
Kaisar Haocun membuka mata dan kesadarannya mulai pulih. Dari posisinya sekarang, pria itu bisa menyaksikan seluruh istana Baiyun yang bersinar terang di malam hari.
"Apakah aku sudah mati? " Gumamnya.
Saat pria itu menoleh, dia melihat penampakan makhluk mitologi yang selama ini menjadi simbol kerajaannya.
Seekor Naga Emas melayang dengan tubuh meliuk-liuk di udara. Cahaya keemasan dari makhluk itu bersinar menerangi langit malam.
Tiba-tiba Naga Emas itu mendekatkan kepalanya yang menyerupai kepala onta yang memiliki surai dan berjanggut. Sepasang mata reptilnya yang bersinar kuning kemerahan menatap wajah Kaisar Haocun.
"Salam, Yang Mulia Kaisar Haocun. "
Naga Emas menyapa dengan suara berat dan menggelegar bagai guntur di saat badai.
"Naga Emas? "
"Perkenalkan, saya adalah Qinlong. Saya adalah penjaga Kerajaan Baiyun yang berdiam dalam totem di pelataran Istana Baiyun."
"Jadi, ukiran Naga Emas di pelataran istana adalah sebuah totem?"
"Benar Yang Mulia. "
"Qinlong, apakah aku sudah mati? Aku masih ingat kalau pamanku, Pangeran Chong telah membunuhku. Dan kini aku terbang di atas istana Baiyun bersamamu? "
"Yang Mulia masih hidup, saya berhasil menarik roh Yang Mulia sebelum melewati gerbang orang mati. "
"Benarkah? Kalau begitu aku ucapkan terima kasih dari lubuk hatiku." Ucap Kaisar Haocun dengan tulus.
"Itu adalah kewajiban saya, Yang Mulia. "
"Bisakah kau antarkan aku kembali, Qinlong? "
"Baik, Yang Mulia! " Kemudian Naga Emas itu membawa tubuh Kaisar Haocun di atas punggungnya.
Tubuhnya yang besar dan panjang meliuk-liuk indah dan berputar-putar di atas istana Baiyun. Kemudian dengan gerakan bergulung-gulung, akhirnya Naga Emas membawa Kaisar Haocun turun ke pelataran istana.
"Syukurlah Kaisar Haocun selamat! " Raja Satria segera mendekat ketika Kaisar Haocun telah turun dari punggung Naga Emas.
"Terima kasih Raja Satria. "
"Hormat kepada Kaisar Haocun! " Tiba-tiba Jenderal Shi menyerukan penghormatan kepada Kaisar Haocun.
"Hormat kepada Kaisar Haocun! "
Semua orang menjawab serempak sambil membungkuk hormat, termasuk para pemberontak. Mereka tahu bahwa usaha mereka menggulingkan kekuasaan Kaisar Haocun sia-sia setelah kedatangan Naga Emas.
"Aku adalah Qinlong. Aku akan setia pada Kerajaan Baiyun. Aku akan membunuh semua orang yang ingin menghancurkan negeri ini!" Suara Naga Emas menggelegar.
Para pemberontak gemetar ketakutan. Mereka segera bersujud dan menyerahkan diri pada prajurit istana. Pasukan yang setia kepada Kaisar Haocun melucuti senjata mereka dan menggiring para pemberontak ke tahanan.
Namun sayangnya beberapa dari mereka berhasil meloloskan diri termasuk Pangeran Chong dan Chen.
Kaisar Haocun segera memerintahkan untuk menangkap sisa-sisa pemberontak dan pemimpin mereka yang kabur. Para prajurit segera menyebar sketsa para buronan dan menempelkannya di setiap sudut kota.
Eldrige terlihat mendekati Naga Emas dan menyapa dengan sopan.
"Saya mendapat sebuah penglihatan ketika melihat anda, Tuan Eldrige! " Naga Emas menegakkan kepalanya dan menatap Eldrige dengan antusias.
"Apakah itu? " Eldrige mengerutkan kening.
"Saya melihat anda tidak akan berumur panjang seperti bangsa peri yang lain! "
"Apakah kau melihat ajalku? "
__ADS_1
"Tidak! Tapi saya melihat anda menjelma menjadi makhluk fana. "
"Maksudmu, aku menjadi manusia? " Eldrige tampak terkejut.
"Ya! "
"Kenapa? " Peri itu merasa penasaran.
"Cinta! "
"Tapi hatiku telah lama membeku. "
"Bukankah hati itu sudah mulai menghangat?"
"Tapi wanita yang telah menghangatkan hatiku sudah menjadi milik pria lain. "
"Berarti itu bukanlah cinta sejati. Nanti anda akan menyadarinya. "
"Bagaimana dengan tugasku sebagai Guardian? "
"Bukankah itu hanyalah jabatan? Akan ada yang menggantikannya, jangan khawatir! "
"Jika itu memang takdirku, aku akan menerimanya. "
"Berbahagialah Tuan Eldrige. Benang perjodohan sudah mengikat anda dengan wanita itu."
"Siapakah dia? "
"Saya tak boleh mengatakannya meski sudah mengetahui siapa orangnya."
"Tidak apa-apa. Aku menghargai nasehatmu. "
*****
Pagi-pagi sekali sebelum fajar, para penduduk sudah datang memadati gerbang istana. Mereka takjub melihat Naga Emas yang melingkar di pelataran istana.
Mereka juga mengecam para pemberontak yang berani melakukan kudeta terhadap pemerintahan Kaisar Haocun.
Para pegawai istana langsung disibukkan untuk membenahi istana yang porak-poranda. Puluhan orang dari luar istana direkrut untuk membantu mereka membereskan kekacauan itu.
Kaisar Haocun juga sudah memerintahkan untuk menjemput Permaisuri dan Putera mahkota yang dibawa oleh para pengawal pribadinya.
"Eldrige, ayo kita jemput Ratu Gita dan anakku! " Ajak Raja Satria ketika melihat peri itu selesai berbincang dengan Naga Emas.
"Baik Yang Mulia! "
Eldrige membuka lubang dimensi dengan jarinya lalu bersama dengan Raja Satria menuju Yaodong, gunung batu yang dilubangi sebagai rumah, tempat Ratu Gita berada.
Ruangan berdinding batu itu kosong, tatami dan selimut terlipat rapi. Namun Ratu Gita dan bayinya tidak ada.
"Dimana mereka? " Tanya Raja Satria dengan cemas
"Mungkin mereka di luar? " Eldrige menengok keluar.
Mereka berdua menuruni tangga batu yang menempel di lereng gunung yang curam. Kini mereka berada di ketinggian 100 meter dari atas tanah. Ada banyak Yaodong lain yang terhubung dengan tangga batu itu. Mereka berencana untuk mengunjungi para "tetangga" itu untuk mencari Ratu Gita.
"Apakah kalian siluman?" Tanya seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Beng Chu, bicaralah yang sopan! "
Suara seorang wanita terdengar dari dalam. Ketika wanita itu keluar, wajahnya langsung memucat ketika melihat Raja Satria dan Eldrige yang terlihat sangat asing.
"S-siapa kalian? " Suara wanita itu bergetar.
__ADS_1
"Kami dewa! " Jawab Raja Satria seenaknya.
Wanita itu langsung bersujud sambil menarik anaknya untuk ikut bersujud.
"Ampun dewa, apa yang dewa inginkan? "
"Kami mencari seorang wanita bersama bayinya. Rambutnya panjang bergelombang dan matanya lebar. "
"Apakah maksud anda, Yok Kim? Janda itu baru melahirkan kemarin. Dia menggunakan matanya yang lebar untuk menggoda laki-laki di sini. Apakah anda mau mencabut nyawanya? " Wanita itu berbicara dengan geram.
"Kami bukan dewa kematian! Dan bukan janda itu yang kami cari. Dia seorang wanita muda dan cantik." Jawab Raja Satria.
"Benar juga, janda itu memang tidak cantik. Hanya sok cantik. Jadi bukan dia? " Wanita itu terdengar kecewa.
"Kita pergi saja Eldrige! "
Mereka meninggalkan wanita itu dan mencari ke rumah lain. Rata-rata penghuninya bereaksi sama seperti wanita tadi. Bingung dan takjub melihat Raja Satria dan Eldrige. Namun sayangnya, mereka tidak pernah melihat Ratu Gita.
"Jangan sampai Ratu Gita hilang lagi! Lagipula kenapa sih, kau menaruh anak dan istriku di dalam goa itu? Apa jangan-jangan mereka jatuh ke bawah? "
Raja Satria menjadi cemas karena ucapannya sendiri. Dia melangkah menuruni tangga batu dengan cepat tanpa takut tergelincir. Dalam pikirannya hanyalah keselamatan anak dan istrinya.
Setelah mencapai tanah, Raja Satria segera berlari mencari keberadaan mereka kesana-kemari. Tapi semuanya nihil.
"Apakah mungkin Ratu Gita masuk ke hutan? " Tanya Eldrige.
"Untuk apa istriku masuk ke hutan? "
"Mungkin Ratu Gita mencari makanan? "
"Jadi kau tidak menyediakan makanan? " Raja Satria terbelalak tak percaya.
"Saya tidak punya makanan. "
"Makanya lain kali bawalah uang!"
"Saya punya uang, tapi semalam keadaan sedang gawat. Saya tidak sempat memikirkan hal itu. Maafkan saya Yang Mulia! "
"Aku tahu Eldrige, maafkan aku. Aku hanya sedang kesal! "
"Kalian sudah datang? "
Raja Satria dan Eldrige menoleh ke arah sumber suara. Mereka melihat Ratu Gita sedang berdiri sambil menggendong bayinya di dada dengan kain. Sedangkan tangan kanannya memegang busur dan tangan kirinya memeluk buah kesemek liar.
"Kau dari mana, Sayang? " Raja Satria buru-buru mendekati istrinya.
"Maaf, aku mencari makanan. Juwita rewel dari tadi, sedangkan aku tidak bisa menyusuinya. "
"Apa kau berburu? " Raja Satria menunjuk busur di tangan istrinya.
"Aku bermaksud berburu kelinci, tapi ternyata susah jika sambil membawa bayi. "
"Ayo kita kembali ke istana Baiyun. Setelah berpamitan pada Kaisar Haocun, kita pulang ke Elfian. "
"Pulang? " Wanita itu terlihat ragu.
"Iya, pulang kembali ke rumah." Jawab Raja Satria dengan tegas sambil memeluk bahu istrinya.
Ratu Gita mengangguk. Wanita itu menyerahkan buah-buahan di tangannya kepada Raja Satria. Dan Raja Satria mengopernya pada Eldrige.
"Bawalah kita menemui Kaisar Haocun, Eldrige! "
"Baik, Yang Mulia! "
__ADS_1
Eldrige mencabik udara dengan tangan kanannya untuk membuka lubang dimensi, sedang tangan kirinya membawa buah kesemek hasil buruan Ratu Gita.