
"Bagaimana bisa benda ini ada di leherku?" ucap Puteri Juwita heran.
"Syukurlah benda itu ada padamu, jadi aku tidak perlu repot-repot lagi mencarinya." Mandala terkekeh pelan.
Puteri Juwita mundur, takut melihat tatapan tajam lelaki itu.
"Berikan padaku, anak manis," bujuk Mandala dengan tangan menengadah.
Puteri Juwita berusaha menarik untaian yang melingkari lehernya namun benda itu sama sekali tak bergeming, malahan tangannya seperti tersetrum dan seakan ada energi yang mengalir masuk ke aliran darahnya. Tubuhnya tiba-tiba menegang dan kepalanya mendongak.
"Kenapa kau tidak mengambilnya sendiri?" Tiba-tiba Puteri Juwita menatap Mandala dengan sudut bibir membentuk senyuman.
"Baiklah jika itu keinginanmu." Meski agak heran dengan perubahan sikap Puteri Juwita yang tiba-tiba namun Mandala menuruti saja permintaan gadis itu.
Tangan Mandala berkelebat untuk mengambil Mangal Arti yang melingkar di leher jenjang gadis itu. Namun belum juga tangannya menyentuh benda itu sebuah tamparan keras sudah mendarat dan membuat tubuhnya terjengkang.
"Aduh!" pekiknya kesakitan.
Dahi Mandala mengernyit kaget karena tidak menyangka kalau gadis itu akan menyerangnya. Lagipula, meski tadi itu hanya sebuah tamparan kecil namun gerakan itu mengandung energi yang sangat besar.
"Uma?" Sepotong tanya keluar dari bibir Mandala.
"Hahaha ... Kau masih mengenaliku? Hmm, kau masih sama seperti dulu, Mandala. Begitu inginnya kau memiliki benda ini?" Puteri Juwita menatap tajam dengan bibir masih menyunggingkan senyuman.
Kini di mata Mandala, gadis di hadapannya itu seolah menjelma sebagai Uma. Lelaki itu terkekeh mengingat pertarungan terakhir mereka.
"Ya ya ya, aku masih belum berubah. Aku masih menginginkan benda itu agar kekuatanku menjadi tak tertandingi."
"Cuih, dasar serakah. Dulu kau sudah kuberi segalanya. Kekuasaan, cinta dan kesetiaan. Tapi kau memang tidak tahu diri." Puteri Juwita berdiri perlahan. Kobaran api di tengah ruangan memantul di matanya.
"Kau boleh menyebutku seperti itu. Tapi jangan pernah mengatakan segala omong kosong mengenai cinta dan kesetiaan itu!" Wajah Mandala menegang, gerahamnya bergemeletuk.
"Ah, ya. Mungkin manusia berhati dingin sepertimu memang tidak akan mengerti. Yang ada hanya nafsu dan keserakahan." Telapak tangan Puteri Juwita melakukan gerakan menepis.
"Hah, seolah hanya aku saja yang bersalah di sini. Memangnya menurutmu kenapa aku menginginkan kekuatan dari benda itu?"
Puteri Juwita berdecih meremehkan. Di dalam jiwanya yang sebagai Uma, masih tersimpan dendam dan kebencian kepada lelaki itu. Kebencian itu semakin meluap-luap ketika kini berhadapan langsung dengan Mandala.
"Jangan banyak omong, sekarang akan kukembalikan kau ke akhirat!" Kaki Puteri Juwita menjejak lantai lalu tubuhnya dengan gesit melompat ke arah Mandala.
Mandala menggeser tubuhnya dengan cepat sebelum jari-jari gadis itu mencabik tubuhnya, namun angin yang menyertai gerakan gadis itu membuat tubuh Mandala tersentak. Lelaki itu tidak menyangka Uma benar-benar bermaksud kembali membunuhnya.
Setelah gagal menyentuh tubuh Mandala, Puteri Juwita memutar tubuhnya sambil kembali melancarkan serangan. Gadis itu terus menerjang mencari celah untuk melukai lawan. Namun gerakan Mandala yang masih saja menghindar membuatnya harus mengakui bahwa lelaki itu cukup gesit untuk ukuran orang yang sudah mati selama ratusan tahun.
"Kau tidak bermaksud untuk bermain-main seperti ini terus kan?" Bisik Mandala ketika dia berhasil menyusup di belakang Puteri Juwita.
Duk!
"Auh!" Mandala meringis ketika merasakan siku gadis itu menyikut perutnya. Rasa sakit itu merambat sampai ke ulu hati.
"Sial! Berhenti bermain-main, Uma!"
"Jadi kau ingin langsung kubunuh saja?" Bola mata Puteri Juwita yang kini berubah merah menatap bengis.
Mandala melihat gadis itu mengangkat kedua tangannya ke atas. Ada semacam bola energi bersinar keunguan yang terlihat semakin membesar di antara kedua telapak tangan Puteri Juwita. Energi itu menimbulkan hembusan angin yang cukup kencang sehingga menerbangkan apa saja yang ada di ruangan itu, termasuk kayu-kayu yang terbakar dan kini menjadi bara.
Mandala berusaha bertahan. Energinya, meskipun cukup besar namun masih kalah jauh jika harus diadu dengan kekuatan gadis itu.
"Kau bisa mengucapkan selamat tinggal pada dunia ini untuk yang kedua kalinya," ucap Puteri Juwita dengan suara yang dalam dan mengerikan.
Bola energi itu semakin membesar dan naik ke atas, bersiap-siap untuk meremukkan mangsanya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Uma!" Tiba-tiba Mandala berseru.
******
"Bisakah kau lacak keberadaan mereka?" Eldrige bertanya dengan gusar. Saat ini jejak Mandala sama sekali tak terdeteksi olehnya.
"Maaf, Eldrige." Nona Sekar menggeleng pelan.
"Ah, bahkan di udara aku tidak bisa mengendus jejak mereka," kata Eldrige kesal. "Mungkinkah mereka menyeberang sungai? Ah, tapi bisa saja lelaki itu melewati jalur ini namun karena lompatannya begitu cepat dan ringan sampai tidak meninggalkan jejak."
"Eldrige, kurasa kau harus mempertimbangkan saranku tadi."
"Menemui Ratu Malea, maksudmu?" Eldrige menatap Nona Sekar yang juga sedang menatapnya. Wanita itu tampak serius, seolah-olah memang hanya itu satu-satunya jalan.
"Tidak," Eldrige menjawab sendiri pertanyaannya lalu dia berbalik dan melangkah ke arah tempatnya datang.
"Kau mau ke mana, Eldrige?"
"Menemui dukun itu. Dia pasti tahu kemana tuannya itu membawa Juwita."
Nona Sekar menggeram pelan menghadapi Eldrige yang keras kepala. Padahal jika Eldrige mengikuti sarannya, semuanya akan jauh lebih mudah.
"Tunggu, aku ikut!" seru wanita itu.
Eldrige kini kembali ke bukit tadi. Rupanya tempat itu sudah sepi dan dukun itu pun sudah tidak ada. Eldrige kesal bukan kepalang, seharusnya dia bisa berpikir cepat tadi untuk mengorek keterangan dari dukun itu. Tapi semuanya sudah terlambat sekarang.
"Bagaimana?" tanya Nona Sekar.
"Biarkan aku berpikir sebentar, Sekar." Eldrige berusaha menenangkan diri dan mencari jalan keluar. Tiba-tiba pikirannya terbuka.
"Aku akan menemui Nenek Divya." Tanpa aba-aba Eldrige bergegas ke istana.
"Tuan, apa yang terjadi?" tanya pemuda bermata lebar itu.
"Kau melihat Nenek Divya?"
"Saya melihat beliau dan rombongannya masuk ke kediamannya. Tapi ... selain mereka saya juga melihat ..."
"Eldrige, kurasa aku mungkin bisa menemukan jejak mereka!" seru Nona Sekar memotong kalimat Eshwar.
"Bagaimana?" Eldrige langsung berpaling ke arah wanita itu.
"Akan kucari lewat lubang dimensi. Cara itu mungkin satu-satunya kesempatan kita."
"Andai aku masih memiliki kemampuanku yang dulu," tanpa sengaja Eldrige mengeluh dan seketika membuat Nona Sekar tersenyum senang.
"Ayo, Eldrige. Kita jangan buang-buang waktu."
"Baiklah, Sekar." Setelah mengangguk Eldrige kembali menoleh pada Eshwar. "Jangan percayai siapapun di istana ini. Awasi diam-diam Nenek Divya."
Eshwar tercengang mendengar ucapan Eldrige yang setengah berbisik itu. Hatinya bertanya-tanya kenapa dia tidak boleh mempercayai siapapun? Dan kenapa juga dia harus mengawasi ibunda raja? Bukankah wanita itu sangat baik? Tapi mengingat yang tadi dilihatnya, mungkin dia harus mengikuti perkataan Eldrige.
"Baik, Tuan," ucapnya meski Eldrige mungkin tak mendengarnya karena kini lelaki itu sedang melangkah masuk ke dalam lubang yang tiba-tiba menganga lebar dan sekejap kemudian menghilang di udara.
******
Puteri Juwita berdiri tertegun sementara bola energi di tangannya bersinar terang. Rambutnya berkibar-kibar dan wajahnya yang semula garang perlahan-lahan melembut. Ucapan cinta yang diucapkan Mandala membuat jantungnya berdenyut kencang. Antara sakit dan syahdu.
"Aku mencintaimu sejak pertama perjumpaan kita dan itu tidak pernah berubah."
"Kata-katamu membuatku muak. Kau jangan berharap aku akan mengampunimu dengan mengucapkan kata-kata itu."
__ADS_1
"Kita memang berakhir saling membenci. Tapi aku masih mencintaimu di saat yang bersamaan." Mandala berdiri pasrah di hadapan amukan Uma.
"Kau yang membenciku duluan. Aku begini akibat penghianatanmu," sergah gadis itu.
"Bukankah seharusnya aku yang mengucapkan kata-kata itu?" bantah Mandala.
"Tidak ada gunanya berdusta lagi, Mandala. Kau berusaha membunuhku untuk menguasai Mangal Arti. Otakmu itu hanya berisi nafsu keserakahan."
"Aku bukan orang yang haus kekuasaan, ataupun harta. Seharusnya kau menyadari kenapa sikapku bisa berubah begini, Uma." Mandala menatap tajam dengan kedua tangan terkepal.
"Omong kosong. Nyatanya kau menginginkan Mangal Arti agar bisa menjadi orang terkuat."
"Itu karena kau membantai seluruh keluargaku!" teriak Mandala sengit.
"Jangan menuduhku sembarangan!" Wajah Puteri Juwita yang semula lembut kini kembali menegang.
"Nyatanya kau seperti makhluk haus darah yang tidak mengenal belas kasih. Keturunanmu membasmi seluruh desaku tanpa menyisakan seekor semut pun untuk hidup. Tua, muda, laki-laki maupun perempuan. Kau menghabisi mereka semua!"
"Tidak! Aku tidak pernah melakukannya. Jangan menuduhku sembarangan!" bantah Puteri Juwita.
"Lihat ini!" Mandala mengulurkan tangannya, berusaha keras menerjang pusaran energi untuk menunjukkan sebuah lencana emas.
Puteri Juwita mengamati benda yang tampak berkilauan di tangan Mandala itu. Dari ukirannya dia mengenalinya. Itu memang lencana miliknya, tanda keturunannya.
"Benda ini ada di dalam genggaman ibuku yang sudah menjadi mayat. Apa kau masih mengelak?"
Perlahan-lahan kedua tangan Puteri Juwita turun ke bawah bersamaan dengan lenyapnya bola energi itu. Angin yang tadi berputar-putar dan seakan terjebak di ruangan itu juga sirna. Benda-benda yang tadi ikut terbang pun kini jatuh berserakan.
"Itu memang milikku. Tapi Mandala, itu ... bukan aku. Aku tidak pernah memerintahkan keturunanku melakukan hal sekeji itu." Sorot mata yang tadi tampak merah menyala itu kini meredup.
"Lalu perbuatan siapa?" tuntut Mandala.
Puteri Juwita berdiri termenung. Roh Uma seakan tidak bisa membayangkan salah satu keturunannya melakukan hal itu. Lagipula, lencana itu dia simpan di kuil yang sama dengan tempat penyimpanan Mangal Arti. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa masuk ke sana.
"Gadis kecil itu. Bukankah dia yang berwenang menjaga kuilmu?" tanya Mandala ketika dia teringat sesuatu.
"Maksudmu, Suci?" Alis Putri Juwita mengernyit. "Jangan ngawur, Mandala. Dia masih bocah."
"Kalau begitu siapa lagi? Cucumu Bramasta? Dia kan waktu itu sedang berambisi menjadi raja?"
"Tidak. Bramasta pemuda yang baik. Pasti bukan dia." Puteri Juwita menggeleng mengingat cucu kesayangannya itu. Pemuda rupawan yang cerdas dan santun.
"Kalau bukan dia berarti memang benar gadis kecil itu," sungut Mandala.
"Ah, setelah kuingat lagi mungkin kau benar juga. Sebelum aku melepas nyawa, aku berpesan padanya untuk membakar Mangal Arti ini bersama jasadku." Puteri Juwita meraba benda yang melingkari lehernya.
"Lalu kenapa benda itu masih ada?" tunjuk Mandala.
"Mandala, apa semua perkataanmu benar? Apakah aku ... telah salah paham padamu?" Suara gadis itu kini terdengar ragu.
"Bukankah kau sangat mengenalku, Uma? Tidak bisakah kau menilai?" tanya Mandala.
Uma mengenal Mandala ketika sedang melakukan perjalanan seorang diri. Ketika itu Mandala berusia dua puluh tahun dan sedang berburu. Mereka kemudian jatuh cinta dan setelah menikah Mandala mengikuti Uma ke Dewanata.
Meski semua orang menghormati Uma, namun lain halnya terhadap Mandala. Mereka merasa kalau Mandala hanya ingin mengambil keuntungan dari wanita itu. Hal itu sudah pernah diungkapkan Mandala pada istrinya itu namun Uma hanya menganggap Mandala terlalu perasa.
"Mandala, maafkan aku." Air mata berderai membasahi wajah Puteri Juwita. Tubuhnya kemudian luruh ke bawah dengan isakan pilu penuh penyesalan.
Mandala segera meraup tubuh gadis itu dan menyandarkannya dalam dekapannya.
"Aku juga minta maaf padamu, Uma."
__ADS_1