Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 35 Kembali Dari Pengasingan


__ADS_3

Hari ini Selir Mayang dan Ahren duduk di kursi terdakwa dengan tuduhan melakukan praktek sihir ilegal yang membahayakan publik, fitnah dan pencemaran nama baik terhadap Ratu Gita dan percobaan pembunuhan terhadap Raja.


"Sebelum persidangan ini dimulai, ada sebuah pengumuman dari Raja. Jabatan Selir Utama yang di sandang oleh terdakwa sekarang resmi dicopot. Terdakwa tidak lagi menjabat sebagai Selir!" Seorang Staf Kerajaan berambut perak berbicara di depan mimbar.


Wanita itu terkesiap kaget. Betapa teganya Raja Satria memperlakukannya seperti ini.


"Menimbang semua bukti-bukti yang sudah ada, maka kami menuntut terdakwa dengan hukuman mati!" Seorang penuntut menyampaikan kesimpulannya.


"Tidak! Yang Mulia, saya mohon ampunilah nyawa anak saya!" Ketua Dewan Permadi bersujud di depan Raja Satria.


"Yang Mulia sudah berjanji tidak akan membunuhnya!" Ahren pun tiba-tiba bersujud.


Raja Satria teringat janjinya pada Ahren. Kemudian dia mengumpulkan semua anggota Dewan Kerajaan kecuali Permadi. Raja Satria mengatakan bahwa dia pernah berjanji pada Ahren tidak akan membunuh Selir Mayang.


Setelah berdiskusi selama satu jam akhirnya mereka mencapai sebuah keputusan.


"Kami sepakat untuk menjatuhkan hukuman pengusiran dari Kerajaan Elfian kepada Mayang dan Ahren!" Raja mengetuk palu.


Ketua Dewan Permadi bersujud syukur atas keputusan Raja, meskipun hatinya sedih karena anaknya diusir keluar dari kerajaan ini.


"Karena dinilai menutupi kejahatan mereka, maka jabatan Ketua Dewan Kerajaan Permadi akan dicopot dan akan segera dicarikan penggantinya." Sambungnya.


"Segala gelar kebangsawanan pada keluarga Permadi juga akan dihapus, mereka sekarang berstatus rakyat sipil biasa." Raja Satria mengakhiri putusannya dan segera meninggalkan ruang sidang.


Mayang berlari mengejar Raja Satria namun tubuhnya langsung dihadang oleh beberapa pengawal. Kemudian wanita itu menangis histeris.


"Kau tidak bisa melakukan ini padaku, aku yang menyelamatkan hidupmu! Kau berhutang nyawa padaku!" Teriaknya.


Langkah Raja Satria terhenti ketika mendengar teriakan mantan selirnya. Dia kemudian mendatangi wanita itu.


Mantan selir itu segera mengusap air matanya dan tersenyum penuh kemenangan.


"Aku tahu bukan kau yang menyelamatkan nyawaku!" Raja Satria mengatakannya sambil menatapnya tajam. Kemudian dia kembali melanjutkan langkahnya.


Mayang menoleh pada Ahren dan memukuli pundak pemuda itu. Dia yakin pasti Ahren yang sudah membongkar rahasianya.


Sedangkan Pak Permadi luruh ke lantai. Pengabdiannya selama 30 tahun sirna dalam sekejap mata. Bahkan keluarganya ikut menanggung aib ini.


Para anggota Dewan Kerajaan mendesak Raja Satria agar mencabut hukuman Ratu Gita dan menjemputnya dari pengasingan. Mereka juga mengungkapkan penyesalan karena sudah mengambil keputusan yang keliru.


Raja Satria mengangguk dan segera memerintahkan para pengawal untuk bersiap. Dia sendiri yang akan memimpin rombongan yang akan menjemput Ratu Gita.


*****


Raja Satria dan rombongannya berkuda selama tiga hari menuju tempat pengasingan Ratu Gita. Meskipun tubuhnya masih belum pulih, namun Raja Satria tidak menghiraukannya.


Mereka tiba di sana sebelum tengah hari. Terlihat asap mengepul dari cerobong pondok.


Ratu Gita yang mendengar derap kuda segera membuka pintu. Betapa kagetnya dia melihat Raja Satria datang bersama rombongan pengawal.


"Aku datang untuk menjemputmu pulang!" Raja Satria berkata sambil memeluk istrinya.


Ratu Gita mengamati wajah suaminya yang terlihat babak belur. Dirabanya memar di pipinya dan membuat pria itu meringis menahan sakit.


"Kenapa wajahmu bisa terluka?" Ratu Gita merasa khawatir. Digandengnya suaminya ke dalam pondok.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, sayang. Jangan cemas!" Raja Satria tidak ingin istrinya tahu penyebab dirinya terluka karena menyelamatkan nyawa mantan selirnya.


Pria itu memandang wajah istrinya dengan penuh rindu.


"Kenapa sudah menjemputku? Ini bahkan belum dua bulan?" Wanita itu bertanya penuh rasa ingin tahu.


"Karena semua Anggota Dewan Kerajaan menganggapmu tidak bersalah." Raja Satria tersenyum sambil menggenggam tangan istrinya.


"Aku ingin jujur padamu, sebenarnya kemarin aku pergi dengan..." Ratu Gita tidak melanjutkan kalimatnya. Dia memandang suaminya dengan ragu, takut membuat suaminya marah.


"Pergi dengan siapa? Apakah dengan kakak bocah nakal itu?" Raja Satria teringat pada bocah perempuan yang cerewet itu.l


"Iya... dengan dia juga sih.."


"Maksudmu, kau pergi dengannya dan yang lain juga?" Raja Satria terbelalak.


"Iya, kau jangan marah ya!" Rayunya.


"Mana mungkin aku tidak marah? Aku jauh-jauh ke sini untuk menjemputmu, karena cemas. Tapi ternyata selama ini kau malah suka pergi-pergi dengan orang lain!" Wajah pria itu sudah merah padam.


"Kau jangan salah paham. Dia bukan orang lain. Aku sangat menyayanginya!"


"Aku tidak suka kau menyayangi orang lain!"


"Tapi dia bukan orang!"


"Peri juga sama saja! Pokoknya aku tidak suka!" Raja Satria berteriak marah.


"Apa kau cemburu?" Ratu Gita tersenyum geli.


"Masa kau cemburu dengan kuda?"


"Apa? Kuda?" Wajah pria itu melongo.


"Iya, Pegasus! Memangnya kau pikir siapa?"


"P-pegasus?" Kali ini wajah Raja Satria memerah karena malu.


"Iya. Kemarin dia datang mengunjungiku dan mengijinkan aku untuk menungganginya." Ratu Gita terlihat sangat gembira.


"Bagaimana kuda itu tahu kau ada di hutan ini?"


"Faye yang mengajaknya."


"Faye? Pengawal Ratu Malea?" Raja Satria mengingat gadis cantik yang mengantarnya menghadap Ratu Malea.


"Iya. Kau mengenalnya?"


Raja Satria mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya di bahu istrinya.


"Aku ingin berpamitan dengan teman-temanku di sini."


"Iya, kita tunggu mereka."


Ratu Gita memasak makanan untuk suaminya dan sepuluh pengawal yang menyertainya. Mereka makan sambil berbincang akrab.

__ADS_1


Tak lama kemudian datanglah Faye bersama Pegasus. Kuda terbang itu mendarat dengan anggun di hadapan mereka. Para pengawal melihat binatang sihir itu penuh kekaguman.


Faye turun dari punggung Pegasus. Gadis belia itu menunduk hormat kepada Raja Satria.


"Saya diperintahkan Ratu Malea untuk mengawal Ratu Gita." Ucapnya sopan.


"Sampaikan terima kasihku kepada Ratu Malea atas kebaikannya mengawasi Ratu Gita selama berada di sini. Tetapi sekarang aku akan membawanya pulang."


"Kalau begitu, biarkan Pegasus untuk mengantar Ratu Gita. Ratu Malea berpesan agar menjaga Ratu Gita. Karena Ratu Gita sedang membawa sesuatu yang sangat berharga!" Sahutnya.


"Faye, bisakah kau panggilkan Arya dan Sekar? Aku ingin berpamitan dengan mereka." Pinta Ratu Gita.


"Baik, akan segera saya panggilkan." Faye segera mengepakkan sayapnya yang transparan, lalu terbang menembus hutan.


Sementara itu Ratu Gita menghampiri Pegasus dan mengelus punggungnya. Bulu-bulunya yang halus berkilauan.


"Jadi, kemarin kau pergi dengannya?"


Ratu Gita mengangguk sambil tersenyum. Raja Satria mendekati Pegasus dan mengamati binatang itu. Namun binatang itu sepertinya tidak menyukai Raja Satria, kaki depannya tiba-tiba naik ke atas.


"Tenanglah, kawan! Dia ini suamiku, dia tidak jahat kok." Bisik Ratu Gita sambil menepuk-nepuk punggungnya.


Binatang itu kemudian kembali tenang, namun matanya masih menatap curiga pada Raja Satria. Rupanya dia masih ingat saat Raja Satria menyuruh para pengawal menangkapnya.


"Maafkan aku kawan! Seharusnya aku tidak memperlakukanmu dengan buruk." Raja Satria berbicara dengan tulus.


Pegasus bisa merasakan ketulusan hati Raja Satria. Binatang itu kemudian membiarkan pria itu mengelus punggungnya.


Para pengawal menyadari bahwa binatang itu hanya menerima orang yang berhati tulus. Tidak salah jika Ratu mereka memperlakukan binatang itu dengan baik.


"Gita..!" Terdengar teriakan anak kecil.


Ratu Gita berbalik dan melihat Faye berjalan bersama Arya dan Sekar. Gadis kecil itu segera menubruk Ratu Gita dan memeluknya. Sekar menangis tersedu-sedu.


"Kenapa menangis, anak manis?" Tanya Ratu Gita dengan lembut. Tangannya mengelus rambut ikal gadis itu.


"Aku akan merindukanmu, Gita! Sangat!" Matanya berkaca-kaca dan pipinya yang tembem memerah.


"Kau boleh mengunjungiku kapan saja! Iya 'kan, sayang?" Ratu Gita menoleh pada Raja Satria.


Pria itu mengangguk. Dalam hatinya merasa bersyukur karena ada yang menyayangi istrinya dengan tulus.


"Aku juga boleh mengunjungimu 'kan, Gita?" Arya bertanya dengan wajah sedih.


"Tentu saja! Jangan lupa kau ajak juga Aine." Ratu Gita tersenyum.


Arya tersenyum malu-malu. Dia tidak menyadari jika Raja Satria dari tadi menatapnya dengan tatapan curiga.


"Baiklah, kita akan berangkat sekarang!" Para pengawal segera bersiap-siap berangkat begitu mendengar perintah Raja.


Ratu Gita dan Raja Satria menaiki Pegasus. Mereka melambaikan tangan kepada para peri hutan yang baik itu.


"Hati-hati di jalan!" Teriak Sekar.


Kemudian Pegasus mengepakkan sayapnya dan membawa mereka terbang ke angkasa. Dengan lincah binatang sihir itu terbang menuju istana Elfian.

__ADS_1


Ratu Gita memeluk pinggang suaminya dengan erat, kepalanya bersandar pada punggungnya. Angin menerbangkan rambut mereka...


__ADS_2