
Sinar mentari pagi masuk menerobos jendela dan menerangi kamar pribadi Raja. Ratu Gita terlihat masih terpejam di samping suaminya.
"Sayang?" Raja Satria berbisik lembut sambil berbaring miring, bertumpu pada sikunya, memandang wajah Ratu Gita.
Ratu Gita mengerjap, belum sepenuhnya bangun. Matanya kemudian melihat seraut wajah yang memandanginya dengan mata memancarkan kasih sayang.
"Selamat pagi, Sayangku." Raja Satria mengecupnya, lalu membelai rambut Ratu Gita yang hitam dan bergelombang.
Bibir Raja Satria mengulum senyum dan Ratu Gita menatapnya penuh tanya.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Aku sedang membayangkan bayi kita kelak. Bagaimana rupanya nanti? Akan mirip dirimukah atau mirip aku?" Raja Satria tertawa.
"Bagaimana jika dia nanti sepertiku? Apa kau akan kecewa?" Ratu Gita memandang suaminya.
"Tidak. Aku justru akan senang sekali!" Raja Satria memandangi wajah istrinya sambil menggerakkan ujung jarinya ke perut wanita itu.
"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya." Sambung Raja Satria.
Ratu Gita tersenyum bahagia membayangkan masa depan mereka bersama anak yang nanti dilahirkannya.
"Kau mau sarapan apa? Biar nanti kusuruh pelayan membawanya kemari?"
"Aku ingin makan telur orak-arik." Ratu Gita bergelayut manja pada bahu suaminya.
Raja Satria mengelus kepala wanita itu dengan sayang. Kemudian Raja Satria beranjak dari tempat tidur lalu keluar untuk memesan sarapan pada pelayan.
"Sarapan sudah siap, Sayang." Tak lama kemudian Raja datang dengan membawa nampan berisi telur orak-arik, semangkuk puding dan segelas susu hangat.
Dengan telaten Raja Satria menaruh nampan berkaki itu dihadapan istrinya. Lalu dia menyendok telur dan menyuapkan pada istrinya yang sedang tertawa malu.
"Aku bisa makan sendiri." Ratu Gita tergelak.
"Jangan, biar aku saja yang menyuapimu!"
"Tapi aku tidak sedang sakit. Aku cuma hamil!"
"Tapi kau sedang mengandung bayiku yang istimewa. Jadi biarkan aku melayanimu. Paling tidak untuk hari ini." Raja Satria kembali menyuapi istrinya.
Rasa bahagia yang dirasakan oleh Ratu Gita benar-benar tak bisa digambarkan. Perlakuan manis dari suaminya membuatnya seakan-akan bermimpi.
*****
Ratu Gita sedang berjemur di taman bersama kedua pelayan setianya sambil memandangi ikan-ikan koi yang berwarna cerah.
"Saya mendengar Kerajaan Angsana telah diserang oleh pasukan Raja Bharata." Sambil melempar pakan ke kolam ikan, Esme berkata dengan khawatir.
"Siapa itu Raja Bharata?" Tanya Ratu.
"Raja Bharata adalah pemimpin di Kerajaan Dewanata. Dia terkenal sebagai raja yang kejam dan penakluk bangsa-bangsa untuk dijadikan negara jajahan." Ucap Esme.
__ADS_1
"Lalu bagaimana? Apakah Kerajaan Elfian akan membantu Kerajaan Angsana?"
"Tentu saja, karena Kerajaan Elfian dan Kerajaan Angsana termasuk dalam Liga Kerajaan."
Ratu Gita terlihat cemas. Dia mengkhawatirkan suaminya jika ikut berperang melawan pasukan Raja Bharata. Dia baru saja kembali bersatu dengan suaminya dan rasanya tidak rela jika harus berpisah lagi.
"Saya berharap pasukan Liga Kerajaan dapat menghalau pasukan Raja Bharata agar tidak sampai terjadi perang yang lebih besar." Talitha ikut menimpali.
"Ya, kuharap juga begitu. Semoga seluruh kerajaan bisa selamat." Ratu Gita tanpa sadar mengelus perutnya yang masih rata.
Ratu Gita terus memikirkan hal itu seharian. Dia sangat khawatir. Rasanya tidak sabar menunggu suaminya pulang untuk menanyakannya secara langsung.
Akhirnya Ratu Gita memutuskan untuk menunggu suaminya di sofa sambil membaca buku pemberian Eldrige. Tak terasa matanya terpejam dan terbuai ke alam mimpi.
Saat Raja Satria datang pada sore harinya, pria itu menemukan istrinya tengah tertidur meringkuk di sofa. Segera dibopong tubuh wanita itu ke pembaringan. Ada gurat kesedihan di wajah tampannya.
"Entah kapan lagi aku bisa memanjakanmu, Sayang?" Raja Satria bergumam sambil memandang wajah istrinya.
"Kau sudah pulang?" Ratu Gita membuka matanya dan segera memeluk suaminya.
"Kau pasti kangen padaku ya?"
Ratu Gita mengangguk, setetes air mata lolos membasahi pipinya.
"Kenapa kau menangis?" Raja Satria kaget melihatnya.
"Aku takut berpisah denganmu lagi." Pundak wanita itu berguncang, isakan mulai terdengar dari mulutnya.
"Kudengar kau akan pergi berperang?" Wajah wanita itu terlihat sangat sedih.
"Kau sudah mengetahuinya?"
Ratu Gita mengangguk.
"Kau harus tahu bahwa aku terpaksa melakukannya. Semua itu agar bisa mencegah Raja Bharata menghancurkan Kerajaan Angsana. Karena jika kerajaan itu jatuh ke tangannya, maka kemungkinan besar dia juga akan kemari. Aku berusaha agar rakyat Elfian terhindar dari peperangan." Raja Satria menjelaskan alasan kepergiannya.
"Kapan kau akan pergi?"
"Rencananya lusa."
"Dan kapan kau berencana mengatakannya padaku?"
"Sejujurnya aku belum tahu. Aku hanya tidak ingin membuatmu cemas!" Ucapnya lembut.
"Aku tahu. Maafkan aku. Sebagai Ratu negeri ini seharusnya aku mendukungmu, bukannya malah membebanimu." Suara Ratu Gita terdengar sendu.
"Tidak sayang. Kau tidak bersalah. Sudah sewajarnya kalau kau bertindak seperti itu." Raja Satria memeluk tubuh istrinya yang gemetar.
"Mengingat usia kandunganmu yang masih muda, aku mohon padamu untuk menjaga diri baik-baik selama aku pergi." Dengan lembut dibelainya kepala istrinya yang menempel di dadanya.
"Kau harus janji akan menjaga anak kita, apapun yang terjadi!"
__ADS_1
Ratu Gita mengangguk. " Ya, aku janji!"
*****
Kepergian Raja Satria bersama pasukannya tidak bisa ditunda lagi. Mereka semua berjumlah lima ribu orang. Diperkirakan mereka akan sampai di Kerajaan Angsana seminggu kemudian.
Untuk sementara Ratu Gita ditunjuk sebagai pengganti Raja, dengan didampingi oleh para anggota Dewan Kerajaan.
Setiap hari Ratu Gita bertugas untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan pemerintahan, yang sebenarnya kurang dipahaminya. Namun Ratu Gita bersedia untuk belajar dari para penasehatnya dan bekerja keras agar mencapai hasil yang maksimal.
*****
Tak terasa sudah lima bulan Raja Satria dan pasukannya meninggalkan Kerajaan Elfian, selama itu para utusan tidak pernah absen mengirim kabar.
Peperangan yang sedianya diharapkan segera berakhir itu nampaknya malah semakin meluas. Bahkan Kerajaan Alsatia yang letaknya paling dekat dengan Kerajaan Elfian pun sudah mulai bersiaga.
"Yang Mulia, karena keadaan semakin genting, ada baiknya jika pengamanan di istana dan di wilayah perbatasan diperketat." Saran Sunaryo, Ketua Dewan Kerajaan yang baru.
Ratu Gita mengangguk, dia juga merasa khawatir mengingat peperangan yang sudah hampir di depan mata.
"Baik. Segera perketat dan tambahkan jumlah personel, baik itu di perbatasan Kerajaan maupun di sekitar tembok istana!" Perintah Ratu.
"Juga jangan lupa untuk meredam semua berita yang akan membuat rakyat menjadi gusar!" Imbuhnya.
"Baik Yang Mulia!"
Banyak sekali hal-hal yang mereka bahas hari itu hingga membuat Ratu Gita yang usia kandungannya sudah memasuki bulan ke delapan merasa kelelahan.
Perutnya yang buncit membuat napasnya sering sesak. Ditambah lagi kecemasan akan kondisi suaminya, semakin membuat kondisi kesehatannya menurun.
Eldrige mengunjunginya sore itu dengan membawakan minuman herbal yang rasanya sangat enak dan segar. Peri itu sekalian memeriksa kondisi tubuh wanita yang sedang hamil tua itu.
"Terima kasih Eldrige, minuman ini enak sekali." Ratu Gita menandaskan minumannya.
"Kalau Yang Mulia menyukainya, akan saya bawakan setiap hari."
"Kau baik sekali, Eldrige."
"Apakah Yang Mulia mengalami gangguan kesehatan, akhir-akhir ini?"
"Aku sering sesak napas dan kakiku juga sering kram di malam hari." Keluhnya, beberapa kali wanita itu mengurut punggungnya sendiri yang terasa pegal.
"Oleskan balsam mint ini di tempat yang sakit untuk mengurangi rasa nyerinya."
Ratu Gita menerima sebuah botol kaca berbentuk bundar yang baunya mint segar.
"Terima kasih, Eldrige."
Sebelum tidur, Ratu Gita meminta Esme dan Talitha mengoleskan balsam itu di punggung dan kakinya yang pegal. Dengan telaten mereka berdua melakukannya. Setelah itu Ratu Gita terlelap.
Tiba-tiba di tengah malam, Ratu Gita terbangun mendengar suara keributan di luar. Esme dan Talitha menemuinya dengan wajah cemas.
__ADS_1
"Yang Mulia, istana telah diserang!"