Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 166 Penjelasan nenek


__ADS_3

"Ibu sebenarnya tidak ingin meninggalkanmu di sini, tapi benar kata Eldrige, sebaiknya kau istirahat dulu beberapa hari," Ratu Gita menjenguk putrinya sebelum rombongan mereka berangkat.


"Ada banyak hal sebenarnya yang ingin ibu tanyakan padamu perihal hubunganmu dengan Eldrige, tapi ibu bisa menunggu sampai kau pulang nanti."


Puteri Juwita mengangguk. Kedua orang tuanya, juga adik bayinya akhirnya berangkat hari itu. Kini dirinya kembali sendiri. Entah bagaimana nanti dia akan menghadapi Eldrige, apakah akan kembali seperti sebelum mereka meninggalkan Elfian ataukah akan menjadi canggung seperti layaknya hubungan mantan kekasih.


Apapun itu, kini fokusnya adalah untuk melepaskan dirinya dari pengaruh Dewa Murr seperti yang dikatakan Nona Sekar.


"Seperti yang kujanjikan, aku akan menolongmu," ucap Nona Sekar sewaktu menemuinya setelah makan malam. Ketika itu Eldrige sedang pergi dengan Eshwar.


"Bagaimana caranya?"!


"Menurut penyelidikanku, Dewa Murr ini adalah roh yang telah meninggal ratusan tahun yang lalu. Kemungkinan selama ini dia belum menemukan tubuh yang cocok untuk didiami, sampai dia bertemu denganmu."


"Kenapa dia memilihku? Bukankah masih banyak orang lain?"


"Kalau itu aku tidak tahu jawabannya. Hanya saja mungkin itu disebabkan oleh insiden yang menimpamu di gua."


"Kau tahu dari mana soal insiden itu?" tanya Puteri Juwita. Namun tak lama kemudian gadis itu mengangguk maklum, "Ah, tentu saja, kau diberitahu Eldrige."


Nona Sekar menyunggingkan senyum. Tanpa melakukan apa-apa pun dia sudah bisa membuat gadis itu merasa kalah.


"Yah, bukan salahku jika Eldrige selalu mencariku untuk hal-hal rumit seperti ini. Seandainya saja dia tidak menyia-nyiakan bakat dan kekuatan alaminya, tentu saja hal ini tidak mungkin terjadi."


Puteri Juwita terdiam mendengar sindiran Nona Sekar. Mungkin ini semua sudah salah sejak awal. Seharusnya dia tidak memupuk perasaan pada Eldrige. Segala hal tentang mereka jelas berbeda dan tak ada satupun alasan yang membenarkan hubungan itu.


"Meskipun keadaannya sudah seperti ini, tetapi bukan berarti kalau semuanya tidak bisa diperbaiki. Pertama-tama akan kujelaskan dulu bahwa Dewa Murr ini memiliki energi gelap yang sangat besar. Dia bisa menguasaimu dan mengambil alih tubuhmu."


"Aku pernah memimpikan seorang wanita bernama Uma, apakah ada hubungannya?" tanya Puteri Juwita.


"Uma?" Nona Sekar nampak berpikir. Dahinya yang licin kini tampak berkerut. "Sepertinya aku pernah mendengar nama itu entah di mana?"


"Uma adalah nama leluhur kami."


Sebuah suara sontak membuat keduanya berbalik. Di sana telah berdiri seorang wanita cantik yang baru saja melepas masa lajangnya.


"Pertiwi?" Puteri Juwita terkejut mendapati sepupunya itu tiba-tiba telah ada di sana.


"Aku mencarimu kemana-mana, Juwita. Nenek ingin bertemu denganmu," ucap Puteri Pertiwi sambil melirik ke arah Nona Sekar dengan perasaan janggal.


"Ada apa nenek mencariku?" Puteri Juwita segera menghampiri sepupunya itu.


"Entahlah, nenek hanya bilang ingin menyampaikan sesuatu padamu. Katanya ini sangat penting," kata Puteri Pertiwi sambil menarik tangan Puteri Juwita.


"Baiklah, aku akan menemuinya."


Puteri Juwita kemudian menganggukkan kepala pada Nona Sekar, begitupun juga Puteri Pertiwi. Mereka berdua kemudian meninggalkan peri itu dan pergi menemui Nenek Divya.


"Pertiwi, bisakah kau tinggalkan kami sebentar?" tanya Nenek Divya ketika kedua gadis itu sudah berada di hadapannya.


"Baik, nenek." Dengan agak kecewa Puteri Pertiwi meninggalkan ruangan itu padahal dia penasaran sekali dengan apa yang ingin dibicarakan oleh neneknya pada sepupunya itu.!


"Duduklah di sini," wanita tua itu melambaikan tangan pada Puteri Juwita. Gadis itu segera duduk di sebelahnya.


"Sebelumnya nenek ingin minta maaf padamu jika telah merahasiakan hal ini padamu, juga pada ibumu," wanita tua itu menjeda kalimatnya sambil menghela napas.


"Nenek sebenarnya sudah khawatir sejak kedatanganmu namun nenek sudah dibutakan oleh rasa sayang padamu. Seharusnya setelah melihat betapa miripnya dirimu dengan mendiang nenekmu, Widya, nenek segera menyuruhmu pergi dari sini. Namun, hati wanita tua ini menjadi lemah dan tidak menghiraukan sinyal bahaya yang mengintai diam-diam."

__ADS_1


Puteri Juwita menatap wanita tua itu dengan pandangan tak mengerti. Perkataan Nenek Divya seperti teka-teki saja.


"Maksud nenek apa?"


"Maksud nenek adalah dirimu, Juwita. Kau sedang dalam bahaya. Suatu entitas yang penuh dendam sedang mengincarmu. Nenek baru tersadar ketika kau pingsan kemarin," ucap Nenek Divya serius.


"Apakah maksud nenek, Dewa Murr?" Puteri Juwita sudah tidak sabar untuk menanyakannya.


"Dari mana kau tahu?" tanya Nenek Divya terkejut.


"Sebenarnya beberapa waktu yang lalu dukun yang menculik Pertiwi mendatangiku. Dia memperlihatkan sebuah kehidupan dari masa lampau mengenai seorang wanita bernama Uma."


"Ah! Jadi dukun jahat itu masih berkeliaran di sini? Kenapa kau tidak melaporkannya?" Nenek Divya tampak kaget.


"Karena aku takut, nenek. Beberapa kali aku kehilangan kesadaranku dan aku seolah kehilangan waktu," akhirnya gadis itu mengakui kejadian aneh yang menimpanya di hadapan Nenek Divya.


"Jadi kejadian kemarin bukan yang pertama?" tanya Nenek Divya dengan tatapan menyelidik.


Puteri Juwita mengangguk pelan. Secuil harapan muncul jika wanita tua itu mengetahui solusi dari permasalahannya.


"Aku juga tahu ada seseorang bernama Uma. Siapa dia? "


"Uma adalah leluhur kita. Dia bukan berasal dari ras manusia, dia berasal dari Mayapada. Namun dia memutuskan untuk menanggalkan keagungannya dan menjadi manusia biasa."


"Jadi benar kalau bangsa Dewanata adalah keturunan dewa?"


"Hanya para bangsawannya saja. Uma melahirkan dua orang putra dan keduanya menikahi wanita-wanita biasa. Keturunan merekalah yang kelak menjadi bangsawan Kerajaan Dewanata."


"Kalau begitu Dewa Murr itu siapa?"


"Nenek sendiri tidak yakin, apakah dia Uma atau entitas lain. Para leluhur hanya mengatakan bahwa Dewa Murr terbentuk dari roh pendendam yang memiliki kekuatan yang sangat besar. Oleh karena itu orang-orang yang haus akan kekuasaan dan memiliki dendam biasanya akan menyembahnya agar dikabulkan segala hajat mereka. Itulah yang terjadi pada Bharata, raja terdahulu. Dukun itulah yang membujuknya, namun pada akhirnya semuanya sia-sia dan malah menimbulkan kesengsaraan."


"Sebentar nenek. Kalung mutiara?" benak Puteri Juwita kini membayang sebuah untaian mutiara yang pernah dilihatnya dalam mimpi. "Mangal Arti."


"Jadi kau sudah tahu?"


"Aku melihatnya dalam kehidupan masa lampau yang ditunjukkan dukun itu," jawab Puteri Juwita.


"Kau benar, namanya Mangal Arti. Kalung mutiara itu memiliki energi para dewa. Dia bisa sangat berguna jika digunakan untuk kebaikan, namun jika dia digunakan untuk kejahatan ... Itu akan sangat berbahaya."


"Ketika ayah kami mengetahui hal itu, beliau berusaha menyingkirkan Mangal Arti dari nenekmu. Namun rupanya meski kalung itu sudah disingkirkan nenekmu tetap dalam pengaruh Dewa Murr. Belakangan ayah kami baru sadar jika dukun yang katanya bisa menyembuhkan nenekmu rupanya malah memanfaatkannya. Karena itulah ayah kami terpaksa menyerahkan nenekmu untuk dijadikan selir kakekmu."


Puteri Juwita kini mulai memahami situasinya. Rupanya kedatangannya ke istana Dewanata malah membuatnya terjebak pada sesuatu yang dulu pernah menjerat neneknya.


"Dewa Murr menginginkanmu, Juwita. Tidak ada jalan lain untuk menghindarinya selain pergi sejauh-jauhnya dari tempat ini," wanita tua itu menitikkan air mata.


*****


Seorang wanita melangkah melewati rerumputan setinggi pinggang. Angin meniup rumput-rumput itu hingga menyerupai gelombang.


Mendadak dari samping sebuah pedang berkelebat. Seperti binatang buas yang mengejar mangsa, pedang itu jelas menginginkan nyawanya. Sekuat tenaga wanita itu berlari menghindar. Sabetan-sabetan itu terus mengejarnya.


"Aaakh!" pekiknya ketika pedang itu berhasil menggores pinggangnya.!


Darah mengalir membasahi pakaiannya dan tubuhnya seketika tersungkur.


Sekelebat bayangan datang dan berdiri menjulang di hadapannya. Dia mengangkat kepalanya dan melihat sosok yang sangat dikenalnya.

__ADS_1


"Mandala?"


Mandala tersenyum, rambutnya yang panjang berkibar-kibar, di tangannya dia menggenggam sebilah pedang yang berlumuran darah.


Sreeet..


Tangan Mandala bergerak, pedangnya melesat menembus tubuh wanita itu. Seketika darah segar muncrat dari mulutnya.


"Mangal Arti akan jadi milikku," Mandala kembali mengulas senyum.


"Kau tega sekali. Aku ... sangat membencimu!" wanita itu secara menakjubkan bangkit meski seluruh tubuhnya bergetar hebat.


Cetar!


Selarik sinar menyambar laksana kilat ketika Mandala menarik sebuah cambuk. Dengan sekali sentakan tubuh wanita itu kembali tumbang, ujung cambuk menggulung pergelangan kakinya. Kulitnya terasa panas dan perih.


Syuut.


Tubuh wanita itu kini diseret. Lelaki di depannya berjalan sambil menarik cambuknya yang melilit kaki wanita itu tanpa iba. Tubuh yang terseret itu kini hampir tidak bisa merasakan rasa sakit. Dia hanya terdiam pasrah. Kedua matanya menatap kosong ke atas ke arah birunya langit yang cerah. Hingga perlahan kedua mata itu terpejam.


Saat matanya kembali terbuka, matahari telah tergelincir di ufuk barat. Sekelilingnya sepi. Hanya rasa perih di beberapa bagian tubuhnya yang menyadarkannya bahwa kejadian siang tadi bukanlah mimpi.


Dia berusaha duduk bersila dan mengatur pernapasannya. Aliran energi ajaib yang mengaliri sel-sel tubuhnya kini mulai bekerja. Tenaganya pelan-pelan pulih. Namun konsentrasinya terganggu karena mendengar suara-suara gaduh.


"Mangal Arti!"


Wanita itu bangkit dan berlari menuju kuil. Saat itulah dia melihatnya. Seorang pemuda berambut panjang berlari sambil mencengkeram untaian mutiara.


"MANDALA!" teriaknya marah sambil meraih busurnya dan melepaskan sebuah anak panah. Seluruh emosinya bercampur menjadi satu. Rasa cinta yang terkoyak akibat penghianatan dan dendam. Dengan air mata berderai, seluruh kekuatannya dia salurkan ke dalam anak panahnya untuk menghentikan lelaki itu.


"Aaakh!" teriak pemuda itu yang tubuhnya kini terpaku pada batang pohon.


"Um..a? Kenapa kau? Aaakh!"


Puteri Juwita terbangun dengan napas terengah-engah. Butiran keringat membasahi tubuhnya. Ini sudah kesekian kalinya dia memimpikan hal yang sama.


"Uma."


Belum juga jantungnya berdetak normal, kini pemompa darah itu kembali bekerja lebih cepat gara-gara suara panggilan itu.


"Aku bisa gila jika seperti ini terus!" gadis itu mencengkeram rambutnya.


"Uma."


Puteri Juwita bergegas ke jendela dan menyibak tirainya. Dia menduga jika tidak akan menemukan apa-apa seperti yang sudah-sudah, karena itulah dia menatap ke luar dengan malas.


"Ah!" serunya terkejut karena mendapati seseorang di sana sedang berdiri memperhatikannya. Rambutnya yang hitam dan panjang berkilauan di bawah sinar bulan.


Puteri Juwita segera melangkah mundur. Dia sangat syok. Bagaimana tidak, orang itu baru saja berada dalam mimpinya.


"Ini tidak mungkin! Aku pasti sudah salah lihat," ucapnya berusaha menenangkan diri. Dengan memantapkan hati dia kembali melangkah ke jendela dan melihat ke luar.


Kosong.


"Ah, ternyata hanya imajinasiku saja. Mungkin aku terpengaruh mimpiku barusan."


Puteri Juwita kini bisa bernapas lega. Dia berbalik untuk kembali ke tempat tidur namun segera menyadari bahwa dirinya tidak lagi sendirian di ruangan itu.

__ADS_1


"Siapa ... kau?"


__ADS_2