Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 175 Pertarungan Eldrige dan Mandala


__ADS_3

Puteri Juwita berlari ke arah Eldrige begitu melihat ekspresi kesakitannya.


"Kau kenapa, Eldrige? Apa kau sakit?"


"Aku tidak apa-apa. Kita pulang?" Lelaki itu berusaha tampak tenang di hadapan gadis itu.


"Pulang?" tanya Puteri Juwita.


"Ke Elfian."


"Sekarang?" tanya gadis itu lagi seolah belum yakin dengan perkataan Eldrige.


"Aku tidak mau di sini lebih lama lagi." Eldrige menegaskan.


"Baiklah, Eldrige. Tapi aku berpamitan dulu dengan Nenek Divya dan yang lain." Puteri Juwita kini bergerak untuk menemui Nenek Divya.


Eldrige ingin mencegah, namun dia urungkan. Bagaimanapun mereka harus berpamitan kepada tuan rumah.


"Kau tidak boleh pergi, Juwita!" tolak Nenek Divya begitu gadis itu mengutarakan niatnya.


"Tapi aku sudah terlalu lama di sini, nenek. Orang tuaku pasti mencemaskanku."


"Tidak. Nanti nenek yang akan jelaskan kepada mereka, kau di sini saja." Wanita tua itu berusaha mencegah.


"Jangan mencoba melarangnya pergi!" Dengan suara halus dan tenang Eldrige memperingatkan Nenek Divya.


"Eldrige?" Puteri Juwita terkejut melihat sikap Eldrige terhadap Nenek Divya yang terkesan mengancam.


"Tidak usah hiraukan dia, kita pergi saja sekarang." Eldrige menggenggam tangan Puteri Juwita dan membawanya.


"Berhenti kalian!" teriak Nenek Divya. Wanita tua itu tidak bisa membiarkan Puteri Juwita pergi dengan membawa Mangal Arti. Namun Eldrige tidak menghiraukannya.


"Mandala! Kau di mana? Jangan biarkan gadis itu pergi, Mandala!" Nenek Divya berteriak histeris.


Kening Puteri Juwita berkerut mendengarnya. Jadi selama ini Nenek Divya mengenal Mandala?


"Ayo, jangan hiraukan dia." Eldrige mengajak Puteri Juwita pergi.


Mereka sudah berjalan sampai halaman ketika Mandala sudah berdiri mencegat. Melihat lelaki itu, Eldrige secara spontan menarik tubuh Puteri Juwita ke belakang punggungnya.


"Mau apa kau?" Eldrige menatap tajam Mandala.


"Lepaskan gadis itu!" perintah Mandala.


"Hmm, enak saja. Kau jangan harap bisa menyentuh dia lagi." Eldrige mengucapkannya dengan halus dan lunak namun menyiratkan ancaman.


Siiiing...!


Tampak dua sinar berkelebat saat mereka berdua mencabut pedang secara bersamaan. Pedang milik Mandala berkelebat dan menjadi sebuah gulungan cahaya tebal dan panjang, mengeluarkan suara deru angin. Gulungan cahaya itu melayang dengan cepat ke arah Eldrige.


Gerakan pedang Eldrige jauh lebih cepat, dia menciptakan selapis bayangan pedang dan mengarahkannya ke gulungan cahaya itu dengan gerakan menusuk.


Trang!


Gulungan cahaya yang berkelebat itu menjadi kacau gerakannya. Meski berkali-kali mengitari tubuh Eldrige, namun peri itu selalu berhasil menangkisnya.


Trang! Trang!

__ADS_1


Bunga api berpijar dan suara pedang yang saling beradu terus terdengar nyaring. Hingga suatu saat ujung pedang salah satu dari kedua petarung itu berhasil mengoyak lawannya.


Cras!


Selarik luka menggores lengan Mandala. Darahnya menetes membasahi pakaian.


"Tuan Mandala!" Jadukari Daalal Nath datang tergopoh-gopoh dengan raut cemas.


"Aku tidak apa-apa." Dengan isyarat tangan Mandala menyuruh dukun itu menyingkir.


Sementara itu Puteri Juwita yang sejak tadi menyingkir dari arena pertarungan kini telah bergabung bersama Puteri Pertiwi, Bagas dan Ningrum. Mereka semua tampak takjup melihat pertarungan tadi.


"Tidak kusangka ternyata Tuan Eldrige begitu hebat," ucap Bagas.


"Tentu saja. Tuanku itu memang sangat hebat," sahut Eshwar yang tiba-tiba muncul.


"Tapi aku khawatir pada Eldrige. Bagaimanapun juga, tubuhnya sekarang agak lemah," gumam Puteri Juwita.


Trang!


Pertarungan berlanjut. Kedua pedang saling menyerang dengan kekuatan masing-masing. Gulungan cahaya dari pedang milik Mandala terus mengincar tubuh Eldrige dan membayangi setiap gerakannya.


Sreeet ...


Kali ini yang tergores adalah punggung Eldrige. Pakaian yang dikenakannya koyak dan bernoda darah.


"Eldrige!" Puteri Juwita terpekik sambil menutupi mulutnya. Dadanya terasa sesak menyaksikan lelaki itu terluka.


Sementara itu Mandala tampak tersenyum puas. Karena merasa telah berhasil melukai Eldrige, dia ingin segera menyelesaikan pertarungan itu. Gerakannya semakin gesit dan sulit diikuti oleh pandangan normal.


Trang! Trang! Trang!


"Aarrggh!"


Suara erangan nyaring terdengar dari sela-sela pertarungan.


"Siapakah yang terluka?" tanya Eshwar.


Semua orang ikut menatap penasaran. Bagaimanapun, tidak ada yang bisa memprediksi bagaimana pertarungan ini akan berakhir.


*****


"Daalal Nath, kau harus mencegah Eldrige membawa Juwita pergi!" seru Nenek Divya dengan kalut. Ketika itu dia sengaja menyeret dukun tua itu meninggalkan jalannya pertempuran.


"Tapi kekuatan saya tidak sebanding dengan peri itu," jawab Jadukari Daalal Nath.


"Dia hanya mantan peri!"


"Sekarang saya menyangsikannya. Lihatlah, bagaimana bisa manusia biasa melawan Mandala?" Dukun itu menunjuk ke arah pertarungan.


"Lalu bagaimana?" desak Nenek Divya. "Riwayatmu akan tamat jika sampai Juwita pergi!"


"Saya ada ide." Setelah berpikir sejenak, Jadukari Daalal Nath membisikkan sesuatu kepada Nenek Divya yang membuat wanita tua itu tersenyum senang.


"Lakukanlah. Aku hanya butuh dia menyerahkan kekuatan Mangal Arti. Setelah itu, aku tidak peduli dia mau hidup atau mati."


******

__ADS_1


Puteri Juwita melihat Jadukari Daalal Nath tiba-tiba mendekatinya. Tangan lelaki tua itu menyambar sehelai rambutnya dengan cepat. Gadis itu terkesiap melihat perbuatan dukun itu.


Dengan sehelai rambut keperakan yang terentang di tangannya, Jadukari Daalal Nath duduk bersila sambil memejamkan mata. Mulutnya komat-kamit merapal mantera.


Hawa aneh mulai menyerang Puteri Juwita. Kepalanya jadi pusing dan kesadarannya mulai hilang. Hal itu tidak luput dari pengamatan wanita tua yang telah berpura-pura menjadi pengganti sosok nenek bagi gadis itu.


"Benar, kekuatan Eldrige dan kecerdasannya memang sangat hebat. Namun jika diadu dengan kekuatan Uma, siapalah dia?" Nenek Divya terkekeh pelan.


Sementara itu, perterangan itu sendiri mulai terlihat tidak seimbang. Gerakan Mandala mulai lambat karena rupanya ada beberapa luka yang cukup serius kini bersarang di beberapa area vitalnya. Luka yang paling parah berada di dadanya karena pedang Eldrige menusuk cukup dalam hampir menyerempet jantung.


Weeesh!


Sebuah pukulan dilayangkan oleh Mandala dengan cepat sekali. Eldrige berkelit ke samping untuk menghindari serangan itu lalu mengejeknya.


"Seranganmu memang hebat, sayangnya meleset."


Mandala yang mendengar ejekan itu merasa tidak terima. Sepasang matanya menatap Eldrige sengit. Dengan gusar dia mengayunkan pedangnya berulang kali mengejar Eldrige.


Tapi Eldrige bukanlah petarung kemarin sore. Dia bisa melihat lawannya mengeluarkan tenaga cukup besar yang menyebabkan darah lebih banyak mengucur pada lukanya. Hal itu menyebabkan kondisi tubuh Mandala semakin lemah.


Trang!


Eldrige cukup berputar-putar di udara untuk menghindari serangan-serangan itu. Dia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk merobohkan lawannya.


"Aku tidak ada waktu lagi untuk bermain-main denganmu. Sebaiknya kita akhiri saja sekarang." Setelah mengatakan itu Eldrige menggerakkan lengannya dengan posisi menebas. Pedang perinya berkilat menyilaukan di bawah cahaya matahari.


Trang!


Pedang milik Mandala berusaha menahan laju pedang peri yang berkelebat mengincar lehernya. Tidak disangka baru beberapa hari bangkit dari kematian dirinya kembali diincar oleh maut.


Diam-diam orang-orang yang menonton pertarungan itu berkeringat dingin saking tegangnya. Seluruh perhatian mereka tertuju kepada kedua orang itu sebab bagaimanapun juga menang kalah pertarungan itu sangat mempengaruhi hidup mati mereka sendiri.


Blaar!


Tahu-tahu tubuh Mandala roboh terbanting di tanah. Wajahnya mengernyit kesakitan sambil tangannya menekan luka di dadanya. Sedangkan pedangnya terpental sejauh beberapa meter.


"Aku tidak ingin membunuhmu. Tapi kuharap kau berhenti mengganggu Puteri Juwita. Berpikirlah dengan jernih dan jangan biarkan dirimu dimanipulasi oleh orang-orang yang hanya ingin memanfaatkanmu saja." Eldrige menyimpan pedangnya lagi.


Mandala sendiri masih belum mengerti arti ucapan Eldrige karena dia sama sekali tidak merasa dimanipulasi oleh siapapun.


"Aku hanya ingin bersama Uma. Kami saling mencintai. Setelah sekian lama terbentang dendam dan kebencian, kami akhirnya bisa saling memaafkan."


"Aku mengerti. Tapi kalian tidak boleh memanfaatkan Puteri Juwita!"


"Maaf, tapi aku tidak bisa melepas Uma lagi." Setelah mengatakan hal itu Mandala kembali bangkit. Dia terbatuk sekali dan memuntahkan darah segar. Namun tekadnya sudah bulat untuk mempertahankan Uma yang berarti menahan Puteri Juwita tetap di sisinya.


Kali ini lelaki itu menyerang Eldrige dengan tangan kosong. Dia menerjang ke depan dan mengarahkan cengkeramannya pada leher musuhnya itu.


Des!


Eldrige berhasil berkelit dan menyerang balik dengan melancarkan pukulan tepat di dada Mandala.


"Hoek!"


Mandala kembali memuntahkan darah. Kali ini tubuhnya ambruk tak bergerak.


"Mandala!" terdengar teriakan dari arah belakang.

__ADS_1


Seorang gadis melompat ke arah Mandala dan menubruknya. Tangan gadis itu membelai wajah Mandala sambil menangis sesenggukan.


"Aku tidak akan memaafkanmu!" ujar gadis itu. Dia kini berdiri menghadap Eldrige. Kedua mata hitamnya seakan membara penuh kebencian.


__ADS_2