Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 95 Penyusup


__ADS_3

Nona Sekar melihat orang yang telah menyerangnya kini berjalan mendekat. Wajah orang itu tidak terlihat karena suasana agak gelap. Namun wanita itu dapat mencium energi gelap yang menyesakkan dada.


"Apa yang diinginkan bangsa Daemonie di asrama ini! " Tanya Nona Sekar sambil menahan sakit.


"Rupanya kau telah menyadarinya, peri kecil? " Suara laki-laki yang dingin dan bernada mengejek terdengar seiring langkah kaki yang mendekat.


"Mau apa kau?" Nona Sekar berteriak marah ketika pria itu mengelus rambutnya.


"Ck.. ck.. kau galak sekali, Nona! " Seringai seram terbit di wajah pria itu yang tersorot cahaya bulan dari lubang angin.


"Aku belum pernah mencicipi darah peri. " Hidung pria itu mengendus tubuh Nona Sekar yang semakin merapatkan tubuhnya pada pintu.


Hembusan napasnya mengeluarkan hawa dingin yang membuat tubuh Nona Sekar menggigil. Bahkan wanita itu tidak bisa menahan giginya yang bergemeletuk.


Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya pada leher Nona Sekar. Dia membuka mulutnya dan memperlihatkan sepasang taring yang tajam. Dengan satu sentakan kuat, pria itu menancapkan taringnya pada leher Nona Sekar.


"Aaakh! " Terdengar jeritan keras.


Wajah Nona Sekar tampak kaget ketika dia merasakan gigitan di lehernya terlepas dan pria yang ingin memangsanya itu tiba-tiba tersungkur keras.


Seorang pria berambut perak dikepang satu, kini berdiri tegak menatap dengan mata merah membara.


"Eldrige! " Nona Sekar merasa sangat lega melihat kedatangan Eldrige. Wanita itu bergerak perlahan dan mendatangi pria tampan itu dan langsung memeluknya.


Eldrige menepuk-nepuk bahu Nona Sekar untuk menenangkannya. Tubuh wanita itu masih menggigil kedinginan. Eldrige segera menyalurkan energinya agar Nona Sekar kembali pada suhu normal.


Sementara itu, pria yang terkapar di lantai itu mulai bangkit berdiri. Dia meregangkan persendiannya yang sakit dan tangannya menyentuh rahangnya yang kebiruan akibat ditampar Eldrige dengan pukulan energi jarak jauh.


"Dasar peri sialan! " Umpatnya.


Eldrige mengenali pria itu yang pernah menggigit Puteri Juwita. Mengingat hal itu, mendadak Eldrige merasa sangat marah. Dia membenci makhluk itu yang telah berani menyentuh Tuan Puterinya.


Dengan tanpa ampun Eldrige menyerang pria yang berpakaian serba hitam itu secara bertubi-tubi. Pria itu mencoba menghindari serangan Eldrige, namun peri itu tidak berniat untuk melepaskannya.


Blaarr!


Sebuah hantaman mengenai punggung pria itu dan membuatnya kembali tersungkur. Dengan susah payah pria itu berdiri dengan sempoyongan dan merapatkan kedua tangannya ke dada. Seketika tubuh pria itu berubah menjadi burung besar yang bulunya sekelam malam.


Strix, burung iblis penghisap darah jelmaan pria tadi kini merentangkan sayapnya yang besar dan panjang. Bulu-bulunya yang berwarna hitam tampak berkilauan. Muka burung itu tampak menyeramkan dengan mata kuning menyala dan paruh yang besar.


Kraaaak!


Burung hitam itu melengking dengan suaranya yang memekakkan telinga. Sepasang sayapnya kini mengepak dan menciptakan gelombang udara yang bergulung-gulung dan membuat berbagai benda yang berada di sana beterbangan.


Eldrige bertambah geram melihat kelakuan Strix itu. Eldrige akhirnya mengeluarkan cambuknya yang bersinar keemasan. Burung itu mundur beberapa langkah ke belakang karena merasakan besarnya energi yang terdapat pada cambuk itu.


Blaarr!


Eldrige menyabetkan cambuknya ke lantai dan menimbulkan gelombang energi yang bergerak cepat di sepanjang lantai menghantam burung itu hingga membuatnya terlempar dan membentur dinding.


Brakk!


Seketika semua benda yang tadi beterbangan terjatuh membentur lantai.

__ADS_1


Eldrige kembali melemparkan cambuknya ke arah Strix itu untuk mengikatnya, namun tiba-tiba burung itu terbang dan melesat melewati atas kepala Eldrige.


Menyadari hal itu Eldrige tidak tinggal diam. Dia kembali melemparkan cambuknya. Kali ini cambuk itu berhasil membelit kaki Strix itu. Dengan sekuat tenaga, Eldrige menarik cambuknya ke belakang lalu menghempaskan makhluk itu ke tembok dengan kencang.


Braakk!


Suara benturan kali ini lebih dahsyat dari sebelumnya. Seluruh dinding kini bergetar sehingga membuat lampu kristal yang tergantung di langit-langit bergoyang kesana-kemari dan menimbulkan suara bergemerincing. Bahkan di beberapa bagian tembok, timbul retakan memanjang dari atas ke bawah.


Burung itu kini tergeletak lemah di lantai. Bulu-bulunya yang terlepas melayang-layang di udara. Dan darah mengalir dari kepalanya.


"Apa dia mati? " Tanya Nona Sekar.


"Sepertinya tidak." Ucap Eldrige.


Kemudian Eldrige berjalan mendekati burung besar itu dan melihatnya perlahan-lahan berubah kembali menjadi wujud manusia.


"Dia masih bernapas. Aku akan membawanya. Jagalah asrama ini selama aku pergi! " Eldrige segera menyeret pria dari bangsa Daemonie itu memasuki lubang dimensi.


Nona Sekar berdiri mematung memperhatikan Eldrige yang menghilang dalam udara. Dia merasa lega karena Strix itu telah berhasil di tangkap oleh Eldrige. Dia tidak bisa membayangkan jika pria itu tidak ada.


Tiba-tiba wanita itu tersenyum saat mengingat Eldrige. Baginya, sejak dulu Eldrige selalu berada dalam posisi istimewa di hatinya. Dia adalah pria pertama yang sangat dikaguminya.


*****


Tok.. tok.. tok..!


Ratu Gita terbangun ketika mendengar ketukan di pintu kamarnya. Dia ingin membangunkan suaminya, namun pria tampan itu terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya. Oleh karena itu, Ratu Gita memutuskan untuk membuka pintu.


"Eldrige? Kenapa malam-malam kau kemari? " Tanya Ratu Gita.


"Saya ingin menemui Yang Mulia Raja. " Ucapnya sambil membungkuk hormat.


"Siapa itu sayang? " Suara Raja Satria terdengar dari dalam.


Ratu Gita lalu berbalik dan menghadap suaminya.


"Eldrige datang mencarimu. " Ucapnya dengan wajah tampak cemas.


"Kemarilah sayangku, tidur lagi. Aku akan menemui Eldrige sebentar lalu akan kembali kemari." Raja Satria menarik lengan istrinya yang datang padanya dengan langkah pelan, lalu membawanya kembali ke tempat tidur.


"Tidurlah! " Raja Satria mengecup bibir istrinya sekilas lalu pergi keluar.


"Ada masalah apa, Eldrige? " Tanya Raja Satria.


"Sebaiknya kita berbicara di tempat lain, Yang Mulia. " Eldrige tampak berhati-hati.


Raja Satria mengangguk dan mengajaknya pergi ke kebun istana.


"Sekarang jelaskan ada masalah apa? " Tanya Raja Satria sekali lagi.


Tiba-tiba Eldrige mencabik udara dengan jarinya hingga menciptakan robekan besar. Kemudian tangannya masuk ke dalam lubang dimensi itu dan terlihat menarik sesuatu.


Eldrige terlihat agak kesusahan. Namun akhirnya dia berhasil menyeret seorang pria berpakaian serba hitam yang sedang pingsan dan meletakkannya di tanah.

__ADS_1


"Siapa dia, Eldrige? " Raja Satria melihat ke arah pria itu dengan rasa ingin tahu.


"Dia dari bangsa Daemonie yang menjelma menjadi Strix yang meneror sekolah Puteri Juwita. "


"Apa? " Raja Satria tampak murka.


"Saya bahkan memergokinya sedang berusaha menghisap darah Puteri Juwita." Lapor Eldrige.


Mendengar hal itu, tiba-tiba Raja Satria seolah-olah kehilangan akal sehatnya dan segera menerjang pria yang sedang pingsan itu. Namun sebelum kaki Raja Satria menendang orang itu tiba-tiba seseorang menarik tangannya ke belakang.


"Sayang? Kenapa kau keluar? " Wajah Raja Satria yang tadi sempat tegang, perlahan-lahan mulai berangsur normal.


"Jangan melakukan hal-hal yang akan kau sesali! " Ratu Gita berusaha meredakan emosi suaminya.


"Kau tak mengerti, dia hampir memangsa putri kita! " Raja Satria terlihat sangat marah.


"Tenanglah! Eldrige telah melaksanakan tugasnya melindungi Juwita. Sekarang tugasmu adalah menyelidiki alasan kenapa orang ini mengincar putri kita. Kau tak akan pernah tahu bahaya yang mengancam putri kita jika kau langsung membunuhnya. Bagaimana kalau dia tidak sendirian? Bagaimana kalau dia memiliki kawanan? " Ucap Ratu Gita sambil memeluk lengan suaminya.


"Kau benar sayang. Aku hampir melakukan kesalahan yang fatal. Aku bersyukur kau telah mengingatkanku. " Raja Satria mengecup tangan istrinya dengan penuh penyesalan.


"Eldrige, tolong kabari Raja Gaurav dan Raja Sagar. Bilang aku ingin menemui mereka sekarang! " Perintah Raja Satria pada Eldrige.


"Baik, Yang Mulia! " Eldrige menunduk sebentar lalu segera pergi meninggalkan tempat itu untuk melaksanakan perintah Raja Satria.


Sedangkan Raja Satria berdiri bersama Ratu Gita memandangi pria yang sedang terkulai pingsan di tanah.


*****


Saat ini Raja Satria sedang berbicara serius dengan Raja Gaurav dan Raja Sagar mengenai seorang dari bangsa Daemonie yang menyusup ke sekolah Griya Pitutur.


"Aku sangat malu karena sampai tidak mengetahui bahwa ada seorang bangsa Daemonie yang menyusup ke Kerajaan Alsatia dan bahkan masuk ke dalam asrama Griya Pitutur. " Raja Sagar beberapa kali menghela napas berat.


"Sepertinya kita semua harus mewaspadai nya, sepertinya bangsa Daemonie sedang berusaha memasuki wilayah-wilayah Liga Kerajaan! " Kata Raja Satria.


"Jadi menurutmu hal ini terjadi bukan hanya di Kerajaan Alsatia? " Tanya Raja Gaurav.


"Saat kami bermalam dalam perjalanan kemari, tiba-tiba ada sesuatu yang besar melintas di udara bahkan sampai memadamkan api unggun. Aku rasa itu adalah Strix! " Ucap Raja Satria.


"Berarti kita harus segera mengabari Kerajaan lain agar lebih meningkatkan penjagaan untuk mencegah masuknya bangsa Daemonie ke dalam wilayah mereka! " Raja Gaurav memberi usul.


"Kau benar Gaurav, kita harus memperingatkan mereka."


"Lalu bagaimana dengan sekolah Griya Pitutur?" Tanya Raja Sagar.


"Sebenarnya aku ingin ke Alsatia untuk memastikan sendiri bahwa putriku aman, tapi aku juga harus kembali ke Elfian untuk mengamankan Kerajaanku. Jadi aku akan menyuruh Eldrige untuk tetap berjaga di sekolah putriku itu! " Jawab Raja Satria.


"Tapi sebelumnya, bisakah aku menyuruh Eldrige untuk mengantar Devi ke tempat Ratu Malea? " Tanya Raja Gaurav.


"Tentu saja Gaurav. Eldrige kau dengar itu? Besok tolong kau antar Puteri Devi untuk menemui Ratu Malea, kami berharap agar Ratu Malea mau membantu kesembuhan Puteri Devi. " Raja Satria kini berpaling kepada Eldrige yang duduk di sebelahnya.


"Tentu saja Yang Mulia! " Ucap Eldrige patuh.


Eldrige sudah tidak sabar untuk kembali ke asrama Puteri Juwita agar bisa menjaganya dari bahaya.

__ADS_1


__ADS_2