nona Sekar. Kami terpisah saat terjadi pembantaian yang sangat mengerikan di sana! " Tiba-tiba Sekar menangis tersedu-sedu. Tubuh gadis itu terguncang-guncang.


"Sudahlah, aku tidak menyalahkanmu. Tapi coba kau ingat lagi, apa kau sama sekali tidak melihat Juwita setelah itu? "


"Tidak! " Gadis itu menggeleng, wajahnya basah oleh air mata.


"Bagaimana dengan teman-temanmu yang lain? "


"Saya juga tidak tahu. Nona Sekar, mungkinkah mereka semua terbunuh? " Tubuh gadis itu gemetar.


Nona Sekar akhirnya menyuruh Sari untuk beristirahat dan menenangkan diri. Nona Sekar kemudian keluar dari kamar gadis itu. Sepeninggal ibu asramanya, Sari tersenyum geli. Mudah sekali menipu semua orang, pikirnya.


Nona Sekar kemudian melihat Sapna dan Ratri sedang meringkuk di kamar mereka. Kedua gadis itu terlihat sangat terguncang.


"Apa kalian tadi pergi ke stadion? " Tanya Nona Sekar.


"Iya, Nona Sekar. Tadi kami pergi ke sana." Ratri menjawab dengan gugup.


"Apa kalian bersama Juwita dan Ningrum? " Pertanyaan Nona Sekar seakan membuat mereka kaget.


"Tadinya kami bersama, tapi kemudian kami terpisah saat terjadi pembantaian! " Jawab Sapna.


"Apakah dia pergi dulu atau kalian yang pergi duluan? "


"Sebenarnya, kami bertiga pergi duluan Nona Sekar. Kami tidak menyadari kalau Juwita dan Ningrum masih di dalam." Ratri menjawab dengan suara gemetar.


"Apakah kalian tidak melihat mereka lagi, setelah itu? "


"Tidak." Air mata meleleh dari mata Sapna. Gadis itu betul-betul merasa sedih.


"Kalau begitu, istirahatlah! " Nona Sekar kemudian meninggalkan mereka berdua.


"Bagaimana ini Ratri, kita harus menolong Juwita dan Ningrum! " Sapna bicara dengan suara lirih.


"Tapi kalau kita melakukannya, kitalah yang akan menggantikan mereka! " Ratri menjawab dengan suara lirih juga.


"Aku takut Ratri! "


"Tegarlah, Sapna! Demi nyawamu! "

__ADS_1


Nona Sekar yang masih berdiri di depan kamar mereka, kini melangkah pergi. Wanita itu berjalan menuruni tangga dengan anggun.


Di bawah, Faye sedang berdiri dengan tidak sabar. Gadis itu segera mendekati Nona Sekar begitu dia melihatnya menuruni tangga.


"Bagaimana Sekar? "


"Aku rasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis-gadis itu. Aku hanya harus memastikannya sekali lagi! "


"Aku mendengar dari salah satu gadis tentang pembantaian di stadion tadi siang, apakah Puteri Juwita pergi ke sana? " Raut Wajah Faye tampak tegang.


"Iya, tadi dia ke sana. Teman-temannya berkata kalau mereka terpisah saat kekacauan itu terjadi. Tapi aku tidak yakin." Nona Sekar sedang berpikir keras.


"Ini situasi yang gawat, Sekar! Aku harus segera melaporkannya pada Raja Satria!"


"Benar, kau harus segera melaporkannya! Aku akan mencoba mencari Puteri Juwita! "


"Bagaimana dengan Eldrige? Dimana dia? "


"Eldrige sedang mendapat tugas dari Raja Sagar. Aku juga akan melaporkan hal ini kepada Raja Sagar. Setelah itu aku akan segera mencari Puteri Juwita di sekitar stadion!" Nona Sekar berharap dia tak akan menemukan Puteri Juwita diantara tumpukan mayat.


"Baik Sekar! "


*****


Entah berapa lama Puteri Juwita tertidur. Yang dia ingat, ruangan tempat dia disekap sangat gelap dan dingin sehingga dia tidur dengan tubuh menggigil. Beberapa kali gadis itu terbangun karena tidak tahan dengan hawa dinginnya.


Kini matanya telah terbuka, namun yang dilihatnya hanyalah kegelapan. Puteri Juwita bisa merasakan tubuh Ningrum meringkuk di sebelahnya. Suhu tubuh gadis itu sangat panas. Puteri Juwita takut jika Ningrum jatuh sakit. Puteri Juwita memeluk tubuh Ningrum yang menggigil.


"Ibu.. ayah..aku takut! " Di dalam kegelapan yang pekat Puteri Juwita teringat pada orang tuanya.


Ceklek! Krieeet!


Cahaya terang yang menyilaukan menerjang masuk saat pintu tiba-tiba dibuka. Puteri Juwita merentangkan telapak tangannya mencoba untuk menghalangi cahaya yang menyilaukan matanya.


"Kalian, keluar sekarang! " Suara bentakan yang menggelegar membuat jantung Puteri Juwita serasa mau copot. Seumur hidupnya, gadis itu selalu diperlakukan dengan baik. Tidak ada yang pernah berbicara kasar padanya.


Tiba-tiba seseorang masuk dan menyeret Puteri Juwita keluar. Kemudian tubuh gadis itu dihempaskan begitu saja ke tanah. Puteri Juwita yang tersungkur merasakan perih di lutut dan telapak tangannya.


Gadis itu mencoba mendongakkan kepalanya. Puteri Juwita melihat orang yang tadi menyeretnya, dia seorang lelaki muda bertampang mengerikan. Ada bekas luka memanjang di pipinya dan telinga kirinya cacat.


"Ternyata tangkapan kali ini lumayan juga. Budak ini terlihat istimewa, pasti kita bisa mendapatkan uang yang banyak jika menjualnya! " Lelaki itu terlihat puas.


"Bagaimana dengan yang satu lagi? Seret dia keluar! " Tanya si pria gemuk.


Puteri Juwita segera menoleh ke belakang dan melihat Ningrum sedang diseret oleh seorang pria bertubuh besar yang kemarin menculiknya.


"Jangan kau sakiti temanku, dia sedang sakit! " Puteri Juwita segera berlari ke arah Ningrum dan bermaksud ingin menolongnya.


Namun langkahnya tiba-tiba terhenti dan tubuhnya terpelanting. Kepalanya terasa sakit dan perih. Lelaki tadi rupanya telah menjambak rambutnya dan kembali menghempaskannya ke tanah.


Kini bukan hanya telapak tangan dan lututnya saja yang terluka, namun pipinya yang mulus kini mulai membiru karena menghantam tanah. Bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah.


Puteri Juwita melihat lelaki tadi menyeringai. Lelaki itu membuka telapak tangannya lalu meniup segenggam rambut keperakan miliknya yang tercabut. Gumpalan rambut itu melayang-layang di udara dan akhirnya jatuh tepat di hadapan gadis itu.


"Kau harus diajari cara menjadi budak yang patuh! " Ucap lelaki itu.


Air mata menggenang di pelupuk matanya, namun gadis itu langsung menghapusnya. Saat ini bukan waktunya untuk menangis. Dia harus berani dan mencoba mencari cara untuk lepas dari para penjahat itu.


Lelaki itu kembali menarik rambut Puteri Juwita dan memaksa gadis itu berjalan mengikutinya. Saat mereka tiba di sebuah tempat pemandian, lelaki itu kembali menghempaskan Puteri Juwita. Namun kali ini gadis itu bertahan dan tidak jatuh.


"Cepat bersihkan tubuhmu lalu kenakan pakaian yang sudah disediakan di sana! " Lelaki itu menunjukkan tumpukan pakaian di atas meja.


Puteri Juwita berjalan ke pemandian yang berupa kolam yang tidak terlalu besar yang airnya dialirkan dari sebuah pancuran besar berbentuk segi empat. Di sana sudah ada beberapa wanita yang sedang mandi.


Puteri Juwita ragu-ragu untuk melepas pakaiannya karena para penjaga terlihat sedang menikmati tubuh-tubuh polos tawanan mereka yang sedang mandi.


Akhirnya gadis itu memutuskan untuk masuk ke dalam kolam dengan pakaian yang masih melekat di tubuhnya. Rasa perih yang menyengat segera dirasakannya pada luka-lukanya. Namun Puteri Juwita berusaha untuk menahannya. Dia segera mencuci rambut dan menggosok tubuhnya.


Setelah itu dia keluar dari kolam dengan air yang menetes-netes dari pakaiannya yang basah. Gadis itu langsung menyambar sepotong pakaian dan bersembunyi di balik pancuran untuk berganti pakaian.

__ADS_1


Setelah semua wanita itu selesai mandi, mereka semua dikumpulkan di suatu ruangan. Ada seorang wanita yang duduk di belakang meja. Wanita itu bertugas menulis data-data para budak.


"Siapa namamu? " Tanya wanita itu kepada Puteri Juwita ketika giliran gadis itu tiba.


"Juwita." Ucap gadis itu.


"Kau terlihat berkualitas, akan kumasukkan kau dalam golongan barang berkualitas istimewa! " Wanita itu tersenyum seolah-olah memujinya karena telah menyematkan label barang berkualitas istimewa.


Dalam hati Puteri Juwita merasa sangat terhina karena dirinya hanya dianggap sebagai sebuah komoditi. Dia tidak lagi dianggap sebagai manusia. Sekarang posisinya tidak ada bedanya dengan barang-barang yang bisa diperjual belikan.


Dengan patuh gadis itu berjalan mengikuti rombongan wanita-wanita di dalam barisan. Gadis itu teringat pada Ningrum, dia berdoa semoga temannya itu selamat.


*****


Raja Satria sangat murka begitu mendengar laporan dari Faye. Belum pernah pria itu merasa semarah ini. Dia tidak sabar untuk pergi ke Alsatia untuk mencari putrinya.


Sedangkan Ratu Gita yang mendengar hal itu langsung menjerit histeris. Dia tidak menyangka jika putrinya hilang di tengah kerusuhan. Wanita itu menangis sesenggukan dan akhirnya tak sadarkan diri.


Raja Satria segera meraih tubuh istrinya dan membawanya ke tempat tidur. Tabib Albus segera datang untuk memeriksa Ratu Gita. Sementara ini tabib memberikan ramuan agar Ratu Gita dapat beristirahat agar tidak membahayakan janin dalam kandungannya.


"Dimana Eldrige sekarang? " Tanya Raja Satria.


"Eldrige sedang ditugaskan oleh Raja Sagar untuk memburu Strix. Saat ini Sekar sedang mencari keberadaan Puteri Juwita. "


"Aku akan pergi ke Alsatia, tapi aku akan bicara dulu dengan Dewan Kerajaan. "


Namun setelah melakukan pembicaraan dengan Dewan Kerajaan, mereka tidak menyetujui jika Raja Satria pergi ke Alsatia karena kondisi kerajaan yang masih genting. Raja Satria sekali lagi harus memilih rakyatnya di banding keluarganya sendiri.


"Aku tidak bisa pergi ke Alsatia dan aku juga tidak bisa menyuruhmu untuk mencari putriku karena Kerajaan Elfian membutuhkanmu. Sekarang aku hanya dapat mengandalkan Eldrige dan Sekar! " Raja Satria berbicara dengan berat hati.


Faye memandang Raja Satria dengan iba. Dia mengerti pergolakan batin yang sedang dirasakan pria itu.


*****


Eldrige kembali ke istana Alsatia untuk menemui Raja Sagar. Pria itu membawa serta Raja Pelvis. Pada awalnya Raja Sagar sangat terkejut melihat kedatangan pria itu, masih segar dalam ingatannya peristiwa 15 tahun yang lalu ketika Raja Pelvis menculik kakaknya.


Namun setelah Eldrige memberi penjelasan bahwa Raja Pelvis berniat membantu mereka, akhirnya Raja Sagar mau menerima pemimpin bangsa Rusalqa itu di Kerajaannya.


Kemudian Raja Sagar menceritakan peristiwa berdarah di stadion akhir pekan yang lalu.


"Akhir pekan kemarin terjadi kerusuhan di stadion yang di sebabkan oleh bangsa Daemonie itu. Mereka menyamar sebagai murid-murid Sekolah Pengobatan Elixir dan membantai orang-orang yang berada di stadion. Sayangnya, keponakanku Puteri Juwita ikut hilang dalam peristiwa itu. "


Deg!


Tubuh Eldrige bergetar dan jiwanya terguncang setelah mendengarkan penuturan Raja Sagar.


"Aku sudah mengirim prajurit untuk mencari Puteri Juwita, semoga dia segera ditemukan."


"Saya ingin meminta izin untuk mencari Puteri Juwita karena Raja Satria telah memerintahkan saya untuk melindungi Puteri Juwita! " Eldrige memohon kepada Raja Sagar.


"Tentu saja, Eldrige. Maafkan aku karena telah menyuruhmu mencari jejak para Strix itu sehingga kau tidak bisa melindungi Puteri Juwita. Aku merasa sangat menyesal! " Ucap Raja Sagar.


Setelah berpamitan kepada Raja Sagar, Eldrige dan Pelvis segera pergi menuju sekolah Griya Pitutur.


*****


Di ruang Kepala Sekolah, Eldrige bertemu dengan Bu Padma dan Nona Sekar. Mereka melakukan pembicaraan yang sangat serius mengenai hilangnya Puteri Juwita.


"Saya sangat menyesal karena sampai kehilangan seorang murid. Kami akan bertanggung jawab sepenuhnya. "


"Tanggung jawab seperti apa? " Tanya Eldrige dengan nada dingin. Pria itu menyimpan kemarahan.


"Saya akan berusaha melakukan pencarian dengan bekerja sama dengan Biro Investigasi Kerajaan."


"Bagaimana dengan teman-teman Puteri Juwita? " Tanya Eldrige lagi.


"Mereka mengaku tidak tahu. Tetapi saya rasa mereka sebenarnya menyembunyikan sesuatu!" Kali ini pertanyaan Eldrige dijawab oleh Nona Sekar.


"Jadi gadis-gadis itu sengaja menutupi sesuatu? Antarkan aku pada mereka! " Tangan Eldrige terkepal. Kemarahannya sudah sampai diubun-ubun.

__ADS_1


__ADS_2