
Raja Pelvis memandang ke arah Mayang yang sedang mengerahkan kekuatan cincin bermata safir. Gelombang energi yang sangat kuat meliputi sekitar mereka.
Cahaya biru kehijauan yang memancar ke angkasa itu perlahan-lahan surut dan turun kembali ke bawah kemudian menyelubungi seluruh tubuh Mayang.
"Aaakh! "
Wanita itu memekik kesakitan. Cahaya yang menyelubungi tubuhnya terasa bagaikan aliran listrik. Mayang kini berusaha melepaskan cincin itu dari jarinya.
"Kau jelas tidak tahu apa-apa tentang cincin itu. Kau pasti tidak tahu kalau seorang manusia berani mengenakan cincin itu dan menyalah gunakan kekuatannya maka jiwanya akan dikutuk? " Raja Pelvis menyeringai.
"Tidak usah menakutiku! Aku adalah manusia istimewa. Aku pasti bisa mengendalikan benda ini! "
Mayang masih berusaha melepaskan cincin itu, namun tampaknya cincin itu melekat kuat pada jarinya. Tubuh Mayang lama-lama bergetar hebat dan wanita itu berteriak kesakitan.
"Aaaaakh! "
Sinar yang menyelubungi tubuhnya semakin pekat hingga tubuh wanita itu hampir tak terlihat. Teriakannya tak berhenti seolah-olah merasakan kesakitan yang tak terkira.
"Raja Pelvis? "
Tiba-tiba Eldrige datang. Peri itu kaget melihat Raja Pelvis yang tersungkur lemah. Eldrige kini menatap seseorang yang sedang menjerit-jerit kesakitan di dalam gulungan cahaya biru kehijauan.
Eldrige segera mengarahkan jarinya ke arah orang itu untuk menolongnya. Ada energi yang terkumpul membentuk pusaran angin dan mulai menyelimuti seluruh tubuh orang itu. Berkas-berkas cahaya biru kehijauan mengintip diantara celah-celah pusaran angin.
Pusaran angin itu lama-kelamaan terlihat seperti balon yang terus dipompa diisi udara. Menggembung dan terus membesar hingga pada batas daya tampungnya, pusaran angin itu akhirnya meledak.
"Kau tak bisa menolongnya, jiwanya sudah dikutuk! " Ucap Raja Pelvis.
Eldrige memandang Raja Pelvis dengan heran. Kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada orang itu. Lama-kelamaan cahaya itu menipis dan akhirnya hilang sama sekali.
"Selir Mayang? "
"Kau mengenalnya? "
"Dia adalah Selir Mayang. Eh, maksud saya mantan selir."
Tiba-tiba seluruh tubuh Mayang mengejang. Wajahnya terlihat sangat kesakitan. Dari punggungnya mulai terlihat tonjolan yang lama-lama merobek gaunnya.
Dipunggung Mayang kini tumbuh sirip ikan yang runcing dan berselaput. Kulitnya yang putih mulus kini ditumbuhi sisik berwarna kehijauan. Kedua tangannya juga berselaput seperti kaki katak. Cincin bermata safir yang melingkar di jarinya langsung terlepas dan jatuh menggelinding di tanah.
Kedua kaki Mayang sekarang menempel dan tidak dapat digerakkan. Mayang menggerak-gerakkan tubuhnya dengan panik. Wanita itu semakin histeris ketika perlahan-lahan kedua kakinya yang indah berubah bentuk menjadi ekor ikan. Ujung ekor yang lebar menyerupai kipas itu menggelepar-gelepar di tanah.
"Tidaaak!! " Suara teriakan Mayang menggema di seantero hutan.
Burung-burung yang bertengger di pepohonan serentak terbang ke langit yang gelap karena kaget. Suara kepakan sayapnya terdengar riuh.
"Kau berubah menjadi Rusalqa! " Eldrige tertegun.
Mayang menatap Eldrige penuh kebencian. Wanita itu menggeram seperti binatang liar.
Raja Pelvis kembali berdiri tegak begitu cincin safir di jari Mayang terlepas. Pria itu memandang Rusalqa jelmaan mantan selir itu dengan jijik.
"Meskipun dia sudah berubah wujud menjadi Rusalqa, tapi aku tak akan mau menerimanya di Masserjarvi. Dia terlalu jahat! " Ucap Raja Pelvis.
"Aku akan membawanya menemui Raja Satria. " Eldrige kemudian merobek udara dengan jarinya dan menyeret Mayang ke dalam lubang dimensi.
__ADS_1
Raja Pelvis menghembuskan napas lega. Diambilnya cincin bermata safir yang tergeletak di tanah kemudian menyimpannya. Bahkan sebagai raja bangsa Rusalqa, Raja Pelvis tidak sembarangan mengenakan cincin itu.
Setelah itu Raja Pelvis melompat di udara dengan jangkauan yang lumayan lebar kemudian berpijak di cabang pohon. Lalu dengan gerakan yang gesit, pria itu berlompatan menuju kamarnya di istana Elfian.
*****
Eldrige menunggu keesokan harinya untuk menemui Raja Satria di ruang kerjanya. Raja Satria merasa heran ketika Eldrige meminta bertemu dengannya secara pribadi.
"Ada apa Eldrige? Bukankah hari ini kau harus menyertai para penyidik kerajaan?"
"Semalam tiba-tiba terjadi sesuatu, Yang Mulia."
"Ada apa, Eldrige? "
Tanpa menjawab, Eldrige segera mencabik udara dengan jarinya. Dia membuka lubang dimensi dimana dia mengurung Mayang.
Dengan sekali tarik tangannya menyeret tubuh seorang Rusalqa dan membawanya ke hadapan Raja Satria.
Raja Satria memandangi Rusalqa itu dengan heran. Makhluk itu tampaknya mencoba menyembunyikan wajahnya dari tatapan Raja Satria. Wanita itu terus menunduk sehingga rambutnya yang panjang keemasan menutupi wajahnya.
"Siapa dia, Eldrige? "
"Dia adalah mantan selir Mayang! "
"Mayang? " Raja Satria tersentak kaget.
Tiba-tiba sekujur tubuh Mayang menggigil. Wanita itu betul-betul dikuasai oleh amarah. Dia tidak pernah menyangka akan berakhir seperti ini. Berubah menjadi makhluk menjijikkan dan dipandang rendah oleh Raja Satria.
Raja Satria menghampiri wanita itu dan berjongkok di depannya. Ada rasa menyesal menyusupi hati Raja Satria.
Mayang terisak, dia tidak bisa menahan air matanya di hadapan pria yang masih sangat dicintainya itu.
"Kaulah penyebabnya! Kau tak pernah bisa membalas rasa cintaku dengan layak. Kaulah yang merusakku! " Suara wanita itu bergetar.
"Dulu aku benar-benar menyayangimu, Mayang. Sebelum kau berubah menjadi begitu jahat dan bahkan tega mencelakai Ratu Gita." Raja Satria agak merasa iba padanya.
"Jangan kau sebut nama wanita itu di hadapanku! Aku sudah muak! " Mayang berteriak marah.
"Sejak awal dia sudah ada diantara kita. Bahkan setelah kau melupakannya, berani-beraninya dia datang lagi dan merebutmu! "
"Apa maksudmu? Ratu Gita tidak pernah mengusik kita. Dia menikah denganku karena perjodohan." Raja Satria mulai merasa tidak nyaman karena Mayang masih menyalahkan istrinya.
"Dia sudah mengganggumu sejak awal! Perempuan cengeng itu merebut kesempatanku untuk berkenalan denganmu."
"Bukankah aku mengenalmu lebih dulu? " Perkataan Mayang membuat pria itu heran.
"Apa kau tidak penasaran dengan gadis yang menyelamatkan nyawamu? " Suara Mayang agak berbisik di dekat telinga Raja Satria.
"Jangan bilang bahwa dia.. "
"Benar sekali! Bahkan setelah aku menggantikannya, akhirnya kau tetap memilihnya. Betapa tidak adilnya! " Tangan Mayang memukul-mukul lantai dengan geram.
"Kalau benar seperti itu maka sebenarnya kaulah yang sudah berbuat tidak adil! " Kecam Raja Satria.
"Tentu saja aku berhak melakukannya. Dia selalu saja merusak rencanaku! Apa kau tahu, dia bahkan dengan tidak tahu malu mendekati raja bangsa Rusalqa? " Mayang seolah-olah menemukan borok Ratu Gita dan membeberkannya pada Raja Satria.
__ADS_1
"Ternyata kau sama sekali tidak berubah, Mayang. Hatimu dipenuhi kebencian! "
"Aku tidak salah kan? Perempuan itu bahkan berani membawa Raja Pelvis masuk ke dalam istanamu. "
"Apa kau tahu kenapa istriku sampai membawa Raja Pelvis kemari? Istriku ingin menyelamatkan nyawaku! Aku, karena ulahmu, terkena bisa Rusalqa yang mematikan dan hampir kehilangan nyawa! "
"Aku tidak melakukan apa-apa padamu! " Mayang mencoba mengelak.
"Sekarang aku tanya padamu, siapa yang menculik calon istri Raja Pelvis? " Pandangan Raja Satria berubah tajam.
"A-aku.. tidak tahu apapun. " Mayang menundukkan kepala.
"Bisakah kau jujur, sekali saja dalam hidupmu?" Raja Satria merasa sangat kecewa.
"Hah, kau menuduhku?..Hahaha..Ya, sayang sekali, tapi bukan aku pelakunya! Kau mau apa? " Sorot mata Mayang terlihat menantang.
"Apa kau juga ada hubungannya dengan kematian seorang Anggota Dewan Kerajaan yang disamarkan seolah-olah dibunuh oleh Rusalqa? " Tanya Raja Satria menuntut penjelasan.
"Kau menyadarinya? " Mayang tersenyum puas.
"Salah satu korban pembunuhan sebelumnya yang tangannya terpotong, bukankah kau juga yang melakukannya? Untuk mengambil cincin yang dipakainya? " Tanya Raja Satria lagi.
"Maksudmu Seno, si pedagang barang antik? Aku tidak membunuhnya, sungguh! Viviane, si Rusalqa itu yang membunuhnya. Laki-laki mesum itu sudah mendapatkan ganjarannya!"
"Bagaimana kau mengenalnya?" Suara Raja Satria terdengar tegas.
"Aku tahu seseorang bernama Danang yang tinggal di desa Yaselda, memiliki cincin yang bisa mengendalikan bangsa Rusalqa. Saat itu aku mendengar seseorang membicarakannya di kedai makan."
"Kau bertemu salah satu korban? Dimana? " Raja Satria terus mencecar dengan pertanyaan.
"Aku bekerja di sebuah kedai makan di perbatasan Nord. Dua orang pelanggan membicarakan masalah cincin itu. Katanya Danang memiliki cincin ajaib dan memiliki kekuatan. " Mayang terlihat bersemangat menceritakan rahasianya.
"Lalu, kau bergabung dengan mereka? "
"Aku tidak sebodoh itu. Kuikuti mereka sejak saat itu, sampai akhirnya mereka bertiga bertemu di perbatasan Elfian. Tapi yang mengejutkan, Danang tidak hanya membawa cincin itu. Dia juga membawa seorang Rusalqa betina di dalam sebuah kandang besi." Mayang menarik napas dalam.
"Setelah Danang menerima uang, dua orang lainnya kembali ke Elfian. Sampai disini kau mungkin bisa menebak cerita selanjutnya."
"Jadi kau hanya menunggu mereka melakukan kesalahan, lalu mengambil alih keadaan? "
"Jangan lupakan kemampuanku memanipulasi seseorang. Seno tidak akan punya ide untuk melepaskan rantai yang mengikat Viviane jika bukan karena aku. Hahaha! " Mayang yang sudah berwujud setengah ikan itu tertawa mengerikan.
"Apa selama ini kau dibantu ayahmu? Atau Ahren? " Raja Satria mencoba mengetahui kaki tangan Mayang.
"Ayahku yang malang jatuh sakit dan tidak bisa lagi kemana-mana. Dia sekarang hanya tinggal berdua dengan ibuku. Apa menurutmu dia bisa melakukan sesuatu? " Mayang kembali emosi.
"Sedangkan status kebangsawanannya telah dicabut, keluarga kami benar-benar hancur gara-gara ulahmu!" Mayang kembali terlihat marah.
"Lalu Ahren, ternyata kesetiaannya tidak sedalam itu. Dia memutuskan pergi meninggalkanku ketika kukatakan padanya aku masih punya rencana. Bukankah itu hebat? " Mayang terlihat sudah benar-benar putus asa.
"Mendengar semua pengakuanmu membuatku tidak yakin apakah Kerajaan Elfian memiliki hukuman yang pantas untukmu! " Raja Satria benar-benar murka.
"Maka kuputuskan saja untuk menyerahkanmu pada Raja Pelvis. Lagipula sekarang kau sudah menjadi salah satu dari mereka! " Akhirnya Raja Satria memberi keputusan.
"Tidak! Aku tidak mau! " Mayang berteriak-teriak sambil tubuhnya menggelepar di lantai.
__ADS_1