
Dunia seakan melambat. Daun-daun yang gugur melayang-layang di udara hampir tak bergerak. Bahkan aliran sungai merangkak seperti siput. Meskipun dicekam keanehan, Puteri Juwita terus berlari untuk mengejar sepupunya yang diculik Pangeran Awang dan seorang lelaki aneh.
"Kumohon, biarkan aku menyelamatkannya." Dalam hati gadis itu berdoa.
Gerakan ketiga orang itu lebih cepat darinya. Jarak mereka selalu tak kurang dari 100 meter. Mereka dengan mudahnya menembus lebatnya hutan dan mendaki terjalnya lereng gunung. Namun begitupun dirinya, hampir tak bisa dipercaya betapa mudah baginya mengikuti jejak mereka.
Sejak ketiga orang itu masuk ke dalam gua di atas sana, tiba-tiba semuanya kembali seperti semula. Angin kembali berhembus melintasi lereng gunung dan mendorong awan-awan melintas di atas lembah dalam kecepatan normal.
Saat Puteri Juwita tiba di mulut gua dengan terengah-engah, itu sudah hampir 30 menit sejak ketiga orang itu masuk. Jadi sudah cukup lama dan dia tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam sana.
Dia memberanikan diri masuk ke dalam gua yang gelap. Indera penglihatannya tiba-tiba serasa tak berfungsi. Berbagai pikiran buruk terus membayanginya selama dia berjalan sambil meraba-raba dinding gua, seolah-olah ada puluhan pasang mata yang terus mengawasinya.
Aroma dupa mulai tercium. Itu bukan aroma harum yang menenangkan dan meningkatkan konsentrasi berdoa, namun itu lebih seperti aroma yang bisa mempengaruhi kerja otak.
Alur gua terasa berbelok. Kemudian di ujung sana terlihat cahaya terang benderang. Samar-samar terdengar suara rapalan mantera yang begitu magis. Nadanya rendah namun ritmenya cepat dan menghentak-hentak.
"Itu pasti mereka." Pikir gadis itu.
Pelan-pelan di datanginya sumber cahaya itu. Dalam jarak kurang dari satu meter dari ruangan itu, tubuhnya terlindung dalam bayangan kegelapan. Di depan sana sepasang pria dan wanita berlutut di hadapan patung dewa yang berwujud mengerikan.
"Pertiwi." Gumamnya lirih.
Butuh waktu beberapa detik sebelum gadis itu menyadari bahwa dukun yang sedang menarikan gerakan melompat-lompat itu sebenarnya sedang melakukan upacara pernikahan.
"Tidak!"
Tiba-tiba Puteri Juwita maju dan menerjang Jadukari Daalal Nath yang sedang berkonsentrasi merapal mantera. Tubuh dukun itu terjengkang karena tak menyangka akan mendapat serangan mendadak.
"Pertiwi, ayo lari!" Puteri Juwita menarik tangan sepupunya itu dan mengajaknya berlari menembus gelapnya gua.
"Apa yang terjadi?" Puteri Pertiwi bertanya dengan agak linglung. Dia hanya mengikuti saja ke mana tubuhnya dibawa.
"Kau hampir saja menikah dengan lelaki kejam itu." Suara Puteri Juwita menyahut dalam kegelapan.
"Kau..Juwita?" Tanya Puteri Pertiwi sambil berusaha melihat dalam gelap.
"Iya, sepupuku. Ayo cepat lari, jangan sampai mereka menangkap kita!" Teriak Puteri Juwita dengan napas tersengal-sengal.
Tap..tap..tap..
Suara langkah kaki mereka menggaung di dinding gua. Pintu keluar gua sudah dekat, jaraknya tinggal beberapa langkah lagi. Mereka mempercepat langkah
Duk!
Tiba-tiba tubuh mereka seakan membentur dinding, padahal jelas-jelas di depan mereka tidak ada apa-apa. Puteri Juwita meraba udara di depannya. Ada semacam gelombang yang menyentuh telapak tangannya.
"Ini pasti segel gaib." Kata gadis itu.
"Hahaha..bagaimana rasanya terjebak di tempat ini? " Sebuah suara menggema di belakang mereka.
"Juwita." Puteri Pertiwi menggenggam erat tangan sepupunya itu dengan tubuh gemetar.
"Jangan takut." Bisik Puteri Juwita.
Tiba-tiba serbuan angin kencang datang dari dalam gua. Kedua gadis itu terdorong dan terdesak di dinding gaib.
"Aaakk!" Puteri Juwita mendadak merasakan lehernya sakit seolah sedang dicekik. Kedua tangannya secara reflek bergerak ke leher namun tidak menemukan apapun yang menyebabkannya tercekik.
"Juwita, kau kenapa?" Tanya Puteri Pertiwi dengan panik.
"Akk!"
Cekikan di leher Puteri Juwita kini berubah menjadi remasan yang siap meremukkan tulang lehernya. Wajahnya menegang dan napasnya hampir putus.
"Juwita! Juwita sadarlah!" Puteri Pertiwi menjerit-jerit ketakutan melihat kondisi sepupunya.
Saat itulah sebuah lengan yang kuat merenggut tubuh Puteri Pertiwi. Gadis itu meronta saat merasakan tubuhnya terangkat dan dibawa kembali ke dalam gua. Puteri Pertiwi melihat sepupunya yang sedang mengerang kesakitan itu semakin menjauh. Air matanya mengalir dan tangannya terulur menggapai-gapai udara kosong.
__ADS_1
Pandangan mata Puteri Juwita menggelap dan kesadarannya seakan jatuh sampai ke dasar. Di dalam keadaan antar sadar dan tidak, tiba-tiba dia mendengar sebuah bisikan.
"Gaalon mein khilti kaliyon ka mausam, aakhon mein jaadu honthon mein pyar."
Bisikan itu terus terngiang-ngiang di telinganya dan tanpa sadar bibirnya ikut melafalkannya dalam sebuah senandung sederhana.
Wajahnya yang tadi sepucat kapas kini dialiri sinar merah muda. Manik matanya berkilauan seperti mutiara hitam.
Perlahan-lahan cekikan di lehernya mengendur. Tangannya yang tadinya tidak bisa menyentuh apapun kini bisa merasakan sepasang tangan kurus melingkari lehernya.
Dengan sekuat tenaga ditariknya tangan itu. Tiba-tiba Jadukari Daalal Nath yang masih berdiri di depan patung dewa, terseret dengan cepat dan segera muncul di hadapannya. Tubuh dukun itu terhuyung.
"Siapa kau?" Jadukari Daalal Nath tidak bisa menyembunyikan kekagetannya. Matanya kini berhadapan langsung dengan manik hitam berkilauan itu.
Glek.
Jakun yang menonjol di lehernya bergerak-gerak gelisah. Dia mulai menyadari siapa gadis di hadapannya itu. Di dalam tubuh gadis itu pasti mengalir darah bangsawan Dewanata yang agung. Darah titisan dewa itu kini telah diaktifkan.
*****
"Mereka berdua tiba-tiba saja menghilang begitu saja." Nenek Divya menangis tersedu di hadapan Eldrige dan Bagas.
"Ke mana Pangeran Awang membawa mereka?" Tanya Bagas.
"Pangeran Awang? Tapi kami tidak melihat siapapun."
"Dia dibantu oleh dukunnya." Bagas berkata dengan geram.
"Dukun? Siapa?" Nenek Divya semakin penasaran.
"Sepertinya saya tahu siapa dia. Dukun itu yang dulu membantu Raja Bharata selama berperang melawan Liga Kerajaan." Eldrige membuka suara.
"Maksudmu..Jadukari Daalal Nath?" Nenek Divya menatap tak percaya.
"Benar. Apakah ada yang tahu di mana tempat persembunyiannya?" Tanya Eldrige.
"Di mana letak gunung Kala?"
"Itu di sana!" Nenek Divya menunjuk sebuah gunung yang menjulang sendirian.
"Kita harus ke sana sekarang." Eldrige menoleh pada Bagas.
"Baik."
Eldrige dan Bagas berangkat ke gunung Kala. Sedangkan Nenek Divya pulang ke istana bersama para prajurit.
Perjalanan ke gua persembunyian dukun itu memakan waktu lebih dari satu jam karena harus menembus hutan. Lagipula medan yang terjal benar-benar menyulitkan pendakian. Jelas bahwa manusia normal tidak akan tinggal di tempat seperti itu. Tempat itu terlalu sulit untuk dijangkau.
Gruduuk..
Tanah tiba-tiba bergetar. Batu-batu menggelinding turun. Kedua orang itu melihat ke atas. Di sana terlihat cahaya memancar menyilaukan disertai gelombang energi yang menghantam sekitarnya. Poni di dahi Eldrige berkibar-kibar tertiup angin yang dihasilkan hantaman gelombang energi itu.
"Kita harus cepat-cepat menolong mereka." Eldrige melompat dan berusaha menerjang dorongan gelombang energi sambil menjejakkan kakinya pada batu-batu yang mencuat di lereng.
Dengan pedangnya, Eldrige berusaha memecah serbuan gelombang energi itu sehingga dia bisa menembusnya. Kini dia sampai di depan pintu gua, gelombang energi terasa semakin kuat.
"Juwita?" Eldrige tersentak begitu melihat Puteri Juwita berdiri membelakanginya di tengah mulut gua. Rambut gadis itu berkibar-kibar, begitu juga gaunnya. Kain penutup kepalanya terbentang di udara seperti bendera.
Sambil menahan serbuan gelombang energi menampar mukanya menggunakan telapak tangannya, Eldrige berjalan mendekat. Dia akhirnya bisa melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi.
Di sana, dukun jahat itu sedang melotot dengan lidah terjulur seakan lehernya tercekik. Tubuhnya yang kurus terangkat dan mengapung di udara. Sedang di depannya, Puteri Juwita menatap dukun itu dengan sepasang mata yang hitam kelam. Pancaran energi yang dirasakan Eldrige ternyata berasal dari gadis itu.
"Hentikan Juwita!" Teriak Eldrige begitu dilihatnya tubuh si dukun semakin mengkerut.
Gadis itu menoleh dengan pancaran mata kelam dan dingin. Akibatnya tubuh Jadukari Daalal Nath terhempas ke bawah dengan keras hingga menimbulkan bunyi 'krek' yang seram.
"Siapa kau? Apa yang kau lakukan pada Juwita?" Eldrige merasa ada sosok gaib yang menguasai tubuh gadis itu.
__ADS_1
Puteri Juwita tidak menjawab, dia hanya memberikan tatapan asing pada Eldrige. Seolah gadis itu tidak pernah mengenal Eldrige sebelumnya.
"Juwita?" Eldrige berusaha memanggil kesadaran gadis itu.
Tapi gadis itu sama sekali tak bereaksi. Dia malah berbalik dan berjalan memasuki lorong gua. Tubuh Puteri Juwita memancarkan sinar merah muda yang lembut. Dinding gua yang kasar dan lembab itu terlihat setiap kali gadis itu melintasinya.
Eldrige mengikuti Puteri Juwita, dia ingin tahu apa yang akan dilakukannya. Gadis itu berjalan tanpa ragu dan juga tidak tampak terganggu sedikitpun dengan kehadiran Eldrige.
Saat tiba di ruangan di mana sebuah patung dewa berdiri menjulang, gadis itu berhenti. Di sana sudah ada Puteri Pertiwi yang terkulai pingsan di lantai.
"Kau rupanya masih hidup?" Pangeran Awang yang dari tadi berdiri di pojok ruangan menatap kedatangan gadis itu.
Namun Puteri Juwita seolah tidak mendengar ataupun menyadari keberadaan Pangeran Awang di ruangan itu, dia hanya diam memandangi patung dewa Murr.
"Boleh saja kau mengabaikanku, tapi asal kau tahu saja kalau aku bukan orang yang sabar." Lanjut pria itu.
Pangeran Awang melangkah dengan sikap arogan. Dia merasa kesal karena gadis itu sejak awal seolah menjadi batu sandungannya. Dia kemudian menjulurkan tangannya dengan maksud untuk mencengkeram bahu Puteri Juwita.
Eldrige yang berdiri dalam lorong yang gelap segera begerak maju. Namun sebelum dia sampai, mendadak tubuh Pangeran Awang terbanting.
Langkah Eldrige terhenti. Dia tertegun dengan apa yang baru saja terjadi. Batinnya bertanya-tanya, kekuatan macam apa yang sekarang bersemayam di tubuh Puteri Juwita.
"Kau..kerasukan iblis!" Kata Pangeran Awang sambil mengerang kesakitan.
"Bukankah dirimu yang rela menyembah iblis?" Gadis itu tertawa.
Saat itu Pangeran Awang berani berumpah bahwa wajah gadis itu tidak lagi manusiawi dan itu membuat hatinya menciut. Namun dia tidak akan mencapai posisinya sekarang jika selalu menunjukkan rasa takutnya. Maka kali ini pun dia tidak akan melakukannya.
"Kalau kau sudah tahu mengenai hal itu maka menurutlah padaku. Aku akan berbaik hati mencabut hukuman matimu. Tapi tentu saja ada syaratnya.." Pria itu tersenyum licik.
"Akan kuberi kau kehormatan untuk menjadi istriku. Tentu saja kau akan menjadi yang utama. Dengan begitu kalian berdua bisa berbakti padaku bersama-sama." Pangeran Awang membayangkan betapa hebatnya jika dirinya juga bisa menikahi puteri dari kerajaan Elfian.
Eldrige mengepalkan tangannya dengan geram ketika mendengar ocehan Pangeran Awang yang semakin kurang ajar. Namun reaksi berbeda justru ditunjukkan oleh Puteri Juwita, gadis itu malah menyunggingkan senyum lebar.
"Apa kau bisa menangani kami berdua?" Puteri Juwita berjalan mendekat.
"Tentu saja. Aku pasti akan berlaku adil." Pangeran Awang ikut tersenyum dan melupakan rasa takutnya. Perlahan-lahan dia bangun sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang terkena debu.
"Adil?" Puteri Juwita kembali terkekeh.
Untuk sesaat Pangeran Awang merasa Puteri Juwita mengejeknya. Baru kali ini dia berhadapan langsung dengan Puteri Juwita dan ternyata dia tidak seperti dugaannya. Gadis itu sama sekali tidak sederhana.
"Aku akan menjadikanmu.."
"Berhentilah bicara omong kosong. Semua angan-anganmu itu sangat menggelikan."
"Kurang ajar. Rupanya kau tak bisa menghargai niat baikku. Baiklah, sepertinya aku harus melakukan kekerasan!" Pangeran Awang tiba-tiba menerjang ke arah Puteri Juwita.
Shuut.
Dengan mudah gadis itu menghindar sehingga Pangeran Awang hanya menyambar udara. Hal itu tentu membuatnya kesal bukan main. Dia berbalik dan kembali menyerang Puteri Juwita.
Namun lagi-lagi gadis itu berhasil berkelit. Tubuhnya sangat lentur seolah telah berlatih bela diri selama bertahun-tahun. Dan sebelum Pangeran Awang kembali melancarkan serangannya, mendadak telapak tangan gadis itu melayang ke wajahnya.
Plak! Plak!
Dua tamparan mendarat di kedua belah pipi Pangeran Awang. Meski tamparan itu terlihat tak bertenaga, namun nyatanya kedua pipi Pangeran Awang kini nampak merah kebiru-biruan.
"Kurang ajar! " Teriaknya.
Pangeran Awang melompat sambil mencabut pedangnya. Perlakuan menghina dari seorang wanita tentu tak bisa dia terima.
Trang!
Tiba-tiba selarik cahaya berkelebat diikuti suara dentingan logam. Pedang Pangeran Awang kini telah ditahan oleh sebuah pedang yang memiliki ukiran rumit.
"Kau selalu ikut campur urusan orang." Ucap Pangeran Awang geram.
__ADS_1
"Kalau menyangkut dia itu berarti urusanku." Jawab Eldrige.