Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 147 Restu Dari Nenek


__ADS_3

"Apapun yang kau janjikan pada Sekar, aku tidak akan menyetujuinya! " Ucapan Eldrige terdengar tegas.


"Tapi jika aku mengingkarinya, aku takut hal buruk akan terjadi padamu. "


"Tidak akan. Dan aku lebih memilih kehilangan nyawaku daripada harus berpisah darimu. "


Hati Puteri Juwita menghangat mendengar perkataan Eldrige. Dia ingin sekali mempercayainya. Tapi bisakah perkataan itu mematahkan ketakutannya?


Eldrige memahami yang dirasakan gadis itu dari sorot matanya. Dia ingin meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Penampilanmu terlihat berbeda." Kata Eldrige sambil menyentuh rambut hitam gadis itu.


"Aku mewarnainya. " Gadis itu tersenyum.


"Kau jadi mirip ibumu. "


"Benarkah? Aku sangat merindukan ibuku. Bagaimana keadaannya sekarang? "


"Ibumu sudah melahirkan seorang bayi lelaki."


"Benarkah? " Gadis itu melonjak gembira. Kemudian kegembiraannya surut begitu mengingat kembali keadaannya.


"Kau tidak ingin menemui mereka? "


"Tentu saja aku ingin tapi.. " Gadis itu menggeleng sedih.


"Jangan memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Kau hanya perlu mempercayaiku. "


Selama ini Eldrige selalu membantunya dalam kondisi apapun. Namun karena perkataan Nona Sekar dia akhirnya menjauhi pria itu. Jadi bolehkah jika dia mempercayai Eldrige sekali lagi?


"Aku melihatmu terluka dan tidak bisa berbuat apa-apa. " Gadis itu menangis mengingat kejadian malam itu.


"Aku baik-baik saja Juwita. Memang sesuatu terjadi pada diriku, aku sendiripun sedang berusaha mengatasinya. Tapi kau tak perlu cemas. Kita sudah berjanji akan menghadapi semuanya bersama-sama kan? Apa kau ingat?" Tatapan lembut Eldrige mengingatkan Puteri Juwita tentang janji mereka.


"Iya, Eldrige. Aku mengingatnya. "


Mereka kemudian berbincang mengenai hal-hal yang telah terjadi pada gadis itu. Tentang pertemuannya dengan Nenek Divya dan Raja Badre yang menerimanya di Istana Dewanata. Juga tentang kedatangan Pangeran Awang untuk melamar Puteri Pertiwi.


*****


Puteri Juwita duduk di sebelah Eldrige ketika semua anggota keluarga Tabib Bagio berkumpul. Gadis itu menceritakan bahwa kedatangan Eldrige adalah untuk membawanya pulang.


"Kalau begitu kau harus ikut pulang dengannya. Orang tuamu tentu sudah menunggu. " Ucap Tabib Bagio.


"Bagaimana dengan kalian? " Tanya Puteri Juwita agak khawatir.


"Kami baik-baik saja. Kau tahu sendiri bahwa Raja Badre menerima kami di sini. " Tabib Bagio tersenyum meyakinkan.


"Ningrum? " Pandangan gadis itu kini beralih pada sahabat baiknya.


"Aku setuju kau pulang dengan Tuan Eldrige. Orang tuamu pasti bisa melindungimu. Lagipula, kau masih bisa menjenguk kami sekali-sekali. " Ningrum pun menunjukkan dukungannya.

__ADS_1


Puteri Juwita melihat bahwa Bagas juga mengangguk. Meski hanya beberapa bulan saja gadis itu hidup bersama mereka, namun dia bisa merasakan kasih sayang yang tulus.


"Bagaimana dengan nenekku? " Tiba-tiba Puteri Pertiwi masuk dengan raut sedih.


"Pertiwi? " Puteri Juwita terkejut karena sempat lupa bahwa gadis itu masih berada di sana.


"Tuan, biarkan kami kembali ke istana dulu untuk menemui nenekku. Beliau akan sedih sekali jika Juwita pergi tanpa pamit. " Puteri Pertiwi menatap Eldrige.


"Aku tidak akan menolak jika Puteri Juwita ingin berpamitan pada nenekmu. Tapi dia akan ikut pulang denganku setelah itu." Jawab Eldrige tanpa menunjukkan emosi.


Puteri Pertiwi masih menatap Eldrige, menilainya sebentar. Pria itu terlihat akan melakukan semua yang diucapkannya. Gadis itu lalu mengangguk sambil mengalihkan pandangan pada sepupunya.


"Kalau begitu besok kita kembali ke istana. Kurasa ayah dan nenek sudah menemukan cara untuk menolak lamaran pangeran itu." Ucapan Puteri Pertiwi mendapat anggukan sepupunya.


Besoknya setelah berpamitan pada Tabib Bagio, rombongan kerajaan itu kembali ke ibukota. Eldrige dan Eshwar mengikuti mereka di belakang.


Rombongan itu sampai di istana pada tengah hari. Mereka terkejut melihat istana terlihat semakin meriah.


"Perasaanku tidak enak, Juwita. " Puteri Pertiwi mencengkeram tangan sepupunya.


"Jangan takut, ayahmu pasti sedang melakukan sesuatu demi kebaikanmu." Puteri Juwita berusaha menenangkan gadis itu.


Puteri Pertiwi mengangguk. Dia berharap ayahnya tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginannya.


"Langsung temui nenek dulu, ayahku kelihatannya sedang sibuk. " Puteri Pertiwi berjalan menuju kediaman neneknya diikuti Puteri Juwita, Ningrum dan Eldrige.


Saat mereka datang Nenek Divya sedang duduk di kursi santainya. Wanita tua itu terkejut melihat kedatangan ketiga gadis itu beserta seorang pria jangkung di belakang mereka.


"Ada sesuatu yang ingin disampaikan Juwita, Nek. " Puteri Pertiwi mundur beberapa langkah untuk memberi kesempatan sepupunya mengutarakan maksudnya.


"Ada apa, Juwita? Siapa dia? " Nenek Divya memandangi gadis itu dan menunggu penjelasannya.


"Dia Eldrige, Guardian di Kerajaan Elfian. Dia datang untuk menjemputku pulang, Nek."


Nenek Divya mengamati Eldrige yang berdiri menjulang di hadapannya. Dia pernah mendengar tentang seorang Guardian yang menjaga Kerajaannya Elfian selama 300 tahun.


"Jadi kau seorang peri? " Tanya wanita tua itu.


"Benar." Eldrige menganggukkan kepala.


Mata tua Nenek Divya mengamati gestur tubuh kedua orang di hadapannya dengan serius. Sepertinya dia menangkap gelagat yang tidak biasa diantara keduanya. Dari cara Puteri Juwita yang sekali-kali memandangi Eldrige dan juga sikap Eldrige yang seolah berusaha melindungi gadis itu di belakangnya.


"Apa Raja Satria yang mengutusmu? "


"Benar." Lagi-lagi Eldrige mengangguk.


"Aku sedang menunggu para pelamar untuk mengikuti sayembara pemilihan calon suami. Maukah kau menunggu setelah itu? "


"Sayembara? " Dahi Eldrige berkerut heran. "Untuk siapa? "


"Istana ini memiliki dua orang puteri yang masih lajang. Untuk siapa lagi kira-kira sayembara itu dilaksanakan? " Senyum membuat kerutan di sekitar mulut Nenek Divya melebar.

__ADS_1


Eldrige merasa gusar. Dia tidak mengira bahwa mereka juga akan membuka lamaran untuk Puteri Juwita.


"Puteri Juwita sudah memiliki calon suami." Kata Eldrige sedikit posesif.


"Benarkah? Juwita tidak pernah menceritakan hal itu. "


"Saya sudah meminta restu Raja Satria untuk menikahi Puteri Juwita. " Suara Eldrige memenuhi seluruh ruangan.


Puteri Pertiwi diam-diam saling melempar senyum dengan Ningrum. Mereka mengagumi keberanian Eldrige berbicara tegas di depan Nenek Divya.


"Kukira kau seorang Guardian? "


"Saya sudah siap melepasnya untuk bisa bersama dengan Puteri Juwita. " Meskipun perkataan Eldrige tetap tenang dan sopan, namun terlihat jelas bahwa dia tidak akan mau mengalah.


"Jadi kau rela melepas statusmu? Bagaimana dengan perbedaan kalian? Jelas perbedaan ras akan menyulitkan kalian. Mendampingi makhluk fana yang memiliki masa hidup hanya beberapa puluh tahun bukankah sangat berat? Saat Juwita terus bertambah tua, kau akan tetap muda. Apa kau siap melihatnya meninggal mendahuluimu. Kau bahkan mungkin akan menyaksikan kematian keturunanmu. Apa kau siap? " Perkataan Nenek Divya mengejutkan semua orang di sana termasuk Puteri Juwita.


"Saya telah melepaskan kehidupan abadi sebagai bangsa peri. Tubuh saya kini hanya terdiri dari darah dan daging. Tidak ada kekuatan sihir lagi. " Ucap Eldrige tenang.


Kali ini Nenek Divya ikut terperanjat seperti semua orang setelah mendengar perkataan Eldrige.


"Eldrige? " Puteri Juwita memandang Eldrige tak percaya.


Eldrige tersenyum menatap gadis itu. Di matanya sama sekali tidak ada penyesalan.


"Wah, kau membuatku takjub. Di usiaku yang setua ini belum pernah aku mendengar hal semacam ini. Di mana-mana orang-orang berusaha mencari kekuatan dan umur yang panjang. Tapi kau.. kau melepasnya begitu saja." Ucap Nenek Divya.


"Saya tidak melepasnya begitu saja. Saya menukarnya untuk sesuatu yang lebih berharga." Eldrige mengatakannya dengan tegas dan tanpa penyesalan.


Sebagai seorang wanita, Puteri Juwita jelas merasa sangat tersanjung mendengar hal itu. Namun itu juga membuatnya menyadari alasan perubahan pada diri Eldrige. Apakah ini yang dimaksud oleh Nona Sekar bahwa dia hanya akan membahayakan Eldrige?


Plok.. plok..


Nenek Divya bertepuk tangan. Wajahnya terlihat berseri gembira.


"Kurasa hanya dirimu saja yang pantas bersanding dengan Juwita." Wanita tua itu mendekati kedua orang itu dan meraih tangan mereka.


"Aku merestui kalian. " Ucap wanita itu sambil menyatukan tangan mereka.


*****


Beberapa tamu undangan datang ke Istana Dewanata. Mereka semua berjumlah lima orang jika ditambahkan Pangeran Awang. Mereka menempati kamar-kamar tamu yang mewah.


Tamu-tamu undangan itu terdiri dari Pangeran Anthony dari Kerajaan Angsana, Pangeran Ken dari Kerajaan Kepulauan Timur, Raja Naren dari Kerajaan Bodhi yang bertetangga dengan Kerajaan Dewanata, Adipati Baghi seorang penguasa di salah satu wilayah Kerajaan Dewanata. Dan yang terakhir namun telah datang lebih dulu yaitu Pangeran Awang dari Kerajaan Alsatia.


Mereka sudah diberitahu bahwa sayembara itu terdiri dari tiga babak penyisihan. Yaitu berburu, memanah dan adu kekuatan.


Pangeran Awang merasa dirinya sudah menjadi pemenang. Dengan Jadukari Daalal Nath berada di sampingnya, dia yakin tidak ada yang akan mengalahkannya.


"Kita tunggu saja. Semua orang akan tunduk di bawah kaki Yang Mulia." Dukun berpenampilan aneh itu menyeringai ketika menyertai tuannya menyaksikan kedatangan para pelamar.


Tiba-tiba telinga dukun itu berdengung. Ada sesuatu yang berbisik di telinganya. Mata bulatnya terbelalak sambil menatap ke suatu arah. Di depan sana, dia melihat sosok jangkung yang sangat dikenalnya. Sosok yang setelah bertahun-tahun masih membuat darahnya mendidih.

__ADS_1


"Itu peri penjaga Istana Elfian. Sedang apa dia di sini? " Gumam lelaki itu.


__ADS_2