
Tegalombo adalah lembah hijau di kaki gunung Zilzaal. Salah satu dari gunung barisan yang bersebelahan dengan gunung tertinggi dan terbesar, gunung Grand Solano yang dikuasai bangsa peri.
Pasukan Daemonie berkumpul dengan segala persenjataannya. Tenda-tenda berdiri sebagai tempat untuk merencanakan strategi.
"Kita sudah merencanakan ini selama bertahun-tahun, jangan sampai semua usaha kita sia-sia! " Seorang pria bertubuh tinggi besar dengan baju besi berkilau berteriak keras.
"Tapi, Greve Hedin. Jika sampai pasukan Liga Kerajaan yang dipimpin Dewi Hutama kembali menumpas bangsa kita, tidak akan ada lagi sisa-sisa bangsa Daemonie di muka bumi ini!" Seorang Daemonie dengan rambut merah menyela dengan sebelah tangan terangkat.
"Maksudmu kau ingin menyerah, begitu? " Mata Greve Hedin, sang pemimpin, menyorot marah.
"Maksud saya.. apakah tidak ada kemungkinan untuk berunding? "
"Apa kau pikir para manusia-manusia sombong itu mau berunding dengan kita? Apa kau tidak ingat selama ratusan tahun kita dikucilkan di hutan Wira Sukma seperti tikus?" Greve Hedin mengetuk-ngetuk telunjuknya pada dada orang di depannya.
Semua yang berada di sana terdiam. Mereka kini terpecah menjadi dua golongan sejak kekalahan-kekalahan beruntun yang mereka derita.
Tiba-tiba seorang prajurit muda masuk ke dalam tenda dengan ekspresi gugup.
"Pasukan Liga Kerajaan telah tiba! "
*****
Ratu Gita mengantar sendiri tamunya ke kamar tamu. Dengan langkah tertatih karena perutnya sudah sangat besar, wanita itu menanyakan bermacam-macam hal pada Nona Sekar.
Mereka berbincang dengan akrab sementara di belakangnya para pelayan mengikutinya dengan setia.
"Kuharap kau bisa tinggal di sini agak lama. Aku merasa kesepian. " Kata Ratu Gita sebelum meninggalkan Nona Sekar untuk beristirahat.
Nona Sekar mengangguk. Saat peri itu menutup pintu kamar, samar-samar dia mendengar suara teriakan.
"Ada apa? " Nona Sekar keluar dan melihat para pelayan berkerumun.
"Yang Mulia Ratu terjatuh. Beliau mengalami pendarahan! " Seorang pelayan berbicara dengan panik.
*****
Pertempuran puncak antara Liga Kerajaan dan Bangsa Daemonie di Tegalombo tidak dapat dielakkan. Setelah berbulan-bulan saling menyerang di berbagai wilayah kini mereka bertemu di lembah itu.
Pekik perang terdengar dan segera diikuti oleh derap langkah para prajurit dari kedua kubu untuk saling bertarung.
Anak-anak panah beterbangan dan pedang-pedang beradu. Suara sayatan dan tulang remuk terdengar setiap kali kedua belah pihak bertemu.
Cras.
Bugh.. bugh..
Pertempuran berlangsung panas. Mereka mengerahkan segala yang mereka miliki untuk menumpas lawan.
Drakon-drakon yang terbang dengan menyemburkan api kini membakar prajurit-prajurit Liga Kerajaan.
Wuut..
Pohon-pohon tersulut api. Kebakaran melahap sebagian hutan. Asap hitam membumbung ke angkasa.
Dewi Hutama yang terbang menunggangi pegasus segera menyerang makhluk-makhluk reptil yang ditunggangi para Daemonie itu dengan sabetan pedangnya yang meliuk-liuk indah di udara.
__ADS_1
Bum!
Suara drakon-drakon yang berjatuhan terdengar seperti ledakan. Bumi bergetar begitupun hati para Daemonie. Kini mereka tak yakin lagi akan memenangkan pertempuran.
Burung-burung Strix yang hanya tersisa sedikit juga mulai kewalahan. Pasukan Liga Kerajaan sudah mengetahui titik lemah mereka. Dengan cekatan para prajurit menghabisi burung-burung itu dengan melesatkan anak panah ke arah kepala mereka.
"Ayo kita selesaikan hari ini juga! " Teriak Raja Gaurav memberi semangat prajuritnya.
Pasukan Liga Kerajaan saling bahu membahu melawan para Daemonie dan mendesak mereka.
Sementara itu di sudut lain Raja Satria mengayunkan pedangnya dengan lincah ke arah lawan yang ukuran tubuhnya hampir dua kali lipatnya. Meski begitu dia tidak gentar.
Lawannya kali ini lebih tangguh dari yang sudah-sudah, dia adalah salah satu Furstar yaitu pangeran yang mewarisi gelarnya bukan karena keturunannya melainkan dari kesetiaan dan ketangguhannya.
"Cih, diantara Liga Kerajaan, bangsa kalianlah yang paling menjijikkan." Suara Furstar Gustav terdengar muak. Gada di tangannya menggempur Raja Satria tanpa jeda.
"Apa kau tidak memiliki cermin? " Raja Satria membalas ejekan itu sambil menyabetkan pedangnya meredam gempuran Furstar Gustav.
Cras.
Sebuah sayatan tipis bersarang di pipi kiri daemonie itu.
"Kalian selalu sok suci hanya karena masih memiliki keturunan peri. Dan para peri itu, apa sih hak mereka melabeli bangsa lain lebih rendah? " Tangan kanannya mengusap darah di pipinya.
"Jadi kalian tidak terima? Kenapa tidak bersikap baik sehingga kami akan mempertimbangkan kalian sebagai bangsa yang bisa diajak bersahabat? " Raja Satria kembali mengayunkan pedangnya.
"Memangnya kalian akan peduli? Lagipula sekarang sudah terlambat untuk apapun. Hari ini kita akan selesaikan permusuhan yang sudah berusia ratusan tahun." Furstar Gustav menyeringai.
Graaa!
Raja Satria mendongak ke atas. Musuhnya kini berukuran dua kali lipat.
Bugh..
Gada itu tampak terlalu kecil di tangan Furstar Gustav namun saat dia melemparnya, benda itu menghasilkan kekuatan yang luar biasa.
Raja Satria memegangi dadanya yang terkena hantaman gada yang dilempar oleh makhluk itu. Darah mengalir dari mulut Raja Satria.
"Hahaha." Furstar Gustav tertawa mengejek. Tubuh reptilnya berputar. Ekornya yang keras dan melengkung menyabet tubuh Raja Satria hingga membuat pemimpin Elfian itu jatuh tersungkur.
Raja Satria berusaha bangkit. Dia bertumpu pada pedangnya dan perlahan-lahan berdiri. Dia terbatuk dan darah kembali mengalir dari mulutnya. Dahinya mengernyit menahan nyeri luar biasa di dadanya.
"Aku akan merasa terhormat jika bisa mengirim raja Elfian ke akhirat. " Reptil itu kembali berputar dan menyabetkan ekornya.
Brak!
Tak disangka tubuh reptil itu melayang dan jatuh menabrak pepohonan yang terbakar.
Sebuah tangan terjulur di hadapan Raja Satria. Pria itu mendongak dan menatap seraut wajah yang sangat dikenalnya. Wajah yang selama bertahun-tahun selalu menyertainya di setiap pertempuran.
"Eldrige? " Suara tertegun keluar dari bibir Raja Satria sebelum akhirnya pria itu ambruk.
"Yang Mulia! " Eldrige segera mengangkat tubuh Raja Satria ke atas punggungnya.
Dengan langkah terseok Eldrige berusaha menjaga tubuh Raja Satria di atas punggungnya sambil mengayunkan pedangnya ke arah semua lawan.
__ADS_1
Eldrige bergerak menghindari sabetan pedang-pedang yang menghadangnya. Beberapa luka tusukan kini bersarang di tubuhnya yang fana.
Tiba-tiba seekor Elephas yang ditunggangi seorang daemonie menerjang tubuh Eldrige. Tubuh Raja Satria yang berada di atas punggungnya terlempar. Penunggang Elephas itu melompat turun dan mengacungkan pedangnya pada Eldrige.
"Kau adalah peri yang menangkapi prajurit-prajurit mudaku. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk membalasnya! " Daemonie itu menendangi tubuh Eldrige yang terkapar.
"Hentikan Domn!" Sebuah suara berseru di belakang Daemonie itu.
"Nicolae? "
"Domn, tolong jangan bunuh dia! "
"Apa-apaan kau Nicolae? Jangan bilang kau sudah dicuci otak dan sekarang memihak mereka! " Domn berteriak marah.
"Tidak Domn, aku hanya ingin menunjukkan balas budiku karena seorang puteri dari bangsa Elfian telah menyelamatkan nyawaku." Ucap Nicolae.
"Tidak, Nicolae. Kau tak bisa menghalangiku untuk menghabisi nyawa mereka. " Domn mengayunkan pedangnya ke arah leher Eldrige.
Cras!
Sebuah kepala menggelinding dan darah mewarnai rerumputan dengan warna merah.
"Aaa! " Teriakan histeris diiringi dentingan pedang yang terjatuh.
****
Suara jeritan sang ratu terdengar sangat keras menggema di istana. Rasa sakit yang luar biasa menderanya. Bayi di dalam rahimnya terus mendesak untuk keluar.
Proses melahirkan yang sangat beresiko itu berlangsung menegangkan. Sang Ratu yang menderita anemia membuat pendarahan yang dialaminya tidak segera berhenti.
Namun wanita itu bertekad untuk melahirkan bayinya dengan selamat. Dia mengabaikan segala rasa sakit yang terasa membelah tubuhnya dan dengan sekuat tenaga berusaha mengantarkan bayinya ke dunia.
"Kepalanya sudah terlihat Yang Mulia. Terus dorong! " Suara bidan terus menyemangatinya. Hingga akhirnya..
"Oek.. "
Kepala bayi mulai keluar kemudian disusul dengan bahunya. Bayi itu meluncur keluar dan ditangkap oleh tangan bidan dengan cekatan.
Tangisan bayi itu begitu kuat menandakan dia memiliki tekad yang besar.
"Kita mendapatkan seorang pangeran, Yang Mulia. " Suara bidan menyusup ke telinga Ratu Gita dan membuat wanita yang telah berusia di atas 40 tahun itu meneteskan air mata.
Di antara kebahagiaan yang dirasakannya dia juga sedih. Suami dan putrinya tidak di sini mendampinginya.
Beberapa pelayan yang membantu persalinan segera mengelap darah dan air ketuban di bawah tubuh Sang Ratu. Bidan membungkus tubuh pangeran kecil itu dengan selimut.
Tabib Albus datang memberi ramuan untuk memulihkan kondisi tubuh Ratu Gita. Wanita itu enggan meminumnya tapi tabib tua itu dengan gigih membuatnya menghabiskan minuman yang terasa getir itu.
"Saya sudah berjanji pada Raja Satria untuk menjaga Yang Mulia. Jadi, tolong menurutlah Yang Mulia! " Ucap tabib tua itu.
Mendengar nama suaminya disebut, Ratu Gita menerima cangkir berisi ramuan dan meminumnya.
"Aku ingin mengetahui kabar suamiku. Tolong suruh Sekar untuk menemuinya! " Pinta Ratu Gita pada seorang pelayan.
Nona Sekar yang sejak tadi berdiri di depan kamar Ratu Gita segera berangkat begitu pelayan menyampaikan pesannya.
__ADS_1