
"Kau dijodohkan dengan Gaurav?" Raja Satria terkejut mendengar pengakuan sepupunya.
"Baguslah, aku senang mendengarnya." Ratu Gita tersenyum senang.
Wajah Puteri Elok tampak tidak gembira. Seperti ada hal yang mengganggu pikirannya. Wanita itu menghela napas panjang.
"Kau tidak senang? Apa kau tidak menyukai Gaurav?" Raja Satria mencoba mencari tahu isi hati sepupunya.
"Aku menyukainya. Tapi dia tidak menyukaiku!" Suara wanita itu terdengar sedih.
"Bagaimana bisa Gaurav tidak menyukai wanita secantik dirimu? Mata laki-laki itu pasti sudah rabun! " Raja Satria menggeram kesal.
"Apa kalian sudah jatuh cinta saat dijodohkan? Aku iri sekali pada istri sepupuku ini! " Puteri Elok memeluk lengan Ratu Gita dengan manja.
Perkataan sepupunya itu langsung membuat Raja Satria tak berkutik. Dia mengingat perlakuannya pada Ratu Gita di awal pernikahan mereka. Jika sepupunya itu tahu kejadian yang sebenarnya, masihkah wanita muda itu iri pada istrinya?
"Kami bertemu sehari sebelum upacara pernikahan. Tidak ada cinta pada awalnya. "
Ratu Gita berbicara sambil mengelus bahu Puteri Elok. Mata wanita itu berkaca-kaca mengingat penderitaannya dulu, rupanya hal menyakitkan itu belum lepas dari ingatannya.
Raja Satria merasa bersalah melihat raut wajah istrinya yang mendadak sendu. Sebanyak apapun dia memohon ampun, tetap saja luka yang pernah dia torehkan di hati istrinya akan terus membekas.
Diam-diam Raja Satria berdoa dalam hatinya agar Pangeran Gaurav tidak membalas perbuatannya dulu kepada Puteri Elok.
"Kau jangan putus asa, ya? Gaurav adalah pria sejati, dia pasti akan memperlakukanmu dengan baik. "
"Aku ingin dia mencintaiku. Boleh 'kan jika aku berharap? " Mata ungu milik wanita itu mulai basah.
"Aku tidak tahan lagi! Akan kulabrak si Gaurav karena sudah berani menyakiti hatimu! "
Raja Satria mengepalkan tangannya dan berjalan pergi, bermaksud menanyai Pangeran Gaurav.
"Jangan, Kak! Kumohon jangan membuat aku bertambah malu. Harga diriku akan hancur jika kau sampai memarahinya karena aku."
Wanita cantik itu memegangi tangan Raja Satria untuk mencegahnya menemui Pangeran Gaurav.
"Aku akan mendapatkannya dengan usahaku sendiri. Aku akan memenangkan hatinya tanpa paksaan! " Mata ungunya berkilat.
"Sudahlah sayang, biarkan sepupumu yang cantik ini merebut hati Gaurav dengan caranya sendiri. Ehmm, bisakah kau tinggalkan kami sebentar?" Ratu Gita berbicara pada suaminya dengan suara lembut.
"Kenapa? " Raja Satria tidak mengerti kenapa dia disuruh pergi.
"Ada hal yang perlu kami bicarakan, hanya perbincangan biasa antar perempuan." Ratu Gita tersenyum manis sambil mengecup pipi suaminya sekilas, membuat pria itu tersenyum senang.
Dengan langkah ringan Raja Satria keluar dari kamar itu untuk memberi ruang Ratu Gita berbincang leluasa dengan Puteri Elok.
Setelah Raja Satria pergi, Ratu Gita mengajak Puteri Elok duduk di sofa dekat jendela.
"Kau bisa bercerita padaku. Gaurav adalah sepupuku, mungkin ada yang bisa kulakukan untukmu? "
"Benarkah? Aku ingin tahu wanita seperti apa yang disukai Pangeran Gaurav. Aku akan merubah diriku menjadi wanita yang diidamkan calon suamiku." Wajah Puteri Elok terlihat cerah
"Gaurav tidak memiliki banyak teman wanita. Dan kurasa dia tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Kau ini begitu cantik. Kurasa Gaurav sangat bodoh jika tidak tertarik padamu." Ratu Gita tersenyum geli.
"Katakan itu padanya, tolong!" Puteri Elok tertawa kecil.
__ADS_1
"Yah, tapi kenyataannya dia memang tidak tertarik padaku." Wanita muda itu kembali murung.
"Jangan terlalu dipikirkan, nanti aku akan mencari cara agar Gaurav menyukaimu." Ratu Gita mencoba menghibur.
"Terima kasih. Aku senang kaulah yang menjadi istri sepupuku! " Puteri Elok kembali memeluk Ratu Gita.
"Malam ini izinkan aku tidur dengan keponakanku ya, kak? "
"Memangnya kamu bisa? "
"Ditemani pelayan tapi ya? " Puteri Elok tersenyum menggemaskan.
Ratu Gita nampak berpikir dan menimbang-nimbang apakah akan mengizinkan wanita cantik itu untuk tidur bersama bayinya.
"Baik aku izinkan."
"Makasih ya, kak! " Lagi-lagi Puteri Elok memeluknya dengan manja.
Saat makan malam, Pangeran Gaurav tampak menjadi pendiam. Pria yang suka bercanda itu hanya fokus pada hidangan di depannya. Raja Satria yang duduk di seberangnya terus mengamati dengan seksama. Sesekali dia melirik sepupunya yang terlihat mencuri-curi pandang pada calon suaminya itu.
"Ekhem. Kau jadi pulang besok, Gaurav? " Raja Satria mencoba memecah keheningan.
"Iya." Pria itu menjawab singkat.
Terlihat jelas raut kekecewaan di wajah Puteri Elok ketika mendengar Pangeran Gaurav besok akan pulang ke negerinya. Ratu Gita yang melihat hal itu jadi mendapatkan ide.
"Gaurav, tolong besok sekalian kau antarkan Puteri Elok kembali ke Kerajaan Alsatia. "
Pangeran Gaurav seketika mendongak dengan wajah bingung. Pria itu bergantian memandang Ratu Gita dan Puteri Elok seperti menuntut penjelasan.
Ratu Gita terpaksa berbohong pada sepupunya. Wanita itu tahu jika Pangeran Gaurav tidak mungkin menolak permintaannya.
"Kalau kau yang memintanya, aku tak akan menolak." Pangeran Gaurav memandang Ratu Gita dengan sendu.
Sebuah senyuman terbit di bibir Puteri Elok mendengar bahwa calon suaminya itu bersedia mengantarnya pulang. Meski sebenarnya dia berencana untuk tinggal di istana Elfian lebih lama, namun kesempatan emas untuk berduaan dengan Pangeran Gaurav tentu tak akan dia tolak.
Berbeda dengan Puteri Elok, Raja Satria terlihat cemberut melihat Pangeran Gaurav yang terlihat sangat patuh pada Ratu Gita. Sangat jelas bahwa pria itu belum bisa move on dari istrinya.
"Gaurav, kau harus menjaga sepupuku ini sampai ke rumahnya. Puteri Elok adalah calon istrimu, kau harus bersikap baik padanya! " Raja Satria berkata sambil menatap tajam ke arah Pangeran Gaurav.
"Uhuk! "
Pangeran Gaurav tiba-tiba tersedak minumannya. Pria itu kaget karena Raja Satria tiba-tiba membahas hal itu. Dia baru menyadari siasat Ratu Gita agar dia bisa lebih dekat dengan Puteri Elok.
"Aku sudah berjanji. Aku pasti akan menepatinya sepupu! " Wajahnya merah dan terlihat menantang.
Setelah makan malam Ratu Gita langsung berpamitan untuk tidur, tubuhnya terasa sangat letih. Tak lama kemudian Puteri Elok mengekorinya dan menanyakan tentang keponakan kecilnya.
"Esme dan Talitha sudah membawanya ke kamarmu. Mereka berdua akan menemanimu malam ini. "
"Terima kasih untuk semuanya, Kak Gita! "
"Sama-sama, sepupuku sayang! " Ratu Gita memeluk Puteri Elok dengan sayang.
Mereka berdua berpisah di ujung koridor yang bercabang untuk kembali ke kamar masing-masing.
__ADS_1
Ratu Gita berbaring di ranjangnya yang sudah lama tidak ditidurinya. Rasanya banyak sekali kejadian yang menimpa hidupnya sejak memasuki istana ini sebagai istri Raja Satria.
Tak terasa hampir dua tahun mereka menjalani perkawinan yang awalnya hanyalah sebuah perjodohan. Namun dia bisa berkata dengan lantang bahwa hidupnya kini bahagia. Dia sudah memiliki segalanya, suami dan anak yang sangat disayanginya.
Grep..
Lamunan wanita itu terputus saat dirasakannya sepasang tangan melingkar di pingganggnya. Aroma cendana yang bercampur dengan musk sangat familiar di indera penciumannya. Aroma tubuh pria yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Kau belum tidur, Sayang? "
Bisikan lembut di telinga wanita itu membuatnya seketika merinding. Napas Raja Satria yang hangat berhembus di kulit lehernya.
"Aku baru teringat dengan perjalanan hidupku selama hampir dua tahun ini sejak menjadi istrimu. " Jawab wanita itu.
"Maaf kalau aku belum bisa membuatmu bahagia. "
"Aku sudah bahagia. Kau tak perlu minta maaf. "
Raja Satria membalik tubuh istrinya sehingga kini mereka berhadapan. Dibelainya dengan lembut rambut hitam bergelombang milik wanita itu. Dikecupnya kening istrinya itu dengan penuh syukur.
Wanita itu seketika merasakan kehangatan mengalir di dadanya. Perasaan dikasihi dan dihargai oleh pasangan hidupnya itu.
"Aku sangat menyayangimu." Raja Satria kembali berbisik, kali ini dengan keningnya menempel di kening istrinya.
"Aku juga sangat menyayangimu." Balas Ratu Gita tanpa ragu.
"Aku merindukanmu, selama ini aku menahan diri untuk tidak menyentuhmu. "
Perkataan Raja Satria rupanya sangat menyentuh hati Ratu Gita. Wanita itu menyadari betapa keras usaha suaminya untuk mendapatkannya kembali. Kali ini dia memutuskan untuk mengambil inisiatif terlebih dahulu.
Dengan lembut disentuhnya pipi suaminya dan perlahan mendekatkan wajahnya. Bibirnya menempel pada bibir suaminya dan mengecupnya dengan lembut. Pria itu membuka mulutnya sedikit lalu membalas kecupannya. Namun Raja Satria membiarkan wanita itu yang mendominasi.
Setelah beberapa waktu kecupan mereka menjadi semakin intens dan liar. Tangan mereka saling merengkuh dan menyentuh tubuh pasangannya untuk menuntaskan rindu. Malam itu menjadi malam yang sangat panas bagi pasangan suami istri itu.
*****
Pagi ini pasangan Raja dan Ratu duduk di meja makan dengan wajah cerah. Beberapa kali mereka saling bertukar pandang dan tersenyum. Aura keromantisan terasa mendominasi ruang makan membuat yang hadir di sana serasa sebagai pemain figuran.
"Aku tidak menyangka kakak sepupuku ini sangat romantis. " Puteri Elok memuji Raja Satria ketika melihat pria itu mengusap bibir istrinya yang terkena krim cokelat.
Ratu Gita tersenyum malu-malu seperti pengantin baru. Raja Satria malah sengaja memegang tangan istrinya kemudian mengecupnya untuk memamerkan kemesraannya.
Pangeran Gaurav terlihat gerah. Beberapa kali tangannya berusaha melonggarkan kerah bajunya. Dia berusaha untuk tidak cemburu, namun kelakuan Raja Satria yang seolah-olah sengaja memanas-manasinya membuatnya tidak nyaman.
"Nanti kalau kalian menikah, mintalah Gaurav untuk memanjakanmu! " Ucap Raja Satria dengan santai.
"Uhuk! "
Pangeran Gaurav lagi-lagi terbatuk gara-gara mendengar perkataan Raja Satria. Mukanya terlihat merah sampai ke telinga.
Puteri Elok menahan senyum melihat Pangeran Gaurav yang menjadi salah tingkah. Kalau pria itu akan terus bersikap dingin seperti itu padanya, maka dialah yang akan mencairkan kebekuannya. Wanita itu bertekad untuk membuat pangeran sombong itu jatuh cinta padanya.
"Iya, sepupuku. Suamiku nanti akan memanjakanku seumur hidupku! " Wanita cantik itu tersenyum dengan penuh percaya diri.
Pangeran Gaurav melongo menyaksikan keberanian Puteri Elok mengatakan kalimat itu.
__ADS_1