
Raja Satria berbaring pasrah sementara Selir Mayang terus memberikan sentuhan-sentuhan menggoda di beberapa area tubuhnya. Pria itu merasa tak berdaya di bawah kendali wanita yang pernah dikasihinya itu. Apakah itu berarti hatinya masih terikat padanya? Ataukah ini hanya nafsu sesaat?
"Sayang..." Wanita itu mendesah dan mencoba untuk mencium bibirnya. Pria itu merasa terlena dengan perlakuan yang meresahkan jiwa kelelakiannya.
Entah sudah berapa lama dia tidak merasakan hal seperti ini. Kapan terakhir kali dia merasakan sentuhan yang membakar hasratnya? Apakah itu semalam? Ya, semalam dia sudah melepaskan semua hasrat dan kerinduannya pada wanita yang dicintainya.
Wanita itu adalah istrinya, satu-satunya yang kini diinginkannya. Dia tidak menginginkan yang lain. Bahkan dia juga tidak menginginkan wanita yang sedang bergerak liar di atas tubuhnya.
"Brakk!"
Wanita itu tersungkur ke lantai karena didorong oleh Raja Satria. Wajah cantiknya terlihat kaget dan kecewa. Lalu wanita itu bangkit berusaha untuk membuka paksa pakaian Raja Satria seperti orang yang sudah kehilangan akal.
"Hentikan!" Perintahnya.
"Kenapa? Apa kau bosan padaku? Bukankah kau juga menginginkanku?" Wanita itu terus berusaha menyentuh tubuh Raja Satria, membuat pria itu merasa risih dan jijik.
"Sebagai Raja negeri ini, aku perintahkan kau untuk berhenti!" Raja Satria berbicara dengan suara keras.
Wanita itu seketika mematung. Wajahnya merah padam karena perasaannya campur aduk antara marah dan malu. Air mata tak terasa sudah mengalir deras di pipinya.
Segera dipungutnya gaun yang terserak di lantai, lalu segera pergi meninggalkan tempat itu. Hatinya merasa remuk. Harga dirinya hancur berkeping-keping. Usaha terakhir yang dia lakukan untuk memenangkan cintanya kembali telah gagal secara memalukan. Dia telah benar-benar ditolak dan dicampakkan.
Sementara itu Raja Satria yang hampir saja khilaf dan terjatuh pada jerat godaan mantan, segera mendinginkan perasaannya dengan minum air dingin. Disiramkannya sisa air dingin itu di kepalanya.
"Aaaah!" Raja berteriak frustrasi.
*****
Eldrige menghadap Raja Satria di ruang kerjanya. Pria itu melaporkan beberapa penemuannya mengenai aktivitas sihir yang terjadi di istana.
"Saya merasa ada sesuatu yang janggal pada Selir Utama. Pada saat persidangan, saya sempat melihat tanda iblis di lengannya."
"Tanda iblis? Maksudmu tato segitiga kecil di lengan kirinya itu? Setelah kupikir-pikir memang tato itu belum ada saat Selir Mayang baru masuk ke istana." Raja Satria berbicara sambil berusaha mengingat-ingat.
__ADS_1
"Sebenarnya Ratu Malea pernah memperingatkan tentang tanda iblis yang terdapat pada tubuh orang yang membuat perjanjian dengan iblis Sitr. Namun waktu itu saya belum yakin." Eldrige kemudian mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dan menunjukkannya pada Raja.
Raja Satria memperhatikan sebuah gambar segitiga dengan simbol bulan sabit di tengahnya.
"Bulan sabit?"
"Itu bukan bulan sabit biasa, jika diperhatikan bulan sabit itu adalah gambar sayap elang yang saling melengkung menyerupai bulan sabit. Simbol The Crescent adalah simbol nafsu dan hasrat biologis. Biasanya pengikut Sitr akan melakukan ritual di bawah sinar bulan."
"Apakah orang itu juga akan diliputi Glamour ?" Tanya Raja Satria sambil membolak-balik halaman buku.
"Ya." Eldrige mengangguk.
"Selama ini kau sudah tahu kan?" Raja Satria memandang tajam ke arah Eldrige dari tempat duduknya. "Kau tahu bahwa aku sudah dimanterai."
Eldrige mengangguk dan balas menatap mata Raja Satria. Mengira-ngira seberapa banyakkah pria itu mengetahuinya. Selama ini dia sangat keras kepala dalam kebodohannya.
"Ya, saya tahu. Tapi saya tidak yakin siapa pelakunya. Meskipun sudah ada sedikit kecurigaan. Namun tanpa ada bukti?" Eldrige menggeleng-gelengkan kepala sambil mengedikkan bahunya.
"Selama ini kau pasti menganggapku bodoh." Ditaruhnya buku itu di meja lalu memandang Eldrige dengan kesal karena menyadari kebodohannya selama ini. Teringat sikapnya yang konyol dan selalu mengikuti keinginan selirnya. Dan lebih buruk lagi dia sudah menyakiti istrinya.
Raja Satria tertawa pelan. Berani-beraninya peri itu mengejeknya. Raja Satria menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.
"Jadi menurutmu Selir Mayang sudah melakukan praktek sihir ilegal yang korbannya itu aku sendiri?" Raja Satria mengajukan pertanyaan yang sebenarnya dia tujukan pada dirinya sendiri.
"Dan juga Ratu Gita." Tambah Eldrige mengingatkan.
"Yah, Ratu Gita adalah korban terberatnya." Ujarnya lirih sambil teringat pada istrinya. Betapa dia tidak menyadari akibat fatal yang akan ditimbulkannya saat lebih memilih hawa nafsunya yang dulu dia kira sebagai cinta.
"Mungkin kau pikir aku tidak pantas untuknya, tapi yakinlah bahwa aku takkan pernah melepaskannya!" Peringatan yang sangat jelas dia tujukan pada Eldrige agar pria itu tahu bahwa dia tidak akan menyerah pada istrinya sampai kapanpun.
"Bagus!" Jawab Eldrige kalem. Dia bertekad tidak akan sungkan jika Raja Satria menyianyiakan istrinya lagi.
"Lalu cara menghentikan Selir Mayang? Aku tidak yakin dia akan berhenti begitu saja. Apalagi setelah kejadian tadi."
__ADS_1
"Kejadian apa?"
"Dia mendekatiku dan menggoda...kau tahu kan? Dia menginginkanku tapi...aku sudah menolaknya. Dengan cara yang mungkin membuatnya terhina dan sakit hati."
"Kalau begitu malam ini saya akan menginap bersama Yang Mulia!" Eldrige menatapnya penuh arti.
"Hei, apa maksudmu menginap? Jangan bilang kau ingin tidur denganku? Dengar ya! Meskipun aku menolak Selir Mayang, tapi aku masih waras tahu!" Raja Satria menyilangkan tangan di depan dadanya dengan panik, membuat Eldrige bingung sesaat. Namun setelah peri itu menyadari apa yang dimaksudkan oleh Raja, dia langsung bergidik geli.
"Ehemm, maksud saya untuk berjaga-jaga. Saya punya firasat malam ini akan terjadi sesuatu." Eldrige memalingkan mukanya, merasa jengkel dengan pemikiran Raja Satria yang absurd.
"Oh, baiklah kalau begitu. Kau boleh menginap, tapi jangan macam-macam!" Raja Satria bergegas ke kamarnya.
Eldrige mengelus dada menghadapi sikap konyol Raja Satria. Dia yang biasanya bersikap tenang kini merasa emosinya diaduk-aduk. Antara gemas dan jengkel. Kalau saja pria itu bukan Raja negeri ini pasti dia sudah menjitak kepalanya biar otaknya tidak korslet.
*****
Sudah lewat tengah malam, suasana sangat sepi. Patroli keamanan istana sudah lewat dari tadi. Raja Satria berbaring seranjang bersama Eldrige dengan saling memunggungi dan berusaha tidak saling menempel. Keduanya belum tidur karena gelisah menunggu sesuatu yang mungkin akan muncul mendatangi Raja Satria.
Tiba-tiba selimut yang menutupi tubuh Raja tersingkap. Dengan sebal ditariknya selimut itu lagi karena mengira Eldrige ingin menguasai selimutnya. Namun ketika balas ditarik malah terjadi perlawanan. Sepertinya peri itu tidak mau mengalah dan tetap mempertahankan selimut itu. Maka terjadilah adegan saling berebut selimut. Lalu selimut itu akhirnya terlepas dari genggamannya, hal itu membuat Raja sangat kesal. Dia berbalik ingin memarahi Eldrige, namun ternyata peri itu tidak ada di sana.
Raja Satria bangun, dan memperhatikan sekelilingnya. Kamarnya ini mendadak terlihat aneh. Apakah dia masih berada di kamarnya? Tiba-tiba bulu kuduknya meremang.
Raja Satria mencoba memeriksa kamarnya untuk mencari Eldrige, tapi dia tak ada di manapun.
"Eldrige!" Panggilnya.
Raja Satria keluar dari Wismanya namun tak melihat satupun pengawal yang berjaga. Ada apa ini sebenarnya?
Raja terus berjalan di halaman yang sunyi. Menyusuri bedeng-bedeng tanaman bunga Freesia, lalu berjalan ke arah lapangan rumput yang terlihat gelap.
Tiba-tiba dilihatnya siluet wanita yang sedang meliuk-liuk di bawah siraman sinar bulan yang menyorot seperti di atas panggung. Rambutnya yang keemasan bercahaya dan tubuhnya mengkilap.
Dia terlihat tidak asing. Pelan-pelan di dekatinya wanita itu untuk memastikan. Disentuhnya lengan yang sedang bergerak gemulai itu. Seketika wanita itu berhenti menari.
__ADS_1
"Kaaaaaack!"
Suara teriakan wanita itu mengagetkan Raja Satria. Kemudian wanita itu berbalik dan menatap Raja Satria dengan wajah seekor burung elang yang mengerikan.