Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 120 Pergolakan


__ADS_3

Dewi Hutama memimpin pasukan Liga Kerajaan melawan pasukan Daemonie yang menguasai wilayah Angsana. Seluruh ibukota sudah porak poranda ketika mereka datang. Dan istana sudah dikuasai oleh bangsa Daemonie.


Istana itu sendiri berada di sebuah dataran tinggi yang dikelilingi parit lebar. Sebuah jembatan kayu tidak akan diturunkan tanpa seizin penjaga. Beberapa buaya rawa sengaja di tempatkan untuk menghuni parit itu.


"Kita tidak bisa memaksa mereka menurunkan jembatan. " Raja Purnama memandangi istananya dari kejauhan dengan teropong.


"Apa tidak ada jalan masuk lain? Semacam jalan rahasia? " Tanya Raja Gaurav.


"Tidak ada hal semacam itu di istanaku. Lihatlah parit berisi buaya mengepung seluruh istana! " Jawab Raja Purnama.


"Berarti kita harus terbang supaya bisa masuk ke istana. " Raja Satria terkekeh pelan.


"Bukankah bangsa peri bisa terbang? " Raja Norman dengan matanya yang sebiru langit musim panas menatap ke arah Eldrige, membuat semua orang mengikuti perbuatannya.


Kini semua mata tertuju pada Eldrige dengan penuh harap.


"Saya tidak bisa terbang. " Eldrige membalas tatapan para pemimpin Liga Kerajaan itu.


"Bukankah peri biasanya terbang dengan sayap kecil mereka sambil menabur bubuk ajaib? " Raja Norman masih tidak percaya.


"Beberapa peri memang bisa melakukan hal itu, contohnya para pixi. Tapi saya bukan peri semacam itu." Jawab Eldrige dengan tenang.


"Jadi apa yang bisa kau lakukan? " Pertanyaan Raja Norman mengandung ejekan.


"Raja Norman, Eldrige memiliki banyak kelebihan yang tidak bisa dibandingkan dengan sekedar sepasang sayap kecil. " Raja Satria tidak terima mendengar ejekan Raja Norman kepada Eldrige.


"Lalu bagaimana kita bisa masuk ke sana? " Tanya Raja Norman dengan nada mencela.


"Saya bisa ke sana dengan Pegasus. " Kata Puteri Devi tiba-tiba.


"Tidak, kau tidak bisa masuk ke sana sendirian! Ayah tak akan mengizinkannya. " Raja Gaurav langsung memotong.


"Tidak, Raja Gaurav! Dewi Hutama benar. Bukankah dia datang untuk menyelamatkan kita? " Teriak Raja Norman.


"Dia tidak bisa masuk ke sana sendirian! Apa kau gila? " Raja Gaurav mengamuk. Tangannya mencengkeram lengan Raja Norman.


"Keadaan sekarang memang memaksa kita bertindak gila! " Raja Norman menghempaskan cekalan tangan Raja Gaurav.


"Jangan libatkan putriku! Demi Tuhan, dia masih anak-anak. " Wajah Raja Gaurav merah padam.


"Ayah, percayalah padaku! " Puteri Devi mengelus lengan ayahnya.


Raja Gaurav menatap putrinya. Dia masih tidak bisa merelakan gadis itu melakukan hal-hal yang berbahaya.


"Ya sudah, pergilah! Tapi harus ada seseorang yang mendampingimu. Kau tidak boleh pergi ke sana sendirian! " Raja Gaurav berbalik dan memalingkan wajahnya, enggan untuk menatap wajah anak gadisnya itu.


"Ayah bisa mendampingiku. " Gadis itu menatap punggung ayahnya.


"Ya, kurasa itu usul yang bagus. " Raja Satria mengangguk setuju.


Raja Gaurav terdiam menimbang kemungkinan itu. Jika dia harus melepaskan anak gadisnya itu, maka dia sendiri yang harus melakukannya.


"Baiklah." Jawab Raja Gaurav.


"Ayah." Ucap Puteri Devi lirih. Gadis itu ingin sekali memeluk ayahnya namun tidak yakin apakah akan melakukannya di depan banyak orang.


Menjelang siang semua pasukan bersiap. Mereka mengepung istana Angsana dari berbagai penjuru. Mereka bisa melihat para Daemonie bersiap-siap di atas tembok dengan pasukan pemanah.


Saat terompet perang ditiup, semua orang melakukan tugasnya masing-masing. Panah beterbangan melintasi parit dari dua sisi. Deras dan bertubi-tubi.


Ssiiing... ssiiing...


Jleb.. jleb..


Aroma darah mulai tercium di udara. Korban mulai bergelimpangan dari kedua pihak. Pasukan Nord yang bertubuh gagah melempari tembok dan gerbang dengan lembing besi.


Dug.. dug..


Blaar!


Beberapa bagian tembok mulai runtuh tapi bangunan batu itu masih kokoh berdiri.

__ADS_1


Byur..


Akibat serangan itu beberapa Daemonie terjungkal dari atas tembok. Tubuh mereka tercebur ke dalam parit dan langsung disambut dengan mulut terbuka oleh para buaya.


Pasukan Daemonie mulai menerjunkan para Strix. Burung-burung besar berwarna hitam itu terbang ke arah pasukan Liga Kerajaan dan mulai mematuki kepala para prajurit.


Raja Satria memacu kudanya dengan pedang terhunus, menebas musuh yang menyerang dari udara. Kadang pria itu melompat dan berkelit di atas punggung kuda.


Dia ingin perang ini segera berakhir. Dia sangat merindukan masa-masa damai.


Jleb.


Sebuah anak panah menancap di punggungnya. Rasa nyeri dan panas mulai menembus kulitnya. Rasa sakit itu semakin menjalar manakala lengannya berayun berusaha menepis serbuan anak panah dan cakaran Strix.


Sementara itu di atas sana, sepasang sayap putih terentang kemudian mengepak menimbulkan hembusan angin yang cukup kuat. Seorang gadis remaja duduk di atas punggung Pegasus bersama seorang pria dewasa.


Hap.. hap..


Dua orang ayah dan anak itu dengan lincah berloncatan di atas punggung kuda bersayap itu. Di udara, mereka menarik busur dan melesatkan anak panah untuk menyerang burung-burung Strix yang terbang menukik laksana elang.


Jleb.


Panah Raja Gaurav berhasil menancap pada tubuh seekor Strix. Namun makhluk itu masih garang. Pria itu melompat dan menangkap kaki makhluk itu. Dia bergelantungan di udara. Sebelah tangannya meraih pedang yang terselip di pinggangnya, mencoba menusuk tubuh burung itu dari bawah.


Swing..


Strix itu mengibaskan kakinya, berusaha melempar Raja Gaurav. Namun tangan Raja Gaurav mencengkeram kaki yang memiliki cakar yang mirip burung elang itu dengan lebih erat.


Cras!


Sreeeet..


Dada burung itu sobek memanjang akibat tebasan pedang Raja Gaurav. Akibatnya tubuh burung itu bergetar dan kehilangan keseimbangan. Tiba-tiba burung itu meluncur turun dengan tubuh berputar-putar di udara. Kepala burung itu terjungkir ke bawah.


Pegangan tangan Raja Gaurav merosot turun ke pangkal paha burung itu dan terus turun. Raja Gaurav terpaksa berpegangan pada bulu burung itu.


Shuuuut..


Dengan kecepatan seperti itu sebentar lagi tubuhnya akan jatuh dan remuk menghantam tanah, ditambah lagi tertimpa tubuh Strix yang besar itu.


Raja Gaurav memejamkan mata. Biarlah hidupnya berakhir dalam keadaan membela bangsanya.


Darah di dalam tubuh Raja Gaurav seakan mengalir ke bawah, tertarik gravitasi bumi. Detik-detik yang dia tunggu seakan sangat panjang.


Wuuush..


Tiba-tiba hembusan angin menerpa tubuhnya. Pegangannya lepas. Tubuhnya terlempar di udara.


Untuk sesaat Raja Gaurav merasa tubuhnya melayang. Namun detik berikutnya dia merasakan tubuhnya mendarat di atas punggung kuda.


"Kami menangkapmu, Ayah! " Puterinya menoleh ke belakang memandangnya dengan tersenyum. Mata gadis itu menyipit karena cahaya matahari menyorot wajahnya.


"Kerja bagus, Sayang! " Puji Raja Gaurav.


Raja Gaurav memandang ke bawah. Strix yang tadi bersamanya kini telah jatuh ke tanah dengan suara berdebum yang keras. Perlahan-lahan burung itu berubah wujud menjadi seorang pria dengan tubuh remuk. Darah mengalir di bawah kepalanya.


Mereka kembali terbang menuju burung-burung Strix. Kembali melesatkan panah-panah ke arah burung-burung hitam itu.


Ssiiing..


Jleb.. jleb.. jleb..


Burung-burung iblis itu jatuh bergelimpangan ke bawah dan langsung di sambut oleh pedang-pedang para prajurit di bawah sana.


Dewi Hutama tidak ingin berlama-lama dengan pasukan Strix yang masih beterbangan karena kini burung-burung itu berhadapan dengan panah para prajurit dan cambuk milik Eldrige. Gadis itu kini mengarahkan Pegasus dan terbang melintasi parit menuju istana Angsana.


Para Daemonie yang berjaga di sekitar tembok terkejut saat menyadari kehadiran Pegasus.


Raja Gaurav melompat turun dan bertarung melawan para Daemonie. Sementara itu Dewi Hutama mulai menarik busurnya. Gadis itu melesatkan anak panak dan berusaha memberi jalan kepada ayahnya agar dapat membuka gerbang dan menurunkan jembatan.


Ssiiing.. ssiiing..

__ADS_1


Trang.. trang.. trang..


Meskipun Raja Gaurav memiliki tubuh yang gagah dan sehat, namun fisik para Daemonie jauh melampaui manusia normal. Mereka kuat dan tidak mudah lelah.


Raja Gaurav mulai kewalahan. Tubuhnya mulai terdesak. Dewi Hutama menyadari hal itu. Dengan cepat gadis itu melompat dari punggung Pegasus dan menarik pedangnya.


Tubuh gadis itu meliuk-liuk dengan lincah. Melompat kesana-kemari dengan pedang yang berayun laksana gulungan ombak. Menarik, menjerat dan membabat para Daemonie.


Wajah gadis itu seperti tanpa emosi dan lugu, sementara tubuhnya melakukan gerakan membantai. Seolah dia hanyalah gadis kecil yang sedang melakukan permainan lompat tali. Sungguh perpaduan yang aneh dan agak mengerikan.


Hal itu tidak luput dari perhatian Raja Gaurav. Untuk sejenak pria itu termangu. Bertanya-tanya dalam hatinya apakah gadis itu benar-benar putrinya.


Hingga sebuah sabetan pedang menembus lengan menyadarkannya. Darah mengucur deras dari sela-sela baju zirahnya, melewati jalinan besi yang menyerupai jaring membungkus tubuhnya.


"Ayah! " Pekik gadis itu dalam hati. Perasaannya terluka melihat kondisi ayahnya.


Seakan tubuhnya memiliki pikiran sendiri, tiba-tiba Dewi Hutama bergerak lebih gesit. Seperti mesin pembunuh, dia mengayunkan lengannya dengan cepat. Pedangnya kini hampir tak terlihat, hanya kilatan-kilatan kecil saat benda pipih panjang itu tertimpa cahaya matahari.


Para Daemonie mulai berubah wujud. Tubuh mereka kini terlihat lebih menakutkan. Wujud mereka seperti makhluk hibrida, campuran antara manusia dan binatang.


Beberapa yang menyerupai serigala mulai menyerang gadis itu secara berkelompok. Mereka melompat sambil menggeram. Namun saat melayang di udara, kilatan pedang milik Dewi Hutama langsung menebas leher-leher mereka dan kepala-kepala menggelinding ke tanah. Tubuh dan wajah gadis itu terciprat darah para korbannya.


"Devi? " Tubuh Raja Gaurav bergetar. Harus sejauh mana dia menyaksikan putrinya membantai dengan darah dingin?


"Ayah, buka gerbangnya! " Teriak Dewi Hutama sambil terus menyerang musuh yang berdatangan dari segala penjuru.


Raja Gaurav tersentak dari lamunannya. Pria itu berusaha membuka gerendel yang mengunci pintu gerbang besi yang berat.


Greeeek..


Pintu besi yang berat itu berderak dan perlahan terbuka. Pasukan Liga Kerajaan terlihat berbaris di seberang parit.


Kemudian dia memutar tuas dan perlahan-lahan jembatan besar yang terbuat dari kayu itu terderek turun.


Criiing..


Suara rantai besi yang mengikat jembatan bergemerincing nyaring.


Bruk!


Debu beterbangan saat ujung jembatan ambruk menghantam tanah di seberang sana.


Pasukan Liga Kerajaan yang menunggu dari tadi segera menyeberangi jembatan. Mereka segera menyerbu para Daemonie yang menguasai istana.


*****


"Pasukan Daemonie sudah memasuki ibukota!" Seorang prajurit melapor kepada Raja Sagar.


"Kirim semua pasukan untuk menghalau mereka. Kita tidak boleh membiarkan mereka masuk ke dalam istana. " Raja Sagar yang belum pulih dari lukanya duduk dengan geram di singgasana.


"Izinkan saya ikut, Paman! " Pangeran Ryota berdiri dengan pedang terselip di pinggangnya.


"Aku ingin kau tetap di sini untuk melindungi keluarga kita. Biar aku saja yang berangkat." Tolak Raja Sagar.


"Tapi Paman belum pulih! " Wajah Pangeran Ryota tampak cemas.


"Aku sudah sembuh, Ryota." Pria itu segera berdiri ketika salah seorang staf datang dan membantunya mengenakan baju zirah.


"Panggil Sekar! " Raja Sagar memberi perintah kepada stafnya.


Tak lama kemudian wanita cantik itu datang menghadap.


"Sekar, aku ingin kau berjaga di istana ini. Peri-peri yang lain akan ikut denganku. " Kata Raja Sagar.


"Dan jika.. terjadi sesuatu.. seorang staf-ku akan menunjukkan tempat yang aman untuk berlindung." Suara pria itu agak bergetar.


"Baik, Yang Mulia." Nona Sekar membungkuk dengan anggun.


Raja Sagar tidak berlama-lama menunda keberangkatannya. Setelah berpamitan dengan istri dan anaknya juga keponakannya, pria itu segera melompat ke atas kudanya dan memacu binatang yang selama ini mendampinginya itu di barisan paling depan.


Puteri Juwita memandang sedih kepergian pamannya. Entah kenapa ada perasaan aneh yang tiba-tiba dirasakannya. Semacam perasaan sedih dan cemas. Sesuatu yang dia sama sekali tidak mengerti. Sesuatu semacam... firasat?

__ADS_1


__ADS_2