Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 106 Sang Penyelamat


__ADS_3

Saat Eldrige dan Puteri Juwita sampai di asrama, waktu sudah dini hari. Eldrige keluar dari lubang dimensi tepat di depan pintu asrama sehingga tidak bertemu dengan penjaga di gerbang depan.


"Hoam.. Eldrige, apakah kita sudah sampai? " Puteri Juwita bertanya sambil terkantuk-kantuk.


"Iya, kita sudah sampai." Jawab Eldrige.


"Kalau begitu, turunkan aku. Aku bisa berjalan sendiri." Puteri Juwita melepaskan pelukan di leher Eldrige dan berusaha turun.


"Tidak, aku akan menggendongmu sampai tempat tidur! " Eldrige terus berjalan tidak menghiraukan Puteri Juwita yang terus merengek minta diturunkan.


Saat Eldrige masuk ke dalam gedung asrama, Nona Sekar sedang berdiri di depan pintu dengan wajah datar. Namun begitu wanita itu melihat Eldrige sedang menggendong Puteri Juwita, wajah wanita itu berubah tegang.


"Kau sudah berhasil menemukannya, Eldrige? Bawa Juwita ke ruang kesehatan, aku akan panggilkan tabib! "


"Tidak usah, aku akan membawa Puteri Juwita ke kamarnya. Aku yang akan merawatnya sendiri!" Eldrige terus berjalan melewati Nona Sekar begitu saja.


"Oh, ya. Pergilah ke pasar gelap di kota Strein. Aku sudah menyegel sebuah rumah lelang yang memperjual belikan budak! " Ucapnya lagi tanpa berhenti melangkah.


Wanita yang bertanggung jawab atas asrama itu menautkan kedua tangannya, kemudian kedua telapak tangannya saling meremas kuat sehingga kulitnya terasa sakit. Tak ada emosi yang ditunjukkan wanita itu meskipun hatinya terasa hancur.


Sementara itu, pria yang sudah mencuri hatinya sejak dulu itu terus melangkah menuju kamar Puteri Juwita di lantai dua. Di punggungnya, gadis yang sangat disayanginya itu sudah terlelap.


Dengan hati-hati Eldrige meletakkan tubuh Puteri Juwita di atas ranjangnya. Dengan penuh kasih sayang pria itu mengelus rambut perak gadis itu yang sekarang tampak kusut.


Hatinya sakit ketika melihat memar di pipi gadis itu. Disentuhnya kulit yang kini terlihat membiru itu. Namun meskipun Eldrige hanya menyentuh ringan dan tanpa tekanan, wajah Puteri Juwita tampak mengernyit kesakitan.


Eldrige kemudian mengambil sapu tangan dari balik bajunya dan membasahinya dengan air di dalam teko yang diletakkan di atas meja. Dengan pelan dan hati-hati, Eldrige mengusap wajah Puteri Juwita dengan sapu tangannya yang berbahan sutra lembut.


Gadis itu kembali mengernyit, membuat Eldrige merasa tidak tega. Namun dia harus tetap membersihkan luka-luka Puteri Juwita sebelum mengoleskan obat.


Tangan Eldrige meraih kantungnya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi ramuan obat. Dengan lembut dia mengoleskan ramuan itu pada pipi Puteri Juwita yang memar dan agak bengkak.


Kemudian Eldrige beralih pada bibir gadis itu yang terluka. Ada bekas darah kering yang menempel di atas luka itu. Eldrige kembali mengoleskan ramuan itu ke atas luka pada bibir Puteri Juwita.


Baru kali ini Eldrige berani menyentuh bibir gadis itu yang ternyata sangat lembut meskipun kini sedikit mengelupas. Tatapan mata Eldrige tidak bisa lepas dari bibir yang secantik kelopak mawar itu.


Tiba-tiba mata Puteri Juwita mengerjap, tidurnya terganggu karena merasa ada yang menyentuh bibirnya. Mata gadis itu melebar saat melihat wajah Eldrige hanya berjarak sejengkal dari wajahnya.


"Ah, maafkan aku Juwita. Aku sedang mengobati lukamu! " Wajah Eldrige merona karena tertangkap basah sedang mengagumi bibir gadis itu.


"Oh, begitu? Bibirku sakit sekali Eldrige! " Gadis itu mengeluh dan tanpa sadar mengucapkannya dengan suara manja hingga membuat dada Eldrige berdesir.


"Aku sudah mengolesinya dengan obat, apakah masih sakit sekali? " Wajah Eldrige tampak cemas.


"Perih." Keluh gadis itu lagi.


"Aku akan meniupnya, jangan khawatir! " Eldrige meniup-niup bibir Puteri Juwita. Namun lama-lama jantungnya berdegup semakin kencang dan tangannya berkeringat sangat banyak karena jarak wajah mereka kini semakin intim.


"Eldrige.. " Puteri Juwita juga merasa gugup dengan jarak sedekat itu, apalagi napas Eldrige yang hangat terus-terusan menyapu permukaan bibirnya dan menciptakan sensasi geli.


Gadis itu merasa kesulitan saat mencoba memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. Dia tidak bisa mencegah matanya mengagumi bibir Eldrige yang berbentuk Cupid's bow.


"Juwita, apa boleh aku.. aku.. " Eldrige menatap mata Puteri Juwita bergantian dengan bibirnya dengan penuh harap.


"Iya, Eldrige." Gadis itu mengangguk pelan seolah mengerti keinginan Eldrige.


Dengan lembut Eldrige menyentuh bibir Puteri Juwita dengan ibu jarinya, mengusap-usapnya dengan pelan dan penuh pemujaan. Perlahan Eldrige mulai mendekatkan wajahnya hingga deru napas gadis itu menerpa kulitnya yang sangat peka.

__ADS_1


Secara naluriah pria itu menarik tengkuk Puteri Juwita hingga bibir mereka kini saling menempel. Eldrige memejamkan matanya dan merasakan kelembutan gadis itu pada indera perasanya.


Eldrige mengecup pelan dan membiarkan dirinya terhanyut dalam sensasi manis dan menggelitik yang baru pertama kali dia rasakan. Seolah-olah Eldrige ingin menyalurkan dan membagi perasaan itu pada gadis yang mampu menggetarkan sanubarinya itu.


"Eldrige.. " Napas Puteri Juwita tersengal-sengal karena menahan napas cukup lama saat Eldrige menguasai bibirnya.


"Aku mencintaimu Juwita, jangan pernah menghilang lagi! " Kening Eldrige menempel pada kening Puteri Juwita. Ada sensasi nyeri di hatinya yang dia rasakan karena perasaannya yang meluap-luap pada gadis itu.


"Aku juga mencintaimu, Eldrige." Gadis itu kini mengalungkan lengannya pada leher Eldrige saat pria itu kembali memperdalam ciumannya hingga dia melupakan rasa sakitnya.


*****


Domn menyeret tubuh Tuan Felix dan melemparkannya ke sudut ruangan. Tubuh kaku pria itu meringkuk di dekat ranjang. Domn menyeringai puas, dia senang rencananya berhasil.


Di luar, para prajurit anak buah Tuan Felix bernasib serupa. Tubuh mereka di lempar begitu saja ke dalam ruangan yang gelap setelah pakaian mereka dilucuti.


"Henry, kau yang akan memimpin! " Domn yang kini kembali berubah menjadi Kepala Sekolah Salvatore memberi perintah pada seorang pemuda berambut abu-abu pasir. Pemuda itu segera mengenakan seragam Tuan Felix dan berubah wujud menjadi pria itu.


"Setelah fajar, kita akan pergi ke istana! " Kata Domn.


"Kenapa tidak sekarang saja, Domn? " Tanya Henry.


"Manusia lebih suka ditemui saat matahari bersinar, lagi pula aku sedang menunggu Nicolae. Dia tidak mengabariku sejak tadi siang. " Suara Domn terdengar agak khawatir.


"Mungkin dia menemukan jejak Vincent? "


"Sebaiknya begitu, aku tidak ingin rencana kita gagal. Pemimpin Agung kita telah merencanakan hal ini selama bertahun-tahun. Kita tidak boleh mengecewakannya! "


"Baik, Domn! " Henry mengangguk.


Henry pergi untuk memeriksa pasukannya. Semua teman-temannya telah berubah menjadi prajurit istana. Besok mereka akan menyusup ke dalam istana dan menunggu perintah selanjutnya dari Pemimpin Agung.


*****


Ratu Malea berdiri terpekur setelah melakukan srcying. Wanita agung itu melihat pergerakan burung-burung Strix yang semakin meluas di wilayah Liga Kerajaan. Lagipula, saat ini belum ada satupun kerajaan yang mampu menangani invasi diam-diam bangsa Daemonie itu.


Ratu Malea kemudian berjalan di atas rumput hijau yang berkilauan. Langkah kakinya menyibak cahaya kunang-kunang yang berpendar di udara.


Wajah wanita itu kini mendongak ke atas, siraman cahaya keemasan dari atas tiba-tiba menyinari wajah wanita itu. Ratu Malea bertahan dalam posisi itu selama beberapa waktu. Seolah menyerap seluruh energi yang terkandung di dalam cahaya keemasan itu.


Setelahnya cahaya menyilaukan itu lenyap, malam kembali gelap. Hutan Lucshire yang mistis itu kembali diliputi halimun dingin yang mengambang bagaikan roh-roh orang mati.


"Panggil gadis itu kemari! " Suara lembut bernada perintah dari mulut Sang Ratu Peri, segera dipatuhi oleh seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari bayang-bayang pepohonan.


Wanita itu adalah seorang peri hutan. Dia berjalan tanpa suara dengan langkah bak daun yang tertiup angin. Wanita itu mengetuk pintu kamar yang berada di sebuah pohon oak raksasa.


"Tuan Puteri, bangunlah! " Panggil peri hutan itu. Suaranya lembut bagai desau angin.


Tak berapa lama seorang gadis belia membuka pintu, "Ada apa Sophie? "


"Ratu Malea memanggilmu."


Gadis itu tampak terkejut namun dia tidak mempertanyakannya. Dia segera pergi menemui Sang Ratu di singgasananya.


Gadis itu menunduk hormat, kemudian menghampiri Ratu Malea yang mengulurkan tangan padanya.


"Bagaimana keadaanmu, Puteri Devi? "

__ADS_1


"Berkat Yang Mulia, saya merasa sudah lebih sehat sekarang." Gadis itu tersenyum.


"Syukurlah, aku senang mendengarnya." Ratu Malea mengajak Puteri Devi duduk.


"Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Ratu Malea memandangi gadis belia yang memiliki sorot mata lembut itu.


"Saya siap mendengarkan." Puteri Devi duduk dengan anggun dan menanti.


"Begini, di luar sana akan segera terjadi pertempuran besar antara Liga Kerajaan dan Bangsa Daemonie. Dan sepertinya kali ini Liga Kerajaan akan sulit menghadapi serangan para Daemonie itu."


"Lalu adakah yang bisa saya lakukan?"


"Sepertinya kedatanganmu kemari memang sudah ditakdirkan. Baru saja aku mendapat petunjuk bahwa kaulah yang akan mampu memimpin Liga Kerajaan melawan para Daemonie itu! "


"Apakah saya tidak salah dengar? Saya hanya seorang gadis kecil yang lemah! " Puteri Devi merasa seakan tak percaya dengan apa yang didengar telinganya.


"Jangan memandang dirimu sendiri seperti itu. Kau memiliki jiwa yang murni dan polos. Kau tak memiliki ambisi duniawi yang mencemari jiwa manusia. Dengan keteguhanmu, aku yakin kau akan mampu menyelamatkan umat manusia! " Suara lembut Ratu Malea seakan menguatkan gadis itu.


Puteri Devi merasa terharu hingga air matanya menetes. Dia sama sekali tidak menyangka jika dirinya bisa berguna. Selama ini dia hanyalah seorang Puteri yang disembunyikan karena dianggap tidak pantas menjadi pewaris tahta.


"Saya akan berusaha sebaik-baiknya untuk tugas mulia itu." Jawab Puteri Devi.


"Mulai sekarang kau harus siap dengan pelatihan yang akan kau jalani. Jangan mengeluh dan patah semangat! " Ucap Ratu Malea lagi.


"Baik, Yang Mulia! "


*****


Pagi hari Raja Satria dan Ratu Gita sudah terjaga saat pintu kamar mereka diketuk. Seorang pelayan mengabarkan bahwa ada seorang wanita dari Sekolah Griya Pitutur datang ingin bertemu.


Raja dan Ratu segera memakai jubah mereka. Raja Satria menggandeng istrinya menuju ruang tamu.


"Sekar! " Ratu Gita agak emosional ketika melihat Nona Sekar duduk di kursi tamu.


"Kak Gita, maaf aku baru bisa kemari." Nona Sekar langsung datang menghampiri Ratu Gita.


"Tidak apa-apa. Tolong ceritakan tentang anakku, Juwita! Bagaimana? Apa dia sudah ditemukan?" Mata wanita nomor satu di Kerajaan Elfian itu berkaca-kaca.


Raja Satria juga menunggu jawaban Nona Sekar dengan cemas.


"Tadi Eldrige sudah membawa Puteri Juwita pulang. Kami juga sudah menangkap pelaku yang menculik Puteri Juwita! " Nona Sekar segera menjelaskan yang terjadi.


"Jadi anakku diculik? " Raja Satria menggeram marah.


"Benar. Saya mewakili Sekolah Griya Pitutur mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya." Nona Sekar membungkuk dengan sopan.


"Syukurlah Juwita bisa kembali dengan selamat! " Ratu Gita menangis di pelukan suaminya.


Beberapa hari ini dia sangat tertekan memikirkan nasib putri kesayangannya. Ditambah dengan kondisinya yang sedang hamil membuat Ratu Gita sangat emosional.


"Untunglah Eldrige bisa segera menemukannya! " Ratu Gita masih terisak.


"Mungkin sebaiknya memang Eldrige selalu berada di dekat Juwita. Aku merasa tenang jika Eldrige bisa selalu melindungi Juwita." Ucap Raja Satria.


Nona Sekar yang mendengar hal itu hanya menelan ludah. Dia menyadari bahkan kedua orang tua Puteri Juwita bahkan mempercayakan gadis itu pada Eldrige.


Tapi bagaimana reaksi mereka berdua jika mengetahui ada perasaan romantis yang mulai tumbuh diantara Sang Puteri dan Sang Penjaga?

__ADS_1


Apakah mereka rela menyerahkan putri berharga mereka pada seorang peri? Ataukah mereka akan segera menjauhkan keduanya?


__ADS_2