Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 104 Menemukan Tuan Puteri


__ADS_3

Penutup mata para wanita itu kini dibuka. Mereka semua merasa terkejut melihat tempat itu. Beberapa orang dirantai dan ditempatkan di dalam kandang-kandang.


"Tempat apa ini? " Pertanyaan itu spontan keluar dari bibir Puteri Juwita.


"Kau ingin tahu? Ini adalah tempat pelelangan para budak. Sebentar lagi kau akan dibeli oleh seseorang yang menginginkan tubuhmu!" Penjaga yang pernah sakit hati kepada Puteri Juwita menyeringai mengejek.


Puteri Juwita mengkerut, meskipun sudah dapat menduganya namun dia tetap terkejut.


"Ayo mulai berbaris di sana! " Perintah seseorang yang memakai seragam. Mereka mulai berjalan menuju tangga.


"Berhenti! Nanti kalian akan dipanggil satu-persatu, jadi bersiap-siaplah! " Kata orang itu lagi.


Seorang gadis yang berada di barisan paling depan mulai menaiki tangga, seorang penjaga membuka tirai agar gadis itu bisa masuk. Gadis itu kemudian digiring ke tengah-tengah panggung.


"Para hadirin yang terhormat, di depan kita telah hadir seorang gadis remaja yang cantik dan sehat. Dia sangat rajin bekerja dan juga patuh. Anda semua tidak akan rugi jika memilikinya! " Suara juru lelang yang sedang menawarkan gadis itu terdengar sangat keras.


"Lihatlah kulitnya yang sangat halus dan tubuhnya yang indah! " Tangan Juru lelang menelusuri wajah gadis itu, kemudian turun ke lehernya membuat para calon pembeli berfantasi liar.


Sreek!


Juru lelang merenggut baju gadis itu hingga sobek dan memperlihatkan tubuh bagian atasnya. Gadis itu merasa malu dan terlihat ingin memberontak, tapi dia tidak berdaya. Tangannya masih terikat dan seorang penjaga bertubuh tinggi besar mengawasinya dengan seksama.


"Mari kita buka penawaran untuk gadis ini. Saya akan membukanya dengan harga dua puluh keping emas! " Juru lelang membuka penawaran.


"Dua puluh lima! " Seorang pria tua berpenampilan mewah dengan uban menutupi kepalanya mulai menawar.


"Apakah ada yang menawar lebih tinggi? " Tanya Juru lelang.


"Tiga puluh keping emas! "


"Tiga puluh lima! "


"Lima puluh keping emas! "


Nilai gadis itu semakin naik, begitu juga tubuhnya yang semakin menggigil ketakutan. Gadis itu merasa seolah-olah sebagai kelinci kecil yang dikelilingi serigala.


"Seratus dua puluh keping emas, adakah yang ingin menawar lebih tinggi? " Juru lelang berusaha meningkatkan penawaran.


"Satu, dua, tiga! Gadis ini terjual dengan harga seratus dua puluh keping emas kepada Tuan Archie!" Juru lelang menunjuk seorang laki-laki berwajah sadis yang mengenakan setelan serba hitam.


Gadis tadi kemudian dibawa masuk kembali. Puteri Juwita memandangi gadis yang hampir telanjang itu. Wajahnya terlihat pucat dan tertekan. Air mata menggantung di sudut matanya.


Gadis itu menuruni tangga tanpa menoleh, seseorang datang dan langsung membawanya pergi.


"Giliranmu! "


Tiba-tiba Puteri Juwita yang berada di urutan terakhir didorong oleh penjaga yang tidak menyukainya tadi, sampai dia berdiri di urutan paling depan. Dengan ketakutan Puteri Juwita berusaha menolak. Dia ingin sekali melarikan diri saat itu juga.


"Bawa dia ke atas! "


Gadis malang itu diseret naik ke atas panggung kemudian dipaksa untuk berdiri menghadap para calon pembeli. Berdiri mendengarkan di belakang panggung sungguh berbeda saat benar-benar berdiri di atas sana.


Puteri Juwita bisa melihat puluhan orang yang berkerumun dan melihatnya penuh minat. Mereka adalah para lelaki mesum dan bejat yang menginginkan budak yang dapat mengerjakan pekerjaan rumah tangga sekaligus memuaskan hasrat mereka di ranjang.


"Waaah!


Decak kagum dari para hadirin bergema di seluruh penjuru ruangan begitu melihat penampilan Puteri Juwita. Mereka tidak pernah melihat budak seistimewa ini.


"Ini adalah barang istimewa yang kami miliki! " Suara Juru lelang kembali terdengar.


"Seperti yang anda lihat, budak ini kami impor dari Kerajaan Elfian. Lihatlah wajahnya yang sangat cantik dan tubuhnya yang menggiurkan. Tidak ada budak yang lebih istimewa dari gadis ini!" Puji Juru lelang untuk menarik minat calon pembeli.


"Seratus keping emas! " Seorang pria di sudut ruangan langsung mengajukan penawaran meskipun juru lelang belum membuka penawaran.


Juru lelang tersenyum gembira karena penawaran dibuka dengan harga tinggi. Dia kemudian mulai menawarkan harga yang lebih tinggi.


"Apakah ada yang berani menawar seratus dua puluh keping emas? " Juru lelang tersenyum lebar.


"Seratus lima puluh!"


"Dua ratus! "


"Dua ratus lima puluh! "

__ADS_1


"Lima ratus keping emas! "


Tawaran mulai meningkat, harga Puteri Juwita telah meroket tajam. Beberapa calon pembeli tampaknya tidak takut mengeluarkan uang banyak agar dapat memiliki Puteri Juwita.


Sementara itu Puteri Juwita semakin tertekan. Tak lama lagi akan ada orang yang membelinya dan akan melakukan semua hal sekehendak hati pada dirinya.


"Seribu keping emas! "


"Tiga ribu! "


"Tiga ribu lima ratus! "


Penawaran masih berlangsung, keringat dingin sudah membanjiri tubuh Puteri Juwita. Semua mata memandanginya penuh nafsu.


"Lima ribu keping emas! " Seorang laki-laki bertudung hitam yang baru saja hadir tiba-tiba memberikan penawaran yang sangat tinggi.


*****


Eldrige mendekati kamar yang gelap itu kemudian meraih tangan yang lunglai tak berdaya di lantai.


"Ningrum? " Eldrige kaget ketika menyadari bahwa gadis yang tergeletak di lantai itu adalah teman sekamar Puteri Juwita.


Tubuh gadis itu sangat panas dan lemah. Eldrige segera membopong tubuh Ningrum. Gadis itu melihat Eldrige dan meneteskan air mata.


"Tolong selamatkan Juwita, Tuan Eldrige! " Ucap gadis itu dengan suara lemah.


"Aku pasti akan menyelamatkannya!" Ucap Eldrige sungguh-sungguh.


"Sari yang melakukannya. Dia menjual kami.. " Ningrum berusaha menjelaskan kepada Eldrige tentang siapa orang yang mencelakai mereka.


"Hussh.. Jangan bicara lagi. Kami sudah mengetahui semuanya. Kau akan kubawa kembali ke asrama." Eldrige segera membawa Ningrum ke asrama melalui lubang dimensi.


Ningrum tampak terkejut ketika dia dibawa Eldrige ke dalam terowongan yang aneh. Dia merasa yakin bahwa saat ini dirinya sedang berhalusinasi.


Saat Eldrige tiba, Nona Sekar segera menghampirinya dan meminta Eldrige membawa gadis itu ke ruang kesehatan.


Seorang Tabib segera dipanggil untuk memeriksa keadaan Ningrum. Eldrige kemudian berbicara serius dengan Nona Sekar di luar.


"Aku sudah menemukan jejak Puteri Juwita dan harus bergegas. Pergilah melapor pada Raja Sagar tentang hal ini. Ada sebuah rumah budak yang berada di tengah hutan. Di tempat itulah mereka menyekap para wanita yang diculik untuk dijadikan budak. Pergilah ke sana dan tangkap para penjahat itu! " Eldrige menatap Nona Sekar kemudian berpamitan padanya.


"Aku pergi dulu, Sekar! " Ucap Eldrige.


Eldrige segera mencabik udara dan masuk ke dalam lubang dimensi. Tujuan peri itu sekarang adalah kawasan pasar gelap di kota Strein.


*****


"Apakah ada yang ingin menawar lebih tinggi? " Juru lelang kembali bertanya pada para calon pembeli.


"Lima ribu lima ratus keping emas! " Seorang pria tampan namun senyumnya terlihat mesum kembali menaikkan tawaran.


"Enam ribu! " Pria bertudung hitam tadi tidak mau kalah.


"Enam ribu lima ratus! " Balas pria tampan itu.


"Tujuh ribu! " Suara pria bertudung hitam terdengar sangat dingin dan tanpa emosi. Namun hal itu malah membangkitkan jiwa persaingan pada si pria tampan.


"Delapan ribu! " Pria tampan itu sudah mulai kesal karena dia sekarang harus mengeluarkan uang yang sangat banyak.


"Sembilan ribu! "


"Waah!" Semua orang berdecak kaget. Mereka kini penasaran kepada pria bertudung hitam.


"Sembilan ribu lima ratus keping emas! " Suara si pria tampan kini terdengar putus asa dan tak bersemangat. Dia bersumpah akan membuat budak itu mengembalikan seluruh uangnya dengan menyewakannya pada orang-orang kaya mesum setelah dia mencicipinya.


"Sepuluh ribu! " Tanpa disangka pria bertudung itu menaikkan tawarannya.


Pria tampan tadi tidak berani menawar lebih tinggi karena uangnya bisa terkuras habis, bahkan dia akan berhutang. Dengan berat hati dia membiarkan pria bertudung itu mengambil budak yang diincarnya.


"Apakah tidak ada tawaran yang lebih tinggi? " Juru lelang kembali bertanya, namun sudah tidak ada yang berani menaikkan tawaran.


"Terjual! Gadis ini sekarang milik anda, Tuan! " Juru lelang berteriak dengan penuh semangat.


Pria itu berjalan mendekat dan mengamati Puteri Juwita dengan cermat. Gadis itu sedang menundukkan kepalanya dan tubuhnya bergetar hebat. Mulut pria itu tersenyum lebar, dia bisa mencium aroma ketakutan dan kemarahan pada gadis itu.

__ADS_1


"Kau sekarang milikku, Juwita! " Kata pria itu tepat di hadapannya.


Puteri Juwita mengangkat wajahnya dan langsung berhadapan dengan wajah pria itu. Mata mereka saling menatap, ada kilat ketakutan pada mata gadis itu.


"Nic-Nicolae? " Wajah Puteri Juwita penuh kengerian seakan dihadapkan pada seekor monster.


*****


Eldrige berjalan di kawasan yang sangat padat di sisi lain kota Strein. Berbagai pedagang yang berjualan bermacam-macam barang menawarkan dagangannya dengan berteriak-teriak.


Eldrige agak bingung untuk mencari lokasi pelelangan budak. Beberapa kali dia mencoba bertanya namun tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti. Rupanya tempat pelelangan itu hanya dapat dimasuki oleh orang-orang tertentu karena sifatnya yang privat.


Namun Eldrige segera melihat puluhan kereta kuda mewah yang terparkir rapi, berjajar di sepanjang jalan. Dia segera mendekati sebuah bangunan berlantai dua yang terlihat indah. Beberapa penjaga terlihat mengelilingi tempat itu.


Eldrige belum yakin bahwa itu adalah tempat yang dicarinya, namun tidak ada salahnya untuk memeriksa.


Dengan percaya diri Eldrige berjalan menuju pintu masuk dan berhadapan dengan dua orang penjaga. Mereka berdua mengamati penampilan Eldrige yang tampak elegan dan mewah. Pakaian Eldrige terlihat sangat mahal dan sikapnya angkuh, khas bangsawan.


"Silakan masuk, Tuan! " Kedua penjaga langsung menyilakan Eldrige masuk tanpa bertanya.


Mereka sudah terbiasa dimaki-maki oleh bangsawan yang tersinggung gara-gara tidak diizinkan masuk saat lupa membawa undangan dan kartu anggota. Ujung-ujungnya bos mereka akan memarahi mereka habis-habisan gara-gara komplain dari pelanggan tadi.


Eldrige terus berjalan masuk lebih ke dalam. Kali ini dia menemukan sebuah ruangan yang terisi penuh dengan orang-orang yang sedang mengikuti lelang. Dia melihat ada seorang gadis yang sedang berdiri di atas panggung. Gadis itu tampak ketakutan.


"Sembilan puluh keping emas! "


"Seratus! "


Terdengar beberapa orang meneriakkan tawaran yang terus naik. Eldrige merasa sangat muak melihatnya. Dia tidak habis pikir bagaimana orang-orang itu memperlakukan sesama manusia seperti binatang.


Ingin sekali dia menghancurkan tempat ini, namun dia harus menemukan Puteri Juwita terlebih dahulu.


Dia sekarang mengamati panggung, ada sebuah pintu yang ditutupi tirai. Pasti gadis yang berada di atas panggung itu tadi masuk dari pintu itu.


Eldrige segera berjalan memutar dan berusaha mencari pintu lain menuju ruangan di belakang panggung. Namun saat dia berjalan, tiba-tiba dia merasakan ada energi gelap di dekatnya. Dia juga mencium aroma Strix yang pernah masuk ke dalam kamar Puteri Juwita.


Saat Eldrige memasuki sebuah ruangan dengan pencahayaan minimal, dia melihat serombongan wanita yang berbaris. Di ujung sana terlihat tangga yang dia yakini menuju ke panggung.


Namun Puteri Juwita tidak terlihat diantara mereka. Eldrige merasa sedikit frustasi karena lagi-lagi tidak menemukan gadis itu.


"Tuan, ini budak yang anda beli. Karena sudah melakukan pembayaran, anda bisa membawanya sekarang! " Samar-samar Eldrige mendengar suara dari balik pintu di seberang ruangan.


Eldrige segera ke sana dan membuka pintunya. Ternyata dia sudah berada di luar gedung. Di sana dia melihat seorang gadis berambut perak sedang di dorong mendekat ke arah seorang pria bertudung hitam.


"Juwita? " Kedua mata Eldrige membara melihat perlakuan kejam orang-orang itu pada kekasihnya.


Eldrige berjalan tanpa suara, dia geram melihat laki-laki bertudung itu mulai menyentuh pipi Puteri Juwita. Gadis itu menggeliat karena merasa tidak nyaman.


Plak! Plak! Plak!


Tiga tamparan tak kasat mata tiba-tiba menghantam wajah Nicolae dan membuat pemuda tampan berkulit pucat itu tersungkur.


"Berani sekali kau menyentuhnya dengan tangan kotormu! "


Semua orang di sana tersentak kaget tiba-tiba mendengar suara hardikan. Mereka kini menoleh ke arah suara langkah kaki yang semakin mendekat.


"Eldrige? " Seruan kaget bercampur lega terlepas dari bibir mungil yang kini tampak kering dan terluka itu. Gadis itu bergerak dengan langkah terseok mendekati Eldrige.


Namun para penjaga yang berada di belakangnya berusaha meraih tubuh gadis itu.


Dengan gerakan jarinya, Eldrige segera menghempaskan dua orang penjaga yang berada di belakang Puteri Juwita. Kedua tangan Eldrige kemudian melakukan gerakan meremas dan disusul suara gemelutuk tulang yang dipatahkan. Kedua penjaga itu berteriak kesakitan karena tulang-tulangnya remuk.


Eldrige berjalan mendekati Puteri Juwita sambil melepas jubahnya. Dia segera menyelimuti tubuh Puteri Juwita dengan jubahnya dan memeluk gadis itu. Eldrige bisa merasakan tubuh Puteri Juwita bergetar di dalam pelukannya.


"Kenapa kau lama sekali, Eldrige? " Puteri Juwita terisak-isak melepaskan semua emosi yang selama ini ditahannya.


"Maafkan aku karena terlambat menemukanmu, Tuan Puteri! " Eldrige mengecup kening gadis itu dan mengeratkan pelukannya.


Nicolae merasa sangat marah melihat hal itu, namun dia menyadari bahwa Eldrige memiliki energi yang berada jauh di atasnya. Dia tidak bisa sembarangan melawan peri itu.


Nicolae segera merubah wujudnya menjadi Strix untuk meningkatkan kekuatannya. Dan tanpa aba-aba, Nicolae langsung menerjang Eldrige. Namun Eldrige segera mendorongnya dengan kibasan tangan kirinya. Strix itu langsung jatuh tersungkur ke tanah.


"Makhluk rendahan sepertimu rupanya tidak punya akal untuk berpikir! Kau sudah membuat kekacauan dan pembunuhan. Tapi kau sama sekali tidak memikirkan akibatnya! "

__ADS_1


__ADS_2