
Eldrige sangat mencemaskan keadaan Puteri Juwita. Dia mendapat informasi bahwa hari ini ada kunjungan dari sekolah lain sehingga tidak ada pelajaran. Akhirnya Eldrige memutuskan untuk mencari Puteri Juwita.
Ketika melewati kerumunan murid-murid yang sedang berbincang seru, Eldrige tidak menemukan Puteri Juwita. Akhirnya dia berinisiatif untuk mencarinya di kelas.
Namun, alangkah kagetnya dia begitu melihat ada seorang pemuda yang sedang memandangi Puteri Juwita. Saat tangan pemuda itu terangkat untuk mengelus rambut gadis itu, dengan cepat tangan Eldrige menangkapnya.
"Siapa kau? " Tanya Eldrige geram.
"Aku teman gadis ini, namaku Bagaskara." Pemuda itu terlihat agak bingung.
"Juwita, bangunlah! " Eldrige menepuk pelan punggung Puteri Juwita.
"Ada apa Eldrige? " Puteri Juwita membuka matanya dengan malas.
"Ayo tidur di kamarmu! " Ucap Eldrige dengan lembut.
"Hoam.. aku ngantuk sekali! " Tingkah gadis itu sangat imut membuat dua orang pria di hadapannya jadi gemas.
"Sini, naiklah di punggungku!" Eldrige segera berjongkok di depan Puteri Juwita. Dia tidak ingin pemuda kurang ajar di sebelahnya itu terus-terusan memelototi Puteri Juwita.
Gadis itu bangun dan langsung melompat ke atas punggung Eldrige sambil melingkarkan lengannya di leher pria itu. Kemudian Eldrige berdiri sambil memegangi kaki Puteri Juwita yang melingkari pinggangnya.
Eldrige kemudian melangkah pergi sambil menggendong Puteri Juwita, meninggalkan Bagaskara yang hanya bisa menatap tak percaya.
"Sial! " Umpat pemuda itu.
Akhirnya dia pergi untuk bergabung dengan teman-temannya. Sama sekali dia tidak menyangka akan mengalami hal ini. Padahal dia sudah membayangkan akan menghabiskan waktu berduaan saja dengan gadis itu.
Siapa sangka malah ada seorang pria bertubuh tinggi dan berambut perak yang tiba-tiba langsung membawa pergi gadis itu.
Siapa orang itu? Apakah dia guru di sini? Bukankah seharusnya semua guru di sekolah ini adalah wanita?
Bagaskara masih disibukkan dengan berbagai pertanyaan di benaknya tentang pria yang membawa Puteri Juwita pergi.
Sementara itu Eldrige berjalan sambil menggendong Puteri Juwita yang tertidur di punggungnya menuju kamar gadis itu yang terletak di lantai dua.
Saat Eldrige sedang melangkah di atas tangga, tak sengaja Nona Sekar lewat dan melihatnya. Wanita itu tertegun melihat Eldrige sedang menggendong Puteri Juwita. Dia baru tahu bahwa hubungan antara Eldrige dan Puteri Juwita sedekat itu.
Ada sesuatu yang terasa seperti diremas di dalam dadanya. Kemudian wanita itu segera pergi meninggalkan tempat itu.
*****
Eldrige memandangi Puteri Juwita yang terlelap di ranjangnya. Pria itu betul-betul mencemaskan gadis itu. Bisa-bisanya ada seorang pemuda tak dikenal yang berani mendekatinya saat gadis itu tertidur.
Yang paling membuatnya marah adalah bahwa pemuda itu berusaha untuk menyentuhnya. Eldrige benar-benar tidak rela kalau ada yang berani menyentuh Tuan Puterinya.
"Jangan sembarangan mempercayai orang, Tuan Puteri. Banyak orang jahat di luar sana yang tidak kau ketahui. Dunia ini tak seindah bayanganmu! " Ucap Eldrige sambil mengelus kepala Puteri Juwita.
Gadis itu mengerjap karena merasakan tangan Eldrige membelai kepalanya. Kemudian dia tersenyum ketika melihat wajah Eldrige.
"Eldrige, jangan pergi! " Puteri Juwita memegang tangan Eldrige dengan erat, kemudian gadis itu kembali tidur.
"Aku tidak akan kemana-mana, Juwita! " Jawab Eldrige.
Sepanjang siang, Eldrige tidak pergi dari sisi Puteri Juwita. Dia terus menungguinya dengan setia di samping tempat tidur gadis itu. Ketika Puteri Juwita akhirnya terbangun, waktu sudah lewat tengah hari.
"Terima kasih sudah membawaku kemari, Eldrige. " Kata Puteri Juwita saat gadis itu benar-benar telah terjaga. Tubuhnya kini terasa lebih segar.
"Aku tidak keberatan melakukannya. Kau terlihat sangat manis saat tidur, Tuan Puteri! " Eldrige memandangi gadis itu dengan pandangan penuh kekaguman.
Ucapan Eldrige membuat Puteri Juwita tersipu. Andai saja hubungan mereka akan tetap seperti ini, pasti dia akan sangat bahagia. Namun dia tidak bisa egois dengan menguasai Eldrige untuk dirinya sendiri. Dia harus membebaskannya untuk membuatnya bahagia.
"Eldrige, aku tidak akan memaksamu untuk selalu berada di sisiku. Aku ingin kau bahagia. Jadi, pergilah Eldrige. Kejarlah wanita yang kau cintai! " Puteri Juwita memberanikan diri untuk menatap langsung ke dalam mata Eldrige yang semerah batu ruby.
"Apa yang kau katakan, Juwita? Aku sama sekali tidak mengerti. Jangan pernah menyuruhku pergi! Jangan pernah menyuruhku untuk menjauhimu! " Tolak Eldrige.
"Tapi aku ingin kau bahagia, Eldrige! Karena itu, sekarang aku membebaskanmu! " Puteri Juwita berusaha untuk mengikhlaskan Eldrige.
__ADS_1
"Tapi aku tidak ingin pergi darimu, Juwita! " Tolak Eldrige. Tiba-tiba pria itu takut jika Puteri Juwita membuangnya.
"Tidak, Eldrige! Sudah cukup kau menjagaku sejak bayi. Sekarang adalah kesempatanmu untuk meraih kebahagiaanmu sendiri! " Gadis itu bersikeras.
"Tapi kebahagiaanku adalah dirimu, Tuan Puteri. Impianku adalah untuk bisa selalu bersamamu! " Eldrige berbicara dengan hati bagai disayat-sayat.
"Apa kau tak ingin mengejar wanita yang kau cintai? " Tanya Puteri Juwita lagi untuk memastikannya.
"Ya, aku ingin mengejar wanita yang kucintai." Jawab Eldrige sungguh-sungguh.
"Maka kejarlah, aku tak akan menghalangimu!" Kali ini Puteri Juwita benar-benar berusaha menguatkan hatinya.
"Bolehkah aku mengejarnya? " Tanya Eldrige sambil menatap tajam gadis itu.
"Tentu saja. Aku tetap bahagia meski kau akan mengingatku hanya sesekali." Ucap Puteri Juwita meskipun dadanya terasa sesak.
"Kenapa aku hanya mengingatmu sesekali? Kau bahkan telah menguasai pikiranku. Setiap hari yang kuingat dan kupikirkan hanyalah dirimu, Juwita! " Pandangan mata Eldrige yang tajam seakan menembus jantungnya.
"Apa maksudmu, Eldrige? " Gadis itu benar-benar tak mengerti.
"Aku mencintaimu, Tuan Puteri. Kaulah satu-satunya wanita yang kuinginkan. Maukah kau menerima diriku ini, Juwita? " Tatapan Eldrige kini terlihat sangat lembut.
Puteri Juwita memandang wajah Eldrige dengan tak percaya. Selama ini dia mengira kalau lelaki di depannya ini jatuh cinta pada Nona Sekar.
Namun melihat ekspresi Eldrige sekarang yang terlihat sungguh-sungguh dengan sepasang mata yang memancarkan cinta, masihkah dia harus ragu akan ketulusannya?
"Bisakah kau katakan sekali lagi kata-kata yang barusan kau ucapkan, Eldrige? " Pinta gadis itu.
"Kata-kata yang mana? " Eldrige pura-pura tak mengerti untuk menggoda gadis itu.
"Huft, kau ini memang menyebalkan! " Gadis itu memukuli dada Eldrige dengan kesal karena merasa dipermainkan.
Namun Eldrige segera menangkap tangannya dan mengecupnya dengan lembut, "Aku mencintaimu, Tuan Puteri! "
Kata-kata Eldrige langsung membuat Puteri Juwita meleleh. Wajah gadis itu benar-benar merah sampai ke telinga. Dengan malu-malu gadis itu berusaha untuk menyembunyikan senyumnya.
"Apa jawabanmu, Juwita? Apakah kau menerima cintaku? " Eldrige memandang Puteri Juwita penuh harap.
"Tentu saja. Jawabanmu sangat penting bagiku. Dengan itu, aku akan bisa menentukan langkah yang akan kutempuh selanjutnya." Ucap Eldrige dengan sungguh-sungguh.
Puteri Juwita akhirnya mengangguk, namun dia tidak berani lagi menatap wajah Eldrige.
"Iya, Eldrige. Aku menerimanya." Jawab gadis itu pelan.
"Apa kau tidak merasa terpaksa? " Tanya Eldrige sambil mendekatkan wajahnya.
"Ya, aku tidak terpaksa." Kata gadis itu masih sambil menunduk malu.
"Apa kau juga mencintaiku? "
"Ya, aku juga mencin.. " Tiba-tiba Puteri Juwita mendongak dan membekap mulutnya sendiri.
"Kenapa kau tidak melanjutkannya dan malah menutupi mulutmu seperti itu? " Goda Eldrige.
"Aku malu, Eldrige! "
"Tapi aku ingin mendengarnya, Juwita! " Rengek Eldrige.
Tiba-tiba Puteri Juwita mendekatkan wajahnya ke telinga Eldrige dan berbisik di sana.
"Aku mencintaimu, Eldrige! " Suaranya yang lembut membuat peri itu melayang.
*****
Raja Satria dan rombongannya segera pulang ke Elfian. Perjalanan yang rencananya agak panjang itu terpaksa diakhiri karena ancaman dari bangsa Daemonie.
Raja Satria memerintahkan agar penjagaan segera diperketat terutama di malam hari. Mereka juga diperintahkan untuk membangun menara pengawas di beberapa titik yang dikhususkan mengawasi pergerakan di udara.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, rombongan peri utusan Ratu Malea datang. Mereka adalah prajurit-prajurit peri yang diperintahkan Ratu Malea untuk membantu Kerajaan Elfian.
Faye, peri cantik yang sering diutus untuk menemui Raja Satria juga ikut dalam rombongan. Disana juga ada Arya, kakak Nona Sekar.
Raja Satria menyambut kedatangan mereka dengan perasaan lega. Dia tidak mungkin sanggup menghadapi kekuatan gelap bangsa Daemonie hanya dengan mengandalkan pasukannya, tidak tanpa bantuan Eldrige. Sedangkan peri itu sekarang sedang dia tugaskan untuk menjaga Puteri Juwita.
"Bagaimana perkembangan para Daemonie itu? Apakah lokasi mereka telah di ketahui? " Tanya Raja Satria saat sedang melakukan pertemuan dengan para Dewan Kerajaan dan para peri.
"Para Daemonie itu merubah wujud menjadi burung Strix dan telah melintasi berbagai wilayah di Liga Kerajaan." Jawab Faye.
"Maksudmu, mereka kemungkinan sudah berhasil menyusup ke setiap wilayah kerajaan?"
"Benar, Yang Mulia." Faye mengangguk membenarkan.
"Dimana kira-kira para Strix itu bersembunyi? "
"Hal itu belum bisa kita ketahui karena mereka dapat membaur dengan warga biasa. "
"Pasti ada tempat-tempat tertentu yang mungkin mereka sukai. Di gua misalnya?"
"Ehm, mereka bukan makhluk primitif yang tinggal di gua-gua. Mereka adalah bangsa yang menyukai tempat-tempat yang indah. Tempat dengan arsitektur yang megah mungkin akan menarik minat mereka." Ucap Faye.
"Apakah menurutmu mereka bersembunyi di istana ini? " Tanya Raja Satria ketika memikirkan kemungkinan itu.
"Saya harus memastikannya dulu." Faye menjawab dengan jujur.
"Baiklah, mulai sekarang akan diadakan pemeriksaan di dalam gedung-gedung dan bangunan-bangunan yang terlihat indah dan megah. Dan itu juga termasuk di istana! " Perintah Raja Satria.
Beberapa staf segera mencatat. Tidak ada satupun perkataan di dalam pertemuan itu yang mereka lewatkan.
Raja Satria kemudian memeriksa peta yang baru saja di berikan oleh seorang staf Kerajaan. Di sana sudah ditandai tempat-tempat yang telah dilaporkan tentang kemunculan Strix.
"Ada berapa jumlah laporan penampakan Strix yang kalian terima hari ini? "
"Ada tiga laporan, Yang Mulia. Di sini! " Ucap Radit. Penyidik Kerajaan yang telah mengabdi sejak belasan tahun yang lalu itu kini sudah menjabat sebagai Ketua Biro Penyidik Kerajaan.
"Baiklah, teruslah memantau! " Perintah Raja Satria.
Mereka terus berdiskusi sampai larut malam. Kemudian Raja Satria menutup pertemuan itu menyuruh semua orang melakukan tugasnya masing-masing.
*****
Sekumpulan burung hitam berukuran besar melintas di atas langit malam. Kemudian kumpulan itu terbang di atas pepohonan yang mengapit sebuah jalan yang panjang menuju sebuah gedung sekolah.
Mereka menukik turun dan berputar-putar di atas bangunan sekolah itu. Kemudian dengan cepat mereka masuk ke dalam pintu yang terbuka.
Seorang pria berpakaian hitam segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Bagaimana hasil kerja kalian? " Pria tadi kini berdiri menghadap sekumpulan pemuda berpakaian serba hitam.
"Kami berhasil menyusup ke tempat-tempat yang kau perintahkan! " Jawab salah satu pemuda.
"Apa kau sudah menemukan Vincent, Nicolae? "
Pemuda yang berdiri paling belakang itu menggeleng.
"Maaf, saya belum menemukannya. "
"Kenapa kau begitu ceroboh? Rekanmu telah hilang beberapa hari dan kau belum bisa menemukannya? Apa hatimu menjadi lemah karena kutugaskan berjaga di asrama wanita? "
"Saya akan segera menemukan Vincent!"
"Dan jika kau gagal? " Pria itu menatap Nicolae, ingin memastikan kesungguhan pemuda itu.
"Saya bersedia menerima hukuman! " Jawab Nicolae.
"Baiklah, kau sendiri yang berjanji padaku!" Pria itu berjalan memandangi para pemuda itu.
__ADS_1
"Akhir pekan nanti adalah kesempatan kalian beraksi. Aku harap kalian dapat menyelesaikan misi kalian dengan baik! Ingat, jangan pernah meninggalkan rekan kalian! Kalian harus kompak! "
"Baik, Domn ! " Jawab mereka serempak.