Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 71 Melanjutkan Penyelidikan


__ADS_3

Raja Satria menatap prihatin kearah istri Seno, dia tahu bahwa wanita itu sangat sedih. Namun masih ada hal yang ingin dia tanyakan.


"Jadi makhluk itu memiliki kaki?"


"Benar! Dia bisa berubah wujud menjadi manusia. "


"Apakah semasa hidup, Seno memakai cincin? "


"Suami saya memakai cincin emas bermata safir. Saya baru ingat, saat saya melihat jenazahnya dia tidak mengenakan cincin itu."


"Apakah dia sudah lama memiliki cincin itu? "


"Belum lama. Suami saya mendapatkan cincin itu bersamaan ketika mendapatkan makhluk buas itu. "


Raja Satria terdiam sesaat, kemudian dia kembali menanyakan hal yang masih mengganjal.


"Siapakah orang yang telah menjual Rusalqa itu?"


"Saya tidak tahu, Tuan. Suami saya hanya mengatakan bahwa dia adalah temannya. "


"Mungkinkah dia seorang pedagang yang baru pulang dari kerajaan lain? " Desak Raja Satria.


"Bisa saja seperti itu, saya tidak tahu. "


Meskipun pertanyaan terakhir tidak mendapat jawaban yang memuaskan, namun Raja Satria sudah cukup mengantongi informasi yang penting.


Setelah meninggalkan toko barang antik itu, Raja Satria mengajak Ratu Gita mengunjungi tempat tinggal korban ketiga, seorang pria bernama Danang. Saat itu tubuhnya ditemukan tergeletak di pinggir jalan tidak jauh dari rumahnya.


Untuk mencapai rumah Danang, Raja Satria dan Ratu Gita harus melewati hutan yang ditumbuhi pepohonan birch yang batangnya ramping dan berwarna putih. Pohon-pohon itu terlihat bagaikan sekumpulan gadis-gadis desa yang sedang menari.


Genangan rawa-rawa terlihat diantara rerumputan dibawah pepohonan birch itu. Raja Satria dan istrinya harus berhati-hati memacu kudanya agar binatang itu tidak tergelincir di kubangan yang menghadang hampir di sepanjang jalan.


"Kurasa kita sudah hampir sampai. " Raja Satria memperlambat laju kudanya saat melihat papan nama desa bertuliskan Yaselda terpancang pada tiang besi yang agak berkarat di pinggir jalan.


"Syukurlah..." Ratu Gita menyeka keringat yang membasahi lehernya dengan sapu tangan.


"Apa kau lelah, sayang? " Raja Satria mendekati istrinya.


"Aku agak lelah, tapi kita tidak bisa berhenti di rawa-rawa seperti ini 'kan? " Ratu Gita memaksakan diri untuk tersenyum agar suaminya tidak cemas.


"Kalau begitu kita lanjutkan ya? "


Ratu Gita mengangguk dan kembali memacu kudanya lebih kencang sambil menghindari kubangan.


Byuuur!


Tiba-tiba terdengar ceburan air yang agak kencang. Raja Satria dan Ratu Gita segera menarik kekang untuk menghentikan kuda mereka.


"Apa itu tadi? " Ratu Gita berseru kaget.

__ADS_1


Mereka berdua segera mengedarkan pandangan ke segala arah. Namun tidak ada sesuatupun yang terlihat mencurigakan. Suasana sangat hening.


"Mungkin itu hanya berang-berang atau musang. Mereka biasa mendiami daerah rawa seperti ini." Ucap Raja Satria setelah beberapa waktu.


Hal itu cukup menenangkan hati Ratu Gita yang gugup. Kasus pembunuhan yang sedang mereka tangani, mau tak mau membuat wanita itu lebih waspada.


Kemudian mereka kembali meneruskan perjalanan dan tak lebih dari 15 menit, mereka sampai di sebuah kawasan pemukiman yang berada di sebuah lahan terbuka di kaki bukit.


Rumah-rumah itu terbuat dari kayu birch dan beratapkan jerami kering. Mereka melihat daun tanaman nettle yang diletakkan diatas setiap pintu untuk menghalau roh jahat.


"Kenapa di sini sepi sekali? " Ratu Gita merasa agak aneh dengan suasana desa yang sunyi. Sejak tadi, mereka belum bertemu dengan satupun warga desa.


"Ayo kita ke rumah itu! " Raja Satria menunjuk sebuah rumah terdekat yang cerobong di atapnya mengepulkan asap.


Raja Satria turun dari kudanya diikuti oleh istrinya. Mereka berjalan melewati jalanan berbatu dan memasuki halaman yang ditumbuhi semak-semak mawar.


Tok.. tok.. tok..!


Raja Satria mengetuk pintu kayu dengan mengetuk-ngetukkan besi berbentuk setengah lingkaran yang menempel di pintu. Door knocker itu berbentuk kepala rusa.


Kriieeet..


Suara engsel berkarat terdengar setelah beberapa waktu. Kemudian pintu dibuka dari dalam lalu muncul seorang pria tua yang rambutnya sudah memutih seluruhnya. Wajah keriput pria itu agak merah dan berbintik-bintik.


"Anda mencari siapa? " Suara khas orang tua menyapa dengan ramah.


Pria tua itu mengangguk-angguk sambil melirik sekilas ke arah Ratu Gita yang berdiri di belakang suaminya. Kemudian pria itu menyilakan mereka masuk.


"Apa yang ingin kalian ketahui? " Tanya pria itu sambil duduk di kursinya.


*****


Petir masih menyambar-nyambar di luar sana. Puteri Elok duduk bersandar di ranjangnya sambil menunduk. Dia tidak menyadari pintu kaca yang menghubungkan kamarnya dengan halaman telah terbuka. Terdapat jejak-jejak kaki yang basah di lantai kamarnya.


Wanita itu memeluk lengannya ketika merasakan udara yang semakin dingin. Ketika dia bermaksud untuk menarik selimutnya, tiba-tiba dia melihat air menetes-netes membasahi selimutnya. Ada seseorang yang sedang berdiri dengan tubuh basah kuyup.


"Kau? " Wajah Puteri Elok mendadak pucat begitu mendongak ke atas dan melihat orang yang berdiri di sebelahnya.


Dia adalah pria yang pernah dijumpainya di padang rumput Masserjarvi. Pria itu menatapnya dengan intens, hampir mengintimidasi.


Bibirnya tersenyum manis, namun Puteri Elok mengetahui bahwa dibaliknya ada taring-taring yang siap mencabik mangsanya.


"Ikutlah aku! " Pria itu mengulurkan tangannya.


"Kenapa kau terus mengikutiku? Tidak cukupkah kau membunuh pengasuhku? " Suara Puteri Elok keluar dari luapan emosinya.


"Aku akan menyayangimu dan merawatmu." Suaranya begitu manis dan memikat.


"Aku tidak mau! Aku sangat membencimu! "

__ADS_1


Kepala wanita itu menggeleng. Masih segar dalam ingatannya bagaimana pria itu membunuh pengasuhnya dengan brutal.


"Aku mencintaimu, kau sudah kutandai sebagai pasanganku." Kata-katanya terdengar tegas dan pantang menyerah.


"Aku sudah memiliki pasangan! " Bantah wanita itu.


"Aku adalah satu-satunya pasanganmu! " Pria itu sama sekali tidak goyah.


"Aku tidak mau! " Wanita itu merasa sangat ketakutan.


"Aku tidak butuh persetujuanmu. "


"Jangan! " Teriak Puteri Elok saat pria itu berusaha meraih tangannnya. Dengan gesit wanita itu berguling ke sisi ranjang yang lain.


Puteri Elok berdiri di seberang ranjang dengan tubuh gemetar hebat. Persendiannya terasa lemas dan jantungnya berdetak melampaui kecepatan normal.


"Bagaimanapun juga kau tetap akan ikut denganku. "


Tiba-tiba pria itu melompati ranjang besar di depannya dan mendarat tepat di hadapan Puteri Elok. Pria itu mendekatkan wajahnya pada wajah Puteri Elok dan mengendusnya.


"Aku akan menghapus aroma laki-laki yang menempel pada tubuhmu! " Suaranya terdengar marah.


"Kau tidak boleh menghapusnya, itu adalah aroma pasanganku."


Dengan lembut disentuhnya lengan Puteri Elok dengan jari-jarinya yang basah tanpa menghiraukan penolakan wanita itu. Tubuh pria itu semakin dekat dan menempel pada tubuh Puteri Elok.


Secara naluriah Puteri Elok seakan tahu apa yang ingin dilakukan pria itu padanya. Namun entah mengapa tubuh wanita itu tidak merespon perintah otaknya untuk menjauh. Dia hanya berdiri mematung membiarkan pria itu menyentuhnya.


Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Puteri Elok. Jarak bibir pria itu sekarang sangat dekat dengan bibir Puteri Elok. Wanita itu memejamkan matanya dan berpikir bahwa ciuman pertamanya akan direnggut oleh seorang makhluk buas.


"Lepaskan calon istriku! " Sebuah teriakan keras membuat Puteri Elok membuka matanya.


Tiba-tiba tubuh pria itu terlempar dan menghempas tembok. Dilihatnya Pangeran Gaurav sudah berdiri di hadapannya dengan wajah terbakar amarah. Urat-urat di lehernya terlihat menonjol dan giginya bergemeretak.


"Kau tidak apa-apa? "


Telapak tangan Pangeran Gaurav yang besar menangkup wajah Puteri Elok. Matanya memindai wajah wanita itu dengan cermat.


"Aku baik-baik saja." Puteri Elok menjawab dengan bibir bergetar.


Pangeran Gaurav melepaskan pegangannya pada wajah Puteri Elok. Kini Pangeran Gaurav berbalik dan berhadapan dengan pria asing yang basah kuyup itu.


"Jangan sentuh wanitaku! " Suara pria asing itu mengandung ancaman.


"Wanita ini bukan milikmu! " Pangeran Gaurav menjawab dengan geram.


"Mari kita buktikan dengan pertarungan! " Pria asing itu melemparkan tantangan.


Pangeran Gaurav bukanlah pria yang takut menerima tantangan. Tanpa ragu Pangeran Gaurav mengiyakannya.

__ADS_1


__ADS_2