
"Aku heran kenapa aku selalu melihatmu di mana-mana?" Kata Pangeran Awang kesal.
"Ah, kurasa kau saja yang terlalu menaruh perhatian padaku." Jawab Eldrige enteng sambil menggerakkan alisnya.
"Hahaha.." Pangeran Awang terkekeh pelan. Matanya berkilat licik dan dalam beberapa detik memindai Eldrige. Memperhitungkan baik buruknya jika melawan peri itu.
Eldrige mendorong pedangnya dan membuat Pangeran Awang bergerak mundur. Mereka saling berdiri berhadapan dengan jarak beberapa meter untuk mengukur kekuatan lawan.
Pangeran Awang kemudian melompat sambil menyabetkan pedangnya namun lawannya lebih dulu berkelit. Tebasan-tebasan pedang terus dilancarkan oleh pria itu namun selalu dipatahkan oleh Eldrige.
Trang! Criiiing..
Bunga api berpijar saat pedang di tangan Eldrige menangkis pedang Pangeran Awang. Eldrige memutar pedangnya, menangkis, mengelak dan balas menyerang. Akan tetapi kemampuan Pangeran Awang memang tidak bisa diremehkan, pria itu masih saja mengerahkan serangan secara bertubi-tubi.
Trang!
Kedua pedang kembali saling membentur. Kedua belah pihak saling mengerahkan kekuatan. Urat-urat saraf di wajah Pangeran Awang menegang dan kedua matanya memandang tajam ke arah Eldrige.
Desss..
Mendadak sebuah angin pukulan menghantam keduanya hingga terpental. Kedua orang itu menoleh ke arah penyerangnya. Mereka tertegun melihat Puteri Juwita berdiri memandangi keduanya sambil tersenyum tipis.
Benarkah serangan tadi datangnya dari gadis itu? Rasanya sungguh sulit dipercaya. Pukulan tadi mengandung energi yang besar, sedangkan gadis itu begitu rapuh. Namun mengingat kejadian tadi saat Puteri Juwita meremukkan Jadukari Daalal Nath, Eldrige mau tak mau harus mempercayainya.
"Juwita?" Panggil Eldrige.
Namun gadis itu tidak merespon panggilan itu. Dia malah merentangkan kedua tangannya ke samping dan melompat ke atas. Tubuh gadis itu berputar di udara hingga membuat gaun sutranya melebar seperti payung, lalu kakinya yang mungil menapak tubuh patung dewa dan dia melesat ke atas.
Lengan Puteri Juwita mengayun cepat dan ujung jarinya menyentuh kepala patung dewa. Seketika patung itu retak. Retakan itu berpusat dari kepala lalu menjalar ke seluruh bagian patung. Patung dewa itu rontok sedikit demi sedikit dan kepingan-kepingan batu mencelat kemana-mana lalu berguguran ke bawah.
Blaar!
Dinding gua bergetar. Kepulan debu tebal melanda ruangan itu. Beberapa stalaktit terlepas dan berhamburan ke bawah. Sebagian menancap di lantai dan sebagian hancur berkeping-keping.
"Pertiwi!" Tiba-tiba Bagas datang dan segera menyambar tubuh Puteri Pertiwi, menyelamatkannya dari reruntuhan. Pemuda itu kemudian membopongnya menjauh.
Sementara itu Puteri Juwita jatuh tersungkur di lantai. Perlahan-lahan gadis itu bangkit dan termangu memandang sekitar, seakan baru terbangun dari tidur. Tubuhnya hampir tertutup oleh kepulan debu tebal.
"Uhuk..uhuk!"
Gadis itu terbatuk berkali-kali, dadanya terasa sakit akibat debu yang masuk ke saluran pernapasannya. Samar-samar dilihatnya seseorang datang mendekat kemudian sebuah lengan mendekapnya dan membawanya pergi. Puteri Juwita tidak bisa melihat apapun, namun begitu, kakinya tetap bergerak mengikuti orang itu.
__ADS_1
Mereka semua berlari ke luar melewati lorong gua yang gelap. Cahaya tampak di ujung lorong, tepat pada mulut gua.
Gua itu mulai runtuh. Batu-batu berhamburan dari langit-langit dan dinding gua. Kepulan debu dan runtuhan batu-batu seakan mengejar mereka. Tepat sebelum sebuah batu besar menggelinding dan menyumpal pintu gua, Eldrige dan Puteri Juwita melompat dan tersungkur tepat di pinggiran tebing. Di bawah sana mereka bisa melihat batu-batu yang berhamburan jatuh ke jurang yang curam.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Eldrige.
"Aku tidak apa-apa, Eldrige. Apa yang terjadi?" Puteri Juwita memandangi Eldrige dengan heran.
"Kau mengenaliku?" Eldrige mengamati gadis itu dan memeriksa kondisinya.
"Tentu saja. Bagaimana bisa aku lupa padamu?" Puteri Juwita heran.
"Ah, syukurlah. Aku takut kau melupakanku selamanya." Eldrige tersenyum lega.
"Juwita!" Suara seorang gadis terdengar memanggil.
"Pertiwi?" Puteri Juwita berseru begitu melihat sepupunya itu.
"Kau kemari mencariku?" Tanya Puteri Pertiwi begitu mereka sudah saling mendekat.
"Iya. Aku tidak akan membiarkan para penjahat itu membawamu!"
"Terima kasih."
"Ngomong-ngomong, di mana kedua orang itu?" Puteri Pertiwi mencari-cari penculiknya.
"Entahlah, saat keluar tadi mereka tidak kelihatan. Mungkin sudah kabur." Eldrige mengedikkan bahu tidak perduli.
"Sayang sekali, seharusnya mereka dibawa ke pengadilan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya." Ucap Bagas.
Mereka semua akhirnya menuruni tebing yang curam. Angin bertiup semilir meniup rambut mereka. Di bawah sana hutan tampak membentang luas seakan tak bertepi. Sungai terlihat berkelok-kelok seperti ular.
*****
Hari sudah gelap ketika mereka menaiki perahu untuk kembali ke ibukota. Puteri Juwita dan Puteri Pertiwi duduk sambil membiarkan para pria mendayung melawan arus sungai. Meski perahu melewati jeram-jeram yang deras, namun kedua gadis itu tidak merasa takut.
Mereka telah melewati hal-hal yang lebih mengerikan dan di luar nalar sebelumnya. Lagipula, bersama laki-laki yang sangat mereka percayai, tak ada satu hal pun yang membuat mereka gentar.
Perahu mendarat di dermaga yang diterangi cahaya obor. Rupanya beberapa prajurit telah menunggu kedatangan mereka. Prajurit-prajurit itu mengawal mereka sampai ke istana.
Mendekati istana mereka mulai mencium bau dupa wangi. Istana diselimuti perkabungan. Mayat-mayat akibat pemberontakan disemayamkan secara masal di halaman istana. Besok mayat-mayat itu akan dikebumikan di pemakaman ibukota.
__ADS_1
"Tuan! Syukurlah Tuan selamat!" Eshwar langsung tersungkur di kaki Eldrige begitu dia melihat tuannya kembali.
"Berkat doamu, Eshwar. Bagaimana denganmu sendiri?"
"Saya baik-baik saja, Tuan." Hidung Eshwar mengembang mendengar Eldrige menanyakan keadaannya.
"Bagaimana keadaan Raja Badre sekarang?" Tanya Bagas.
"Ayahku kenapa?" Wajah Puteri Pertiwi berubah pucat.
"Yang Mulia Raja sudah melewati masa kritis. Tabib Bagio sudah dipanggil untuk merawat beliau." Jawab Eshwar.
Mendengar hal itu Puteri Pertiwi berlari menuju kamar ayahnya. Sepanjang jalan dilihatnya berbagai kerusakan akibat pertempuran yang mulai dibenahi. Ketika tiba di sana, Raja Badre sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Wajahnya agak pucat dan matanya terpejam.
"Ayah!" Sambil menangis gadis itu mendekati ayahnya.
Raja Badre membuka matanya karena mendengar suara anaknya.
"Pertiwi? Kau sudah kembali?"
"Iya, ayah. Bagas menolongku."
"Bagas. Awalnya ayah tidak yakin padanya, mengingat latar belakangnya. Tapi dia mengejutkan ayah dengan kegigihannya. Dialah yang menolong nyawa ayah pertama-tama."
"Syukurlah." Puteri Pertiwi memeluk ayahnya.
"Ayah berjanji setelah masalah di istana selesai, kalian akan menikah." Kata Raja Badre.
"Ah, Ayah." Gadis itu tersipu.
Raja Badre terkekeh melihat wajah anaknya merona merah. Tak disangka bahwa tiba saatnya dia akan segera menikahkan putrinya yang kini menginjak usia 18 tahun.
Tahun-tahun yang dia lalui untuk membesarkan putrinya tanpa seorang istri berkelebatan di mata. Setidaknya pemuda yang akan mempersunting putrinya adalah orang baik.
Ketika itu tabib masuk dan mengingatkan Raja Badre untuk kembali istirahat. Namun Raja Badre malah memanggilnya mendekat.
"Aku ingin membicarakan perihal pernikahan anak-anak kita."
"Apakah tidak sebaiknya hal ini menunggu saat Yang Mulia telah pulih?"
"Tidak. Lebih cepat lebih baik. Lagipula yang akan mengurus semua adalah para asistenku. Kita hanya menunggu sampai masa berkabung selesai."
__ADS_1
"Baik, Yang Mulia."
Semetara kedua ayah itu membicarakan perihal pernikahan, Puteri Pertiwi undur diri.