Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 38 Pertempuran Di Istana


__ADS_3

"Apa yang terjadi?" Raut wajah Ratu Gita terlihat panik. Dengan susah payah dia berusaha turun karena tubuhnya gemetar.


"Pasukan Raja Bharata tiba-tiba menyerang istana ini. Yang Mulia harus segera bersiap-siap untuk pergi ke tempat perlindungan!" Esme membantu Ratu Gita untuk turun. Sementara itu, Talitha menyiapkan pakaian.


Dengan tergesa-gesa Ratu Gita berganti pakaian dan mengenakan mantelnya. Di luar, para pengawal sudah bersiap-siap membawanya pergi.


"Dimana Eldrige?" Tanya Ratu dengan napas tersengal-sengal.


"Eldrige sedang bertempur bersama para prajurit untuk mempertahankan gerbang." Jawab Esme sambil memegang tangan Ratu Gita yang berjalan agak terseok.


"Lewat sebelah sini, Yang Mulia!" Dua orang pengawal membimbing mereka ke sebuah bangunan bekas gedung serbaguna yang terbengkalai.


Di dalam bangunan yang gelap gulita itu terdapat banyak sekali barang-barang yang disimpan untuk menyelenggarakan suatu acara atau pesta. Ada juga benda-benda yang sudah tidak digunakan lagi seperti lampu gantung dan perabot usang lainnya.


Mereka berjalan dalam kegelapan hanya dengan mengandalkan sinar bulan yang temaram menembus lubang udara. Setelah berjalan perlahan menghindari tumpukan barang-barang, akhirnya mereka sampai di depan sebuah lemari usang yang menempel di tembok paling ujung.


Seorang penjaga membuka pintunya lebar-lebar, di dalamnya berisi deretan gaun-gaun usang yang tergantung. Kemudian pengawal itu menyibak di tengah-tengah gaun-gaun yang tergantung itu. Terlihat ada sebuah pintu di belakangnya.


Ratu Gita menatapnya tak percaya. Apakah ada pintu rahasia di belakang lemari ini, seperti dalam cerita yang pernah dia baca di buku?


"Silakan masuk, Yang Mulia."


Ratu Gita dengan langkah hati-hati mulai memasuki lemari itu dan mengikuti pengawal yang menghilang dari balik pintu di depannya.


Ternyata di belakang pintu terdapat sebuah terowongan sempit yang panjang dan gelap. Pengawal di depannya sudah menyalakan obor sebagai penerangan. Mereka berlima berjalan menyusuri terowongan sempit itu dengan hati-hati. Suara langkah kaki mereka bergema di terowongan.


Kemudian mereka berbelok sejauh beberapa meter lalu menuruni anak tangga yang agak licin. Ratu berpegangan erat pada besi penyangga yang menempel di tembok. Mereka turun lumayan jauh ke bawah.


Tiba-tiba pengawal di depannya berhenti, rupanya dia telah tiba di ujung tangga. Terdengar suara kunci dibuka. Pengawal itu mendorong pintu di depannya. Ratu Gita mengikuti pengawal itu.


Kini mereka berada di luar, pintu rahasia itu tertutup semak dan tanaman rambat. Dari tempatnya berdiri, tembok istana terlihat menjulang kokoh agak jauh dari sana. Mereka bisa mendengar suara pertempuran yang memecah keheningan malam. Ratu Gita menatap istananya dengan nanar.


"Ayo, Yang Mulia. Perjalanan kita masih jauh!" Suara pengawal membuyarkan lamunannya.


Ratu Gita kembali berjalan menyusuri jalanan yang gelap bersama rombongannya. Kemudian mereka sampai di sebuah gubuk reyot, di depannya tertambat lima ekor kuda. Mereka kemudian masing-masing menaiki seekor kuda.


Ratu Gita mengendarai kudanya tidak terlalu cepat karena kondisinya sedang hamil. Para pengawal dan pelayan setianya mendampinginya.

__ADS_1


Mereka berkuda sepanjang malam melewati pedesaan di pinggiran hutan yang gelap. Bayangan pepohonan terlihat bagaikan kawanan raksasa yang saling berkejaran di bawah sinar bulan.


Ratu Gita merasakan angin malam yang dingin menusuk tulang sampai ke persendiannya. Beberapa kali betisnya kram membuatnya berhenti sebentar, lalu melanjutkan perjalanan lagi setelah mengoleskan balsam yang diberikan oleh Eldrige.


Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah kecil di pedesaan. Tidak ada tetangga di sekitarnya, rumah terakhir yang mereka jumpai sekitar sepuluh menit yang lalu.


"Kita sudah sampai Yang Mulia." Seorang pengawal membantu Ratu Gita turun dari kuda.


"Terima kasih." Ucapnya.


Ratu Gita memasuki rumah sederhana itu. Di sana terdapat dua kamar tidur. Ratu Gita menempati sebuah kamar dan kamar satunya untuk Esme dan Talitha. Sedangkan kedua pengawal yang bernama Galih dan Anjas, mereka berjaga bergantian di ruang tamu.


Ratu Gita membaringkan tubuhnya yang letih di kasur yang kecil. Malam ini masih terasa seperti mimpi dan belum sepenuhnya bisa dia cerna. Namun jika memang ini kenyataannya, dia harus berusaha bertahan demi bayi dalam kandungannya.


Ratu Gita teringat kepada suaminya yang belum pulang berperang sejak beberapa bulan. Dia sangat merindukan pria itu. Situasi sulit yang sekarang dialaminya membuatnya merasa tidak berdaya.


*****


Situasi di istana sangat genting. Panah melesat bersahut-sahutan dari dua arah. Dentingan pedang yang beradu pun memenuhi udara. Suara teriakan, hantaman dan sayatan menggema di seluruh penjuru istana.


Pasukan Kerajaan Dewanata terus merangsek masuk dan menyudutkan prajurit Elfian. Kepala pengawal Kerajaan Elfian dan anak buahnya dengan sekuat tenaga berusaha mempertahankan istana.


"Tapi bagaimana dengan kalian?" Ucapnya sambil mengayunkan pedangnya ke arah musuh. Darah menetes dari ujung pedangnya yang berkilau.


"Trang..Trang..Sreet!


Pedangnya beradu dengan pedang musuh dan berakhir dengan tebasan di leher musuhnya itu. Darah segar menyiprat dari lukanya yang menganga. Orang itu langsung tumbang dan menggelepar di tanah.


"Jangan khawatirkan kami, yang terpenting adalah membawa Raja kembali ke istana!" Teriak Atmaja yang sedang menghindari serangan dengan perisainya. Kemudian di saat yang tepat dia balas menerjang musuhnya.


Eldrige segera berlari mencari tempat yang aman untuk berteleportasi ke tempat Raja Satria dengan menggunakan lubang dimensi. Segera dicabiknya udara dengan jari, lalu segera memasuki lubang dimensi yang telah terbuka.


Eldrige tiba di perkemahan tentara Elfian. Peri itu melihat para prajurit yang sedang berjaga. Dia kemudian mencari tenda Raja.


"Yang Mulia, di luar ada Eldrige ingin bertemu." Seorang prajurit muda melapor kepada Raja.


"Suruh dia masuk!" Kening Raja berkerut, pikirannya menjadi tidak tenang.

__ADS_1


"Ada apa kau kemari, Eldrige?" Tanya Raja Satria.


"Maaf Yang Mulia, malam ini tiba-tiba istana diserbu oleh tentara Kerajaan Dewanata. Raja Bharata sendiri yang memimpin penyerangan!" Eldrige berkata dengan mata yang berkilat.


"Bagaimana dengan Ratu? Apa yang terjadi padanya?" Hati Raja menjadi sangat cemas.


"Ratu Gita sudah berhasil diungsikan. Sementara ini keadaanya aman." Jawabannya.


"Syukurlah." Raja Satria bernapas lega.


Raja kemudian memanggil seorang panglima dan menyuruhnya untuk menggantikannya di sini. Raja Satria akan segera kembali ke istana. Pengawal yang tubuhnya setinggi Eldrige itu mengangguk. Dia kemudian keluar untuk berbicara dengan pasukannya.


"Ayo, Eldrige. Kita berangkat sekarang!"


"Baik!"


Eldrige segera menggerakkan jarinya dan membuka lubang dimensi. Raja Satria kemudian memasuki lubang itu diikuti oleh Eldrige.


Mereka tiba di istana, pertempuran masih berlangsung. Bahkan ada beberapa tempat yang terbakar. Asap hitam mengepul ke angkasa. Lidah api meliuk-liuk menjilat habis bangunan gudang senjata dan gedung arsip.


Eldrige segera membantu memadamkan api agar tidak merembet pada bangunan lain. Dia mengeluarkan energi dingin yang membuat tempat yang terbakar itu membeku seketika.


"Kenapa kau tak membekukan pasukan Raja Bharata dengan kekuatanmu itu?" Tanya Raja Satria dengan heran.


"Ada peraturan yang tidak memperkenankan penggunaan sihir secara sembarangan!" Jawab Eldrige.


"Demi Tuhan, Eldrige! Ini situasi genting! Tak bisakah kau melakukan sesuatu?"


Peri itu terlihat berpikir sejenak, kemudian menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, saya rasa ada yang bisa saya lakukan tanpa melanggar peraturan." Ucap Eldrige, akhirnya.


Eldrige mengarahkan tangannya ke atas dan memutar-mutarnya. Ada gelombang energi yang keluar semakin lama semakin besar dan memancar ke langit. Tiba-tiba udara terasa semakin dingin. Gelombang energi di langit terlihat semakin lebar. Ada kilat menyambar-nyambar di dalam gelombang energi yang melingkar lebar itu.


Tiba-tiba hujan es turun dari langit seperti ribuan paku yang dimuntahkan. Raja Satria memerintahkan pasukannya untuk segera mundur dan berlindung di dalam bangunan.


Pasukan Raja Bharata yang terlambat menyadari datangnya bahaya dari langit segera berlarian tak tentu arah. Beberapa dari mereka tewas karena tertancap es yang runcing seperti mata tombak.

__ADS_1


"Clap..clap..clap!"


__ADS_2