Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 41 Mayat Hidup


__ADS_3

Hari sudah sore ketika seorang utusan dari istana datang. Waktu itu Ratu Gita sedang menikmati secangkir teh di teras bersama Esme dan Talitha. Sedangkan kedua pengawalnya, Galih dan Anjas sedang memberi makan kuda-kuda mereka.


Ratu Gita segera berdiri menyambut utusan itu, dia berharap akan mendapatkan sebuah kabar baik.


"Saya diperintahkan untuk membawa Ratu kembali ke istana. Pasukan musuh sudah berhasil kita kalahkan!" Suara utusan itu terdengar penuh semangat dan suka cita.


"Syukurlah!" Ratu Gita merasa sangat lega.


Esme dan Talitha saling berpelukan karena merasa bahagia.


Mereka segera bersiap. Dan tak lama kemudian, mereka sudah berada di punggung kuda dalam perjalanan menuju ke Istana Elfian.


Euforia kemenangan pasukan Elfian, rupanya telah menyebar ke seluruh wilayah Kerajaan. Mereka melihat para penduduk merayakan kemenangan di setiap desa yang mereka lewati.


Rombongan Ratu Gita sampai di istana saat hari sudah benar-benar gelap. Mereka melihat para pekerja yang sedang memperbaiki tembok istana yang hancur dan gerbang yang porak-poranda.


Ratu Gita menghela kudanya melintasi halaman istana yang lengang. Hanya suara derap kaki kuda mereka yang memecah keheningan. Masih tercium jelas aroma bekas pembantaian di tempat ini.


Ketika telah mendekati bangunan istana, Ratu Gita terbelalak kaget melihat Raja Satria sedang menunggunya di pintu masuk. Rasa haru dan rindu kini membuncah di dadanya. Dengan buru-buru dia berusaha turun dari kudanya, namun perutnya yang besar menghambat gerakannya.


Raja Satria segera datang dan membantu istrinya itu. Setelah wanita itu turun dari kuda, Raja Satria langsung memeluknya dengan erat. Kerinduan mereka rupanya telah meluap-luap. Para pelayan dan pengawal yang menyaksikannya ikut merasa terharu.


Pelan-pelan dituntunnya Ratu Gita ke kamarnya agar bisa beristirahat. Ratu Gita berbaring untuk melemaskan kakinya yang pegal. Raja Satria merasa tersentuh ketika melihat kedua kaki istrinya yang bengkak.


"Bagaimana kabarmu, Sayangku? Dan juga bayi istimewa di dalam perutmu ini?" Tangan Raja Satria mengelus perut istrinya yang buncit.


"Aku dan bayi ini baik-baik saja, Sayang." Ucap Ratu Gita dengan napas terengah-engah akibat tekanan bayi di dekat paru-parunya. Beberapa kali tangannya memegangi perut akibat gerakan bayinya yang lincah.


"Aku minta maaf karena kau harus mengalami banyak kesusahan pada keadaan hamil seperti ini." Raja Satria menciumi perut istrinya, membuat wanita itu terkikik geli.


Ratu Gita menggeleng. "Itu semua bukan salahmu. Aku bersyukur kau sudah kembali dengan selamat."


"Aku sangat merindukanmu!" Ucap Raja Satria.


Dipandanginya wajah manis dan menggemaskan yang kini selalu mengisi ruang di hatinya itu. Kemudian matanya terpaku pada bibir tipis berwarna peach yang ranum dan telah lama tak dijamahnya. Tanpa sadar dia menelan ludah, jakunnya bergerak-gerak karena menahan hasrat.


Tanpa menunggu lama, dia segera menyapunya dengan bibirnya. Sudah sangat lama dia tidak merasakan sensasi yang menggetarkan indera pengecapnya itu. Nalurinya menuntunnya untuk merasakan lebih dalam dan menelusuri setiap celah di antara bibir wanita itu.


*****


Malam telah larut. Pergantian piket jaga malam sudah lewat beberapa saat yang lalu. Namun Ratu Gita masih belum bisa memejamkan mata. Dia merasa ada yang ganjil namun tak tahu apa.


Terdengar lolongan anjing bersahut-sahutan, membuat bulu kuduknya meremang. Dieratkannya pelukan di tubuh suaminya untuk mengurangi kecemasannya.


"Tap..tap..tap..!"


Terdengar suara langkah kaki yang samar. Ratu Gita tidak yakin dari mana sumber suara itu berasal. Apakah dari depan Wisma, ataukah justru dari atap gedung ini?

__ADS_1


Raja Satria terbangun karena merasakan gerakan istrinya menggesek-gesek tubuhnya. Ditatapnya wajah wanita itu dengan senyum jahil di sudut bibirnya.


"Apa kau masih menginginkannya lagi?" Tanya Raja Satria dengan tatapan nakal.


"Iiih...apa sih, kau ini?"


Wanita itu memukul pelan dada suaminya dengan wajah tersipu karena digoda.


"Aku mendengar sesuatu, seperti langkah seseorang!" Bisiknya.


"Mungkin itu para pengawal di depan?" Raja Satria mengeratkan pelukannya.


"Tap..tap..tap..!"


"Coba kau dengar itu!" Bisik Ratu Gita lagi.


Raja Satria kemudian menajamkan pendengarannya. Mata ungunya berkilat ketika merasa yakin dari mana asal suara itu.


"Tap..tap..tap..!"


Raja Satria turun perlahan dari tempat tidur dan mengambil pedang yang tergeletak di atas meja. Dia menghunus pedangnya dengan waspada. Kemudian tanpa bicara, dia memberi isyarat dengan ujung jarinya agar istrinya itu tidak bersuara.


Raja Satria berjalan mengendap-endap ke arah pintu. Dibukanya daun pintu perlahan dan mencoba mengintip ke luar. Namun di ruangan itu dia tidak melihat siapapun.


Pria itu kemudian keluar dan menutup pintu di belakangnya. Dia berjalan tanpa menimbulkan suara melintasi ruangan yang temaram, sambil berusaha menghindari kursi-kursi yang berada di tengah ruangan.


Ujung matanya menangkap sekelebat bayangan di dekat jendela. Dia tidak yakin apakah itu manusia atau bukan karena gerakannya yang ganjil.


Kemudian dia berjalan menuju pintu keluar. Dibukanya perlahan dan melangkahkan kakinya ke teras. Di depan ternyata sepi, tidak ada pengawal yang berjaga.


Keadaan ini membuatnya curiga. Raja Satria kembali berjalan dengan pedang terhunus ke depan secara horisontal. Tangan kanannya menggenggam gagang pedang sedang tangan kirinya menopang di bawah, dekat telinga kanannya.


Raja Satria tersentak ketika melihat dua orang pengawal tersungkur di semak-semak. Dia segera memeriksa denyut nadi mereka, namun ternyata mereka sudah tak bernyawa.


Ada luka cabikan besar di leher mereka. Namun anehnya hanya sedikit sekali darah yang menetes di sana. Seolah ada orang yang telah menampung darah mereka.


Raja Satria bergegas mencari pengawal yang lain dan menemukan mereka sedang berjaga di pintu koridor utama.


"Ada dua orang pengawal yang tewas di depan kediamanku! Cepat periksa semua tempat dan segera temukan pembunuhnya!"


"Baik, Yang Mulia!"


Mereka berpencar dan berkoordinasi dengan yang lain untuk menemukan pembunuh yang berkeliaran di istana.


"Tap..tap..tap..!"


"Lihat di atas sana!" Seorang pengawal berteriak sambil menunjuk atap.

__ADS_1


Seseorang berperawakan tinggi besar sedang berjalan di atap Wisma Raja dengan langkah sempoyongan seperti orang mabuk.


"Hei, siapa di sana?" Teriak Raja.


Yang diteriaki segera berhenti, kepalanya menoleh ke bawah dengan senyum menyeringai lebar. Namun bukan aksinya yang ganjil ataupun wajahnya yang menyeramkan yang membuat Raja Satria kaget. Melainkan karena Raja Satria mengenali siapa orang itu. Dia adalah Raja Bharata, orang yang telah tewas di tangannya.


*****


Suara lolongan anjing yang bersahut-sahutan masih menjadi backsound kejadian ganjil malam itu. Sosok aneh yang diyakini Raja Satria sebagai Raja Bharata itu masih berdiri di atap bangunan Wisma Raja. Memandang liar ke arahnya.


Raja Bharata tiba-tiba melompat turun ke hadapan Raja Satria. Rupanya api dendam pada penguasa Elfian itu masih bercokol.


Aroma bangkai yang sangat menyengat segera menyeruak dari tubuh Raja Bharata. Terlihat bekas luka-lukanya mulai mengalami pembusukan.


Bahkan belatung-belatung yang berwarna putih kecil-kecil terlihat menggerogoti dagingnya di lubang bekas tusukan pedang yang kemarin menewaskannya.


"Khiittaa..bberttemmuu..laagii..kaawwaanh..!"


Suara Raja Bharata menggeram aneh seperti suara binatang. Mulutnya yang berlumuran darah menyeringai penuh kemenangan.


"Apa kau Raja Bharata?" Tanya Raja Satria yang masih tak mempercayai penglihatannya. Dengan telapak tangannya dia berusaha menutupi hidungnya.


"Akkuu..kkemmbaali..unttukkmuu..!"


Dengan sempoyongan Raja Bharata mendekati Raja Satria. Bola matanya sangat pucat seperti mata mayat. Tangannya menjulur ke depan berusaha meraih Raja Satria.


"Kau mau apa? Pasukanmu sudah kalah! Aku sudah mengalahkanmu!" Tanya Raja Satria.


"Ttidaakk..Akkuu..ttiidaakk..pernnah..kkalaah!"


"Wuuusss!"


Dengan gerakan menyabet, Raja Bharata berusaha mencabik Raja Satria.


Raja Satria berusaha menghindari serangan Raja Bharata yang bangkit kembali sebagai mayat hidup. Beberapa kali dia menangkis dan memukul tubuh tak berjiwa itu.


"Buugh.. Buugh..!"


Namun serangan Raja Satria sama sekali tidak memberi efek apapun padanya. Malah beberapa kali Raja Satria mendapatkan pukulan di beberapa bagian tubuhnya.


Para pengawal kini sudah berkumpul dan berjaga-jaga di belakang Raja Satria. Mereka menutup hidung, merasa mual karena mencium bau busuk yang sangat menyengat itu.


Ketika melihat pemimpin mereka semakin terdesak, akhirnya mereka bersama-sama mulai menyerang makhluk mengerikan itu.


Meskipun gerakan mayat hidup itu sempoyongan dan terkesan lambat, namun kekuatannya sungguh luar biasa. Dia sanggup menghempaskan beberapa pengawal sekaligus.


"Buugh.. buugh.. Sreet..!"

__ADS_1


Dia bahkan berhasil mencabik leher seorang pengawal menggunakan giginya, lalu meminum darahnya dengan buas. Tubuh pengawal itu menggelepar kemudian diam tak bergerak.


Tanpa sadar, mereka melangkah mundur. Raut ngeri terpancar jelas di wajah semua orang yang melihatnya. Kali ini mereka sedang menghadapi monster mengerikan yang haus darah!


__ADS_2