Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 102 Tentang Kepercayaan


__ADS_3

Budak-budak wanita berbaris menuju sel yang berada di sisi lain tempat itu. Sel itu berupa ruangan yang tidak terlalu luas yang diisi oleh budak-budak wanita yang jumlahnya melebihi kapasitas. Jadi mereka tidak bisa berbaring atau bahkan hanya menjulurkan kakinya.


Dengan kaki tertekuk, Puteri Juwita duduk sambil bersandar di tembok. Tangan kanannya menggenggam erat jeruji besi yang terasa dingin di telapak tangannya.


Hidupnya selama dua hari ini seakan jungkir balik. Dia bahkan hampir lupa bagaimana rasanya menjadi dirinya yang dulu, dirinya sebelum semua ini terjadi.


Dua orang penjaga datang membawakan roti dan air. Roti itu bahkan hanya mereka lemparkan seolah memberi makan binatang. Wanita-wanita itu berebut roti karena belum makan sejak pagi.


Puteri Juwita menerima rotinya yang diberikan oleh salah satu penjaga yang berjongkok di depannya. Mata lelaki itu menyusuri seluruh tubuh Puteri Juwita seolah ingin menelanjanginya.


Puteri Juwita menyambar roti dengan cepat dan segera bergeser menjauh sebisanya karena lelaki itu berusaha menyentuh tangannya. Penjaga itu merasa tersinggung dengan sikap gadis itu. Tangannya menerobos sel dan menarik rambut Puteri Juwita sehingga gadis itu merintih kesakitan.


"Hahaha.. Jangan menakutinya Oleg. Dia adalah barang berkualitas istimewa, jangan sampai rusak! " Penjaga yang satunya lagi menepuk pundak temannya agar melepaskan tangannya dari rambut gadis itu.


Dengan pandangan menghina penjaga yang bernama Oleg itu melepaskan cengkeramannya di rambut Puteri Juwita.


"Sebentar lagi tubuhmu pun akan digerayangi oleh orang yang membelimu. Berharaplah orang itu lebih baik dariku, meskipun mayoritas pembeli adalah orang mesum yang kejam. Mereka akan membuatmu melakukan hal-hal yang bahkan tidak pernah kau bayangkan! " Oleg pergi setelah mengatakan hal mengerikan itu.


Puteri Juwita menggigit rotinya tanpa minat meskipun perutnya lapar karena belum makan selama dua hari. Tubuhnya menggigil ketakutan. Meskipun dia berusaha tegar, namun tubuhnya tetap bereaksi sebaliknya.


"Apakah kita tidak bisa melarikan diri? " Tiba-tiba Puteri Juwita berbicara tanpa sadar.


"Apa kau tidak tahu bahwa budak yang tertangkap setelah ketahuan berusaha kabur akan dibunuh? " Seorang wanita di sebelahnya menjawab.


"Jangan coba-coba melakukan hal-hal bodoh. Jika sampai ketahuan, bukan hanya kau saja yang celaka. Kami juga akan menerima getahnya! "


Puteri Juwita tidak menjawab, pikirannya melayang jauh. Membayangkan seseorang akan datang menyelamatkannya. Tapi, bukankah tak ada seorangpun yang tahu keberadaannya? Mungkin, hanya Sari yang tahu. Tapi mustahil gadis itu akan berkata jujur dan mengakui kejahatannya.


Pengalaman pertamanya memiliki teman telah berbuah penghianatan. Mungkin jika nanti dia diberi kesempatan untuk bebas, dia tak akan begitu saja mempercayai seseorang.


*****


Eldrige duduk dengan tenang di hadapan tiga orang gadis yang selama ini dekat dengan Puteri Juwita. Dia adalah seorang peri yang memiliki indera yang lebih peka. Dia mampu mengendus kedengkian manusia.


Ketiga gadis itu terlihat lemah dan ketakutan. Namun Eldrige tidak akan terkecoh hanya dengan penampilan mereka.


"Jadi kalian benar-benar tidak tahu dimana Juwita sekarang? " Eldrige memulai pertanyaannya.


"Kami tidak tahu, Tuan Eldrige! " Mereka bertiga menjawab dengan kompak.


"Apakah kalian tidak pernah berpikir untuk mencari teman kalian setelah terpisah? " Pertanyaan itu beberapa kali melintas di kepala Eldrige.


"Kami sangat ketakutan, Tuan Eldrige. Hal itu tak sempat kami pikirkan." Jawab Sari, gadis itu terlihat sangat sedih.


"Begitukah? " Tanya Eldrige memendam curiga.


Sari mengangguk dengan menunjukkan wajah polos. Sedangkan kedua temannya terlihat ketakutan karena merasa bersalah.


Kini Eldrige menatap Ratri dan Sapna. Pria itu berbicara dengan suara lembut yang mampu membuai lawan bicaranya.


"Apa kau mengenal Juwita? "


"Ya, saya mengenalnya. " Ratri menjawab dengan lega karena pertanyaan itu tidak sulit.


"Maksudku, apa kau tahu siapa orang tuanya?"


Sapna menggeleng, kali ini dia mulai merasa tidak nyaman. Dia takut Eldrige akan mengajukan pertanyaan jebakan. Sari sudah berkali-kali memperingatkannya.

__ADS_1


"Tidak, dia tidak pernah bilang. " Jawabnya dengan jujur.


"Menurutmu, kenapa Juwita tidak memberitahu kalian? "


"Mungkin karena dia malu! " Sari cepat-cepat menyela.


"Malu? Kenapa dia harus malu? " Dahi Eldrige berkerut karena merasa aneh.


"Kurasa dia malu karena ayahnya hanyalah bangsawan biasa yang memiliki jabatan rendah." Ucapan Sari yang lancang sontak membuat Eldrige menaikkan alisnya, hal yang sangat jarang dilakukannya.


"Jadi menurutmu begitu? " Eldrige tersenyum, seolah menertawakan Sari.


Ratri dan Sapna yang melihat hal itu menjadi waspada, namun Sari malah merasa itu adalah kesempatannya untuk menarik perhatian Eldrige.


"Maaf jika saya menyinggung anda, Tuan Eldrige! Saya tahu anda adalah pegawai yang bekerja pada ayah Juwita. Namun saya curiga jika Juwita tidak dididik dengan benar sebelum dibawa kemari." Mulut gadis itu benar-benar berbisa sehingga membuat Eldrige merasa muak.


"Kenapa kau bisa mengatakan hal seperti itu tentang temanmu sendiri? " Eldrige menyimpan kemarahannya karena gadis yang dicintainya dihina di depannya.


"Mungkin anda tidak tahu, Tuan Eldrige. Tapi Juwita sering memasukkan laki-laki ke kamarnya saat Ningrum tidur! " Sari mulai memfitnah Puteri Juwita.


"Darimana kau tahu hal itu? " Suara Eldrige masih lembut namun kedua tangannya terkepal kencang.


"Sapna pernah bilang bahwa dia sempat melihat seorang pria di kamar Juwita ketika dia mengantarkan kue ulang tahun." Ucapan Sari mengingatkan Eldrige pada malam itu, ketika dia mengunjungi Juwita.


"Benarkah itu? " Pandangan Eldrige kini tertuju pada Sapna.


"Benar, Tuan Eldrige! " Jawab Sapna dengan jujur.


"Apakah kau mengenali laki-laki itu? "


Gadis itu cepat-cepat menggeleng, " Saya tidak melihatnya dengan jelas. "


"Tapi Sari, Juwita waktu itu tidak yakin apakah itu nyata atau hanya mimpi! " Sela Sapna, dia merasa tidak rela karena dari tadi Sari terus merendahkan Juwita. Gadis yang sama sekali tidak bersalah pada mereka.


"Kau tidak tahu saja kenapa Bagaskara menghilang saat berkunjung ke sekolah! Aku melihatnya sedang berduaan dengan Juwita di kelas! " Suara Sari agak bergetar karena dilanda cemburu dan kebencian.


"Lalu kenapa kalau mereka berduaan di kelas? Semua orang juga melakukan hal yang sama, kau sendiri menempel pada Erik temannya Baskara! " Sapna membentak Sari. Namun tiba-tiba gadis itu menutup mulutnya dengan tangan begitu melihat Sari memelototinya.


"Maaf." Sapna segera menunduk seolah takut pada Sari.


Eldrige agaknya mulai memahami situasi ini. Sari adalah seorang gadis yang suka mengintimidasi temannya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana bisa Puteri Juwita berteman dengan gadis seperti itu.


"Apa ada hal buruk lagi yang kau ketahui tentang Juwita? " Pancing Eldrige.


Sari tersenyum senang karena mengira Eldrige mempercayai kebohongannya.


"Selama pertandingan Baggata, berkali-kali Juwita menggoda Bagaskara. Namun karena setelah itu terjadi peristiwa yang mengerikan, saya sempat melupakannya. Dan sekarang saya ingat, saat saya menuju sekolah, saya melihatnya sedang berduaan dengan Bagaskara! " Wajah gadis itu terlihat sangat senang.


"Bukankah kau mengatakan bahwa kau sama sekali tidak bertemu Juwita setelah pertandingan? "


"Saya barusan mengatakan pada anda bahwa saya lupa dan baru teringat sekarang! " Gadis itu meskipun terdesak, masih saja berkelit


"Baiklah, akan aku ulangi pernyataanmu tentang Juwita. Juwita adalah seorang gadis yang berasal dari keluarga bangsawan biasa. Ayahnya adalah seorang pegawai rendahan. Juwita sering memasukkan laki-laki ke kamarnya. Juwita menggoda seorang pemain Baggata bernama Bagaskara. Setelah dari stadion kau melihatnya bersama Bagaskara. Apakah perkataanku benar? "


"Benar! Dan saya rasa, sekarang Juwita sedang bersama Bagaskara! " Gadis itu tersenyum licik. Dia merasa puas telah merusak reputasi gadis itu.


"Begitu ya? " Eldrige mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum sinis. Eldrige bahkan tidak menyadari bahwa dia bisa memiliki ekspresi sinis seperti itu.

__ADS_1


"Aku ingin memberi tahu kalian sesuatu! " Eldrige masih berbicara dengan lembut dan tenang.


"Aku telah mengenal Juwita sejak bayi, bisa dibilang aku ikut membesarkan gadis itu. Benar aku bekerja untuk ayahnya.. " Mata Eldrige menatap mata Sari yang sedang memperhatikannya.


"Tunggu, apakah kalian mengira aku adalah bangsa Elfian? " Tiba-tiba Eldrige membuyarkan konsentrasi mereka.


"Apakah kau bukan bangsa Elfian? " Tanya Sapna.


"Aku adalah seorang peri, sama seperti ibu asrama kalian." Perkataan Eldrige membuat mereka melongo. Mereka bertiga saling berpandangan.


"Kalian mungkin tidak percaya karena belum pernah bertemu dengan peri sebelumnya. Karena itu aku akan memperkenalkan diriku. Aku adalah Eldrige dari Kerajaan Peri Lucshire, aku berada di istana Elfian sebagai Guardian." Eldrige memperhatikan raut ketiga gadis itu yang mulai tegang.


"Apa kalian bisa menebak untuk siapa aku bekerja? " Tanya Eldrige dengan santai.


"Raja? " Tebak Ratri.


"Benar. Aku mengabdi pada raja-raja penguasa Elfian sejak tiga ratus tahun yang lalu! " Mata ketiga gadis itu semakin melebar mendengar penjelasan Eldrige.


"Dan jika Juwita mengatakan bahwa aku adalah pegawai ayahnya, apa kalian bisa menebak siapa sebenarnya ayah Juwita? " Kali ini Eldrige bertanya dengan mimik serius.


"Raja? " Ratri kembali menebak, namun suaranya kini bergetar.


"Benar. Ayah Juwita adalah seorang Raja. Juwita adalah Puteri dari Kerajaan Elfian, satu-satunya penerus dari Raja Satria." Kini Eldrige bisa melihat wajah ketiga gadis itu berubah pucat.


"Tahukah kalian jika Raja Sagar adalah paman dari Puteri Juwita? Saat ini Raja Sagar sudah mengerahkan pasukannya untuk mencari Puteri Juwita. Menurut kalian, apa yang akan terjadi pada orang yang sengaja memfitnah dan mencelakai keponakan raja? " Pertanyaan Eldrige membuat mereka menggigil ketakutan.


"Ampuni kami, Tuan Eldrige! " Tiba-tiba Sapna berlutut di depan Eldrige.


"Apa kau sudah menyadari kesalahanmu? "


"Maafkan saya, Tuan. Saya terpaksa bungkam karena takut keselamatan nyawa saya terancam. Tapi saya sama sekali tidak terlibat!" Ucap gadis itu dengan tubuh gemetar.


"Sapna, apa yang kau katakan? " Teriak Sari.


"Kau! Kaulah yang selalu menghasut kami untuk membenci Juwita. Kau juga yang menyerahkannya pada pedagang budak! Kami hanya memergokimu dan kau malah mengancam kami! " Sapna menunjuk-nunjuk Sari dengan penuh amarah.


"Apa? Berani-beraninya kau menjual temanmu sendiri! Berani-beraninya kau menyerahkan Puteri Juwita kepada pedagang budak! " Eldrige berteriak keras. Rasanya saat ini Eldrige mampu meremukkan leher Sari dan melempar mayatnya. Namun dia masih perlu mengorek keterangannya.


"Itu tidak benar, Tuan, Eldrige! Mereka memfitnahku! " Tanpa terasa air mata mulai menggenangi pipinya.


Eldrige berjalan mendekati Sari, aura dingin dan mengintimidasi seolah memancar dari tubuh pria itu. Eldrige kini terlihat mengerikan.


"Apakah kau ingin kutunjukkan bagaimana aku menggunakan kekuatanku? " Mata Eldrige yang berwarna merah terlihat membara. Sari menelan ludah karena dilanda ketakutan. Gadis itu tanpa sadar menggelengkan kepalanya.


Eldrige mengangkat telunjuknya dan menyebabkan tubuh Sari terangkat dan melayang di udara.


"Aaaaakh!


Gadis itu menjerit ketakutan. Namun Eldrige belum merasa puas. Dia kembali menggerakkan jarinya sehingga tubuh Sari terjungkir-balik. Gaunnya yang panjang merosot menutupi kepalanya. Kakinya yang telanjang terekspos.


Eldrige kemudian membuat tubuh gadis itu berputar-putar di udara beberapa kali. Kemudian saat Eldrige menarik kembali jarinya secara tiba-tiba, tubuh gadis itu terhempas jatuh ke lantai dengan suara keras.


Bruk!


Kedua temannya terbelalak ketakutan melihat hal itu. Mereka bahkan tidak yakin apakah Sari saat ini masih hidup.


Namun nyatanya gadis itu terbangun dan duduk di lantai dalam kondisi mengenaskan, tubuhnya lebam dan beberapa tulangnya patah. Sari muntah-muntah di lantai dan mengotori gaunnya sendiri.

__ADS_1


"Yang masih ingin selamat, datanglah pada Nona Sekar dan ceritakan kejadian yang sesungguhnya! Jangan sampai aku bertemu kalian lagi!" Setelah mengucapkan kalimat ancaman itu, Eldrige langsung meninggalkan ruangan itu.


__ADS_2