Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 138 Pencarian Eldrige


__ADS_3

Matahari sudah condong ke barat ketika Eldrige memasuki kota Otep. Meskipun tak seramai ibukota Alsatia namun kota ini sangat indah. Letaknya yang berada di perbukitan dekat laut membuat kota itu memiliki pemandangan alam yang spektakuler.


Eldrige memacu kudanya menuju pasar Kevad. Tempat itu masih terlihat ramai meskipun senja telah menjelang.


Setelah menambatkan kudanya, Eldrige segera berjalan menembus keramaian pasar. Dengan mengandalkan petunjuk yang samar, Eldrige menanyai seluruh pedagang tanaman obat yang dijumpainya.


"Saya pernah melihat gadis dengan ciri-ciri yang seperti anda sebutkan, Tuan. " Kata seorang pedagang saat Eldrige bertanya.


"Meskipun dia memakai pakaian lelaki, namun kecantikannya sama sekali tidak memudar. Gadis itu memiliki wajah yang tidak mudah dilupakan. " Kata-kata pedagang itu benar adanya dan Eldrige mengakui hal itu, namun mendengar pujian itu datang dari laki-laki asing membuat hatinya sedikit kesal.


"Di mana kau melihatnya? " Tanya Eldrige.


"Saya melihatnya di tempat Pak Gus. Gadis itu datang bersama salah satu pemasok tanaman obatnya. " Kata pedagang itu.


"Pak Gus? "


"Iya. Tempatnya ada di sebelah sana yang payungnya berwarna kuning. " Pedagang itu menunjuk ke arah depan. "Anda harus segera ke sana karena Pak Gus biasanya pulang sekitar waktu ini."


"Terima kasih. " Eldrige segera pergi ke tempat Pak Gus.


Lelaki itu sedang membereskan dagangannya ketika Eldrige datang. Dengan mata menyipit dari balik kacamatanya, Pak Gus memandang Eldrige dengan heran.


"Apa anda mencari sesuatu, Tuan? " Tanya Pak Gus.


"Saya ingin menanyakan sesuatu. " Kata Eldrige, sepasang mata merahnya yang mencolok membuat Pak Gus merasa agak gugup.


"Apa kau ingat pada seorang gadis Elfian berambut perak bersama salah satu pemasok tanaman obatmu? " Tanya Eldrige langsung.


"Gadis Elfian? Maksud anda, adiknya Bagas? " Pak Gus memang sempat merasa aneh saat Bagas memperkenalkan gadis itu sebagai adiknya.


"Bagas? "


"Itu adalah nama pemasok tanaman obat saya. "


"Kalau gadis itu? "


"Namanya Juwita, saya masih ingat betul. Dia sangat cantik, bahkan untuk ukuran bangsa Elfian. Eh, saya bisa mengetahuinya karena saya sering bepergian ke wilayah Kerajaan Elfian untuk memasok tanaman obat." Pak Gus menatap Eldrige dengan takut-takut.


Dia belum pernah bertemu orang seperti lelaki di hadapannya itu. Meskipun fisiknya mirip seperti bangsa Elfian namun dia yakin bukan.


"Apa kau tahu mereka ada di mana? "


"Setahu saya, Bagas tinggal di hutan. Dia biasanya rutin mengirimi saya tanaman obat, tapi entah kenapa sudah lama dia tidak datang. "


"Apa anda mengingat percakapan kalian waktu itu? Siapa tahu bisa dijadikan petunjuk."


"Saya ingat waktu itu menyuruh Bagas untuk membelikan adiknya pakaian karena gadis itu memakai pakaian Bagas. " Kata Pak Gus.


"Di mana letak toko pakaian? "


"Anda akan menemukannya di sekitar pintu masuk pasar. Banyak sekali toko pakaian di sepanjang jalan, namun sepertinya sekarang mereka sudah tutup. "


"Baiklah, terima kasih. " Eldrige segera pergi.


Tanda-tanda para pedagang sudah banyak yang digulung ketika Eldrige berjalan keluar. Di depan pasar, para petugas terlihat sedang menyalakan lilin pada tiang-tiang yang menyangga kotak kaca.

__ADS_1


Eldrige merasa kecewa karena pertokoan di sepanjang jalan telah tutup. Pencariannya malam ini harus terhenti.


*****


Puteri Juwita merasa senang melihat Bagas datang kembali bersama Tabib Bagio dan Ningrum. Mereka tampak kebingungan melihat penampilan Puteri Juwita. Tabib Bagio kemudian dipanggil untuk menghadap Raja Badre, sedangkan kedua anaknya menunggu di luar bersama Puteri Juwita.


"Kenapa lagi-lagi kau masuk ke dalam istana?" Bisik Ningrum.


"Aku juga tidak tahu, Ningrum." Jawab Puteri Juwita dengan jujur.


"Tapi ini mungkin adalah hal yang baik. Iya kan? Jika sewaktu-waktu ada utusan dari Alsatia datang, kita bisa mendapatkan perlindungan. " Bagas ikut berbisik.


"Kakak benar. Itu juga yang kupikirkan. " Kata Puteri Juwita.


"Tapi.. apakah kalian bersedia tinggal di sini bersamaku? " Puteri Juwita terlihat cemas.


"Kami terserah ayah saja. Tapi aku masih trauma berurusan dengan pihak istana. " Kata Bagas.


"Bagaimana denganmu, Ningrum? " Pandangan Puteri Juwita beralih pada Ningrum.


"Aku ingin menemanimu, Juwita. Aku tidak tenang meninggalkanmu sendirian di sini. Ya, meskipun mereka adalah keluargamu sendiri tapi aku tahu kau pasti masih merasa asing." Ningrum bisa merasakan kecemasan sahabatnya.


"Terima kasih." Puteri Juwita menggenggam erat tangan Ningrum.


"Kudengar kau memiliki seorang sepupu yang sangat cantik? " Ningrum mengerling ke arah Bagas.


"Uhuk.. uhuk.. " Bagas terbatuk-batuk.


"Iya, namanya Pertiwi. Dia memang cantik sekali." Kata Puteri Juwita.


"Juwita, rupanya kau di sini? Aku mencarimu kemana-mana. " Senyum lebar gadis itu sungguh memukau. Deretan giginya yang putih dan berjajar rapi membuat wajahnya tampak bersinar.


"Aku sedang menunggu Tabib Bagio yang sedang menghadap Raja. " Kata Puteri Juwita.


"Oh, kuharap Tabib Bagio tidak keberatan kau tinggal di sini. " Puteri Pertiwi kembali tersenyum.


"Oh iya, Pertiwi. Kenalkan ini sahabatku namanya Ningrum. " Puteri Juwita memperkenalkan sahabatnya.


"Halo, Ningrum. Terima kasih kau sudah mendampingi sepupuku selama ini. Semoga kita juga bisa berteman. " Kata Puteri Pertiwi dengan ramah.


"Dan dia, Bagas, kakaknya Ningrum. Kau masih mengingatnya kan? "


"Tentu saja aku mengingatnya. " Puteri Pertiwi memandang Bagas, senyumnya kini tampak malu-malu. Semburat kemerahan mewarnai pipinya yang kecoklatan.


Mereka berdua saling bertatapan. Untuk sesaat udara terasa lebih hangat. Seolah ada suatu energi yang tiba-tiba melingkupi mereka.


"Ehem! " Ningrum berdehem seolah tenggorokannya gatal. Hal itu memutus tatapan keduanya dan udara kembali terasa normal.


Bersamaan dengan itu pintu di depan mereka terbuka. Tabib Bagio berjalan keluar dengan wajah cerah.


"Bagaimana, Ayah? " Kejar Ningrum.


"Raja Badre mengizinkan ayah tetap membuka Balai Pengobatan di desa Kulm. Meskipun beliau sempat menawarkan tempat di istana, namun beliau bisa mengerti keputusan ayah ini. " Ucap Tabib Bagio.


"Ningrum akan tinggal di sini bersamaku, apa paman keberatan? " Tabib Bagio agak terkejut mendengar Puteri Juwita kembali memanggilnya paman, namun pria itu segera mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tentu saja, Tuan Puteri. "


"Panggil saja, Juwita. Seperti biasa. " Puteri Juwita menatap Tabib Bagio dengan perasaan sesak.


Bagaimanapun juga pria itu telah dianggapnya sebagai pengganti ayahnya. Namun untuk terus memanggilnya ayah jelas tidak mungkin. Istana Dewanata memiliki peraturan yang ketat. Nenek Divya sudah memperingatkan hal itu.


"Kami akan pulang sekarang. Kalian berdua baik-baiklah di sini. " Ucap Tabib Bagio.


Puteri Juwita dan Ningrum memeluk pria itu. Kemudian mereka mengantar Tabib Bagio dan Bagas ke pintu istana dimana sebuah kereta kuda berlapis emas telah menunggu.


"Ada yang ingin aku bicarakan pada kalian. " Puteri Pertiwi menatap Puteri Juwita dan Ningrum ketika kereta kuda telah pergi.


"Ada apa, Pertiwi? " Tanya Puteri Juwita.


"Seorang pangeran akan datang untuk melamarku! " Wajah gadis itu tampak cemas.


"Bukankah itu bagus? " Tanya Puteri Juwita.


"Tidak. Itu sama sekali tidak bagus. Aku tidak mau menikah dengan laki-laki yang tidak kucintai! " Kini Puteri Pertiwi terlihat panik.


"Apa kau sudah pernah bertemu dengannya? " Tanya Puteri Juwita lagi.


"Belum. Tapi aku tahu bahwa aku tak akan mencintainya. " Di saat seperti ini gadis bangsawan itu terlihat keras kepala.


"Kenapa? Kau bahkan belum melihatnya. "


"Karena.. " Gadis itu menarik napas dan menghembuskannya dengan berat. "Karena aku sudah jatuh cinta. Dengan Bagas! "


"Apa? " Puteri Juwita tersentak kaget. Sedangkan Ningrum tersenyum seakan telah mengetahuinya.


*****


Eldrige yang semalam tidur di sebuah penginapan, kini sudah berdiri di depan deretan toko. Perawakannya yang tinggi dengan rambut peraknya yang dikepang membuatnya terlihat mencolok.


Beberapa wanita yang lewat di dekatnya terlihat memandanginya dengan kagum. Namun pria itu tetap berdiri menunggu, seolah tidak menyadari pandangan wanita-wanita itu.


Ketika salah satu toko dibuka, Eldrige segera menghampiri. Dia segera menanyakan tentang kemungkinan mereka bertemu dengan Puteri Juwita.


"Mungkin saya tahu wanita yang Anda maksud, Tuan. Beberapa waktu yang lalu ada keributan kecil di toko kami karena pelayanan salah satu pegawai kami yang ceroboh." Seorang wanita pemilik toko menjawab pertanyaan Eldrige dengan sopan.


"Keributan kecil? "


"Pegawai kami itu rupanya telah menyinggung seorang pembeli yang ciri-cirinya seperti yang Tuan sampaikan. Dia menganggap pembeli itu tidak mampu membeli sebuah gaun yang kami pajang. Namun tiba-tiba saja seorang nona muda datang dan membayar gaun itu tapi sambil marah-marah. "


"Apa mereka saling mengenal? "


"Tampaknya begitu, Tuan. Nona muda itu menggandeng gadis yang Tuan maksud dengan sangat akrab. "


"Bagaimana penampilan nona muda itu? "


"Dia berpenampilan layaknya seorang gadis bangsawan. Tubuhnya agak.. ehm.. agak gemuk."


Wajah Eldrige mendadak tampak cerah. Dia langsung dapat menebak siapa nona muda yang dimaksud oleh wanita pemilik toko itu.


Eldrige memacu kudanya dengan cepat menuju ibukota Alsatia. Tujuannya sekarang adanya kediaman Tabib Bagio.

__ADS_1


__ADS_2