
Sebenarnya mengadakan sayembara untuk mencari calon pendamping bagi seorang puteri di Kerajaan Dewanata adalah suatu tradisi yang sudah kuno dan sudah lama ditinggalkan. Namun Raja Badre menginginkan suami yang benar-benar sesuai dengan Puteri Pertiwi.
Ketika pria itu menemui kelima calon pelamar, mereka semua terlihat hebat. Mungkin nanti akan sulit menentukan pemenang di antara mereka.
"Besok kita akan pergi ke hutan. Di sana kami sudah melepaskan beberapa rusa yang gemuk. Pemenangnya ditentukan dengan jumlah tangkapan dan juga bobot binatang buruan. " Kata Raja Badre pada kelima orang itu.
Mereka semua merasa ahli dalam berburu binatang, oleh karena itu tidak ada satupun yang merasa keberatan. Namun diantara mereka, hanya Pangeran Awang yang tidak banyak membual soal keahlian berburu. Dia yakin bahwa pada akhirnya dialah yang akan keluar sebagai pemenangnya.
Puteri Pertiwi sangat gugup melihat kelima lelaki yang datang untuk mengikuti sayembara itu. Tidak ada satupun dari mereka yang menarik perhatiannya karena hatinya telah tertambat pada seorang pemuda yang kini berasa di desa Kulm.
Beberapa kali gadis itu mendesah dan menghela napas berat. Semua hal yang dikerjakannya seakan salah. Rupanya hal itu menarik perhatian neneknya yang sudah mengenal gadis itu seumur hidupnya.
"Apa yang kau risaukan? " Tegur Nenek Divya ketika lagi-lagi gadis itu tidak fokus.
"Nenek? " Gadis itu terkejut dan tidak tahu harus berkata apa.
"Apa kau gugup karena para pria itu? "
"Nenek terlalu mengenalku. " Ucapnya setengah mengeluh.
"Bukankah mereka adalah lelaki terbaik dari setiap negeri? Apa yang kau cemaskan? "
"Yang kutakutkan adalah jika pernikahanku nantinya tidak akan ada cinta. Aku ingin sekali menikah dengan seseorang yang mencintaiku dan juga kucintai, Nek. "
"Bukankah sayembara ini tujuannya adalah itu. Untuk menemukan orang yang mencintaimu dan juga kau cintai. "
Puteri Pertiwi menggeleng. "Aku yakin hal itu tidak akan terjadi, Nek. "
"Kenapa kau begitu pesimis? Beri mereka kesempatan. Kau hanya harus lebih mengenal mereka. "
"Tidak. Saat aku bertemu mereka, para pria itu hanya melihatku sebagai hadiah undian. "
"Lalu apa yang kau inginkan, cucuku? "
"Aku iri sekali pada Juwita. Ada seseorang yang mencintainya dan rela mencarinya meskipun dia pergi sangat jauh."
Nenek Divya mengangkat dagu Puteri Pertiwi dengan ujung jarinya.
"Tidak usah berbelit-belit. Katakan pada nenek apa yang kau sembunyikan! " Wanita tua itu menatap wajah gadis itu.
Dengan wajah merah Puteri Pertiwi memandang wajah neneknya. Saat ini satu-satunya orang yang bisa menolongnya adanya wanita tua yang telah mengasuhnya sejak ibunya meninggal itu.
"Nenek harus berjanji tidak akan marah. " Kata gadis itu.
Nenek Divya ingin sekali tertawa melihat wajah cucunya itu. Dia sebenarnya sudah menyadari perubahan sikap yang ditunjukkan gadis itu sejak kedatangan Puteri Juwita dan Bagas, namun hal itu hanya dipendamnya saja.
"Katakan saja, nenek tidak akan marah. " Senyuman wanita itu meredakan kegundahan Puteri Pertiwi.
"Sebenarnya..aku sudah menyukai seseorang." Ucap gadis itu malu-malu.
"Apa nenek mengenalnya? " Pancing Nenek Divya.
"Nenek pernah bertemu dengannya. Dia adalah pemuda yang baik dan sopan. Meskipun dia tidak memiliki kedudukan, tapi dia memiliki kualitas yang tidak kalah dari kelima pelamar itu. "
__ADS_1
"Apakah dia miskin? " Tanya Nenek Divya.
Puteri Pertiwi tersentak. Bukankah kualitas seseorang tidak diukur dari harta dan kedudukan? Neneknyalah yang menanamkan prinsip itu.
"Bagaimana kalau dia miskin? Apakah itu akan mengurangi nilainya di mata Nenek? " Gadis itu membalikkan pertanyaan.
"Tidak. Nenek tidak pernah menganggap bahwa nilai seseorang dilihat dari hartanya. Tapi kau sendiri yang membuatnya tampak demikian. "
"Apa maksud Nenek? "
"Kenapa kau tidak terus terang saja? Katakan siapa dia dan suruh dia datang pada ayahmu untuk melamarmu. "
Puteri Pertiwi terdiam. Ketika berada di desa Kulm sudah jelas di antara dirinya dan Bagas memiliki rasa ketertarikan. Pemuda itu membawanya ke tempat-tempat yang indah di hutan dan mereka menjadi sangat akrab.
Namun pemuda itu tidak pernah mengutarakan perasaannya. Puteri Pertiwi tidak tahu alasannya. Apakah itu karena pemuda itu menyadari jarak yang terbentang diantara mereka atau karena memang Bagas tidak mencintainya.
"Masalahnya, dia.. belum mengutarakan perasaannya. " Gadis itu menunduk lesu.
"Kau tahu Pertiwi, tidak hanya lelaki yang berhak untuk mengutarakan perasaannya. Sebagai wanita kita boleh menanyakan dan bahkan menyatakan cinta terlebih dahulu. "
"Tapi Nek, aku takut. "
"Takut ditolak? Coba kau pikirkan lagi. Kau lebih memilih resiko ditolak atau menerima saja perjodohan yang kami buat dan diam seumur hidupmu? "
"Nenek benar. Aku lebih baik jujur meskipun akan ditolak daripada tidak mendapat jawaban yang akan menghantuiku seumur hidup. "
Nenek Divya tersenyum. Dia menginginkan kebahagiaan gadis itu. Perbincangannya dengan Eldrige membuatnya menyadari bahwa lelaki terbaik untuk menjadi suami cucunya tidak ditentukan dari pemenang sayembara.
"Lalu apa yang akan kau lakukan? "
"Jadi benar kalau pemuda itu yang kau sukai?" Nenek Divya terkekeh geli.
"Nenek! " Puteri Pertiwi memeluk neneknya dengan wajah yang semakin merah.
*****
Meskipun kekuatan sihirnya sudah hilang, namun Eldrige bisa merasakan kekuatan sihir hitam yang pekat. Dia merasa mengenalnya. Namun dia belum berani memastikannya.
Eldrige memandang rombongan dukun dan ahli nujum yang berkumpul di istana. Meskipun sebagian dari mereka memiliki kekuatan supranatural, namun Eldrige yakin bahwa kekuatan sihir hitam yang dirasakannya bukanlah milik salah satu dari mereka.
"Eshwar, maukah kau melakukan sesuatu untukku? " Tanya Eldrige ketika mereka berada di kamar.
"Katakan saja, Tuan. " Jawab pemuda itu.
"Coba kau selidiki apakah ada seseorang yang mencurigakan di istana ini. Aku curiga ada seseorang yang memiliki kekuatan sihir dan bermaksud jahat. "
"Bagaimana dengan para dukun itu, Tuan? "
"Bukan mereka. Aku curiga orang itu bersembunyi diantara rombongan para pelamar. Bisakah kau cari tahu? "
"Saya akan melakukannya, Tuan. " Eshwar menyanggupi perintah Eldrige tanpa menawar.
Pemuda pribumi itu kemudian keluar dan menyusup di antara para pelayan. Dia mengenakan seragam berwarna putih dan serban merah yang ditemukannya di salah satu ruangan. Kini dia terlihat seperti pelayan di sana.
__ADS_1
Eshwar mengambil nampan berisi piring-piring kue dan berjalan melewati kamar-kamar para tamu. Sebuah pintu terbuka, ini adalah kesempatan baginya untuk masuk. Di dalam sana pangeran dari Kerajaan Kepulauan Timur sedang tengkurap di ranjang dengan seorang wanita memijat punggungnya.
"Ada apa kau kemari? " Sebuah suara mengejutkan Eshwar, piring-piring di atas nampan yang dibawanya hampir jatuh.
"Saya membawakan kue-kue ini, Tuan. " Eshwar menunduk di depan seorang pria bermata sipit yang terlihat seperti seorang pengawal pribadi.
"Baru saja temanmu membawakannya kemari. " Pria yang tingginya sedikit lebih pendek dari Eshwar itu menunjuk piring-piring kue di atas meja.
"Ah, maafkan saya, Tuan. Kalau begitu saya akan ke kamar lain. " Pemuda itu menunduk sopan. Kemudian dia beranjak pergi.
"Tunggu! " Tangan Eshwar urung membuka pintu ketika mendengar panggilan itu.
Pemuda itu berbalik memandang Pangeran Ken yang kini duduk di atas ranjang sambil menatapnya.
"Ada apa, Yang Mulia? " Tanya Eshwar. Jantungnya berdegup kencang karena takut kalau penyamarannya terbongkar.
"Apa kau bisa memijat? Wanita ini hanya mengelus-elus tanpa tenaga. Sungguh tidak berguna! " Pangeran Ken menunjuk wanita itu yang kini berdiri dengan lutut gemetar.
"Saya bisa sedikit, Yang Mulia. "
"Kemarilah! " Panggil Pangeran Ken.
Eshwar datang mendekat. Diletakkannya nampan di atas meja. Ketika dia berjalan, pandangan matanya bertemu sepasang mata bulat yang berair. Wanita itu menangis. Rasa iba menyusup di hati Eshwar melihat wajah sedih wanita itu.
"Cepatlah! " Teriak Pangeran Ken tidak sabar.
Eshwar segera mengambil minyak urut yang berisi rempah-rempah dan bunga-bunga. Lengannya yang berotot segera memberikan tekanan-tekanan pada beberapa titik tubuh Pangeran Ken yang terasa pegal. Pangeran Ken mengerang kecil ketika merasakan sensasi sakit sekaligus nyaman dari pijatan Eshwar.
"Kau sangat ahli. " Puji Pangeran Ken sambil menguap.
Pengawal pribadi tadi berdiri tidak jauh dari sana untuk mengawasi.
"Bagaimana keadaan para pangeran itu, Mori?" Tanya Pangeran Ken dengan setengah mengantuk.
Mori, si pengawal, menatap Eshwar sejenak. Dia ragu untuk memberikan laporannya di depan seorang pelayan. Namun dia tahu Pangeran Ken adalah orang yang keras hati, dia akan murka jika perintahnya tidak dituruti.
"Semua pelamar sepertinya memiliki kemampuan yang setara. Namun jangan khawatir Yang Mulia, saya sudah memerintahkan beberapa orang untuk membantu pada acara perburuan besok."
"Hahaha.. mereka tidak akan menyangka kalau ada yang akan membidik buruan dengan panahku." Pangeran Ken tergelak sampai punggungnya bergerak-gerak.
Eshwar terus memasang telinganya meskipun tangannya masih lincah memijat tubuh Pangeran Ken.
"Diantara semua pelamar, saya melihat Pangeran Awang dari Alsatia yang terlihat tenang. Sepertinya dia juga memiliki rencana tersembunyi." Kata Mori.
"Alsatia sedang tidak stabil karena kematian raja dan ratu. Aku yakin Pangeran Awang tenang bukan karena menyimpan rencana rahasia melainkan karena tidak percaya diri mengikuti sayembara ini." Ucap Pangeran Ken.
"Jangan lupa bahwa adik anda, Pangeran Ryota menjadi salah satu pendukungnya. "
"Aku tidak khawatir. Ryota hanyalah pembuat masalah. Dia sama sekali tidak memiliki kemampuan. Bisa saja nanti setelah sayembara aku mengunjungi Alsatia berpura-pura menengok sepupu kembarku untuk mengukur kekuatan kerajaan mereka. Siapa tahu negeri yang sedang bergolak itu bisa kukuasai." Pangeran Ken kembali tergelak.
Eshwar merasa bahwa orang-orang yang memiliki kekuasaan memiliki sifat yang serakah. Mereka masih saja menginginkan milik orang lain meskipun sudah memiliki segalanya. Sungguh berbeda dengan tuannya, Eldrige. Sejak di desa Kulm dia menjadi tahu bahwa Eldrige rela melepaskan posisinya untuk mendapatkan gadis pujaannya.
Tak lama kemudian dengkuran mulai terdengar. Pangeran Ken telah terlelap. Mori segera mengusir Eshwar. Pemuda itu keluar sambil membawa nampannya.
__ADS_1
Tepat pada saat itu dia melihat pintu kamar di seberang terbuka. Seseorang yang terlihat seperti seorang dukun sempat dilihatnya sedang mengambang dengan posisi bersila. Sebelum Eshwar sempat melihat lebih jauh, tiba-tiba seseorang menutup pintu dari dalam.
"Dia pasti yang dimaksud oleh Tuan Eldrige." Gumam Eshwar.