
"Lepaskan Juwita! "
Tubuh Eldrige ditarik ke belakang dan sebuah pukulan melayang ke wajahnya. Pria itu tersungkur. Darah menetes di sudut bibirnya.
Puteri Juwita menjerit melihat kejadian itu. Gadis itu berlari ke arah Eldrige dengan wajah cemas. Jari-jari lentiknya gemetar dan berusaha membersihkan darah di bibir Eldrige.
"Kau tidak apa-apa, Eldrige? " Tanya gadis itu.
"Juwita, jaga sikapmu! " Teriak Bagas.
Puteri Juwita menatap Bagas dengan pandangan nanar. Air matanya jatuh. Hatinya sangat sakit melihat Eldrige terluka, namun yang melukai Eldrige justru orang yang sudah dianggapnya kakak.
"Kak Bagas, tolong jangan pukul dia lagi." Kata Puteri Juwita ketika melihat Bagas datang dengan wajah merah.
"Kenapa kau malah membelanya, Juwita? Dia sudah berani menyentuhmu! " Bagas berusaha menekan amarahnya di depan gadis itu. Selama ini dia mengenal Puteri Juwita sebagai pribadi yang lembut dan agak tertutup. Dia tidak pernah melihat gadis itu berusaha menarik perhatian laki-laki manapun.
"Aku mengenalnya, Kak. Aku mengenalnya sejak kecil." Kata Puteri Juwita. Tanpa sadar tubuhnya terlihat berusaha melindungi tubuh Eldrige.
"Oh? " Bagas tertegun. Dia mengurungkan niatnya untuk kembali menyerang Eldrige.
"Tuan tidak apa-apa? " Eshwar datang membantu Eldrige berdiri. Pemuda itu kemudian menatap Bagas dengan sengit.
"Kenapa kau pukul tuanku? Apa salahnya? Dia kemari hanya untuk menjemput calon istrinya! " Eshwar berteriak marah.
Bagas terkejut, begitu juga dengan Puteri Juwita. Mereka semua memandang Eldrige.
"Calon istri? " Gumam Bagas.
"Calon istri tuanku adalah seorang puteri dari Kerajaan Elfian. Tentu saja andalah orangnya, Nona. " Eshwar kini menatap Puteri Juwita dengan kedua matanya yang bulat.
"Eldrige.. " Puteri Juwita menatap Eldrige dengan berbagai macam di dadanya.
"Sudah, Eshwar. Biar aku sendiri yang akan menjelaskannya. " Kata Eldrige sambil mengernyit kesakitan.
"Ayo bawa dia ke dalam. " Puteri Juwita menyuruh Eshwar. Matanya masih saja menyiratkan kecemasan.
Eshwar memapah Eldrige ke dalam rumah. Tabib Bagio terkejut melihat kedatangan Eldrige. Dia mengenalnya sebagai Guardian Kerajaan Elfian.
"Tuan Eldrige? " Tabib itu mengikuti Eldrige yang di bawa ke tempat tidur. Dia segera datang untuk memeriksa lukanya.
"Aku tidak apa-apa. " Tolak Eldrige ketika tabib itu hendak mengobatinya.
"Tapi.. Tuan terluka. "
"Aku menginginkan Juwita. " Ucap Eldrige.
"Baik.. baik, Tuan. Saya akan meminta Puteri Juwita untuk merawat Tuan." Tabib Bagio bergegas pergi, dia mengusir orang-orang yang berkerumun dan meminta Puteri Juwita untuk masuk dan merawat Eldrige.
Puteri Juwita datang dengan baskom berisi air. Gadis itu membersihkan luka Eldrige, kemudian mengolesinya dengan salep buatan Tabib Bagio.
Eldrige memegangi tangan Puteri Juwita. Wajahnya terlihat keruh.
"Siapa pemuda, Juwita? " Tanya Eldrige.
"Siapa? " Puteri Juwita tidak memahami maksud pertanyaan Eldrige.
"Pemuda tadi yang memukulku." Eldrige merasa kesal dengan pemuda yang memukulnya tadi karena sudah bersikap seolah-olah dia sudah sangat dekat dengan Puteri Juwita.
"Dia Bagas, kakaknya Ningrum. " Jawab Puteri Juwita.
"Apa hubunganmu dengannya? Kuharap selama kita berpisah kau tidak menjalin hubungan dengan lelaki lain. " Wajah Eldrige yang biasanya lembut kini terlihat keras. Rahangnya kaku menahan marah.
__ADS_1
"Kenapa kau berpikir seperti itu? Tidak cukupkah kau mengenalku, Eldrige? " Puteri Juwita merasa tersinggung.
"Atau..dia jatuh cinta padamu? " Eldrige merasakan emosi yang tidak pernah dirasakannya. Dadanya seakan disulut bara api.
"Tidak. Ya ampun, Eldrige! " Kening Puteri Juwita berkerut karena terkejut mendengar ucapan Eldrige. Pria itu seakan bukan Eldrige yang dulu dikenalnya.
Eldrige diam untuk meredakan emosinya. Dia sendiri tidak mengerti mengapa bisa bersikap seperti itu.
"Maaf, Juwita. " Pandangan Eldrige kini melembut.
Puteri Juwita mengangguk kemudian berdiri sambil mengangkat baskomnya.
"Nanti aku akan kemari lagi. Istirahatlah. " Gadis itu keluar meninggalkan Eldrige.
Eldrige menatap kepergian Puteri Juwita sampai gadis itu menghilang di balik pintu.
"Hah! " Eldrige mendesah frustrasi.
*****
Raja Gaurav mengambil jalan pintas melewati tebing yang mengitari gunung Lashio. Meski jalanan di sana cukup terjal dan diapit jurang yang curam, tapi itu adalah satu-satunya jalur tercepat menuju Kerajaan Watu Ijo.
Ketika mereka sudah menempuh setengah perjalanan, di depan sana mereka melihat sebuah batu besar yang menghalangi jalan. Batu itu sepertinya longsor dari atas gunung.
"Kita coba singkirkan! " Raja Gaurav turun dari kudanya dan mencoba menyingkirkan batu itu dari jalan.
Mereka berlima mencoba dengan segala cara untuk menggeser batu itu namun batu itu tidak bergeser seinci pun
Ketika mereka sedang bersusah payah berusaha menggeser batu itu, tiba-tiba suara bergemuruh datang dari atas. Batu-batu dengan berbagai ukuran meluncur menuruni lereng gunung dengan cepat.
Beberapa batu berukuran kecil terlempar saat mengenai permukaan yang menonjol, sedangkan yang berukuran besar terus menggelinding seperti lembing yang dilemparkan.
Semua orang berlari menjauh untuk menghindari serbuan batu-batu itu.
Batu berukuran besar menabrak batu yang berada di tengah jalan. Batu-batu itu menggelinding ke seberang dan jatuh ke dalam jurang. Batu-batu dengan ukuran lebih kecil masih menggelinding turun, namun tak lama kemudian semua itu berhenti.
"Untung batu itu bisa menyingkir. " Gumam Raja Gaurav sambil kembali naik ke punggung kuda.
Kuda-kuda mereka terus berlari ketika matahari mulai menggelincir ke punggung gunung. Langit berwarna lembayung dan beberapa kawanan burung terlihat melintas dengan berbagai formasi.
Aroma manis menghampiri penciuman mereka dan menarik mereka untuk mengamati dari mana datangnya. Selarik asap tipis mengepul ke angkasa, nampaknya ada seseorang yang tengah memanggang sesuatu.
Mereka turun dari kuda dan berjalan mendekat sambil menuntun binatang-binatang itu agar tidak mengagetkan siapapun yang ada di sana.
Semakin dekat mereka mulai mendengar percakapan beberapa orang. Di ujung sana, beberapa orang duduk mengelilingi api.
"Siapa kalian? " Seseorang tiba-tiba melompat di depan rombongan Raja Gaurav. Orang-orang yang mengelilingi api akhirnya berdiri dan memandang mereka dengan waspada.
"Kami bukan orang jahat. " Kata Raja Gaurav.
"Kalau tidak bermaksud jahat lalu kenapa kalian datang dengan mengendap-endap? " Tanya orang yang berdiri mencegat.
"Kalian jangan tidak sopan! Dia adalah Raja Gaurav, penguasa Kerajaan Watu Ijo! " Seorang dari prajurit Raja Gaurav berseru.
"Raja Gaurav? " Orang di yang mencegat mereka bergumam.
Salah satu orang yang berada di depan api segera datang mendekat.
"Gaurav? " Dia adalah seorang lelaki berpakaian biksu.
"Apa kau Guru Shani?" Tanya Raja Gaurav.
__ADS_1
"Gaurav.. Gaurav untunglah kau kemari. " Ucap orang itu.
Raja Gaurav berjalan mendekati orang itu karena penasaran mendengarnya memanggil hanya dengan namanya saja.
"Aku.. Ah, sudah lama kita tidak bertemu! "
"Guru Shani, kau mengenalku? "
"Tentu saja. Aku sangat mengenalmu. Bagaimana kabarmu sekarang? Dan Gita.. Bagaimana kabarnya? "
"Tunggu.. Kau..Pangeran Adya! " Raja Gaurav tercengang.
Bertahun-tahun mereka tidak bertemu semenjak calon putera mahkota Kerajaan Watu Ijo itu pergi untuk menjadi biksu.
"Sekarang namaku adalah Shani." Guru Shani tersenyum. Wajahnya teduh dan bijaksana.
Mereka kemudian berkumpul di depan api. Di sana kedua anak yang selama ini dicari oleh Raja Gaurav duduk sambil memanggang jamur.
Raja Gaurav menghampiri keduanya. Dengan hati-hati pria itu berjongkok di sebelah mereka.
"Apa kabar Lintang dan Wulan? Kalian masih ingat denganku kan? Aku Paman Gaurav. "
Kedua anak itu menatap Raja Gaurav. Sikap mereka seperti kelinci di hadapan serigala.
"Jangan takut, aku tidak akan menyakiti kalian. " Suara Raja Gaurav terdengar lembut dan dapat dipercaya.
"Kalian masih ingat padaku kan? " Tanya Raja Gaurav lagi dan mendapatkan anggukkan kedua anak itu.
"Kau adalah paman mereka? " Tanya Guru Shani.
"Istriku adalah kakak dari ayah mereka." Jawab Raja Gaurav.
"Bagus, berarti keputusanku tepat untuk membawa mereka padamu. " Guru Shani tampak lega.
"Sebenarnya, apa yang terjadi? " Tanya Raja Gaurav.
"Sebelum rombongan dari Kerajaan Alsatia datang membawa mereka, biara kami kedatangan seseorang. Kondisinya buruk dan mengenaskan. Orang itu ada di sana! " Guru Shani menunjuk orang yang tadi mencegat mereka.
"Dia bernama Darya. Dia dulunya bekerja di istana tapi sekarang menjadi seorang buronan. " Guru Shani mengambil napas sebentar. " Ketika para prajurit itu datang untuk menitipkan kedua anak itu, aku menolaknya. Lagipula salah satu dari mereka adalah perempuan. Kami yang tinggal di sana semuanya adalah laki-laki. "
"Mereka kemudian mengatakan bahwa anak-anak itu adalah putra-putri Raja Sagar. Saat itulah aku mulai menaruh kecurigaan dan bertanya pada Darya. "
Raja Gaurav menoleh ke arah Darya. Setelah mendengar namanya, dia teringat dengan perkataan warga desa di bawah sana.
"Aku pernah mendengar namamu disebut warga desa yang tinggal di kaki gunung. Apa yang menyebabkanmu menjadi buronan? " Raja Gaurav kini bertanya pada Darya.
"Saya adalah salah satu pengawal pribadi Raja Sagar. Saya bahkan berada di sampingnya saat beliau wafat. "
"Lalu kenapa sekarang kau malah menjadi buronan? " Raja Gaurav mengernyit heran.
"Karena saya tahu siapa yang membunuh Raja Sagar. Beliau tidak terbunuh oleh para Daemonie. Beliau dibunuh oleh para penghianat! " Darya berbicara dengan geram.
"Penghianat? " Wajah Raja Gaurav berubah tegang.
"Senjata yang membunuh Raja Sagar adalah panah yang dilepaskan oleh Jenderal Ito. "
"Jenderal Ito? Bukankah dia baru saja mendapatkan penghargaan sebagai pahlawan perang?" Informasi itu benar-benar mencengangkan Raja Gaurav.
"Saya berusaha bersembunyi dan menyelidiki Jenderal Ito. Ternyata dia adalah salah satu pengikut Pangeran Awang. Bahkan Jenderal Ito menyuruh beberapa penjahat untuk membunuh Ratu Akemi. "
"Kurang ajar! " Teriak Raja Gaurav. Kini dia sudah mengetahui rahasia dibalik kematian Raja Sagar dan Ratu Akemi.
__ADS_1
"Aku akan melindungimu di istanaku. Suatu saat nanti majulah menjadi saksi untuk melawan para penghianat itu. " Ucap Raja Gaurav dengan suara tegas.