Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 89 Apa Itu?


__ADS_3

Ratu Gita menunggangi kudanya bersisian dengan suaminya. Seratus prajurit berkuda mengiringi mereka menuju Kerajaan Watu Ijo.


Jarak yang mereka tempuh lumayan jauh, hampir dua hari perjalanan. Saat merasa letih, mereka akan istirahat dan bila malam tiba mereka akan mendirikan tenda.


Malam ini Ratu Gita duduk di depan api unggun sambil menyenderkan kepalanya di bahu suaminya. Mereka sedang bermalam di pinggiran hutan sebelum memasuki wilayah perbatasan Kerajaan Watu Ijo.


"Aku jadi teringat saat dalam pengasingan dulu. Berbulan-bulan aku tinggal sendirian di tengah hutan." Ratu Gita berbicara seolah pada dirinya sendiri.


"Aku selalu menyesali saat itu karena tidak mampu menjagamu." Suara Raja Satria terdengar sedih, seolah kembali membuka luka lama.


"Aku tak pernah menyesalinya." Ratu Gita mengelus lengan suaminya. "Kau memberiku kenangan indah di hutan itu. "


"Kau benar, sayang. Hutan itu menyimpan kisah kita berdua. Hutan Lucshire memang penuh keajaiban." Raja Satria mengecup kepala istrinya.


"Aku bahagia bisa menjadi istrimu, bahagia menjadi ibu dari anakmu. " Ratu Gita mengeratkan pelukan di lengan suaminya.


Ketika sedang menggosokkan tangan ke dekat api, mendadak ada tiupan angin yang lumayan kencang meniup padam api unggun. Para prajurit segera berdatangan mengelilingi Raja dan Ratu. Salah seorang dari mereka mencoba menyalakan api kembali.


"Apa itu tadi? " Tanya Raja Satria.


"Sepertinya ada seekor burung yang lewat, Yang Mulia! " Seorang prajurit menjawab.


"Burung? Sebesar apa burung itu hingga bisa meniup mati api yang menyala cukup besar tadi? "


"Saya tadi sempat melihat ada seekor burung hitam yang mengepak di atas, burung itu sangat besar! "


"Kalau begitu, malam ini kita harus waspada karena kita tidak tahu jenis burung apa itu! "


"Baik, Yang Mulia! "


Malam itu dilakukan penjagaan bergilir. Semua yang berjaga mewaspadai adanya binatang buas maupun burung besar tadi.


"Tidurlah di dalam tenda, sayang! " Raja Satria memakaikan syal lebar pada bahu Ratu Gita.


"Apa kau akan tidur di luar? "


"Iya, aku akan berjaga bersama para prajurit. Jangan khawatir, kau aman! " Raja Satria mengecup kening istrinya itu.


"Berhati-hatilah sayang! " Ratu Gita memandang suaminya sesaat, kemudian masuk ke dalam tenda.


Ratu Gita membaringkan tubuhnya di atas kain tebal yang dibentangkan. Wanita itu agak gelisah membayangkan ada seekor burung besar yang berkeliaran di sekitar tenda mereka.


"Semoga saja tidak terjadi apa-apa malam ini. " Ratu Gita bergumam sambil berusaha memejamkan matanya.


Ratu Gita tertidur selama beberapa jam. Saat dia terbangun suasana sangat gelap. Matanya sama sekali tidak bisa melihat apa-apa.


Dengan panik, Ratu Gita meraba-raba dalam tendang dan berusaha keluar. Di luar tenda keadaan tidak kalah gelapnya. Terlihat sisa-sisa bara api di tempat api unggun.


"Kemana semua orang? " Ratu Gita bertanya-tanya.


Tiba-tiba terdengar suara kepakan sayap yang cukup keras. Angin meniup tubuh Ratu Gita dan membuat tubuhnya menggigil.


"Apa itu? " Ratu Gita berdiri dalam kebingungan.


Mendadak wanita itu merasakan ada sesuatu yang meluncur turun dari angkasa, menukik ke arahnya. Secara reflek Ratu Gita mendongakkan wajahnya dan melihat sosok hitam melesat turun dengan kecepatan tinggi ke arahnya.


Sosok itu semakin mendekat dan menimbulkan gelombang udara yang meniup pepohonan hingga daun-daunnya bergemeresak. Ratu Gita ingin lari. Namun kaki wanita itu tak mampu bergerak, seolah tertanam di dalam tanah.


"Aaakh! " Ratu Gita berteriak sambil menutupi wajahnya dengan lengannya.


Tubuhnya terasa terguncang, rasanya seperti terombang-ambing di atas perahu. Keringat dingin mengucur deras membasahi tubuhnya. Matanya terpejam erat menahan rasa takut yang mendera.


"Sayang! " Suara Raja Satria masuk ke telinganya.


Dengan sekuat tenaga wanita itu berusaha melepaskan diri dari cengkeraman yang mengguncang tubuhnya.


Saat matanya akhirnya terbuka, hal yang pertama kali dilihatnya adalah wajah suaminya. Dahi suaminya berkerut cemas.


"Bangun, sayang. Kau tidak apa-apa? " Suara Raja Satria kini terdengar jelas.

__ADS_1


Ratu Gita merasa heran karena suasana terlihat sangat terang. Setelah beberapa saat wanita itu akhirnya menyadari bahwa hari sudah pagi. Matahari bahkan telah terbit.


"Kau bermimpi buruk?" Suaminya menggenggam tangannya dan memeluknya.


"Ya, sepertinya itu hanya mimpi buruk. Aku sangat bersyukur sekali! " Ratu Gita menjawab dengan napas masih tersengal-sengal.


"Kalau begitu bangunlah, ada sungai kecil di dekat sini. Akan kuantar kau untuk membersihkan diri." Raja Satria tersenyum sambil mengecup kepala istrinya.


Ratu Gita mengangguk, dia duduk sebentar untuk menenangkan diri.


*****


Pagi ini rutinitas belajar kembali harus dijalani oleh Puteri Juwita. Setelah kemarin menikmati akhir pekan dan dapat bersantai sejenak, kini gadis itu sudah disibukkan lagi dengan berbagai aktifitas yang menguras pikiran dan tenaga.


"Nanti malam kita akan mengadakan pesta kamar, apa kau mau ikut? " Sari berbisik di telinga Puteri Juwita ketika mereka bertemu saat makan malam.


"Maksudmu kita akan berpesta sebelum tidur? "


"Tidak! Kita akan berpesta saat lampu sudah dimatikan. Setelah ibu asrama selesai memeriksa dan kembali ke kamarnya. "


"Apa? Kalau ketahuan bagaimana? "


"Tidak akan ketahuan asalkan tidak ada yang mengadu. Malam ini kau kutunggu di kamarku!"


"Apa aku boleh mengajak Ningrum? "


"Jangan!"


"Kenapa? "


"Huft, baiklah kau boleh mengajaknya. Tapi dia harus berjanji tidak akan buka mulut! "


"Baiklah."


Setelah makan malam, Puteri Juwita segera masuk ke kamarnya dan memberitahu Ningrum soal pesta nanti malam.


"Aku tidak bisa ikut. " Ucap Ningrum.


"Kenapa? "


"Aku juga sebenarnya lelah, tapi aku sudah berjanji untuk datang. "


"Pergilah, di sana pasti menyenangkan! "


"Tapi aku tidak ingin datang kalau teman sekamarku ini tidak datang. "


"Aku tidak apa-apa, pergilah! Besok kau bisa menceritakan tentang pesta itu padaku. "


"Baiklah. Tapi kau jangan bosan kalau nanti aku terus-terusan bercerita!"


"Aku tak akan bosan! "


Akhirnya sesuai kesepakatan, gadis-gadis itu berkumpul setelah Nona Sekar selesai mengecek. Awalnya terdengar suara siulan lirih, kemudian disusul oleh siulan lainnya. Rupanya gadis-gadis itu membuat kode untuk berkomunikasi. Terdengar suara derit pintu dibuka, dan langkah pelan yang berhenti di depan pintu kamar Puteri Juwita.


Tok.. tok.. tok..!


Puteri Juwita yang memang sudah menunggu segera turun dari ranjangnya. Dengan gerakan pelan, gadis itu berjinjit menuju pintu. Pelan-pelan Puteri Juwita membuka pintu dan melihat wajah Sapna menyembul di balik pintu.


"Kau sudah siap? " Tanya gadis berbulu mata lentik itu.


Puteri Juwita mengangguk. " Iya. "


"Temanmu tidak ikut? " Tanya Sapna sambil mengintip Ningrum yang berbaring di kasurnya.


"Tidak, dia kelelahan! " Puteri Juwita menjawab dengan berbisik.


"Baiklah, ayo! " Ajak Sapna.


Mereka berjalan mengendap-endap. Sapna berjalan di depan sambil menyebar daun-daunnya kering di sepanjang koridor.

__ADS_1


"Kenapa kau menyebar daun-daun itu? "


"Supaya kalau ada yang datang, kita bisa tahu. "


Puteri Juwita mengangguk tanda mengerti. Mereka kemudian masuk ke kamar Sari.


"Kalian datang tepat waktu, kami baru saja mau memakan cokelat! " Sari menyambut mereka dengan senyum lebar.


"Cokelat di malam hari?" Puteri Juwita terbelalak, namun segera tertawa kecil. "Ya, kenapa tidak? "


Gadis-gadis itu mencomoti cokelat yang dicetak berbentuk kotak-kotak kecil dan jika digigit langsung lumer di lidah.


"Wow, siapa yang membawa cokelat ini? " Tanya Puteri Juwita.


"Itu pemberian kekasihku." Jawab Ratri dengan nada bangga.


"Kekasih? Kau sudah bertunangan? " Tanya Puteri Juwita lagi.


"Tidak. Kami bertemu di luar dan orang tuaku belum tahu hal ini." Ratri terlihat malu-malu.


"Oh ya, ceritakan tentang kemarin! Kudengar kau diantar pulang oleh seorang pemuda? " Kali ini Sari bertanya pada Puteri Juwita.


"Ah, soal kemarin.. sebenarnya dia tidak sengaja mengantarku. Kami hanya bertemu di jalan. " Puteri Juwita menjawab dengan agak ragu.


"Apakah dia tampan? " Sapna terlihat penasaran.


Puteri Juwita berpikir sejenak, membayangkan wajah Bagaskara. Dia adalah pemuda yang tampan dan digandrungi gadis-gadis di depannya itu.


Namun jika dibandingkan dengan Eldrige, pemuda itu tidak ada apa-apanya. Puteri Juwita menggelengkan kepalanya, dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba membandingkan Bagaskara dengan Eldrige.


"Jadi pemuda itu jelek? " Tanya Sari.


Teman-temannya terlihat kecewa melihat Puteri Juwita menggelengkan kepala.


"Ya, begitulah." Puteri Juwita bermaksud menyembunyikan identitas pemuda yang kemarin ditemuinya. Dia tahu, teman-temannya akan bereaksi berlebihan jika mengetahuinya.


"Selama kita bersekolah di sini, kita bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa kita lakukan di rumah. Tapi kita harus berhati-hati agar tidak ketahuan Bu Padma dan Nona Sekar." Sari berkata sambil mencomot keripik kentang yang ditaburi bubuk keju.


"Akhir pekan nanti kudengar ada pasar malam di dekat sini. Kalian mau ke sana? " Kata Ratri tiba-tiba.


"Bukankah kita tidak diizinkan pulang malam?" Puteri Juwita merasa bingung.


"Pasar malam itu sudah dibuka sejak sore. Kita bisa ke sana sebentar." Sari berkata dengan antusias.


"Baiklah, aku mau ikut." Puteri Juwita merasa penasaran dengan pasar malam itu. Selama ini dia selalu terkurung di istana dan tidak pernah melihat hal-hal menarik di dunia luar.


Gadis-gadis itu mengobrol sampai hampir tengah malam. Kemudian mereka kembali ke kamar masing-masing saat mata sudah tidak bisa diajak kompromi.


Ketika Puteri Juwita masuk kembali ke kamarnya, Ningrum sudah tidur. Udara terasa agak panas, jadi Puteri Juwita bermaksud membuka jendela.


Saat jendela terbuka, betapa terkejutnya dia ketika berhadapan langsung dengan seorang pria tampan berkulit pucat yang sedang duduk di pinggir jendelanya.


"S-siapa kau? " Tanya Puteri Juwita ketakutan.


Pria itu tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Puteri Juwita. Telapak tangan pria itu sangat dingin, membuat tubuh Puteri Juwita menggigil.


"Aku kekasihmu! " Pria itu kemudian menjatuhkan dirinya ke belakang hingga membuat jantung Puteri Juwita seakan berhenti.


Gadis itu segera melongok ke bawah namun tak menemukan apapun.


"Apa aku bermimpi? " Gadis itu menyentuh pipinya yang masih terasa dingin akibat sentuhan tadi.


*****



Selamat Hari Raya Idul Fitri. Maafkan author jika pernah menulis sesuatu yang menyinggung atau mengecewakan reader semua.


Meskipun capek karena perjalanan mudik yang melelahkan, tapi saya berusaha up walaupun seadanya. Mohon dimaafkan jika kurang memuaskan.

__ADS_1


Terima kasih sudah setia mengikuti tulisan receh ini. Love you all!


__ADS_2