
Kedatangan Raja Badre yang tidak disangka-sangka di kamar Puteri Pertiwi membuat semua orang yang ada di sana seolah membeku. Apalagi perbincangan yang sedang berlangsung tergolong sensitif.
Puteri Pertiwi dengan gugup mencoba menjelaskannya. "Ayah, kami sedang berbincang mengenai.."
"Saya mencintai Puteri Pertiwi." Bagas mendadak memotong perkataan gadis itu.
"Apa?" Pandangan Raja Badre beralih pada pemuda pendatang yang bekerja membantu ayahnya yang berprofesi sebagai tabib.
"Tidak ayah, aku yang mencintai dia." Puteri Pertiwi berusaha melimpahkan kesalahan pada dirinya sendiri.
"Kau mencintainya?" Raja Badre memandang putrinya.
Puteri Pertiwi mengangguk takut-takut dibawah tatapan ayahnya. Dia hanya berharap kalau ayahnya mau mengampuni Bagas.
Raja Badre menatap Bagas. Mengamati pemuda yang berusaha tegar berdiri di hadapan penguasa itu. Raja Badre melihat tekad itu. Sebuah percikan di mata pemuda Alsatia itu.
"Apa kau tahu konsekuensi mengatakan hal itu padaku?" Tanya Raja Badre pada Bagas.
Pemuda itu mengangguk. " Iya, Yang Mulia."
"Dan kau masih berani?" Tanya Raja Badre lagi.
"Saya bersedia dihukum atas kelancangan saya." Jawab pemuda itu.
"Ayah, jangan dengarkan dia. Akulah yang memaksanya. Aku yang menyuruhnya kemari dan membuatnya mengakui perasaannya." Puteri Pertiwi berlari menghadang. Dia kini berada di hadapan Raja Badre, menghalangi pandangan pria itu pada Bagas.
"Pertiwi, jaga sikapmu!" Suara ayahnya yang tegas membuat gadis itu menyingkir.
"Anak muda, sebaiknya kau katakan dengan jelas maksud dan tujuanmu?"
"Saya ingin melamar Puteri Pertiwi." Kata pemuda itu.
Raja Badre menatap Bagas. Dalam hatinya mengagumi keberanian pemuda itu.
"Apa yang bisa kau berikan pada anakku?"
"Saya akan memberikan seluruh hidup saya untuk mencintainya dan membahagiakannya."
"Apa kau sadar bahwa putriku hidup sangat nyaman di istana ini sejak lahir? Bisakah kau memberikan hal yang sama?" Tantang Raja Badre.
"Saya mungkin tidak bisa membawa Puteri Pertiwi ke istana yang megah, tapi percayalah Yang Mulia, saya akan membahagiakannya sehingga dia tidak akan merindukan segala kemewahan istana."
"Dengan apa kau akan melakukannya? Apa dengan cinta? " Pertanyaan Raja Badre agak meremehkan.
Bagas berpikir sejenak. Ditatapnya wajah gadis yang membuatnya nekat menentang seorang penguasa. "Tentu saja, cinta."
Prok..prok..prok..
"Wah, hebat sekali. Kau pikir semua masalah hidup bisa kau selesaikan dengan cinta? Bagaimana jika perut istrimu lapar? Atau jika dia mengenakan pakaian lusuh sementara biasanya dia mengenakan sutra terbaik? Masihkah cinta bisa mengatasi semua itu?"
"Aku yakin bisa, Ayah. Lebih baik aku hidup miskin bersama Bagas dari pada bergelimang harta tapi tidak merasakan kebahagiaan." Puteri Pertiwi tidak tahan melihat ayahnya terus mencecar Bagas.
"Pertiwi!" Bentak Raja Badre.
__ADS_1
"Biarkan aku menentukan jalan hidupku sendiri, Ayah." Gadis itu menatap ayahnya dengan penuh tekad.
Raja Badre agak terkesima dengan sikap keras kepala putrinya itu. Tapi bukankah di saat seseorang jatuh cinta seolah dia dibanjiri energi untuk mempertahankannya. Dan saat seseorang kehilangan cinta, dia berubah seperti sebuah rumput yang dicabut sampai ke akarnya lalu dilemparkan ke bawah terik matahari.
Raja Badre tidak ingin mengambil paksa energi yang saat ini menguasai putrinya. Gadis itu bisa kehilangan semangat hidupnya. Dia hanya harus mencari cara agar gadis itu menyadari sendiri bahwa pemuda pilihannya itu tak sehebat dugaannya.
"Baiklah. Karena kau begitu keras kepala, putriku. Bagas, aku tidak bisa langsung menerima lamaranmu. Hal itu tidak adil bagi pelamar lain. Oleh karena itu, kau akan mengikuti sisa pertandingan yang kami adakan. Masih ada cukup waktu jika kau ingin memenangkannya." Ucap Raja Badre pada akhirnya.
"Terima kasih, Yang Mulia!" Bagas membungkuk penuh rasa syukur. Setidaknya sekarang dia memiliki kesempatan untuk berjuang mendapatkan Puteri Pertiwi.
*****
Eldrige didatangi oleh Puteri Juwita dan teman-temannya saat pria itu sedang berbincang dengan Eshwar. Dia sama sekali tak menyangka mereka semua akan berkumpul di kamarnya.
"Eldrige, bisakah kau bantu mereka?" Puteri Juwita memandangnya penuh harap.
"Membantu apa?" Tanya Eldrige. Sebenarnya dia sendiri sedang sibuk memikirkan tentang energi gelap yang dirakannya di istana ini.
"Maukah kau melatih Kak Bagas agar bisa memenangkan pertandingan melawan para pelamar itu?" Pinta gadis itu.
"Maksudmu, Bagas ikut serta dalam sayembara itu?" Dahi Eldrige berkerut heran.
"Benar sekali. Bagas sangat mencintai Pertiwi, karena itu Raja Badre mengizinkannya untuk mengikuti pertandingan itu."
"Apa kau sadar kalau pamanmu itu hanya ingin menunjukkan pada Bagas kalau usahanya hanya sia-sia? Lawannya adalah orang-orang terlatih dan terampil."
"Karena itulah dia membutuhkan pertolonganmu. Tolong latih dia."
"Kau sepertinya bukan lagi Eldrige yang kukenal. Eldrige-ku akan melakukan apa saja untuk membantu seseorang yang sedang kesusahan."
"Maaf. Eldrige yang sekarang sudah kehilangan kemampuan sihirnya. Aku tidak bisa membuat suatu keajaiban lagi." Kata Eldrige sedih.
"Ucapanmu seolah-olah kau menyesal karena diriku kau kehilangan kekuatan sihirmu yang sangat berharga itu." Gadis itu tak kalah sedih.
"Tidak, Juwita. Tidak ada yang lebih berharga dari dirimu, termasuk kekuatan sihirku." Eldrige meraih tangan gadis itu.
"Tahukah kau, apa yang dikatakan Kak Bagas pada pamanku? Dia akan memberikan hidupnya demi Pertiwi." Puteri Juwita memandang Eldrige dengan mata berkaca-kaca. "Bisa kau bayangkan betapa besar tekadnya untuk memperjuangkannya? Paling tidak, berikan dia kesempatan untuk membuktikannya."
"Baik, Juwita. Aku akan menuruti kemauanmu. Aku akan melatihnya. Tapi kau jangan terlalu berharap." Kata Eldrige pada akhirnya.
"Terima kasih, Eldrige." Senyuman gadis itu meluluhkan hati Eldrige.
Eldrige mendekati Bagas dan mengajaknya ke luar. Mereka berbicara secara pribadi mengenai latihan yang dibutuhkan Bagas. Meskipun Bagas nantinya akan berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kemampuan di atasnya, namun bagaimanapun juga Bagas sudah sempat mengenyam pendidikan keterampilan selama di sekolahnya. Eakaupun hal itu hanya sedikit karena sekolah yang dipilihnya adalah jurusan medis.
"Kita akan berlatih memanah dan memainkan pedang. Juga bela diri dengan tangan kosong. Aku dengar, bangsa Dewanata menyukai permainan adu kekuatan fisik." Kata Eldrige.
"Aku bersedia berlatih sebanyak mungkin." Bagas terlihat bersemangat.
"Kita tidak akan berlatih terlalu berat karena hal itu bisa saja mencedarai ototmu." Eldrige memperingatkan.
"Baik. Akan aku lakukan apapun yang kau sarankan." Bagas mengangguk.
"Bagus. Kita mulai latihan besok pagi. Temui aku di bukit kecil di belakang istana. Jangan lupa bawa peralatan memanah." Ucap Eldrige sebelum mengakhiri percakapan mereka.
__ADS_1
Saat mereka semua berpamitan, Eldrige menahan tangan Puteri Juwita.
"Ada apa, Eldrige?" Tanya gadis itu.
Eldrige mendekati gadis itu dan menariknya dalam pelukannya. Dia meletakkan dagunya di atas kepala Puteri Juwita. Kedua matanya terpejam menikmati keharuman yang menguar dari helaian rambut gadis itu yang akar-akarnya mulai kembali ke warna alaminya.
"Aku merindukanmu." Ucap Eldrige.
Gadis itu mendongakkan kepala sambil menatapnya dengan sepasang mata yang indah.
"Aku...juga merindukanmu." Ucap Puteri Juwita dengan dada berdesir.
Pandangan mereka saling bertemu. Gadis itu bisa melihat kesungguhan yang penuh damba dalam tatapan pria itu. Dan dia tenggelam di dalamnya, dan terhanyut.
*****
Setelah pertandingan berburu, ada jeda sepekan sebelum pertandingan selanjutnya dilaksanakan. Selama waktu yang sempit itu Eldrige melatih Bagas di waktu pagi dan sore.
Meskipun pada awalnya Eldrige agak pesimis jika pemuda itu mampu menguasai keterampilan memanah dan bela diri dalam waktu singkat, namun kini pria itu mengagumi semangat dan kepandaian Bagas dalam menerima pelatihan.
Pemuda itu kini mampu mencapai sasaran dalam jarak 70 meter. Hal itu cukup bagus mengingat pada awal latihan Bagas hanya mampu membidik tanpa sekalipun mendekati sasaran.
"Kau cukup lumayan, Bagas." Puji Eldrige sore itu ketika mereka selesai latihan.
"Terima kasih, Eldrige." Pemuda itu terlihat sangat senang.
"Kurasa aku telah salah menilaimu. Ternyata kau sangat gigih dan pintar." Eldrige kembali memujinya.
Pemuda itu tersenyum lebar. Besok dia akan mencoba membidik sasaran dari atas punggung kuda. Meskipun tingkat kesulitannya lebih tinggi, namun dia sama sekali tidak gentar.
Mereka kini berjalan di bawah pohon-pohon cendana yang sebagian gelap tertutup bayangan pepohonan di depannya. Suasana terasa sunyi dan ganjil. Seharusnya saat ini terdengar riuhnya suara burung-burung yang pulang ke sarangnya. Namun seekorpun tak terlihat. Bahkan desau anginpun terasa janggal, Eldrige bisa merasakannya.
Bagas bergidik sambil melayangkan pandangannya ke segala penjuru. Namun matanya tak menangkap satupun bayangan atau gerakan yang mencurigakan.
"Waspadalah, Bagas. Kesunyian ini jangan sampai mengecohmu." Peringatan Eldrige membuat jantung pemuda itu berdebar-debar. Seolah-olah ada sesuatu yang akan mengejutkannya.
Bagas menatap Eldrige sambil berusaha menenangkan irama jantungnya. Tiba-tiba tanpa sebuah peringatan, Eldrige melompat ke udara sambil mengayunkan pedangnya yang memantulkan cahaya senja. Pedang itu bergerak-gerak lincah menyabet dan membentur sesuatu yang tak kasat mata.
Trang!
Percikan api menggores salah satu sisi pedang milik Eldrige dan terus bergerak ke atas sampai ke ujungnya. Seolah pria itu sedang adu kekuatan dengan seseorang yang tidak bisa dilihat Bagas.
Pemuda itu hanya berdiri menyaksikan Eldrige bergerak ke sana ke mari sambil sesekali melompat di udara seperti sedang berakrobat. Rambut peraknya yang dikepang berayun-ayun mengikuti gerakannya.
Blar!
Suara ledakan terdengar. Eldrige terhuyung ke belakang sejauh beberapa langkah. Ujung pedangnya membentuk garis memanjang di tanah. Darah mengalir di sudut bibirnya, namun tubuhnya yang tinggi itu tetap tegak berdiri seperti pohon-pohon redwood yang tumbuh di hutan Lucshire.
"Kau tidak apa-apa, Eldrige?" Bagas mendekatinya dengan raut cemas.
"Aku tidak apa-apa. Musuhku pasti juga mengalami cedera. Sebaiknya kita pulang sekarang. Tidak usah kau hiraukan kejadian barusan. Tetaplah fokus dalam latihanmu agar kau bisa mengikuti pertandingan dengan baik." Eldrige kembali berjalan setelah menyarungkan pedangnya lagi.
Bagas mengikuti langkahnya di belakang. Banyak sekali pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya namun saat ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakannya.
__ADS_1