
Nicolae berteriak histeris dengan pedang yang berlumuran darah jatuh dari genggamannya. Ditatapnya kepala yang menggelinding di dekat kakinya.
"Maafkan aku, Domn! " Ucapnya.
Eldrige yang masih terbaring di tanah menatap nanar ke arah Nicolae. Dia sama sekali tidak menduga bahwa pemuda bangsa Daemonie itu akan membunuh Domn untuk menyelamatkannya.
"Terima kasih, Nicolae. " Eldrige berusaha bangkit berdiri.
"Aku sama sekali tidak bangga dengan perbuatanku. " Suara Nicolae penuh penyesalan.
Eldrige segera menghampiri Raja Satria yang kini tak sadarkan diri. Dengan susah payah dia kembali menggendong tubuh pemimpin Elfian itu.
Nicolae berjalan mengiringi mereka, melindungi dari serangan.
Bugh!
Tiba-tiba Nicolae terjungkal. Pemuda itu tersungkur dengan darah mengalir dari hidung dan mulutnya. Saat dia mendongakkan wajahnya, dia berhadapan dengan tatapan murka sang pemimpin agung, Greve Hedin.
"Penghianat! " Kaki pria bertubuh tinggi besar berpakaian zirah besi itu menendangi tubuh Nicolae.
"Kau lebih busuk dari pada manusia-manusia sombong itu! Kau menghianati saudaramu sendiri! Kau menghianati bangsamu sendiri! " Teriak Greve Hedin sambil terus menerjang Nicolae dengan membabibuta.
Teriakan sang pemimpin agung itu rupanya menarik perhatian pasukan Daemonie. Makhluk-makhluk itu mendekat seakan melupakan pertempuran yang sedang berlangsung.
"Lihatlah saudara-saudaraku! Makhluk rendahan ini berani membunuh saudaranya sendiri demi menyelamatkan musuh kita! " Suara Greve Hedin menggelegar.
"Dasar penghianat! " Teriak para Daemonie yang marah.
"Dia membunuh Domn. Bunuh dia! " Jari telunjuk Greve Hedin menuding Nicolae.
"Bunuh penghianat itu! "
Teriakan-teriakan anarki merubah suasana peperangan. Mereka kini menargetkan Nicolae sebagai sasaran.
"Tunggu! " Teriak Eldrige ketika mereka mulai menyerang Nicolae.
"Kau siapa? Makhluk apa kau ini? " Beberapa Daemonie yang marah menatap curiga pada Eldrige.
"Aku teman Nicolae. " Ucapan Eldrige mendapat sambutan geraman marah dari bangsa Daemonie.
"Jadi kau yang membuat dia membunuh Domn? " Daemonie-daemonie itu berteriak marah.
"Apa kalian tidak penasaran kenapa dia melakukannya? " Tanya Eldrige.
"Kami tidak perlu tahu. Dia adalah penghianat. Kalian harus mati bersamanya! " Teriak mereka.
Beberapa Daemonie mulai menyerang Eldrige dan Nicolae. Pedang-pedang berkelebatan untuk membunuh mereka. Eldrige dengan susah payah berusaha menangkis serangan-serangan para Daemonie sambil melindungi Raja Satria yang berada di punggungnya.
Trang..trang..trang..
Gerakan-gerakan Eldrige dan Nicolae hanyalah tangkisan untuk melindungi diri. Lama-kelamaan tenaga mereka terkuras karena serangan para Daemonie itu tidak ada habisnya.
Cras.
Ujung salah satu pedang menggores lengan Eldrige. Darah menetes dari lukanya dan menyebabkan rasa nyeri. Gerakan Eldrige semakin lambat, semakin banyak pula luka sabetan yang diterimanya.
Untuk sesaat Eldrige menyesali keputusannya melepas kehidupan peri. Tubuh manusia yang rentan benar-benar membuatnya kesulitan.
Trang.. trang.. trang..
Nicolae akhirnya menyadari ada yang aneh pada Eldrige mulai bergerak melindunginya. Beberapa luka yang cukup dalam juga mulai dideritanya.
"Kenapa kau begitu setia pada mereka? Bunuh kedua orang itu, mungkin kau akan kuampuni!" Greve Hedin berteriak lantang.
"Tidak akan! " Jawab Nicolae sambil bergerak kesana-kemari menghindari serangan.
"Baiklah kalau itu maumu! " Teriak sang pemimpin agung. "Bunuh mereka semua! "
Serbuan para Daemonie semakin ganas dan semakin mendesak mereka. Saat keadaan semakin genting, tiba-tiba serbuan angin memporakporandakan kerumunan itu.
__ADS_1
Wuush!
Para Daemonie itu terjengkang ke belakang. Sebuah cahaya putih menyilaukan menggulung ketiga orang itu.
"Dewi Hutama! " Teriak Greve Hedin.
Seorang gadis belia tersenyum kepada pemimpin Bangsa Daemonie itu. Di tangannya pedang yang setipis kertas terkulai ke bawah.
"Hahaha, sudah ku tunggu dari tadi untuk berhadapan denganmu gadis kecil! " Seringai Greve Hedin terlihat meremehkan.
"Baguslah kalau begitu. Itu akan menghemat waktuku memusnahkan kalian. " Balas Dewi Hutama.
Greve Hedin yang geram segera menggerakkan tangannya untuk menyabetkan pedang. Namun gerakannya seolah seperti seseorang yang sedang menepuk nyamuk, selalu kalah cepat dari buruannya.
"Kurang ajar! " Greve Hedin melompat marah. Beberapa kali sabetan pedangnya hanya mengenai bayangan.
"Aku bosan. Kita akhiri saja sekarang. " Gadis itu tiba-tiba sudah berada di belakang Greve Hedin, dengan gerakan lincah tangannya mengayun dan tiba-tiba pedangnya membelit leher Greve Hedin dan menariknya putus.
Cras!
Darah pemimpin Daemonie itu muncrat dan kepalanya menggelinding. Pasukan Daemonie yang tersisa menjadi kalang kabut. Para prajurit dari Liga Kerajaan segera menangkapi mereka.
"Bagaimana dengan dia? " Tanya Raja Purnama sambil memandang Nicolae.
"Jangan sentuh dia. Dia menyelamatkan kami. " Kata Eldrige.
Raja Purnama tidak membantah Eldrige. Dia hanya heran, Eldrige yang sekarang tampak berbeda dengan yang dijumpainya beberapa waktu lalu.
Pemimpin Kerajaan Angsana itu kemudian pergi meninggalkan Eldrige yang sibuk membebat luka-luka Raja Satria. Bersamaan dengan itu Raja Gaurav datang.
"Bagaimana keadaannya, Eldrige? " Tanya Raja Gaurav.
"Luka-lukanya cukup parah. Kita harus segera membawanya pada Tabib Albus. " Kata Eldrige dengan raut cemas.
"Kenapa tidak kau obati saja dengan ramuanmu yang ajaib itu? " Tanya Raja Gaurav.
"Kenapa? " Tanya Raja Gaurav heran.
"Semuanya sudah saya kembalikan pada Ratu Malea." Jawab Eldrige.
"Kenapa? " Raja Gaurav makin tak mengerti.
"Karena saya sudah bukan bangsa peri lagi. " Eldrige menjawab dengan nada datar.
"Apa? Kenapa? " Raja Gaurav seakan tak percaya.
"Saya sudah melepaskannya. " Eldrige berusaha sabar menjawab keingintahuan pemimpin Watu Ijo itu.
"Kenapa? " Pertanyaan itu kembali terlontar dari mulut Raja Gaurav.
"Karena dia jatuh cinta pada putriku, Gaurav. " Tiba-tiba Raja Satria membuka matanya.
*****
Gadis yang sedang dibicarakan Eldrige saat ini sedang naik di gerbong kereta kuda menuruni lereng gunung Taevas. Di sebelahnya, Bagas sedang menghitung uang yang diberikan ayahnya untuk berbelanja.
Mereka kini sedang dalam perjalanan menuju ibukota. Pasien-pasien mulai berdatangan dari berbagai tempat, stok bahan-bahan obat dan kain-kain kasa hampir habis jadi mereka harus membelinya.
"Sayang sekali Ningrum tidak bisa ikut dengan kita. " Kata Puteri Juwita sambil memandangi laut di kejauhan sana yang tampak berwarna biru pudar di ujung cakrawala.
"Kalau saja dia tidak terlalu rakus menghabiskan sendiri asinan mangga pemberian Bu Maya, dia pasti tidak akan sakit perut dan bisa ikut ke kota. " Bagas menggerutu.
"Kasihan Ningrum. Asinan mangga memang sangat enak, aku tidak menyalahkan Ningrum. Lagipula di tempat asal kita buah itu kan tidak ada. " Puteri Juwita berusaha membela temannya.
"Sstt! " Bagas menaruh telunjuk di depan mulutnya. "Jangan sampai ada yang tahu tempat asal kita. "
"Maaf." Bisik gadis itu.
"Tidak apa-apa. Kita harus tetap hati-hati karena bisa saja orang-orang dari istana Alsatia masih mengejar kita." Kata Bagas memberi pengertian pada adik angkatnya itu.
__ADS_1
"Iya, Kak. "
Kusir yang membawa kereta kuda menuruni lereng gunung kini menuntun kudanya menuju jalan besar. Jalanan yang mulai datar dan ramai.
Ketika memasuki ibukota, Puteri Juwita kembali terkagum-kagum pada bangunan-bangunan megah dengan ukiran-ukiran indah.
Wanita-wanita berpakaian sutra beraneka warna berjalan-jalan dengan gembira. Mereka mengerumuni toko-toko pakaian dan perhiasan.
"Apa kau menginginkannya? " Tanya Bagas sambil mengikuti arah pandang Puteri Juwita.
"Emm, tidak. Aku hanya suka melihat mereka." Jawab Puteri Juwita.
"Kalau kau mau, nanti habis berbelanja kita bisa mampir ke salah satu toko itu. " Kata Bagas.
"Tidak usah. Kita ke sana lain kali saja, kalau Ningrum ikut. "
Saat mereka turun dan berjalan ke pasar, tiba-tiba seseorang menabrak Puteri Juwita dan membuat gadis itu terjatuh. Kain sutra yang menutupi kepalanya tersingkap ke belakang.
"Kau tidak apa-apa? " Sebuah tangan kecoklatan dilingkari gelang emas terulur di depan gadis itu.
Puteri Juwita agak ragu menerima uluran tangan orang asing itu. Namun saat gadis itu mendongak dan memandang sepasang mata hitam yang dinaungi alis tebal yang melengkung indah, tanpa sadar dia menyambut uluran tangan itu.
"Maafkan saya. Tadi saya terburu-buru takut tertinggal kereta. " Suara yang memiliki irama seperti alunan musik itu menyadarkan Puteri Juwita.
"Tidak apa-apa Nona. " Jawab Puteri Juwita sambil menarik kembali penutup kepalanya.
"Ehm, kenalkan nama saya Pertiwi." Tanya gadis di hadapan Puteri Juwita.
"Saya.. Juwita. "
"Nama yang indah. Kau tahu, wajahmu tampak familiar. Rasanya aku pernah melihatmu di suatu tempat. " Pertiwi tersenyum sambil berusaha mengingat-ingat. Tangannya bergerak-gerak setiap kali dia bicara.
Puteri Juwita tersenyum. Memandangi gadis cantik itu saja sudah membuatnya senang, seolah sedang menyaksikan boneka hidup.
"Juwita, kau tidak apa-apa? " Bagas langsung memeriksa Puteri Juwita begitu sampai di sana.
"Aku tidak apa-apa, Kak. "
"Dia kakakmu? " Sebelah alis gadis cantik itu terangkat, agak heran karena tidak menemukan satupun kemiripan diantara keduanya.
"Iya. Namanya Bagas. " Puteri Juwita memperkenalkan Bagas pada Pertiwi.
"Salam, Nona. " Bagas membungkuk hormat.
"Panggil saja Pertiwi. " Kata gadis itu.
"Tuan Puteri, anda sudah ditunggu dari tadi. " Seorang wanita datang sambil melirik Bagas dan Puteri Juwita dengan curiga.
"Lali, tolong jangan keras-keras! " Telapak tangan Pertiwi memberi isyarat ke arah wanita itu.
"Maaf.. Nona. " Wanita itu menunduk patuh.
"Aku ingin mengundang mereka. Suruh turun Hima dan Nilam! "
"Tapi Tuan.. ehm Nona! "
"Jangan membantahku kali ini, Lali. Barusan kau sudah membuka identitasku. Bagaimana lagi? " Pertiwi pura-pura mengeluh.
"Maafkan saya."
Pertiwi kembali berbalik menatap Bagas dan Puteri Juwita.
"Kalian ikut bersamaku. " Ucap Pertiwi seperti sebuah titah.
"Kenapa? " Tanya Bagas.
"Kalian tidak boleh membantah perintah Tuan Puteri! " Hardik wanita tadi.
"Tuan Puteri? " Kedua orang itu saling berpandangan.
__ADS_1