
Puteri Elok menunggangi seekor kuda putih dengan surai yang panjang, mengikuti Pangeran Gaurav dan Eldrige yang berkuda di depan. Wanita itu berusaha mengimbangi kecepatan berkuda kedua pria itu.
Saat melewati tebing yang menanjak dan agak curam, Puteri Elok mengarahkan kudanya dengan hati-hati. Eldrige tampak menunggu dan mengawasinya. Sedangkan Pangeran Gaurav berhenti agak jauh di ujung jalan.
"Hati-hati Tuan Puteri! " Ucap Eldrige.
Peri itu menyaksikan tumbuh kembang semua keturunan Kerajaan Elfian termasuk Puteri Elok, jadi Eldrige menyayangi wanita muda itu.
"Terima kasih, Eldrige. "
Puteri Elok kembali memacu kudanya dengan kencang setelah berhasil melewati jalanan yang curam. Pangeran Gaurav sekarang mengikuti di belakang.
Saat mereka tiba di sebuah desa yang sudah berada di luar wilayah Kerajaan Elfian, Puteri Elok meminta untuk beristirahat sejenak.
Wanita itu turun dari kudanya di luar sebuah kedai makan yang cukup ramai. Pengunjungnya mayoritas laki-laki yang berprofesi sebagai petani dan pekerja kasar.
Dengan gembira wanita itu melangkah memasuki kedai yang terlihat nyaman dan membiarkan Eldrige mengurus kudanya.
"Mau pesan apa, Nona? " Seorang pelayan wanita datang mendekat ketika Puteri Elok duduk di sebuah bangku di dekat pintu.
"Aku ingin menunggu teman-temanku dulu, bolehkah? "
"Tentu saja, sayang! " Pelayan itu tersenyum pada Puteri Elok.
"Oh, itu mereka! " Puteri Elok menunjuk Pangeran Gaurav dan Eldrige yang baru masuk.
"Hei, duduk di sini! " Puteri Elok memanggil sambil melambaikan tangannya.
"Jangan berteriak-teriak seperti itu. Kau harus tetap bersikap sopan meski tidak berada di lingkungan istana. " Tegur Pangeran Gaurav ketika sudah sampai.
"Sudah siap memesan? " Pelayan itu kembali bertanya dengan ramah.
"Aku pesan Assyrtix dan kue kismis. " Puteri Elok menyebutkan pesanannya.
"Masih siang jangan minum alkohol! Lagipula kita masih dua jam lagi menempuh perjalanan." Kata Pangeran Gaurav.
"Tapi itu hanya alkohol ringan yang dicampur air! "
"Kau ini gadis muda, apa selama di sekolah kau diajarkan untuk minum-minum di siang hari? "
Puteri Elok hanya diam.
"Berikan dia jus jeruk dan sup ayam. Jangan lupa tambahkan potongan roti! " Perintah Pangeran Gaurav pada pelayan itu.
"Apa kau juga akan memesankan menu makan siangku? " Tanya Eldrige sambil tersenyum menyindir.
"Apakah kau percaya pada seleraku, Tuan Eldrige? Jika iya, aku akan memesankanmu sup ikan dan Boza."
"Tidak, Terima kasih. Aku lebih baik minum air saja daripada minum susu basi! " Wajah peri itu terlihat jijik.
"Hahaha" Pangeran Gaurav menertawakan Eldrige.
__ADS_1
"Jangan khawatir, kami tidak menyediakan minuman itu. " Pelayan wanita itu mengedipkan matanya pada Eldrige.
"Aku mau sup ikan dan teh." Eldrige menyebutkan pesanannya.
"Bagaimana denganmu Tuan Tampan? " Pelayan beralih pada Pangeran Gaurav.
"Bawakan aku dendeng dan kentang goreng. "
"Bagaimana dengan minumannya? "
"Bir." Ucap Pangeran Gaurav membuat mata Puteri Elok mendelik.
"Baik, saya sudah mencatat semua. Silakan ditunggu. " Pelayan itu berlalu.
Puteri Elok melepaskan mantelnya dan menyampirkannya di punggung kursi. Wajahnya yang cantik dan rambutnya yang coklat berkilau terlihat sangat mencolok di kedai itu. Beberapa pria di ruangan itu mulai memandanginya penuh hasrat.
Pangeran Gaurav yang menyadari hal itu segera berdiri dan menyampirkan mantelnya di atas kepala Puteri Elok sampai wajah wanita itu tertutup.
"Apa yang kau lakukan? " Wanita itu menyingkirkan mantel dari atas kepalanya.
"Kau tidak melihat orang-orang itu memandangimu seperti serigala kelaparan? "
"Biarkan saja. Mungkin mereka tidak pernah melihat wanita secantik aku." Puteri Elok melepas mantel milik Pangeran Gaurav dan melemparnya ke tubuh calon suaminya itu.
"Terserah padamu." Pangeran Gaurav terlihat kesal.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Mereka menikmati makanan dalam diam. Sesekali Puteri Elok melirik Pangeran Gaurav dengan geram.
"Eldrige, roti ini enak." Puteri Elok menaruh dua potong roti di atas mangkuk Eldrige. Wanita itu sejak kecil akrab dengan Eldrige.
Pangeran Gaurav pura-pura tidak melihatnya dan menghabiskan makanannya.
Eldrige belum mengetahui perihal perjodohan mereka namun dia dapat merasakan aura ketegangan diantara mereka berdua.
"Aku ingin ke kamar kecil sebentar. "
Puteri Elok berdiri dengan anggun dan berjalan mendekati seorang pelayan untuk menanyakan kamar kecil.
"Kamar kecil ada di luar, Nona. Tepat di belakang kedai ini. Mari saya antarkan. "
Puteri Elok dan pelayan itu menghilang di balik pintu. Tak lama kemudian beberapa pria dengan gelagat yang mencurigakan berdiri dan berjalan melewati pintu itu.
Eldrige meremas serbetnya dengan geram kemudian berdiri. Dia berjalan mengikuti pria-pria itu. Firasatnya mengatakan bahwa mereka sedang berniat buruk pada Puteri Elok.
"Lepaskan! "
Terdengar suara teriakan seorang wanita. Eldrige cepat-cepat menghampiri arah suara. Dia membuka pintu belakang kedai dan langsung berada di halaman belakang yang ditumbuhi pepohonan dan tanaman liar.
Ada sebuah bangunan kecil terbuat dari kayu dengan pintu setengah terbuka. Rupanya itu adalah bangunan kamar kecil, namun Puteri Elok tidak ada di sana.
Eldrige mengedarkan pandangannya. Matanya yang tajam sempat melihat siluet orang yang menerobos rimbunan semak belukar. Dengan cepat Eldrige menuju ke tempat itu. Samar-samar dia mendengar suara beberapa pria tertawa.
__ADS_1
Dengan tangan sibuk menyibakkan ranting dan dedaunan, Eldrige berjalan cepat mengikuti jejak mereka. Dari jauh dilihatnya lima orang pria sedang mengitari Puteri Elok yang terduduk di tanah dan terlihat ketakutan.
"Kalian mau apa?" Wanita itu berteriak ketakutan. Gaunnya terlihat agak kotor dan sobek di beberapa bagian.
"Kami hanya ingin bermain denganmu sayang." Seorang pria berambut hitam panjang mendekat dan berjongkok di depan Puteri Elok.
"Pergi! " Pekik wanita itu.
"Kau adalah gadis tercantik yang pernah aku lihat, jadi aku ingin lebih mengenalmu. Boleh kan? " Seorang pria berjanggut tebal mengulurkan tangannya untuk menyentuh Puteri Elok.
"Tidak boleh! " Suara bentakan mengagetkan mereka.
Tiba-tiba pria itu tersungkur di depan kaki Puteri Elok. Di sana sudah berdiri Pangeran Gaurav yang tampak murka. Puteri Elok menangis ketika melihat Pangeran Gaurav datang menolongnya.
Sedangkan Eldrige mulai menendang seorang pria yang bermaksud menyerang Pangeran Gaurav dari belakang.
Bugh.. bugh..!
Pangeran Gaurav dan Eldrige mulai berkelahi dengan orang-orang itu. Dengan geram mereka memukul dan menendangi orang-orang yang berani menyentuh Puteri Elok.
Meskipun jumlah mereka lebih banyak, namun karena orang-orang itu hanyalah penjahat biasa maka dengan mudah kedua orang itu menggulung mereka.
Bugh.. sruuuk!
Orang-orang itu tersungkur ke tanah dengan wajah babak belur. Eldrige mengikat tangan dan kaki mereka dengan sulur-sulur tanaman rambat yang tumbuh liar.
"Sekarang minta maaflah padanya! " Kaki kanan Pangeran Gaurav berada di pundak salah satu pria itu.
"Maafkan kami, Nona! " Ucap mereka serentak.
Puteri Elok hanya diam sambil terisak. Wanita itu masih syok karena hampir dilecehkan oleh orang-orang itu.
"Sudah tidak apa-apa, Tuan Puteri! "
Eldrige menyampirkan mantelnya di tubuh Puteri Elok dan menutupi tubuhnya. Kemudian Eldrige membimbingnya berjalan meninggalkan tempat itu.
Tubuh Puteri Elok masih lemas gara-gara kejadian tadi. Eldrige membawanya masuk kembali ke dalam kedai dan memberinya minum.
Pelayan datang dan menanyakan keadaan Puteri Elok. Setelah Eldrige menceritakan kejadian tadi, pelayan itu melapor pada pemilik kedai.
"Maafkan kejadian tadi, Nona! Saya sudah melaporkannya pada pihak berwajib agar menangkap penjahat itu." Pemilik kedai, seorang pria botak bertubuh gendut datang menemui mereka.
"Tidak apa-apa." Jawab Puteri Elok dengan suara pelan dia ingin segera pergi dari tempat itu.
Dilepasnya mantel di tubuhnya dan mengembalikannya pada Eldrige. Kemudian dia memakai mantelnya sendiri.
"Aku ingin pergi sekarang. "
Puteri Elok berdiri dan berjalan keluar dengan langkah tertatih. Eldrige segera menopang tubuh wanita itu yang masih gemetar.
Pangeran Gaurav segera mengikuti mereka berdua setelah membayar tagihan. Meskipun pemilik kedai mengatakan bahwa mereka tidak usah membayar, namun Pangeran Gaurav tetap bersikeras membayarnya.
__ADS_1
Eldrige membantu Puteri Elok menaiki kudanya. Wanita itu terlihat lebih pendiam dari sebelumnya. Beberapa kali Pangeran Gaurav melihat Puteri Elok mengusap air mata di pipinya, hatinya sedikit trenyuh melihatnya.
Mereka berkuda agak lambat untuk menjaga Puteri Elok yang masih syok.