Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 111 Mengungsi


__ADS_3

Raja Satria memandangi kedua orang itu dengan tidak sabar.


"Juwita, ayah memerlukan Eldrige sekarang. Kau bisa bertemu lagi dengannya saat urusan kami sudah selesai. Ayo, cepatlah Eldrige! " Panggil Raja Satria lagi.


"Baik, Yang Mulia! " Eldrige kembali menatap Puteri Juwita sesaat, seolah tidak rela meninggalkan gadis itu. Kemudian dengan berat hati, dia melangkah mengikuti Raja Satria.


Puteri Juwita memandangi kepergian kedua pria yang dikasihinya itu sampai menghilang di balik pintu. Gadis itu masih berdiri di sana beberapa saat sebelum akhirnya naik ke kamarnya dengan dada berdebar. Dia masih tidak percaya ketika mengingat ucapan Eldrige tadi. Pria itu berkata akan menikahinya.


Gadis itu tidak menyadari bibirnya tersenyum-senyum terus bahkan setelah dia berbaring di bawah selimutnya. Dia terus saja membayangkan wajah Eldrige dan tidak bisa melupakan perasaan nyaman ketika pria itu memeluknya tadi.


"Eldrige." Gadis itu menggumamkan nama kekasihnya. Baginya nama Eldrige adalah nama yang paling indah di dunia. Tak terasa kantuk mulai menyerangnya dan matanya kini tertutup.


Ketika gadis itu mulai terlelap, tiba-tiba ada suara gemuruh dan kaca jendela mulai bergetar. Ranjang yang ditiduri gadis itu juga berderit.


"Gempa! gempa! " Teriakan nyaring membangunkan seisi asrama.


Puteri Juwita terbangun padahal dia baru saja tertidur. Sebelum dia sadar sepenuhnya, gadis itu merasakan sebuah cekalan di tangannya dan dia juga merasakan tubuhnya diseret keluar.


"Ayo cepat, Juwita! " Suara Ningrum bergema di telinganya.


Bagaikan di dalam mimpi, Puteri Juwita melihat kegaduhan di sekitarnya. Di matanya, para gadis itu berlarian dalam gerakan slow motion.


Langkah kakinya goyah seiring goncangan yang masih terjadi. Lantai kayu yang dipijaknya bergetar dan berderak-derak seolah sebentar lagi akan terlepas dari pasaknya.


Lampu gantung di atas sana bergoyang-goyang dan menimbulkan bunyi gemerincing saat kristal-kristalnya bertubrukan. Debu-debu yang rontok dari langit-langit membuat suasana semakin suram dan mengaburkan pandangan.


"Cepat! " Ningrum meskipun agak kelebihan berat badan, namun tenaganya cukup kuat untuk menyeret temannya sampai keluar asrama.


Gempa masih berlangsung. Di halaman rumput, semua penghuni asrama berdiri dengan panik. Beberapa gadis terlihat saling berpelukan dan menangis.


Bruuuk!!


Di tengah kegelapan malam, mereka semua menyaksikan gedung asrama dan gedung sekolah yang perlahan-lahan ambruk. Getarannya membuat bumi bergoncang.


Debu-debu yang beterbangan dari arah bangunan-bangunan itu menyerupai halimun tebal. Semua orang secara reflek menutup wajah karena takut partikel-partikel kecil yang beterbangan itu mengganggu pernapasan dan membuat mata kelilipan.


Klaang!


Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara lonceng di menara gedung sekolah yang terlempar.


Swing..


"Kyaaa...!!"


Semua orang menjerit ketika melihat lonceng berukuran besar itu melayang ke arah mereka.


Syuuut...


Tiba-tiba lonceng itu seakan terpental di udara seolah menabrak sesuatu. Bahkan kini benda itu akhirnya melayang berbalik arah.


Buuum!!


Lonceng itu jatuh ke tanah dengan suara keras. Karena ukuran lonceng itu sangat besar dan berat, benda itu sampai melesak hampir setengah meter ke dalam tanah.


"Aaaah! " Gadis-gadis itu menjerit histeris melihatnya.


Tanpa mereka sadari saat itu Nona Sekar sedang menggerakkan jarinya di udara dan ujung jarinya memancarkan sinar biru yang lembut. Sinar itu perlahan-lahan membentuk sebuah perisai gaib berwarna biru transparan.


Semua orang disana terkaget-kaget ketika menyadari munculnya perisai transparan yang menutupi mereka.


"Jangan panik, sekarang kalian aman! " Suara Nona Sekar terdengar tenang, wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak masuk di dalam perisai. Dia kini berjalan ke arah gedung asrama untuk memeriksa keadaan di sana.


Wajah wanita itu tampak serius. Dia menemukan adanya keganjilan. Ada jejak aneh di tanah seperti bekas galian yang memanjang mengelilingi gedung asrama.


Nona Sekar kini memeriksa gedung sekolah, di sana juga ada bekas galian. Wanita itu kemudian menggoyangkan jarinya. Tiba-tiba saja ada pusaran angin yang menghantam udara kosong di depannya. Udara kosong itu anehnya membentuk figur manusia. Seolah ada seseorang yang tak kasat mata berdiri di hadapan Nona Sekar.


"Tunjukkan wujudmu! " Teriak Nona Sekar diantara gemuruh suara angin. Dia menyadari jika gempa yang terjadi di tempat itu adalah ulah orang itu.


Namun seseorang di hadapannya itu seolah enggan menampakkan wujudnya. Bahkan kini terlihat adanya perlawanan yang dilakukan orang yang tak terlihat itu. Pusaran angin yang bersumber dari ujung jari Nona Sekar kini tampak terdorong mundur.


Semua orang yang berada di dalam perisai gaib merasa cemas. Mereka khawatir jika Nona Sekar semakin terdesak. Meskipun mereka tidak merasakan efek ataupun guncangan akibat pertarungan mereka, namun sengitnya adu kekuatan keduanya terlihat sangat menegangkan.


Rambut Nona Sekar yang tadinya digulung rapi kini tergerai dan berkibar-kibar. Gaun panjangnya seakan-akan sebuah layar kapal yang diterpa badai di tengah samudera. Dan seluruh tubuh wanita itu bergetar karena mengerahkan seluruh energinya untuk melawan musuh yang tak terlihat itu.


Aku harus menyelesaikan pertarungan ini. Siapa yang tahu jika gerombolan Daemonie ini akan kemari nantinya..


Nona Sekar kini meningkatkan kekuatannya. Wajahnya tampak kaku dan urat-uratnya terlihat seperti akar pohon. Hembusan angin dari jarinya semakin kencang hingga akhirnya menghempaskan lawan bertarungnya.


Braakk!

__ADS_1


Bunyi tabrakan yang keras memecah kesunyian malam. Reruntuhan bangunan asrama terlihat berhamburan ke udara. Debu-debu kembali beterbangan.


Nona Sekar buru-buru mendatangi tempat musuhnya tadi terhempas. Di sana terlihat seorang pria terkulai lemah dengan memuntahkan darah. Sekujur tubuhnya dipenuhi debu.


" Uhuk.. uhuk.. uhuk! " Pria itu terbatuk-batuk sambil menekan dadanya.


"Siapa kau? " Tanya Nona Sekar.


"Hahaha.. Jangan besar kepala peri kecil. Sebentar lagi kau akan bertekuk lutut di bawah kakiku. Dan gadis-gadis bangsawan itu akan menjadi budak-budak yang sangat menghibur!" Pria itu menyeringai dengan gigi yang merah karena darahnya.


Tanpa menjawab, Nona Sekar segera melumpuhkan pria itu dengan melemparkan tamparan keras jarak jauh. Pria itu seketika ambruk tak sadarkan diri.


Nona Sekar kemudian memejamkan mata dan berkonsentrasi untuk melakukan telepati.


"Eldrige, asrama diserang. Aku akan membawa semua orang ke istana Alsatia. Apakah di sana aman ? "


" Sekar, apa semuanya selamat? "


"Ya, semuanya selamat. Aku harus membawa mereka pergi, aku takut jika para Daemonie datang menyerang. Kekuatanku tidak sanggup melawan mereka."


"Bawalah ke istana. Ada peri yang akan membantumu di sana. Maaf saat ini aku tidak bisa datang karena Elfian juga membutuhkanku. "


"Tidak apa-apa, Eldrige. "


"Tolong.. lindungi Puteri Juwita ! "


Kontak telepati terputus. Hatinya seakan digores dengan belati karena mendengar ucapan terakhir Eldrige. Dan luka itu terasa perih dan meneteskan darah.


Nona Sekar kembali kepada kumpulan orang-orang yang berada di dalam perisai gaib buatannya. Dia membuka perisai itu dan mencabik udara dan merobeknya untuk membuka lubang dimensi.


"Masuklah semua, kita akan pergi ke Istana Alsatia! " Perintahnya dengan suara yang terdengar dingin.


Semua orang berbondong-bondong memasuki lubang dimensi. Saat Puteri Juwita melangkah masuk, tiba-tiba Nona Sekar mencekal lengannya.


Gadis itu menoleh pada wanita itu. Wajahnya yang cantik dan polos seakan bersinar di dalam kegelapan.


"Ada apa Nona Sekar? " Tanya gadis itu dengan lembut.


Bibir Nona Sekar berkerut. Hatinya ingin sekali mencegah gadis itu mengikutinya. Rasa cemburu seakan membakar jiwanya.


"Syukurlah kau selamat, Tuan Puteri. " Ucapannya bertolak belakang dengan kata hatinya.


"Terima kasih, Nona Sekar. " Gadis itu tersenyum. Senyuman seorang gadis belia yang mampu mencairkan bongkahan es yang membeku.


*****


Raja Sagar segera menyiapkan tempat untuk para murid dan staf Sekolah Griya Pitutur. Kamar-kamar yang terletak di sebuah bangunan istana berukuran kecil yang sebenarnya adalah wisma selir. Namun karena Raja Sagar tidak memiliki selir, tempat itu kosong selama bertahun-tahun namun tetap terawat.


Raja Sagar memeriksa sendiri saat para stafnya menyiapkan tempat itu. Dia ingin tamu-tamunya itu merasa nyaman, terutama keponakannya.


"Aku senang kau selamat, Juwita. Nanti jika bibimu datang dia pasti senang sekali."


"Apakah Bibi Akemi sedang pergi? "


"Bibi dan kedua sepupumu sedang di Kerajaan Watu Ijo. "


"Oh, begitu? "


"Tapi karena sekarang kau kemari, paman akan segera menyuruh mereka pulang. "


Mereka berbincang dengan akrab seakan lupa untuk merahasiakan hubungan kekerabatan diantara mereka di depan teman-teman Puteri Juwita. Gadis-gadis yang melihat kedekatan Raja Sagar dan Puteri Juwita merasa aneh. Mereka mulai bertanya-tanya siapakah sebenarnya gadis itu.


"Ehm, Paman. Sepertinya aku harus kembali bergabung dengan teman-temanku. Aku tidak ingin mereka mengira kalau aku memanfaatkan kebaikan Paman."


"Seharusnya kau tak usah mencemaskan hal itu, kau kan keponakanku sendiri? " Lelaki awal tiga puluhan itu agak bingung dengan ucapan keponakannya.


"Peraturan di sekolah melarang para murid untuk menggunakan gelar kebangsawanan. Jadi aku menolak diperlakukan istimewa."


Raja Sagar mengangguk maklum. Rupanya gadis belia di depannya ini benar-benar memiliki sifat rendah hati.


"Baiklah, maafkan paman jika membuatmu merasa tidak nyaman. "


"Tidak Paman. Paman Sagar sangat baik dan aku sangat menghargainya. Tapi aku tidak ingin kalau sampai teman-temanku.. "


"Cukup, paman mengerti. Kau tak perlu menjelaskan lagi. Kuharap kau merasa nyaman di istana ini meski tanpa perlakuan istimewa." Raja Sagar tersenyum lebar sambil mengelus kepala gadis itu. Namun ketika melihat beberapa pasang mata yang diam-diam mengawasi mereka, pria itu cepat-cepat menarik tangannya.


"Paman pergi dulu, jika kau membutuhkan sesuatu tak perlu sungkan."


"Terima kasih, Paman." Gadis itu tersenyum dan memandangi kepergian sepupu ayahnya itu.

__ADS_1


Puteri Juwita kembali bergabung dengan teman-temannya. Gadis itu mendapatkan sebuah kamar yang indah dengan banyak jendela. Ada dua ranjang berukuran sedang untuk ditempati empat orang.


"Kau mengenal Raja Sagar? " Tanya Ningrum ketika mereka sedang berdua di dalam kamar.


Puteri Juwita agak ragu untuk berterus terang kepada Ningrum. Namun mengingat ketulusan dan kesetiaan gadis itu, akhirnya Puteri Juwita memutuskan untuk berkata jujur.


"Raja Sagar adalah pamanku. Dia adalah sepupu ayahku. "


Ningrum nampak syok mendengar pengakuan sahabatnya. Dia tidak menyangka jika gadis sederhana yang setiap hari tidur bersamanya adalah keponakan raja negeri ini.


"Jadi ayahmu adalah..? "


"Ayahku adalah Raja Satria dari Kerajaan Elfian." Ucapan Puteri Juwita selanjutnya membuat Ningrum semakin takjub.


"Berarti kau adalah seorang Tuan Puteri? "


"Sssttt.. Jangan keras-keras, Ningrum. Aku tidak ingin ada yang tahu. Aku ingin diperlakukan sama seperti kalian."


"Baik, Tuan Puteri! "


"Ningrum! " Puteri Juwita mencubit pipi gembil temannya itu dengan gemas.


Mereka tertawa bersama seolah melupakan kejadian mengerikan yang baru saja mereka alami. Ketika dua orang gadis datang untuk menempati ranjang yang satu lagi, mereka berhenti cekikikan.


"Juwita, kau kelihatan akrab dengan Raja Sagar? " Tanya seorang gadis bernama Rinai.


"Raja Sagar? " Tanya Puteri Juwita pura-pura tidak tahu.


"Apa kau tidak sadar tadi orang yang kau ajak bicara adalah Raja Sagar? " Rinai takjub dengan kebodohan temannya itu.


"Maaf aku tidak tahu. Tadi kukira dia adalah staf istana." Puteri Juwita menggelengkan kepalanya.


"Bodoh sekali kau Juwita. Untung saja Raja tidak marah! " Ayu, gadis yang satunya lagi menggeram seakan tak percaya.


Wajah Puteri Juwita tampak polos sehingga teman-temannya percaya bahwa gadis itu benar-benar tidak tahu.


Setelah mematikan pencahayaan di kamar itu, mereka berempat memejamkan mata.


*****


Setelah sarapan gadis-gadis berkumpul di halaman istana yang sejuk dan asri. Mereka menikmati suasana pagi yang menyenangkan.


Karena kejadian darurat saat ini, sementara waktu kegiatan belajar tidak diadakan. Gadis-gadis itu merasa sedikit bersyukur dengan hal itu.


Ketika mereka sedang menikmati waktu santai itu, tiba-tiba terlihat rombongan pemuda belia sebaya mereka berjalan menyusuri koridor istana di seberang gedung yang mereka tempati. Pemuda-pemuda itu terlihat seperti putra-putra bangsawan.


"Siapa mereka? " Gadis-gadis itu mulai berbisik-bisik sambil cekikikan.


Mereka semakin senang ketika beberapa orang dari pemuda itu melempar senyum ke arah mereka.


Puteri Juwita yang kebetulan baru keluar dari dalam gedung dan berjalan ke halaman tidak sengaja juga melihat ke arah pemuda-pemuda itu. Tak disangka dia melihat seraut wajah yang telah dikenalnya di antara mereka.


Pada saat gadis itu menatap ke arah pemuda itu, tiba-tiba orang itu menoleh padanya. Pandangan mereka terkunci dan menimbulkan debaran halus di dada gadis itu.


"Tidak mungkin. Aku tidak menyukainya! " Gumam Puteri Juwita sambil memalingkan wajahnya.


Tidak disangka pemuda itu segera meninggalkan rombongannya dan berjalan melintasi halaman. Hal itu membuat para gadis terpekik histeris karena pemuda itu terlihat sangat tampan. Figurnya betul-betul menyerupai gambaran seorang pangeran tampan.


"Tuan Puteri, saya senang sekali kita bisa berjumpa lagi! " Pemuda itu berkata sambil menatap Puteri Juwita.


Sepertinya penyamarannya selama ini harus terbuka sekarang berkat pemuda itu.


Puteri Juwita menatap wajah tampan di hadapannya itu dengan agak kesal. Desiran yang sempat dirasakannya tadi lenyap tak berbekas.


"Apa kabar, Pangeran Ryota? " Sapanya dengan sopan.


Gadis-gadis yang melihatnya seakan terkena serangan jantung. Mereka tidak menyangka bahwa temannya mengenal pemuda itu yang ternyata benar-benar seorang pangeran.


"Kabarku tak pernah sebaik ini karena dapat bertemu denganmu, Puteri Juwita." Ucapan pria itu membuat seluruh gadis meleleh, namun tidak bagi gadis di hadapannya.


"Saya sangat tersanjung mendengarnya. Tapi maaf, apakah kau tidak masalah jika terpisah dari rombongan? "


Pangeran Ryota yang baru menyadari bahwa rombongannya sudah menghilang di ujung koridor segera terkekeh pelan.


"Ya, aku harus pergi sekarang. Tapi nanti aku akan menemuimu." Pemuda itu bermaksud meraih tangan Puteri Juwita namun gadis itu cepat-cepat menghindar.


Meski agak kecewa namun pemuda itu masih mengembangkan senyuman. Dia berpikir mungkin gadis itu malu karena ada teman-temannya.


"Aku pergi dulu, Tuan Puteri! " Pemuda itu membungkuk hormat sebelum pergi menyusul rombongannya.

__ADS_1


Ketika Pangeran Ryota telah pergi, Puteri Juwita baru menyadari tatapan teman-temannya yang tertuju padanya.


Namun tiba-tiba ada seseorang yang menarik lengannya dan menyeretnya pergi.


__ADS_2