Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 136 Keluarga Yang Hilang


__ADS_3

Puteri Juwita dan Bagas menaiki sebuah kereta kuda bersepuh emas yang ditarik oleh dua ekor kuda. Kain tule tipis dengan rajutan bunga-bunga teratai menutupi jendela di kedua sisi kereta.


Gadis cantik yang duduk dengan posisi tegak di hadapan mereka tampak tenang. Dia sama sekali tidak terlihat memperdulikan isi pikiran kedua orang itu. Sedang wanita yang dipanggil Lali, duduk di sebelah Pertiwi dengan pandangan angkuh mengamati Bagas dan Puteri Juwita.


Lali mengerutkan keningnya begitu menyadari ada sesuatu yang menarik pada gadis di hadapannya. Ada semacam perasaan akrab ketika dia melihat wajah gadis itu. Tiba-tiba tubuhnya menegang begitu menyadari apa yang membuat gadis itu tampak tidak asing.


"Ah." Pekikan lirih Lali membuat Pertiwi tersenyum.


Dengan wajah tegang Lali memperhatikan wajah tuan puterinya yang tampak tenang. Dia bertanya-tanya apakah ini alasan gadis itu membawa mereka ke istana.


Kereta memasuki gerbang istana, di dalamnya halaman terlihat sangat luas. Bangunan istana yang megah terlihat mencolok. Roda-roda kereta terus berputar melewati jalanan yang lurus menuju istana.


Kereta berhenti tepat di depan bangunan megah itu. Beberapa pelayan segera datang membantu mereka turun dan membawa barang-barang masuk.


Puteri Juwita memandang kagum ke segala penjuru. Bangunan istana ini tidak sama seperti istana Elfian maupun istana Alsatia. Tembok-tembok tinggi berwarna kuning itu dihiasi banyak ukiran yang rumit dan berlapis emas. Perabotan di sini rata-rata juga bernuansa emas.


"Kau suka tempat ini? " Tanya Pertiwi pada Puteri Juwita.


"Ya, indah sekali. "


"Leluhur kami adalah bangsa penakluk. Daerah-daerah jajahan kami tersebar hampir ke seluruh penjuru benua. Namun beberapa tahun ini beberapa wilayah mulai melepaskan diri. " Pertiwi berjalan sambil menunjukkan lukisan-lukisan raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Dewanata yang tergantung di dinding.


Puteri Juwita dan Bagas hanya bisa mengangguk sambil mengikuti gadis itu. Seorang pelayan membuka sebuah pintu emas setinggi empat meter. Di dalamnya terdapat kursi-kursi beludru berwarna merah yang tampak mahal dan juga beberapa set perabot yang lagi-lagi bernuansa emas.


"Silakan duduk. " Pertiwi mengajak mereka duduk. Tak lama kemudian beberapa pelayan datang menyajikan berbagai hidangan mewah.


"Maaf, sebelumnya aku belum memperkenalkan diri dengan benar. Aku adalah Puteri Pertiwi, anak kedua Raja Badre." Kata gadis itu.


"Salam hormat kami, Tuan Puteri. " Ucap Bagas dan Puteri Juwita.


"Tidak usah bersikap formal seperti itu jika kita sedang sendiri. Sebenarnya ada satu alasan yang membuatku mengajak kalian kemari. " Kata Puteri Pertiwi.


Puteri Juwita dan Bagas menunggu penjelasan dari Puteri Pertiwi. Namun gadis itu hanya tersenyum misterius.


"Ayo ikut aku, akan kutunjukkan sesuatu. " Puteri Pertiwi melangkah ke sebuah pintu lain di seberang ruangan. Mereka kini berjalan di sebuah koridor terbuka yang kanan kirinya ditumbuhi rumpun-rumpun bunga marygold yang berwarna kuning tua.


"Nenekku suka sekali dengan bunga marygold. Bunga-bunga itu mengingatkannya pada adiknya yang telah pergi dari istana ini." Kata Puteri Pertiwi sambil terus melangkah tanpa suara. Gadis itu memang sangat istimewa, setiap gerakannya seolah adalah sebuah tarian. Tubuhnya begitu luwes dan anggun.


"Nenek! " Tiba-tiba puteri yang anggun itu berlari menerjang seorang wanita tua yang tubuhnya terbalut pakaian sutra putih.


"Pertiwi, perhatikan tingkah lakumu! " Hardik wanita itu. Wanita tua itu juga tidak terlihat seperti wanita biasa. Rambutnya yang seluruhnya putih dan panjang tampak berkilau disanggul rendah di atas tengkuknya.


"Nenek, lihat siapa yang kubawa! " Kata Puteri Pertiwi dengan manja.


Neneknya dengan gerakan pelan membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah dia orang yang sedang berdiri di depan pintu.


Awalnya wanita itu merasa agak terganggu karena lagi-lagi cucu kesayangannya itu membawa orang-orang dari luar sembarangan. Namun mata tuanya yang dihiasi beberapa kerutan itu tiba-tiba terbelalak menatap wajah gadis yang berdiri di sebelah pemuda berwajah asing.


"Widya ? " Suara wanita tua itu bergetar. Matanya berkaca-kaca seperti telaga.

__ADS_1


Puteri Juwita masih berdiri di tempatnya dengan heran. Tidak berani bergerak ataupun bersuara.


"Widya, kau kembali? " Dengan langkah yang tertatih wanita tua itu berjalan mendekati Puteri Juwita. Wajahnya menampakkan haru dan rindu yang begitu besar.


"Widya! " Tangan keriput itu meraih pipi Puteri Juwita. Tanpa sengaja gerakan tangannya yang gemetar itu membuat kain yang menutupi kepala Puteri Juwita jatuh ke bawah.


"Kau bukan Widya ! " Seru wanita tua itu terkejut.


"Perkenalkan, saya Juwita." Puteri Juwita menunduk hormat.


Wanita tua itu segera mengusap air matanya, bibirnya bergetar. Dia tampak sangat kecewa.


"Kau mirip sekali dengan adikku." Suara wanita itu sangat lirih dan penuh kekecewaan.


"Nenek tidak apa-apa? " Puteri Pertiwi segera menopang tubuh neneknya yang hampir ambruk. Beberapa pelayan datang dan membawa wanita itu ke ranjangnya.


Puteri Pertiwi memandang Puteri Juwita dan Bagas dengan menyesal. "Maaf, kalian pasti bingung dengan semua ini. "


Meskipun kedua orang itu belum bisa mencerna kejadian tadi, namun mereka berusaha untuk maklum.


"Apakah wajah saya mirip seseorang? " Tanya Puteri Juwita.


Puteri Pertiwi tersenyum. Gadis itu meraih tangan Puteri Juwita dan membawa gadis itu ke kamar neneknya.


Di kamar itu, wanita tua tadi sedang duduk bersandar di ranjangnya sambil memandangi sebuah lukisan yang di gantung di seberangnya.


"Nenek, aku ingin menunjukkan pada Juwita lukisan itu. " Puteri Pertiwi membawa Puteri Juwita ke depan lukisan.


Melihat lukisan itu Puteri Juwita seakan bercermin. Hanya saja yang membedakan mereka adalah bentuk telinga, warna kulit dan warna rambutnya. Namun tentu saja, rambutnya yang kini berwarna hitam semakin menambah kemiripan itu.


"Katakan siapa dirimu? " Tanya wanita tua itu dari ranjangnya.


"Saya.. Juwita. "


"Tidak, katakan siapa dirimu yang sejujurnya. Setelah melihatmu berdiri di depan lukisan itu, membuatku yakin bahwa kemiripan kalian hanyalah kebetulan. Katakan siapa dirimu sesungguhnya! " Suara wanita itu begitu tegas dan berwibawa. Puteri Juwita tidak sanggup berbohong di hadapan wanita itu.


"Saya adalah Puteri Juwita dari Kerajaan Elfian. " Ucap Puteri Juwita dengan jujur.


"Elfian? " Wanita itu teringat kejadian beberapa tahun yang lalu yang menewaskan keponakannya, Raja Bharata.


"Apa ayahmu adalah Raja Satria? " Tanya wanita itu lagi.


"Benar, Yang Mulia. "


"Lalu ibumu, siapa dia? "


"Ibu saya adalah Ratu Gita, putri mendiang Raja Permana dari Kerajaan Watu Ijo. " Jawab gadis itu lagi.


"Raja Permana. " Wanita itu terlihat teringat sesuatu.

__ADS_1


"Adikku pergi berpuluh-puluh tahun yang lalu untuk menikah dengan lelaki itu. Namun sayangnya yang kudengar dia hanya dijadikan selir oleh lelaki itu! " Suara wanita itu terdengar geram.


"Jadi, maksud nenek.. Juwita ini adalah cucu dari Puteri Widya? " Puteri Pertiwi menatap neneknya menunggu penjelasan.


"Jelas sekali. Kasihan adikku. Dia bahkan tidak diizinkan untuk menengok tanah airnya. Saat sepupu kami datang untuk menjenguknya, lelaki egois itu malah menuduh adikku telah menghianatinya dan mengasingkannya." Air mata mengalir di pipinya yang keriput.


"Nenek saya sudah lama meninggal. Tapi yang saya tahu, kakek sangat menyesali perbuatannya dulu pada nenek. Rasa penyesalannya itu dibawanya hingga ke liang kubur. " Puteri Juwita memandang kakak kandung neneknya itu dengan sorot lembut.


"Ya, aku mendengar kabar kematiannya beberapa tahun yang lalu." Wanita tua itu mengusap air matanya dan memandang Puteri Juwita.


"Kemarilah Juwita, nenek ingin memelukmu! " Wanita itu merentangkan tangannya.


Puteri Juwita menoleh pada Puteri Pertiwi yang berdiri di sebelahnya, gadis itu tersenyum dan mengangguk padanya.


Puteri Juwita melangkah menuju ranjang mewah tempat wanita itu berada. Gadis itu mengulurkan tangannya dan memeluk tubuh wanita tua itu. Ini adalah pengalaman pertamanya memiliki seorang nenek meskipun bukan nenek kandung.


"Kau mirip sekali dengan Widya. " Tangan wanita itu mengelus rambut Puteri Juwita dengan sayang.


"Maukah kau tinggal di sini bersama nenek? Meskipun aku bukan nenek kandungmu, maukah kau menganggapku sebagai nenekmu? " Mata tua itu memandang Puteri Juwita penuh harap.


"Iya." Puteri Juwita mengangguk sambil tersenyum.


"Namaku Divya, kau bisa memanggilku nenek Divya. " Wanita itu tersenyum lebar menampakkan gigi-giginya yang ompong.


"Iya, Nenek Divya. "


*****


Nona Sekar memasuki wilayah Tegalombo yang porak-poranda. Perang telah usai, tenda-tenda berbendera berbagai kerajaan di Liga Kerajaan berdiri tegak di punggung bukit. Wanita itu menuju tenda berbendera Elfian dan meminta izin untuk menemui Raja Satria.


Wanita itu kemudian dipersilakan masuk ke sebuah tenda. Di sana Raja Satria sedang duduk bersama Raja Gaurav dan Eldrige. Raja Satria menyuruh Nona Sekar untuk segera mengatakan tujuannya menemuinya.


"Saya ingin mengabarkan bahwa Ratu Gita telah melahirkan seorang putra kemarin." Kata Nona Sekar.


"Selamat, sepupuku. Akhirnya kau mendapatkan seseorang putra! " Raja Gaurav menepuk bahu Raja Satria dengan bangga.


"Bagaimana keadaan istriku? "


"Ratu Gita selamat meskipun sempat mengalami pendarahan. "


"Gaurav, aku akan kembali ke Elfian sekarang."


"Pergilah, aku tak akan menahanmu. Mungkin beberapa hari lagi aku dan istriku akan menjenguk kalian. " Raja Gaurav tersenyum lebar.


Tidak menunggu lama, Raja Satria dan pasukannya segera bergerak kembali ke Kerajaan Elfian.


"Eldrige, kau tidak ikut mereka? " Tanya Raja Gaurav setelah kepergian Raja Satria.


"Tidak. Saya akan pergi mencari Puteri Juwita." Jawab Eldrige.

__ADS_1


"Baik. Aku juga akan berusaha membersihkan namanya di Kerajaan Alsatia. Aku tidak akan melepaskan para pembunuh itu! " Ucap Raja Gaurav.


Raja Gaurav kemudian pergi menemui Nicolae. Untuk menemukan pembunuh yang sesungguhnya dia akan memulai penyelidikannya pada Daemonie yang tiba-tiba bisa hadir menyelamatkan Puteri Juwita itu.


__ADS_2