
Ratu Gita memandang gadis cantik di hadapannya dengan penuh syukur. Berkat gadis itulah dia bisa selamat. Matanya berkaca-kaca sambil berulang kali mengucapkan terima kasih.
"Dimana Arya?" Ratu Gita mencari-cari keberadaan teman peri-nya itu.
"Aku di sini, Gita! Aku terlalu malu untuk menemuimu!" Terdengar suara Arya dari balik pohon.
"Kemarilah, tidak perlu malu! Aku juga takut melihat mereka!" Kata Ratu Gita.
"Seharusnya aku melindungimu!" Arya keluar dari persembunyiannya dengan wajah tertunduk lesu.
"Kau sudah menolong Ratu Gita dengan memanggilku, Arya!" Suara Faye yang lembut menenangkan hati Arya.
"Apa kau masih mau berteman dengan peri pengecut sepertiku?"
"Sebagai sesama pengecut, kita memang seharusnya berteman." Ratu Gita tersenyum lebar.
Arya segera memeluk Ratu Gita sambil mengusap matanya yang berair karena terharu. Pemuda itu baru menyadari bahwa tubuh wanita itu basah kuyup.
"Pakailah ini!" Arya menyelimuti bahu Ratu Gita dengan taplak kotak-kotak yang biasa dia gunakan untuk piknik.
"Jangan khawatir, itu baru kucuci." Katanya sambil tertawa menampakkan gigi depannya yang renggang.
"Terima kasih."
Faye membisikkan sesuatu di telinga Ratu Gita, membuat wanita itu terlonjak senang.
"Syuiiiiit..!"
Faye bersiul panjang dengan meniup ibu jari dan telunjuknya.
Tiba-tiba dari angkasa muncul sebuah cahaya putih yang menyilaukan. Cahaya itu semakin mendekat dan lama-lama membentuk sosok kuda putih yang bersayap.
"Pegasus!" Panggil Ratu Gita.
Makhluk sihir itu mengepak-ngepakkan sayapnya dengan riang, membuat angin berhembus kencang. Kuda bersayap itu terbang berputar mengelilingi area itu, kemudian makhluk itu mendarat dengan anggun di hadapan Ratu Gita.
Ratu Gita menghampiri Pegasus dan memeluknya. Demi makhluk inilah dia berada dalam pengasingan ini.
Pegasus itu tampaknya bisa merasakan ketulusan hati Ratu Gita. Kuda itu meringkik sambil menggaruk-garuk tanah dengan kaki depannya yang sebelah kanan.
"Kau ingin aku menaikimu?"
Pegasus itu meringkik dan menganggukkan kepalanya. Ratu Gita mengelus tengkuk makhluk cantik itu. Dengan cekatan, wanita itu menaiki punggung Pegasus.
Binatang sihir itu mengepakkan sayapnya, lalu terbang melesat ke angkasa.
"Wuuusss!"
Ratu Gita memeluk leher Pegasus. Angin menerpa wajahnya dan mengibarkan rambutnya ke belakang.
"Woooo...!" Ratu Gita berteriak kencang.
"Yuu..huu...!"
__ADS_1
Pegasus membawa Ratu Gita terbang berkeliling di atas hutan Lucshire dan melewati puncak gunung Grand Solano yang tertutup salju.
Kemudian makhluk itu melesat ke atas menembus awan-awan yang selembut kapas. Dari ketinggian ini Ratu Gita bisa melihat barisan gunung-gunung dan sungai-sungai yang berkelok-kelok seperti ular.
"Bisakah kau membawaku ke atas istana Elfian?" Bisik Ratu Gita.
Pegasus melakukan manuver di udara dan berbelok ke selatan, ke arah istana Elfian.
Di bawah sana, para penduduk yang kebetulan melihat makhluk sihir itu melintas di langit, segera berseru-seru dan mengelu-elukan kuda bersayap itu.
"Yuhuu.. Pegasus!" Teriak mereka sambil melambai-lambaikan sapu tangan.
Pegasus terus terbang mendekati istana Elfian. Namun binatang itu menjaga jarak ketinggiannya agar tak diketahui oleh para penghuni istana.
Ratu Gita memandang istana Elfian di bawah sana dengan perasaan haru. Wanita itu teringat pada kedua gadis berambut merah yang setia, Esme dan Talitha. Teringat pada peri penjaga perpustakaan, Eldrige. Dan teringat pada suami yang sangat dirindukannya, Raja Satria.
"Ayo, kita kembali!" Bisik Ratu Gita.
Kuda bersayap itu segera berbalik arah menuju hutan Lucshire.
*****
Di istana Elfian, Raja Satria dan Eldrige datang menjenguk Selir Mayang di kediamannya. Wanita cantik itu berbaring lemah dan masih belum siuman.
Tubuhnya diperban di beberapa bagian akibat luka panah semalam.Eldrige memeriksa kondisi Selir Mayang. Aura gelap masih menaungi wanita itu.
"Kita harus segera melakukan upacara pembatalan perjanjian!"
"Kita harus membuatnya bangun. Bagaimanapun caranya!"
Eldrige menatap Raja Satria dan berkata dengan nada serius.
"Jiwanya tersesat. Kita harus membimbingnya pulang!"
"Maksudmu apa?"
"Kelihatannya, iblis itu sudah tidak sabar dan ingin segera mengambil jiwanya."
Raja Satria memperhatikan wajah wanita yang pernah singgah di hatinya itu. Ada perasaan iba melihat kondisinya jadi seperti ini.
"Baiklah, kita lakukan apapun yang diperlukan." Ucap Raja Satria.
"Kita bisa lakukan sekarang. Tapi kita butuh medium yang akan mencari jiwanya dan menuntunnya pulang."
"Apa kau memintaku untuk melakukannya?" Raja Satria menatap Eldrige dengan menaikkan satu alisnya.
"Saya harap begitu. Namun sayangnya, kali ini saya harus meminta ayahnya untuk melakukannya." Eldrige tersenyum tipis.
Raja Satria terkekeh geli. Peri itu memang suka sekali mengerjainya. Raja Satria kemudian memanggil Ketua Dewan Kerajaan Permadi, kemudian menjelaskan semuanya.
Lelaki tua itu mengangguk. Dia akan melakukan segalanya untuk menyelamatkan nyawa anaknya.
Setelah hari gelap, Eldrige meminta Ketua Dewan Permadi untuk bersiap-siap di kamar Selir Mayang. Raja Satria juga berada di sana untuk mengawasi.
__ADS_1
Ketua Dewan Permadi duduk di kursi menghadap Eldrige, kemudian peri itu mengikat tangan kanan pria tua itu dengan tali menyerupai rambut berwarna perak.
"Setelah menemukan Selir Mayang, segera buka ikatan yang mengikat jiwanya lalu segeralah kembali. Jika terjadi sesuatu, panggil saja namaku." Eldrige memberi pesan.
Eldrige segera membuka portal gaib dengan jarinya. Tersingkap sebuah lubang dimensi yang sangat gelap.
Ketua Dewan Permadi melangkah masuk ke dalam lubang dimensi itu. Dia merasa tanah yang dipijaknya sangat liat, seperti menginjak balon yang diisi udara. Dia tidak dapat melihat apapun di sana karena begitu pekatnya. Bahkan tangannya sendiri pun tak terlihat.
Dia terus berjalan tertatih-tatih, hanya mengandalkan instingnya. Dia merasa ikatan batin dengan anaknya sangat kuat.
Tiba-tiba tubuhnya terhuyung, lalu terduduk di sebuah tempat yang landai. Tubuhnya merosot turun dan berputar seperti spiral.
Tiba-tiba dia seperti terbangun dari tidur, dan berada di sebuah tempat yang aneh. Langit seluruhnya berwarna merah. Tanah yang dipijaknya sehitam jelaga. Burung-burung bangkai beterbangan dan sibuk mematuki mayat-mayat yang belum sepenuhnya mati, seperti zombie.
Pria itu terus berjalan mencari keberadaan putrinya, namun belum juga terlihat keberadaannya. Dimana-mana hanya tercium aroma darah dan kematian.
"Ayah.."
Ketua Dewan Permadi mendengar suara putrinya. Ditajamkannya seluruh inderanya.
"Mayang!"
"Ayah?"
"Ini ayah, Mayang! Kau di mana?"
"Ayah! Aku di sini, tolong aku!"
Pria tua itu berlari, mengikuti nalurinya. Hingga dia sampai ke sebuah bangunan menyerupai kuil. Ada sepasang obor di kiri dan kanan bangunan itu.
Pria itu melangkah menapaki undakan batu hingga ke puncak. Di depan pintu yang terbuka itu, dia melihat sebuah altar yang dikelilingi lilin yang menyala. Dia langsung mendekati altar itu, ketika dilihatnya ada seseorang yang terbaring di sana.
"Mayang!"
Dilihatnya Selir Mayang terbaring dengan sekujur tubuh terlilit benang merah, dan hanya menyisakan kepalanya.
Segera dicarinya ujung tali itu, kemudian diurainya perlahan. Selir Mayang menatap ayahnya dengan air mata berlinang. Tadinya dia sempat merasa kalau ajalnya telah tiba, namun tak disangkanya kalau ayahnya akan datang mencarinya.
Setelah ikatan itu terlepas, mereka segera pergi dari tempat itu. Namun ketika mereka menjejakkan kaki di tangga terakhir, tiba-tiba di depan mereka ada sesosok makhluk yang sangat besar dan tinggi menjulang. Mereka bahkan hanya bisa melihat kakinya.
"Ayah, aku takut!"
"Tenang Mayang, ayah akan melindungimu!"
Mereka berdua berjalan mengendap-endap, berusaha menghindari makhluk itu. Namun tiba-tiba, sebuah tangan raksasa berusaha menggapai mereka.
Selir Mayang menjerit ketakutan, dia terus berlari menghindar. Sedangkan ayahnya berusaha mengalihkan perhatian makhluk itu.
Dengan geram, makhluk itu menangkap Ketua Dewan Permadi dan meremas tubuhnya.
"Aaaa..." Selir Mayang menjerit histeris melihat keadaan ayahnya.
"ELDRIGE!"
__ADS_1