Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 119 Sebuah Pilihan


__ADS_3

"Kau.. kau tahu? " Puteri Juwita bertanya dengan gugup.


"Saya tahu karena ini adalah hal yang wajar pada setiap wanita. " Jawab pelayan itu.


"Apa maksudmu? " Tangan Puteri Juwita tanpa sadar meremas kain berlumuran darah yang dia sembunyikan di balik punggungnya.


"Jangan malu, Tuan Puteri. Saya tahu itu pasti darah menstruasi." Wajah pelayan itu menunjukkan sikap pengertian.


"Oh? " Puteri Juwita agak terkejut dengan perkataan pelayan itu. Namun tidak dipungkiri hal itu membuatnya lega.


"Air mandi sudah siap. Mari saya antar ke kamar mandi. " Seorang pelayan lagi masuk.


Setelah mandi, Puteri Juwita tidak sempat kembali ke kamarnya. Selain harus ikut sarapan bersama, tiba-tiba Raja Sagar menyuruhnya menemani Pangeran Ryota ke kota.


"Ini kesempatan pertamaku mengajakmu keluar, Tuan Puteri. " Kata Pangeran Ryota ketika membantu Puteri Juwita turun dari kereta kuda.


Mereka saat ini berada di taman kota. Tempat itu biasanya ramai dikunjungi warga, namun sejak seringnya kejadian teror tempat itu kini sepi dan terlihat agak menyedihkan.


"Apakah kau sering ke kota, Pangeran Ryota? " Tanya Puteri Juwita sambil berjalan. Gadis itu mengenakan topi lebar dengan pita putih yang senada dengan gaunnya.


Jalanan di sini masih tanah, di pinggirnya terdapat saluran air yang lumayan lebar menyerupai sungai kecil dan tepiannya ditumbuhi bunga-bunga berwarna-warni.


"Ya, dulu aku sering keluar bersama teman-temanku." Langkah Pangeran Ryota panjang-panjang, namun dia berusaha mengimbangi langkah gadis di sebelahnya.


"Aku juga terkadang keluar. " Puteri Juwita mengenang kegiatannya di sekolah setiap akhir pekan.


"Kudengar kau juga berada di stadion saat terjadi pembantaian? " Pangeran Ryota melirik dengan prihatin.


"Iya. Apa kau juga di sana? " Puteri Juwita menoleh, setengah mendongak memperhatikan wajah Pangeran Ryota yang agak merah karena terpapar sinar matahari.


"Tidak. Aku tidak tertarik dengan permainan itu. Baggata kan? Salah satu temanku adalah seorang pemain yang cukup terkenal. " Jawab Pangeran Ryota riang.


"Siapa? " Puteri Juwita agak penasaran.


"Bagaskara. Kau mengenalnya? "


"Ya. Teman-temanku menyukainya." Gadis itu mengangguk.


"Bagaimana denganmu? Kau menyukainya? " Pangeran Ryota ingin tahu reaksi gadis itu.


"Dia pemain yang hebat. Tapi aku tidak cukup mengenalnya untuk menyukainya secara berlebihan. "


Jawaban Puteri Juwita membuat Pangeran Ryota mengangguk-angguk.


"Bagus. Kurasa kau memang selalu berhati-hati dan bersikap selayaknya seorang wanita terhormat. " Pangeran Ryota berbicara dengan serius.


"Bagaimana kau mengenal Bagaskara? Bukankah sekolah kalian berbeda? " Tanya Puteri Juwita lagi.


"Aku mengenalnya saat kami berkunjung ke Sekolah Ksatrian. " Kata Pangeran Ryota.


"Mereka juga pernah berkunjung ke sekolahku." Puteri Juwita menimpali.


"Kurasa teman-temanmu pasti menggila saat melihat Bagaskara. Tapi aku yakin kau tidak seperti mereka. Kau berbeda. "


Puteri Juwita terdiam. Dia tidak tahu apakah sikapnya selama ini sudah benar. Mengingat kejadian semalam, apakah Pangeran Ryota masih menganggapnya seperti itu jika dia mengetahui perbuatannya.


Menolong seorang musuh bisa saja dianggap sebagai penghianat.


"Dari tadi kau banyak melamun? " Pertanyaan Pangeran Ryota mengagetkan Puteri Juwita.


"Ah, aku hanya ingat rumah. " Gadis itu berusaha mengelak.


"Gara-gara makhluk-makhluk rendahan itu semuanya menjadi kacau. " Gerutu Pangeran Ryota sambil melempar sebuah kerikil ke dalam air.


"Maksudmu para Daemonie? "


"Siapa lagi? Tadi kudengar, semalam ada salah satu dari mereka yang melarikan diri dari penjara. "


Deg.


Wajah Puteri Juwita mendadak pucat. Apakah yang dimaksud Pangeran Ryota adalah Nicolae?


"Jangan takut, aku akan melindungimu. Kuharap kau berhati-hati dan tetap berada di dekatku untuk berjaga-jaga." Pangeran Ryota menatap Puteri Juwita dengan bersungguh-sungguh.


"Bolehkah aku mengunjungi temanku? " Tanya Puteri Juwita.


"Tentu saja. Paman Sagar sengaja menyuruhku mengajakmu keluar untuk menghiburmu. Beliau tahu kau sedang sedih. "


"Terima kasih. "


Mereka berkeliling menikmati suasana taman dan mampir sebentar ke sebuah toko kue. Kemudian Pangeran Ryota menyuruh kusir mengantar mereka ke kediaman Tabib Bagio.


Tak berapa lama mereka sampai di sebuah rumah berlantai dua di pinggir jalan. Halaman rumah itu tidak luas, hanya cukup menampung dua kereta kuda.


Seorang pelayan pria segera membuka pintu kereta begitu mengenali bahwa kereta itu datang dari istana. Mereka di antar ke dalam.


"Juwita! "


Ningrum datang sambil berlari dan langsung menubruk Puteri Juwita.


"Maaf, aku baru sempat mengunjungimu. "


"Tidak apa-apa, aku tahu sekarang keadaan sedang sulit. " Kata Ningrum dengan maklum.


"Bagaimana kabar kakakmu? Apa dia sudah kembali? "


"Beberapa waktu lalu ayahku diminta datang ke Sekolah Elixir untuk mengidentifikasi mayat yang ditemukan di sana. "


"Maksudmu? "


"Murid-murid di sana semuanya tewas. Bahkan guru-guru dan para penjaga juga tidak ada yang selamat. "


"Berarti kakakmu.. " Puteri Juwita tidak berani meneruskan kalimatnya.

__ADS_1


"Meskipun ayahku tidak bisa memastikannya karena mayat-mayat itu sudah membusuk, namun salah satu mayat mengenakan kalung milik kakakku." Air mata menggenang di sudut mata Ningrum.


"Ningrum, aku ikut berduka. " Puteri Juwita ikut merasa sedih.


"Terima kasih, Juwita. "


Mereka saling berpelukan sampai terdengar suara deheman.


"Ehem, kalian melupakan ada orang lain di ruangan ini. " Sindir Pangeran Ryota.


"Maaf." Ucap kedua gadis itu serentak.


"Tidak apa-apa." Pangeran Ryota tersenyum.


Meskipun Pangeran Ryota tidak merasa nyaman, namun dia memberi kedua gadis itu kesempatan untuk berbincang. Sebagai gantinya dia meminta Puteri Juwita untuk pergi berdua lagi lain kali.


"Aku pasti mau pergi bersamamu lagi. Terima kasih. " Puteri Juwita sangat gembira melihat betapa pengertiannya pemuda itu.


"Apakah kau akan kembali ke Elfian saat perang usai? " Tanya Ningrum.


"Iya. Aku sangat merindukan kedua orang tuaku dan semua orang di istana Elfian. " Jawab Puteri Juwita.


"Emm, aku ingin tahu. Apa kalian bertunangan?" Ningrum berbisik sambil melirik Pangeran Ryota yang sedang duduk di seberang ruangan.


"Siapa? " Tanya Puteri Juwita tak mengerti.


"Kau.. dan Pangeran Ryota. "


"Kan aku sudah pernah bilang padamu. Tidak ada apa-apa antara aku dan Pangeran Ryota." Puteri Juwita mengibaskan tangan kanannya.


"Tapi dia pemuda yang baik! Dan.. tampan." Ningrum menatap Puteri Juwita sambil menahan senyum. " Lagipula dia seorang pangeran! "


"Tidak, Ningrum. Ada sesuatu yang tidak kau ketahui." Puteri Juwita membuka mulutnya, agak ragu untuk mengucapkan kalimat selanjutnya. Setelah menghela napas sebentar, gadis itu menatap Ningrum dengan sungguh-sungguh.


"Sebenarnya sudah ada seseorang yang kucintai. " Puteri Juwita ingin berkata jujur pada sahabatnya itu.


"Apa? Ceritakan padaku, tolong! "


"Tapi kau harus janji tak akan mengatakannya pada siapapun! "


"Janji. Ayo katakan! " Ningrum sudah tidak sabar.


"Sebenarnya aku dan Eldrige saling mencintai."


"Apa? Tapi... Wah, kau benar-benar pandai menyimpan rahasia! " Ningrum benar-benar terkejut.


"Kau adalah orang pertama yang tahu."


"Wah, aku sangat tersanjung. Ngomong-ngomong, Tuan Eldrige memang sangat tampan. " Ucap Ningrum sambil cekikikan.


Dengan wajah bersemu merah Puteri Juwita tersenyum malu karena terus digoda oleh Ningrum.


"Tapi kami sudah lama tidak bertemu, dia pergi berperang bersama ayahku."


"Aku benar-benar benci peperangan! " Tanpa sadar Ningrum menghentakkan kakinya.


"Tapi para Daemonie itu menyukainya. Mereka benar-benar seperti binatang buas! " Ningrum menggertakkan giginya penuh kebencian.


Lagi-lagi Puteri Juwita merasa bersalah karena kembali teringat kejadian semalam. Ningrum pasti akan membencinya jika mengetahui bahwa dia telah menolong seorang Daemonie.


*****


Bukit Dorati yang ditumbuhi semak thistle berbunga kuning kini dipenuhi oleh prajurit-prajurit dari Liga Kerajaan. Mereka berkumpul di sana atas undangan Dewi Hutama.


Mereka sudah datang sejak pagi dan menempuh perjalanan setidaknya semalaman untuk mencapai lokasi itu.


"Aku tidak sabar bertemu dengannya. " Raja Gaurav duduk di atas kudanya dengan gelisah.


Entah kenapa undangan dari Dewi Hutama untuk Kerajaan Watu Ijo datang terlambat, itupun tidak disampaikan langsung olehnya. Hanya sebuah surat yang tiba-tiba datang dibawa seekor merpati ke kemah Raja Gaurav di Gornerbahn.


"Kita semua penasaran. " Raja Purnama yang datang bersama Raja Satria, tersenyum memandang wajah Raja Gaurav.


"Kudengar kau datang paling akhir? " Tanya Raja Satria.


"Jangan mulai mengejekku. " Raja Gaurav sedang tidak ingin bercanda.


"Hahaha.. Gaurav, kau mudah sekali tersinggung. Bukankah dulu kau suka bercanda? Benar kan Eldrige? " Raja Satria tersenyum memandang Raja Gaurav tanpa menoleh untuk melihat reaksi Eldrige.


"Maafkan aku, mungkin aku tidak bertambah bijaksana seiring usiaku. " Raja Gaurav memasang wajah menyesal.


"Yah, kau terlalu serius sobat. " Raja Satria menghela kudanya dan kembali ke rombongannya.


"Eldrige, kenapa Raja Sagar tidak datang? " Tanya Raja Satria.


"Saya dengar Raja Sagar terluka. Namun seorang panglimanya datang mewakili. " Jawab Eldrige.


"Terluka? Semoga saja tidak parah. Aku jadi mencemaskan Juwita. " Raja Satria menjadi termenung.


"Jika jalur lubang dimensi sudah dibuka, saya akan segera menjenguk Tuan Puteri. " Kata Eldrige.


"Ya, kau harus melakukannya."


"Yang Mulia. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan saat keadaan sudah kembali normal."


"Tentang apa, Eldrige? "


"Bolehkah saya memohon sesuatu? " Suara Eldrige terdengar agak gugup.


"Katakan saja, Eldrige. Apapun permintaanmu akan kuberikan. Kau sudah mendampingiku selama ini dan kau tidak pernah meminta apa-apa dariku. " Raja Satria tersenyum lebar. " Katakan apa yang kau inginkan. "


"Saya akan meminta sesuatu yang berharga, Yang Mulia. "


"Katakan, bahkan jika kau meminta tahtaku akan kuberikan. Kurasa kau bisa memimpin kerajaan dengan baik. " Raja Satria tertawa kecil.

__ADS_1


"Tidak, Yang Mulia. Saya sama sekali tidak tertarik dengan kekuasaan. " Jawab Eldrige.


"Kalau begitu, apa yang kau inginkan? "


"Saya.. saya ingin.. "


Wuuushh.


Serbuan angin membuat semua orang terperanjat. Di atas sana seekor kuda putih mengepakkan sayapnya seperti elang. Seorang gadis belia duduk dengan anggun di punggungnya.


Binatang sihir itu mendarat di hadapan pasukan Liga Kerajaan.


Suara riuh menggema di udara. Semua orang berdecak kagum memandangi makhluk mitos itu.


"Apa kau Dewi Hutama? " Tanya Raja Norman.


"Benar."


"Saya ucapkan terima kasih atas pertolonganmu tempo hari. Perkenalkan, saya Norman dari Nord. " Raja Norman segera turun dari kudanya dan memberi hormat.


Raja Gaurav yang berada paling ujung merasa familiar dengan penampilan Dewi Hutama. Pria itu memacu kudanya untuk lebih mendekat.


"Devi? " Keningnya berkerut.


Dewi Hutama menoleh ke arah Raja Gaurav dengan tenang. Tidak hanya Raja Gaurav yang mengenalinya, tapi Raja Satria dan Eldrige juga.


"Tak kusangka keponakanku adalah Dewi Hutama. " Raja Satria menoleh pada Raja Gaurav.


"Eldrige, bisakah kau menjelaskannya? " Raja Gaurav memandang Eldrige dari punggung kudanya.


"Maaf, saya tidak mengetahui rencana Ratu Malea. "


"Ayah, Eldrige tidak tahu apa-apa. " Ucap gadis di atas Pegasus.


"Tapi bagaimana dengan kondisi kesehatanmu? " Raja Gaurav sangat khawatir dengan keadaan anaknya.


"Aku telah sembuh, Ayah. Tubuhku sangat sehat sekarang. " Wajah gadis itu berseri.


"Tapi, tetap saja. Ayah tidak akan mengizinkanmu.. "


"Raja Gaurav, bisakah kau memisahkan urusan pribadi untuk saat ini? " Raja Norman menyela.


"Tidak bisa, karena dia putriku! " Jawab Raja Gaurav.


"Ayolah, putrimu adalah harapan kita satu-satunya untuk memenangkan peperangan melawan para Daemonie! " Raja Purnama ikut menimpali.


"Ayah, jangan khawatir padaku. Tolong percaya padaku. " Pinta gadis itu. Seumur hidupnya dia selalu hidup di bawah bayang-bayang. Semua orang seolah menganggapnya aib yang patut disembunyikan hanya karena kondisi fisiknya yang lemah dan gendernya yang dianggap tidak pantas untuk mewarisi tahta.


Untuk pertama kalinya Raja Gaurav melihat percikan di mata putrinya. Mungkin dia harus memberinya kesempatan untuk membuktikan dirinya.


"Baiklah, sayang. Ayah hanya bisa mendukungmu. " Pria itu turun dari kudanya dan menghampiri putrinya.


Puteri Devi menyambut uluran tangan ayahnya dan turun dari punggung Pegasus.


"Ayah." Telapak tangan gadis itu berkeringat dalam genggaman ayahnya.


"Ayah bangga padamu, sayang. " Ucap Raja Gaurav. Raja Gaurav membawa putrinya ke hadapan seluruh hadirin.


"Dewi Hutama! " Teriak Raja Gaurav sambil mengangkat sebelah tangan Puteri Devi.


Seluruh pasukan Kerajaan Watu Ijo bertepuk tangan, kemudian diikuti oleh semua orang yang hadir di sana.


*****


Hal pertama yang dilakukan Puteri Juwita ketika masuk kembali di kamarnya adalah meneliti setiap sudut ruangan untuk mencari jejak Nicolae.


Namun tampaknya Daemonie yang bisa merubah wujudnya menjadi strix itu telah pergi.


Tok.. tok..


Seorang pelayan masuk dan menemui Puteri Juwita.


"Nona Sekar ingin menemui anda, Tuan Puteri."


"Baik, aku akan menemuinya. " Puteri Juwita keluar mengikuti pelayan itu.


Puteri Juwita melihat Nona Sekar berdiri membelakanginya ketika dia memasuki ruang tamu di sebelah kamarnya. Tubuh wanita itu terlihat sempurna pada setiap lekuknya. Namun sebelum gadis itu sempat meneruskan kekagumannya, wanita itu berbalik dan melemparkan tatapan tajam.


"Selamat siang, Puteri Juwita. " Sapaan lembut namun terdengar dingin itu hampir membuat bulu kuduk Puteri Juwita berdiri.


"Selamat siang, Nona Sekar. " Pandangan mata Nona Sekar membuat gadis itu gugup.


"Saya kemari tidak untuk berbasa-basi. Ada baiknya untuk berhati-hati dan selalu menjaga moral di manapun kita berada, Tuan Puteri."


"Maaf, saya tidak mengerti. Apa saya melakukan kesalahan? " Tanya Puteri Juwita.


"Apa anda melakukan kesalahan? " Nona Sekar membalikkan pertanyaan.


Jantung Puteri Juwita berdegup kencang. Mungkinkah Nona Sekar mengetahui rahasianya?


"Apa maksud anda, Nona Sekar? "


"Saya bertanya sekali lagi. Apa anda melakukan kesalahan? " Suara Nona Sekar meninggi.


Tatapan matanya sangat tajam menembus ke dalam jiwanya. Wajah Puteri Juwita pucat pasi. Tubuhnya gemetar ketakutan.


"Saya.. saya tidak bermaksud.." Puteri Juwita mundur selangkah.


"Untuk saat ini saya akan diam. Tapi ingat, tidak ada lain kali. "


Tubuh Puteri Juwita terasa lemas seakan tak bertulang. Dia masih mencoba mencerna makna ucapan wanita itu. Apakah wanita itu baru saja mengancamnya?


Puteri Juwita mengakui kebodohannya karena telah menolong seorang musuh. Tapi berkali-kali pun hal itu dia pikirkan, dia tidak menyesal telah menolong nyawa seseorang.

__ADS_1


"Dan apa yang mencegah anda mengatakannya? " Entah keberanian dari mana sehingga Puteri Juwita berani menanyakan hal itu.


"Hemm, belum saatnya. Kau akan lihat bahwa aku tak akan menahan diri lagi. " Nona Sekar berjalan melewati Puteri Juwita dan melangkah ke luar.


__ADS_2