Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 139 Serangan Di Tengah Malam


__ADS_3

Eldrige mendengar kabar bahwa rumah Tabib Bagio telah dijual dari seorang pegawai dari pemilik baru rumah itu. Namun sayangnya tidak ada satupun yang bisa memberi informasi tentang keberadaan Tabib Bagio sekarang.


Saat Eldrige sudah berada di atas punggung kudanya, dia melihat di depan sana beberapa prajurit mendatangi rumah yang dulunya milik tabib istana itu.


Eldrige memacu kudanya dengan pelan sampai belokan. Setelah itu ditambatkannya kudanya di salah satu ranting perdu yang tumbuh di depan sebuah rumah mewah yang tampak sepi. Dengan bergerak cepat pria itu kembali ke arah bekas rumah Tabib Bagio tadi.


Dengan berusaha untuk tidak mencolok Eldrige mengamati para prajurit yang sedang berbicara dengan pemilik rumah dan beberapa pegawainya. Dari yang sempat didengarnya mereka sedang menanyakan keberadaan tabib itu.


"Ada seorang kusir kereta yang datang beberapa waktu lalu melamar pekerjaan kemari. Dia bilang bahwa dia biasa dipakai oleh Tabib Bagio. "


"Siapa namanya? " Tanya salah seorang prajurit.


"Kalau tidak salah namanya Kardi. " Jawab pemilik rumah setelah beberapa saat berpikir.


"Di mana dia tinggal? "


"Saya tidak tahu. " Pemilik rumah itu kemudian menoleh ke arah para pegawainya, namun tak satupun yang membuka suara.


"Baiklah. Kalau ada informasi lain tolong datanglah menemuiku. Tabib Bagio adalah orang yang berbahaya dan sekarang menjadi buronan kerajaan. Jika kalian sengaja menutup-nutupi sesuatu yang berkaitan dengannya maka kalian bersiap-siap saja menerima hukuman. " Prajurit bertubuh tinggi besar itu menyeringai.


Eldrige kembali berjalan ke tempat kudanya ketika prajurit-prajurit itu pergi. Kini dia mulai mendapat satu lagi titik terang untuk menemukan Puteri Juwita. Kali ini dia harus lebih dulu menemukan kusir itu sebelum para prajurit.


*****


Raja Gaurav kembali ke Watu Ijo tanpa putrinya. Puteri Devi langsung menuju Lucshire untuk menemui Ratu Malea.


Sorak-sorai menyambut kedatangan Raja Gaurav dan pasukannya.


"Yang Mulia, kami mendengar bahwa Puteri Devi memimpin Liga Kerajaan untuk menumpas para Daemonie? " Ketua Dewan Kerajaan menyambut Raja Gaurav dengan sebuah pertanyaan.


"Benar." Jawab Raja Gaurav.


"Sepertinya, kita bisa berpikir ulang lagi tentang pewaris tahta. Mengingat prestasi Puteri Devi yang begitu gemilang, mungkin kita bisa mengesampingkan tradisi turun-temurun mengenai seorang wanita menjadi pemimpin kerajaan." Ucapnya.


"Bukankah waktu itu kau sendiri yang paling keras menginginkan seorang putra sebagai pewaris tahta? " Tanya Raja Gaurav.


"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya rasa pengamatan saya waktu itu telah keliru. " Pria berkepala agak botak itu menunduk.


"Akan kupertimbangkan dulu saranmu ini. Aku tidak ingin menyakiti hati putriku dengan memberinya harapan yang tidak bisa terwujud. " Raja Gaurav kemudian berjalan meninggalkan mereka untuk menemui istrinya.


Di kamarnya, Ratu Elok sedang berbaring. Wajahnya terlihat agak pucat.


"Apa kau sakit, Sayang? Aku khawatir karena kau tidak ikut menyambutku. " Raja Gaurav mendekati istrinya.


"Apa Devi tidak ikut pulang? " Tanya wanita cantik bermata ungu itu.


"Dia harus kembali ke Lucshire." Raja Gaurav menggenggam tangan istrinya dan mengecupnya. " Kau akan bangga sekali jika melihatnya."


"Aku sudah mendengarnya. Setiap hari ada yang membawa berita yang mengabarkan tentang cerita kepahlawanannya." Ratu Elok tersenyum.


"Aku mencemaskanmu, Sayang. Tubuhmu semakin kurus, apa kau makan dengan baik? " Raja Gaurav membelai wajah istrinya.


"Aku tidak tenang semenjak kematian Sagar dan istrinya. Seolah-olah hal itu selalu menghantuiku. Aku juga mencemaskan kedua anak mereka, aku khawatir mereka tidak dijaga dengan baik. " Bulir bening melapisi mata wanita itu.


"Aku sudah bertekad untuk mengungkap siapa pembunuh Ratu Akemi sesungguhnya. Aku tidak bisa membiarkan keponakanku yang malang disalahkan atas kejahatan keji yang tidak dilakukannya. " Raja Gaurav menghela napas berat.

__ADS_1


"Bagaimana jika kita ke Alsatia untuk mengambil Lintang dan Wulan? " Raut wajah wanita itu penuh harap dan menimbulkan getaran-getaran di dada suaminya.


"Aku akan berusaha membawa kedua anak itu kemari, tapi kau tidak usah ikut. Aku ingin kau segera memulihkan kesehatan agar bisa merawat mereka. " Raja Gaurav tidak tahan untuk mengecup istrinya yang terlihat sangat rapuh itu. Dia ingin membawa kembali kecerian istrinya seperti tahun-tahun awal pernikahan mereka.


"Aku berjanji akan melakukannya. Harapanku adalah bisa berkumpul kembali denganmu, dengan anak kita dan kedua anak itu." Ratu Elok menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


"Harapanmu akan terlaksana, Yang Mulia. " Ucap Raja Gaurav.


*****


Ternyata menemukan Kardi, kusir yang dulu sering dipakai oleh Tabib Bagio tidak semudah yang dibayangkan Eldrige. Kardi sudah menjual kereta kudanya dan pindah dari rumahnya.


Seorang tetangganya mengatakan bahwa pria itu pergi ke kampung halamannya di desa yang terletak di luar ibukota. Dengan hanya berbekal sebuah nama desa, Eldrige melanjutkan pencariannya.


Dengan memilih jalan-jalan tikus, pria itu keluar dari ibukota tanpa bertemu prajurit penjaga. Sekarang dia melewati jalanan yang diapit hutan pinus menuju desa bernama Ogle.


Ketika memasuki gerbang desa, hujan mulai turun. Eldrige segera memacu kudanya untuk mencari tempat berteduh. Di sebuah tikungan dia melihat sebuah kedai yang cerobong atapnya mengepulkan asap putih yang langsung tersapu hujan.


Setelah mengikat kudanya di bawah pohon, Eldrige segera melangkah memasuki kedai itu. Aroma masakan membuat usus di perut Eldrige bergemuruh. Dia baru sadar kalau sudah tidak makan selama beberapa hari.


Seorang pria datang menanyakan pesanan. Setelah memesan beberapa makanan dan minuman, Eldrige duduk diam sambil memandang hujan dari jendela.


"Tuan, sepertinya anda bukan dari daerah ini?" Pria tadi yang rupanya adalah pemilik kedai bertanya pada Eldrige ketika membawakan pesanannya.


"Benar. Saya kemari untuk mencari seseorang." Kata Eldrige.


"Tuan mencari siapa? Desa kecil ini hanya memiliki sedikit penduduk dan kami semua saling mengenal. " Pria itu ingin sekali membantu Eldrige yang di matanya terlihat seperti seorang bangsawan.


"Kardi. Dia bekerja sebagai kusir di ibukota." Eldrige berharap pria itu mengenal kusir itu.


"Kardi? Eh, bukankah sudah lama dia tidak pulang? " Pria itu terlihat bingung.


"Saya belum mengetahuinya, Tuan. Tapi akan saya beritahu letak rumahnya. Ada ibunya yang sudah tua tinggal sendirian di sana. " Pria itu dengan baik hati memberitahu arah rumah Kardi.


Saat Eldrige membayar dan bermaksud pergi ke rumah Kardi, pria itu memandangnya dengan cemas.


"Sebaiknya malam ini Tuan menginap di sini. Desa ini agak berbahaya di malam hari. " Sorot ketakutan terpancar di matanya.


"Bahaya? Apakah ada perampok? " Eldrige merasa heran.


"Bukan. Ada binatang buas yang sering berkeliaran di malam hari dan membunuh orang-orang yang berpapasan dengannya." Kata pemilik kedai.


"Bukankah rumah Kardi tidak terlalu jauh? " Eldrige tidak takut bertemu binatang buas.


"Tapi matahari sudah hampir tenggelam, lagi pula ini masih hujan. Saya khawatir Tuan akan tersesat dan malah bertemu binatang buas itu. "


Eldrige merasa bahwa pemilik kedai itu berusaha mencegahnya pergi. "Baiklah, saya akan menginap di sini. "


"Syukurlah. Tuan tidak akan menyesali keputusan ini. " Pemilik kedai tersenyum lega lalu masuk ke dalam untuk menyiapkan kamar.


Setelah kamar siap, Eldrige diantar ke sana. Pemilik kedai bahkan mengurus kuda milik Eldrige dan mengandangkannya.


Kamar itu kecil dengan sedikit perabot. Hanya ada sebuah dipan untuk satu orang dan sebuah lemari. Eldrige menghampiri satu-satunya jendela yang ada di sana.


"Apa? " Eldrige terkejut begitu mengetahui bahwa jendela itu terpaku.

__ADS_1


Akhirnya dia merebahkan dirinya ke atas dipan yang dialasi kasur tipis. Sudah beberapa waktu dia tidak tidur dengan nyaman karena banyak pikiran.


Setelah beberapa waktu dalam kesunyian, akhirnya matanya terpejam dan dia tertidur. Eldrige tidur lelap tanpa bermimpi, tubuhnya benar-benar diambang batas ketahanannya.


Brak!


Eldrige terbangun mendengar suara keras di luar. Hari masih gelap namun sayangnya dia tidak bisa melihat ke luar untuk mencari tahu suara apa itu.


Eldrige kembali membaringkan tubuhnya yang masih lelah, dia ingin tidur lagi.


Brak! Graaa..


Saat mata Eldrige baru terpejam, suara keras itu kembali terdengar membuat Eldrige kembali membuka matanya.


"Ada yang tidak beres. "


Eldrige kemudian melangkah ke pintu dan membukanya perlahan. Ruangan di depan kamarnya gelap. Eldrige hanya melihat sebagian ruangan itu yang tersorot sinar lilin dari kamarnya.


Begitu Eldrige menutup pintu di belakangnya, tempat itu benar-benar gelap gulita.


Eldrige melangkah dalam kegelapan. Meskipun kemampuan sihirnya telah sirna, namun sepasang mata merahnya masih mampu melihat samar-samar dalam kegelapan.


Deg.


Jantung Eldrige seakan berhenti ketika tiba-tiba dia melihat sepasang mata yang bersinar dalam kegelapan.


"Apakah ini binatang buas yang dimaksud pemilik penginapan? " Tanya Eldrige dalam hati.


Tubuhnya diam tidak bergerak sambil menatap sepasang mata itu.


Graa..


Tiba-tiba tubuh makhluk itu melompat dan menubruk Eldrige. Sepasang cakar menekan kedua pundak Eldrige sementara pria itu telentang di lantai. Kini mata Eldrige bertatapan dengan sepasang mata bersinar itu dalam jarak kurang dari satu jengkal.


*****


Bugh!


Lutut Eldrige menekuk dan menghantam perut makhluk yang menindihnya. Makhluk itu terjungkal dan melepaskan cengkeramannya.


Graaa..


Makhluk itu menggeram marah dan segera bangkit dan bersiap-siap menyerang Eldrige lagi.


Bugh!


Eldrige memukul tubuh makhluk yang kini saat berdiri tingginya sejajar dengannya. Saat memukul tadi dia bisa merasakan betapa kerasnya otot-otot makhluk itu. Dan menilik tingginya, dia menduga bahwa lawannya itu mungkin adalah beruang.


Graa..


Bugh! Bugh!


Pertarungan keduanya membuat suasana menjadi gaduh. Berbagai perabotan di ruangan itu menjadi hancur.


Brak!

__ADS_1


Makhluk itu menabrak dinding. Eldrige memanfaatkannya untuk terus mendesaknya. Beberapa pukulan dan tendangan bersarang pada tubuh makhluk itu. Hingga akhirnya, makhluk itu ambruk tak bergerak.


"Astaga! " Suara pemilik kedai terdengar panik. Pria itu berdiri sambil membawa sebuah lilin yang dialasi piring kecil.


__ADS_2