
Para peserta pertandingan memanah berkumpul di lapangan. Mereka terkejut melihat kedatangan satu peserta tambahan.
"Aku akan memperkenalkan satu peserta lagi. Dia adalah Bagas. Dia adalah seorang tabib." Raja Badre memperkenalkan Bagas."
"Tapi dia tidak mengikuti pertandingan pertama." Protes mereka.
"Akan kuanggap dia kalah di pertandingan pertama." Kata Raja Badre.
Meskipun kelima peserta merasa kesal, namun apa mau dikata Raja Badre sendirilah yang sudah memutuskan.
"Baik. Pada pertandingan kali ini para peserta harus bisa membidik burung yang memakai cincin dengan ukiran namaku." Kata Raja Badre.
Akhirnya pertandingan di mulai. Semua anak panah telah ditandai. Puluhan ekor burung dilepas dan para peserta mulai membidikkan panahnya.
Bagas melihat ke atas ke arah burung-burung itu. Semuanya memakai cincin, tapi manakah yang mengenakan cincin dengan ukiran nama sang raja?
Dia menoleh pada ketiga gadis yang ikut menyaksikan pertandingan itu di sebelah Raja Badre. Puteri Pertiwi menatapnya penuh harap.
Bagas mengarahkan panahnya ke atas. Setiap peserta hanya diberi tiga anak panah, jadi dia hanya memiliki tiga kali kesempatan. Salah satu panahnya harus mengenai sasaran yang tepat jika ingin masuk ke tahap selanjutnya.
Dengan memantapkan hati dia mencoba peruntungannya. Jarinya yang dari tadi menarik busur kini melepaskannya. Sebuah anak panah melesat ke angkasa menuju seekor burung merpati berbulu putih. Tepat pada saat panah itu hampir mengenai sasaran, tiba-tiba panah itu berbelok dan melesat ke arah lain.
Bagas menatap heran. Seharusnya panahnya mengenai sasaran, tapi mengapa bisa tiba-tiba berbelok arah?
Bagas kemudian mengamati peserta yang lain. Anehnya, tak ada satupun panah yang mengenai sasaran. Bagas kini mencoba sekali lagi, mungkin saja barusan anak panahnya tertiup angin.
Ssiiing....
Dan sekali lagi panahnya berbelok. Bagas menjadi yakin bahwa memang ada sesuatu yang janggal. Keempat peserta yang lain sudah menyerah karena ketiga panah mereka telah terpakai. Kini tinggal Bagas yang masih memiliki satu panah dan Pangeran Awang yang belum membidik sama sekali.
Pangeran Awang terlihat tenang melihat panah-panah milik rivalnya berjatuhan tanpa hasil. Dia begitu percaya diri karena Jadukari Daalal Nath menepati ucapannya.
Kini pria itu mulai membentangkan busurnya sampai melengkung dan mengarahkannya ke atas, ke arah burung-burung yang terbang tinggi hingga terlihat seperti titik-titik kecil. Dia berkonsentrasi memilih burung mana yang akan dia bidik.
Bagas pun sama, dia sendiri tidak tahu burung mana yang mengenakan cincin dengan ukiran nama sang raja. Pemuda itu kembali menoleh ke arah Puteri Pertiwi. Dilihatnya gadis itu berusaha menyampaikan sesuatu, tangannya bergerak-gerak memberi kode.
"Apa?" Tanya Bagas tanpa suara.
Puteri Pertiwi menunjuk ke arah ayahnya sambil menunjukkan cicin di jarinya sendiri. Untuk sesaat Bagas belum bisa mengartikan maksud gadis itu. Kemudian dia mengalihkan pandangannya pada Raja Badre.
Pada saat itulah sesuatu terjadi, seberkas sinar merah yang menyilaukan terpancar dari jari Raja Badre ketika sedang bertepuk tangan melihat seekor burung merpati jatuh ke tanah dengan panah menancap di tubuhnya. Bagas kini mengerti hal yang dari tadi ingin disampaikan oleh Puteri Pertiwi.
Hore...
Hadirin bersorak. Pangeran Awang berhasil membidik jatuh seekor merpati, namun sayangnya cincin yang melingkari kaki binatang itu tidak memiliki ukiran nama sang raja.
Rahang Pangeran Awang mengetat. Dia paling tidak suka kegagalan. Kini dia kembali mengarahkan busurnya ke angkasa, burung-burung yang terbang berputar-putar di atas sana seolah mengejeknya.
Pria itu berpikir sejenak. Tadi dia membidik burung merpati yang mengeluarkan cahaya kekuningan karena cincin di kakinya terkena sinar matahari. Kenapa bisa salah? Batinnya kini gusar.
__ADS_1
Kemudian dia melihatnya. Seberkas sinar merah yang menyilaukan terpancar di angkasa. Bukankah Raja Badre mengenakan cicin bermata ruby? Ah, tentu saja. Batin Pangeran Awang dengan gembira. Dia segera melepaskan anak panahnya ke udara.
Ssssiiing..
Sssiiing..
Jleb!
Jleb!
Tanpa diduga, bersamaan dengan melesatnya panah Pangeran Awang, ada satu lagi anak panah yang melesat.
Semua orang bersorak begitu dua ekor burung jatuh ke tanah. Para prajurit datang memeriksa. Lalu mereka datang ke hadapan Raja Badre untuk menunjukkan kedua burung itu.
Pangeran Awang, yang merasa kecolongan karena pesaingnya itu memanfaatkan udara yang kosong tanpa gangguan dari dukun saktinya karena membidikkan panah bersamaan dengannya, menatap Bagas dengan geram.
"Wah, hebat sekali. Kalian mengenai sasaran yang tepat! " Raja Badre berteriak gembira.
Sorak-sorai menyambut kemenangan kedua peserta. Sementara keempat peserta lainnya dengan lesu meninggalkan lapangan karena telah tersisih dari sayembara.
Bagas berdiri di depan seluruh penonton dengan rasa tak percaya. Selangkah lagi dia bisa mempersunting gadis pujaannya.
Raja Badre kemudian mengadakan perjamuan untuk merayakan pertandingan hari ini. Para pelamar yang telah tersingkir dari pertandingan mendapat penghormatan karena telah mengikuti pertandingan dengan adil.
"Anda berasal dari mana Tuan Bagas, kalau kami boleh tahu?" Tanya Pangeran Ken.
"Sebenarnya saya berasal dari Kerajaan Alsatia." Pengakuan Bagas membuat mata Pangeran Awang mendelik.
"Apa gelar kebangsawanan Anda?" Tanya Pangeran Ken lagi.
"Saya bukan orang dari kalangan bangsawan. Ayah saya hanyalah seorang tabib istana."
Klang!
Sendok yang dipegang Pangeran Awang terjatuh ke lantai. Belum selesai rasa terkejutnya karena mengetahui bahwa Bagas berasal dari Alsatia, kini dia mendengar sendiri bahwa pemuda itu adalah putra Tabib Bagio yang melarikan diri. Bukankah putra tabib itu sudah meninggal? Kalau ternyata pemuda itu masih hidup, itu artinya seorang saksi pembantaian di Sekolah Elixir masih hidup.
"Anda tidak apa-apa Yang Mulia?" Tanya Asisten Pangeran Awang yang segera datang mendekat.
"Kita bicara nanti. Menyingkirlah dulu!" Tangan kanan Pangeran Awang mengibas sedang ekspresi wajahnya terlihat bertambah dingin.
Seorang pelayan datang dan memberi sendok baru pada Pangeran Awang, namun pria itu sudah kehilangan selera makan. Musuhnya ternyata berkumpul di istana ini.
*****
Para gadis bangsawan yang tadi menyaksikan pertandingan memanah berkumpul di kamar Puteri Pertiwi untuk merayakan kemenangan Bagas. Mereka gembira sekali karena itu artinya kemenangan Bagas tinggal selangkah lagi.
"Kuharap Eldrige dapat melatih Bagas dengan baik agar pertandingan selanjutnya Kak Bagas bisa menjadi pemenangnya." Kata Puteri Juwita yang sekarang sedang duduk di atas permadani persia yang terhampar di depan kaki ranjang.
"Harus! Aku tidak mau menikah dengan Pangeran Awang yang kejam itu." Puteri Pertiwi bergidik sambil menjauhkan bayangan wajah Pangeran Awang yang menatapnya tajam.
__ADS_1
"Eldrige terluka setelah melatih Kak Bagas. Tapi aku tidak berani menanyakan sebabnya." Kata Puteri Juwita agak termenung.
"Bukankah Tuan Eldrige sangat kuat? Kakakku kan tidak mungkin bisa melukainya." Ningrum menatap temannya bingung.
"Sepertinya sejak Eldrige berhubungan denganku fisiknya bertambah lemah. Aku tidak bisa tidak merasa bersalah karena aku memang yang menyebabkan hal itu." Ucap Puteri Juwita dengan raut sedih.
"Jangan seperti itu, Juwita. Seharusnya di saat seperti ini kau justru mendukungnya. Dia melakukan ini untukmu tanpa paksaan. Satu-satunya hal yang harus kau lakukan adalah dengan membalas cintanya dengan tulus." Puteri Pertiwi turun ke bawah dan merangkul sepupunya itu.
"Benar kata Puteri Pertiwi, kau jangan membuat semua pengorbanan Tuan Eldrige menjadi sia-sia dengan terus menyesali keadaan." Ningrum ikut memeluk Puteri Juwita.
"Hei, Ningrum. Berapa kali sih aku menyuruhmu memanggilku dengan namaku saja?" Puteri Pertiwi cemberut karena lagi-lagi Ningrum memanggilnya dengan embel-embel gelar kebangsawanan.
"Maafkan aku." Ningrum tertawa sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Apa ya kira-kira pertandingan berikutnya?" Tanya Puteri Juwita.
"Ayahku sangat menyukai Malla. Seni bertarung antar dua orang yang diadakan di lumpur. Jadi kemungkinan nanti ayahku akan meminta mereka bertanding Malla." Jawab Puteri Pertiwi.
"Kalau begitu kita harus memberitahu kakakku." Kata Ningrum. " Tapi, pertandingan Malla itu bagaimana?"
"Ah, susah sekali menjelaskannya. Sepertinya kita harus melihatnya langsung." Kata Puteri Pertiwi membuat kedua gadis lainnya melongo.
"Apa maksudmu dengan melihatnya langsung?" Tanya Puteri Juwita.
"Apa kau ingat di hari kita bertemu untuk pertama kali? " Tanya Puteri Pertiwi seolah menyembunyikan sesuatu.
"Iya, aku masih ingat. Kenapa?" Puteri Juwita masih tidak mengerti kenapa gadis itu menanyakannya.
"Sebenarnya saat itu aku baru saja menonton pertandingan Malla di dekat pasar." Jawaban Puteri Pertiwi membuat kedua gadis itu terbelalak.
"Kau berkeliaran untuk menonton perkelahian?" Ningrum tertegun.
"Itu bukan perkelahian biasa, itu adalah olah raga." Puteri Pertiwi mencoba membela diri.
"Apakah pertandingan itu mengerikan?" Puteri Juwita agak bergidik.
"Mereka saling membanting, memiting dan menindih. Pokoknya seru sekali!" Puteri Pertiwi bercerita penuh semangat.
"Apa ada yang tahu kau menonton pertandingan itu di sana?" Tanya Puteri Juwita lagi.
"Hanya Lali yang tahu. Pengasuhku itu mati-matian menutupi kebiasaanku pergi menonton pertandingan Malla."
"Bukankah tadi kau bilang bahwa Paman juga suka menonton pertandingan Malla?" Puteri Juwita memandang gadis itu heran.
"Ayahku tidak mengizinkanku menontonnya. Dia bilang bahwa pertandingan itu bukan untuk perempuan. Ayah setiap bulan mengadakan pertandingan Malla di lapangan khusus." Ucap gadis itu.
"Jadi, bagaimana? Kalian mau menonton pertandingan itu besok? " Kedua alis gadis itu bergerak-gerak naik turun dan mulutnya tersenyum lebar.
"Kalau begitu kita harus mengabari Kak Bagas dan Eldrige." Kata Puteri Juwita setelah terdiam cukup lama.
__ADS_1
"Yeey! " Hanya Puteri Pertiwi yang bersorak senang.