Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 72 Rusalqa


__ADS_3

Pria misterius yang selalu mengikuti Puteri Elok itu berjalan keluar. Dia berdiri tegak di bawah guyuran air hujan. Kulitnya yang telanjang terlihat berkilauan tertimpa cahaya kilat.


Pangeran Gaurav mengikuti keluar dan berdiri berhadapan dengannya. Mereka saling melemparkan tatapan tajam.


"Aku ingin tahu, lelaki macam apa yang ingin merebut pasanganku? " Suara pria asing itu terdengar meremehkan. Dari lipatan celananya yang menyerupai celana balet, dia mengeluarkan dua bilah trisula pendek.


"Kalau kau penasaran, mari kita saling mengenal! " Pangeran Gaurav sudah bersiap dengan pedangnya.


Mereka saling menerjang dibawah guyuran hujan dan petir yang menyambar-nyambar. Senjata mereka saling beradu menimbulkan bunyi logam yang berdenting.


Trang.. Trang.. Trang..


Rupanya pria misterius itu sangat mahir memainkan trisula kembarnya dengan kedua tangan. Setiap kali Pangeran Gaurav menyerang, pria itu berhasil berkelit lalu membalas dengan tusukan-tusukan yang mematikan.


Puteri Elok berdiri di pintu kamarnya, memperhatikan dua orang pria yang sedang bertarung memperebutkannya. Wajah pria misterius itu terlihat bersungguh-sungguh untuk mempertahankannya.


Wanita itu mulai ragu untuk menjatuhkan dukungannya. Yang seorang adalah pemujanya, yang mengikutinya sampai ke rumah. Bahkan nekat membunuh siapapun yang menghalanginya.


Sedangkan yang seorang lagi, adalah orang yang ditetapkan menjadi calon suaminya. Seorang pria yang dia cintai sejak perjumpaan pertama. Namun pria itu berkali-kali menolaknya dan hanya menganggapnya sebagai teman.


Hari sudah mulai malam, Pangeran Gaurav masih berduel dengan pria itu. Sepertinya pria misterius itu memiliki energi yang tak ada habis-habisnya. Seolah dia mendapatkan aliran tenaga lewat air hujan yang terus mengalir deras.


Bugh.. bugh.. bugh..!


Pangeran Gaurav terjengkang dan pedangnya jatuh ketika mendapat tendangan berputar yang bertubi-tubi dari pria misterius itu. Tubuh Pangeran Gaurav sudah sangat lelah namun dia berusaha untuk bangkit lagi.


Namun pria misterius itu dengan cepat mendatanginya dan menempelkan ujung trisulanya pada leher Pangeran Gaurav. Pria itu menekan trisulanya dan darah mengalir di leher Pangeran Gaurav namun segera terhapus oleh air hujan.


"Menyerahlah, aku akan membiarkanmu hidup!" Ucap pria itu.


"Tidak akan! " Pangeran Gaurav menangkis trisula itu dengan tangannya dan kembali bangkit.


"Kalau itu keinginanmu, akan kukabulkan." Pria itu menyeringai memperlihatkan gigi-giginya yang tajam seperti gigi-gigi hiu. Dia menyelipkan lagi senjatanya di pinggangnya.


"Aaarhg! " Pria itu melengking panjang dengan suara mirip ikan paus.


Tiba-tiba di sepanjang tulang punggungnya ditumbuhi selaput menyerupai sirip ikan. Di belakang telinganya yang semula tampak seperti goresan luka, kini terbelah dan terlihat seperti insang. Bahkan celana ketat yang dipakainya kini terlihat seperti sisik ikan.


Melihat hal itu, Puteri Elok segera berlari mendatangi mereka. Dia tahu apa yang akan terjadi saat monster dalam tubuh pria itu bangkit.


"Kumohon lepaskan dia! Aku akan ikut denganmu." Puteri Elok menatap mata pria misterius itu.


"Akhirnya kau telah menentukan pilihanmu." Pria itu memegang tangan Puteri Elok dan menarik tubuh wanita itu ke dalam gendongannya.


"Puteri Elok apa yang kau lakukan? " Teriak Pangeran Gaurav sambil mengusap air dari wajahnya.

__ADS_1


"Maafkan aku, demi keselamatanmu jangan mencariku lagi. Katakan pada ayahku jangan bersedih dengan kepergianku!" Puteri Elok meneteskan air matanya yang bercampur dengan air hujan. Dia mengalungkan kedua tangannya pada leher pria itu.


Tanpa aba-aba, pria misterius itu meloncat sangat tinggi di udara melampaui halaman yang luas dan mendarat di tembok istana.Kemudian dia meloncat lagi dan menghilang diantara hujan, meninggalkan Pangeran Gaurav yang mematung seakan kehilangan akal.


*****


Raja Satria dan Ratu Gita duduk di hadapan pria tua di desa Yaselda.


"Apa kau tahu siapa yang membunuh Danang? " Raja Satria bertanya langsung ke intinya.


Pria tua itu menatap Raja Satria dengan pandangan meremehkan.


"Apa kalian akan percaya jika saya mengatakan yang sebenarnya? Beberapa waktu yang lalu prajurit-prajurit kerajaan telah mencemooh dan menganggap saya tidak waras ketika saya berusaha memberikan penjelasan." Pria tua itu terlihat kesal.


"Kami akan mempercayaimu." Ratu Gita berbicara dengan suara lembut membuat pria itu menurunkan emosinya.


"Beberapa minggu ini, desa kami diteror oleh makhluk buas setengah ikan. Tepatnya setelah Danang pulang dari perjalanannya."


Pria itu memperhatikan kedua tamunya, mencari keraguan pada wajah mereka. Namun dia melihat keduanya tetap menyimak perkataannya dengan serius.


"Apakah itu sebabnya kenapa desa ini terlihat sangat sepi?" Raja Satria sekilas memandang keluar.


"Benar. Warga desa tidak berani keluar rumah, bahkan pada siang hari."


"Apa menurutmu, makhluk itu yang membunuh Danang? " Tanya Raja Satria lagi.


"Kenapa? "


"Karena pria bodoh itu telah menculik salah satu betina mereka. Padahal menurut perhitungan kalender, saat ini adalah musim mencari pasangan. Rusalqa jantan akan lebih agresif. "


"Bagaimana kau bisa mengetahui hal itu?" Raja Satria mulai bersemangat mengetahui bahwa pria ini memiliki lebih banyak informasi mengenai Rusalqa.


"Rawa-rawa di Desa Yaselda ini adalah salah satu pintu masuk ke dunia Rusalqa, makhluk buas setengah ikan. Mereka telah berkoloni selama berabad-abad di bawah permukaan air dengan sedikit bersinggungan dengan manusia." Pria itu memulai penjelasannya.


"Karena itulah keberadaan mereka kini hanya dianggap mitos. Namun, warga asli daerah ini percaya bahwa mereka nyata. Selama berabad-abad nenek moyang kami hidup berdampingan dengan mereka. "


"Bagaimana cara Danang menculik salah satu betina mereka dan untuk apa? " Ratu Gita tidak bisa menahan rasa penasaran.


"Danang memiliki cincin emas bermata safir yang berfungsi untuk mengendalikan Rusalqa. Pasti dia menggunakan cincin itu untuk memaksa Rusalqa itu mengikutinya."


"Cincin?" Raja Satria saling berpandangan dengan istrinya sesaat, kemudian dia kembali melihat ke arah pria tua tadi.


"Darimana Danang mendapatkan cincin itu? "


"Dia mendapatkan cincin itu secara turun-temurun karena nenek moyangnya adalah salah satu orang yang membuat perjanjian damai antara penduduk desa Yaselda dan bangsa Rusalqa. "

__ADS_1


"Perjanjian damai? " Raja Satria merasa heran, sebagai raja negeri ini dia belum pernah mendengar ada perjanjian damai antara Kerajaan Elfian dengan bangsa Rusalqa.


"Dulu daerah ini adalah rawa-rawa yang hanya didiami oleh binatang liar. Nenek moyang kami datang kemari untuk beternak rusa karena bukit di belakang pemukiman ini memiliki kontur tanah yang baik untuk tumbuhnya rumput." Pria tua itu mulai menyalakan pipa rokoknya.


"Bahkan di musim dingin saat rawa-rawa membeku, rusa-rusa masih bisa mencari makan di bukit itu. Namun selain binatang liar, nenek moyang kami harus menghadapi bangsa Rusalqa."


Raja Satria dan Ratu Gita masih mendengarkan penjelasan pria tua itu dengan seksama.


"Setelah bertahun-tahun mengalami bentrokan, akhirnya terjadilah kesepakatan untuk tidak saling mengganggu antara penduduk desa Yaselda dan bangsa Rusalqa." Pria tua itu terbatuk-batuk setelah menghisap pipanya, namun dia kembali menghisapnya kemudian menghembuskan asapnya pelan-pelan.


"Cincin safir itu sebenarnya adalah pusaka milik bangsa Rusalqa yang diberikan sebagai tanda perdamaian. Namun rupanya Danang menggunakannya untuk kepentingan pribadi." Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Mungkinkah ada yang sengaja menyuruh Danang untuk melakukannya? " Raja Satria memandang pria tua itu.


"Mungkin saja. Karena siapapun yang memegang cincin itu, dia bisa menguasai seluruh bangsa Rusalqa." Suara pria tua itu terdengar serius.


Raja Satria terbelalak. Bagaimana jika kasus ini tak sesederhana dugaannya. Bagaimana jika ada tujuan yang lebih besar lagi. Tujuan yang mungkin bisa mengguncang pemerintahannya.


*****


Raja Narend jatuh pingsan mendengar bahwa putrinya diculik oleh makhluk buas yang sudah membunuh pelayannya. Adik laki-laki Puteri Elok yang baru berusia 15 tahun, Pangeran Sagar, terlihat tenang mendampingi ayahnya di tempat tidur.


Wajah Pangeran Sagar yang masih kanak-kanak sama sekali tidak menunjukkan emosi yang berlebihan. Usianya yang belia tidak menghalanginya untuk bersikap dewasa dan bijaksana.


"Kakak Gaurav, aku akan ikut mencari kakakku." Ucapnya dengan suara halus.


"Apa kau yakin? Musuh yang kita hadapi saat ini bukanlah manusia biasa." Pangeran Gaurav agak ragu untuk mengajak Pangeran Sagar bersamanya.


"Aku tidak takut. Kakakku adalah satu-satunya saudara yang kumiliki, jadi ini sudah menjadi kewajibanku untuk membawanya kembali."


Pembawaannya yang tenang, diam-diam membuat Pangeran Gaurav kagum.


Wajah Pangeran Sagar tidak mirip seperti kakaknya, dia mewarisi gen ayahnya.Warna matanya coklat terang dan berbentuk biji almond. Kulitnya kekuningan dan rambutnya berwarna hitam.


"Baiklah kalau begitu. Persiapkan senjatamu dan juga selalu waspada. Dan tetaplah di dekatku. Kau mengerti? "


"Aku mengerti!" Pangeran Sagar menjawab dengan patuh.


Mereka kemudian meninggalkan kamar Raja Narend dan menuju halaman istana. Sudah ada 20 orang prajurit yang siap mengikuti mereka.


"Kita akan kemana? " Tanya seseorang.


"Kita akan ke padang rumput Masserjarvi! " Jawab Pangeran Gaurav. Namun pria itu kemudian terdiam begitu menyadari siapa yang bertanya.


"Eldrige? " Pangeran Gaurav berbalik dan melihat Eldrige berdiri di belakangnya. Pria itu terlihat senang melihat kedatangan peri itu.

__ADS_1


"Maafkan aku karena datang terlambat. " Kata Eldrige.


"Tidak Eldrige. Kau datang tepat waktu. " Ucap Pangeran Gaurav.


__ADS_2