Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 92 Strix


__ADS_3

Eldrige segera menghampiri Puteri Juwita yang sedang mengerang sambil memegangi lehernya.


"Coba kuperiksa!" Eldrige menyibakkan rambut perak Puteri Juwita ke belakang dan memeriksa lehernya.


Ada dua buah luka di atas pembuluh darah besar yang berada di leher gadis itu. Luka itu agak dalam hingga menembus kulitnya. Beruntung sekali luka itu tidak sampai mengoyak pembuluh darahnya.


Dengan hati-hati Eldrige menyeka darah yang menetes dari luka di leher Puteri Juwita dengan sapu tangannya.


"Pegang sebentar, aku akan mengambil obat! " Eldrige mengambil tangan Puteri Juwita dan menaruhnya di atas sapu tangan itu untuk menekan lukanya.


Entah kenapa saat Eldrige menyentuh tangan Puteri Juwita, pria itu menjadi gugup. Sentuhan biasa itu telah menghasilkan sengatan yang membuat jantung Eldrige berdegup kencang.


Dengan menahan perasaannya, peri itu kemudian mengambil obat dari kantungnya lalu mengoleskannya dengan hati-hati pada luka di leher Puteri Juwita.


Eldrige menelan ludah dengan susah payah saat melihat leher yang halus dan jenjang itu. Seumur hidupnya, baru kali ini dia memandangi leher seorang wanita dengan penuh hasrat.


"Astaga, parah sekali! " Keluh Eldrige, merutuki dirinya yang tidak mampu mengendalikan perasaannya.


"Apakah lukaku sangat parah? " Puteri Juwita menjadi ketakutan.


Eldrige tersadar bahwa perkataannya didengar oleh gadis itu.


"Tidak! Maksudku, jangan takut! Lukamu tidak parah, sebentar lagi juga sembuh." Eldrige tersenyum menenangkan.


"Syukurlah Eldrige." Gadis itu bernapas lega.


"Apa kau mengingat apa yang terjadi sampai lehermu terluka? "


"Tidak." Puteri Juwita menggeleng pelan, "Mungkin seekor serangga menggigitku saat aku tertidur? "


"Nanti akan kutangkap serangga itu dan akan kupukul agar dia tidak berani mendatangimu lagi! " Eldrige tersenyum untuk menyembunyikan kemarahannya pada makhluk keparat yang mencoba menghisap darah Puteri Juwita.


Mata Eldrige tak lepas memandangi Puteri Juwita yang sedang tertawa geli karena membayangkan Eldrige mengejar-ngejar serangga yang telah menggigitnya. Ekspresi wajah gadis itu terlihat sangat polos dan menggemaskan.


"Kau cantik sekali, Juwita! " Perkataan Eldrige yang tiba-tiba itu membuat wajah Puteri Juwita bersemu merah sampai ke telinga.


Eldrige gelagapan begitu menyadari perkataan yang baru saja lolos dari mulutnya. Demi apapun, dia tidak sengaja mengatakan hal itu. Tadinya perkataan itu hanya berada dalam benaknya.


"Eh, kau pasti lapar kan? Ayo, makan dulu! " Eldrige segera mengambil nampan berisi bubur dan segelas air dan menaruhnya di hadapan Puteri Juwita.


Dengan lincah jari-jarinya memutar dan menyalurkan energi tak kasat mata untuk menghangatkan hidangan itu.


"Ayo, makanlah! " Perintahnya.


Puteri Juwita mengambil sendok dan menyuap bubur ke dalam mulutnya. Namun tiba-tiba gadis itu mengernyit dan menjulurkan lidahnya.


"Kenapa? " Tanya Eldrige kebingungan.


"Panas! " Mata Puteri Juwita berkaca-kaca.


"Seharusnya kau tiup dulu seperti ini. " Eldrige mengambil sendok dari tangan Puteri Juwita.


Pria itu menyendok bubur kemudian meniup-niupnya lalu menyuapi Puteri Juwita. Eldrige sudah biasa menyuapi gadis itu saat masih bayi, jadi dia sama sekali tidak canggung saat melakukannya.


"Aku senang kau ada di sini, Eldrige." Ucap Puteri Juwita ketika sudah menghabiskan buburnya.


"Bagaimana keadaanmu selama berada di sini? Apa guru-gurumu galak? Bagaimana dengan teman-temanmu, apa mereka baik? "

__ADS_1


"Hahaha..Kau cerewet sekali, Eldrige! Tapi aku merindukanmu yang seperti itu." Gadis itu tertawa pelan.


"Kau tahu, sebenarnya aku merasa senang karena bisa belajar mandiri, berusaha menyelesaikan masalahku sendiri.. " Puteri Juwita memberi jeda pada kalimatnya sambil menatap Eldrige.


"Namun saat aku kelelahan dengan tugas-tugas sekolah yang menumpuk, atau ketika mendapat teguran dari guru karena melakukan kesalahan.. rasanya..aku ingin menangis dan pulang ke rumah." Puteri Juwita menundukkan kepalanya untuk menekan kesedihannya.


"Kau mirip seperti Ratu Elok! Dulu dia sering mengeluh padaku, saat aku mengunjunginya di asrama ini. Tapi setelah melewati semester pertama, akhirnya dia bisa menyesuaikan diri dan tidak jadi kabur meskipun jarak istana Alsatia hanya satu jam jika berjalan kaki." Eldrige tersenyum ketika mengingat kejadian belasan tahun yang lalu.


"Kau memang baik sekali, Eldrige! Beruntung sekali kami memilikimu." Ucap gadis itu penuh syukur.


"Apakah akhir-akhir ini ada kejadian aneh?" Eldrige kini mulai mencoba mengorek keterangan dari Puteri Juwita.


"Kejadian aneh? " Dahi Puteri Juwita berkerut hingga membuat sepasang alisnya hampir bertautan.


"Hal yang tidak biasa. Sesuatu yang ganjil." Pancing Eldrige.


"Sesuatu yang ganjil?" Puteri Juwita tampak berpikir sejenak. " Emm, sebenarnya aku pernah melihat ada seseorang duduk di jendela kamarku."


"Apa? Bukankah kamarmu di lantai dua? Kapan kejadiannya? " Cecar Eldrige.


"Kejadiannya sekitar sepekan yang lalu. Kemudian dia datang lagi saat aku tidur, kali ini dia masuk di dalam kamarku." Pengakuan Puteri Juwita sontak membuat Eldrige melebarkan matanya.


"Dan.. tadi sore aku kembali melihatnya lagi saat aku sedang berada di pasar malam. " Puteri Juwita agak merinding ketika menceritakannya.


"Bagaimana awalnya? Apa kau tidak merasa ada seseorang yang mengawasimu atau kau melihat hal-hal aneh sebelumnya?"


Puteri Juwita terdiam beberapa lama, mencoba mengingat-ingat.


"Oh, burung besar! " Gadis itu agak terlonjak ketika mengatakannya.


"Iya, aku pernah melihat burung besar bertengger di pohon itu! " Puteri Juwita menunjuk pohon di seberang lapangan yang terlihat dari jendela.


"Bagaimana wujud burung itu? " Tanya Eldrige serius.


"Burung itu besar sekali dan berwarna hitam. Oh, aku baru ingat! Orang yang kutemui itu juga berpakaian serba hitam. Namanya Nicolae! "


"Nicolae? Kau berkenalan dengannya? "


"Tidak juga. Dia hanya menyebutkan namanya." Puteri Juwita menatap jauh ke luar jendela seakan menerawang, "Namaku Nicolae, begitu katanya. "


Eldrige diam sejenak untuk berpikir. Wajahnya terlihat sangat serius. Kemudian dia kembali tersenyum pada Puteri Juwita.


"Lain kali jika terjadi sesuatu, kau harus bilang pada Nona Sekar. Dia pasti akan menolongmu." Eldrige berusaha menenangkan gadis itu.


"Apa kalian bisa saling berkomunikasi jarak jauh? " Tiba-tiba Puteri Juwita bertanya yang membuat Eldrige tidak mengerti.


"Maksudku, kau dan Nona Sekar. Apa kalian bisa saling berhubungan kapanpun dan dimanapun? "


"Iya. Kami bangsa peri memiliki sistem komunikasi yang memungkinkan untuk saling berhubungan meskipun dalam jarak yang jauh."


"Semacam telepati? " Puteri Juwita memandang Eldrige dengan matanya yang lebar.


"Ya." Eldrige mengangguk pelan.


Puteri Juwita menunduk karena merasa sedikit kesal. Gadis itu merasa iri pada Nona Sekar, karena dia tidak bisa menghubungi Eldrige kapanpun dia inginkan meskipun sudah mengenalnya sejak lahir.


"Kau harus lebih sering mengunjungiku, Eldrige! " Gadis itu menarik ujung baju Eldrige dan bersandar di lengannya dengan manja.

__ADS_1


"Tentu, Tuan Puteri. Saya akan lebih sering berkunjung kemari setiap ada kesempatan." Eldrige mengelus kepala Puteri Juwita dengan sayang.


Eldrige tersenyum senang. Sebelumnya dia sempat mengira jika gadis itu sudah tidak mau bermanja-manja dengannya lagi sejak bersekolah di sini.


"Kau sudah makan, Eldrige? " Tanya Puteri Juwita ketika tanpa sengaja melihat hidangan makanan di atas meja.


"Saya tadi ketiduran."


"Cepat makanlah! Aku tidak ingin kau juga jatuh sakit. " Puteri Juwita berbicara sambil menyembunyikan senyumnya.


"Ah, nanti akan saya makan. " Eldrige sudah kehilangan nafsu makannya.


"Tidak, makanlah sekarang! " Perintah gadis itu. Wajahnya yang cemberut tampak lucu.


Tiba-tiba dada Eldrige menghangat mendengar perintah yang mengandung kepedulian itu.


"Baik, akan saya makan." Dengan patuh Eldrige beranjak ke meja dan segera menyantap makanannya tanpa menghangatkannya dulu.


"Apa makananmu tidak dingin?" Tanya Puteri Juwita dengan khawatir.


"Tidak, makanan ini masih hangat! " Telinga Eldrige yang runcing tampak merah.


*****


"Kau harus benar-benar siaga, Sekar! Aku tidak mau terjadi apa-apa pada Tuan Puteriku!" Mata Eldrige yang merah tampak berkilat marah.


"Maafkan aku karena sudah teledor dan tidak menyadari masalah ini! " Wajah Nona Sekar tampak pucat, kepalanya menunduk.


Wanita itu betul-betul ketakutan setelah di beritahu Eldrige mengenai sosok yang memasuki kamar Puteri Juwita dan berusaha menghisap darahnya.


"Kau harus segera membicarakannya dengan Bu Padma. Aku tidak bisa membiarkan Juwita tinggal di tempat yang tidak aman! "


"Baik, Eldrige. Nanti aku akan melapor pada Bu Padma begitu beliau datang. "


"Lalu, siapa nanti yang akan merawat Puteri Juwita? Kau kan melarangku tetap di sini? " Suara Eldrige yang biasanya ramah kini terdengar ketus.


"Nanti tabib dan asistennya akan kusuruh berjaga. Jangan cemas, Eldrige! "


"Lalu apa kira-kira Bu Padma memiliki solusi untuk mencegah sosok haus darah itu mendekati Puteri Juwita lagi? "


"Maafkan aku, Eldrige. Tapi aku belum pernah mendengar ada makhluk seperti itu di sini, jadi mungkin kami nanti akan meminta bantuan pada Raja Sagar. "


"Ehem, Kalau kalian mengizinkanku merawat Puteri Juwita, aku bersedia membantu. " Dengan agak canggung, Eldrige menawarkan bantuannya.


"Benarkah? Kalau begitu akan segera kutanyakan pada Bu Padma. Eh, sepertinya aku mendengar suara kereta kudanya datang." Nona Sekar berjalan dengan anggun melewati lapangan rumput menuju gedung sekolah.


Eldrige berjalan mengikuti Nona Sekar. Dia ingin langsung berbicara pada Bu Padma. Wanita itu kini terlihat sedang berjalan menuju ruangannya. Eldrige melihat Nona Sekar berbicara padanya.


Bu Padma terlihat kaget, kemudian memandang ke arah Eldrige sekejap. Wanita itu kembali berbicara kepada Nona Sekar, lalu masuk ke ruangannya.


"Ayo Eldrige, kita berbincang di dalam! " Nona Sekar mengajak Eldrige untuk masuk ke ruangan Bu Padma.


Ketika memasuki ruangan Kepala Sekolah itu, Eldrige mendapati Bu Padma sedang duduk tegak di belakang mejanya. Pandangan wanita itu terlihat waspada. Tangan kanannya kemudian menyilakan Eldrige untuk duduk.


"Jadi, sebenarnya kita sedang berhadapan dengan siapa? " Tanya Bu Padma langsung tanpa basa-basi.


"Menurut saya, kita sedang menghadapi Strix. Burung penghisap darah hasil perubahan wujud dari bangsa Daemonie! " Ucap Eldrige yang sontak membuat Bu Padma dan Nona Sekar tercengang.

__ADS_1


__ADS_2