
Para penghuni istana Elfian memandang takjub ketika melihat seekor Pegasus mendarat di halaman istana. Apalagi melihat siapa yang duduk menungganginya.
Raja Satria turun bersama Ratu Gita. Sebelum kuda bersayap itu pergi, mereka mengucapkan terima kasih. Ratu Gita melambaikan tangannya dan di balas dengan atraksi cantik di udara.
Para Staf Kerajaan dan anggota Dewan Kerajaan menyambut kedatangan Raja dan Ratu yang datang mendadak. Mereka mengucapkan selamat datang kepada Ratu Gita yang baru pulang dari pengasingan.
Raja Satria segera mengajak Ratu Gita ke kediamannya. Raja mengatakan bahwa mulai sekarang Ratu Gita akan tinggal bersamanya.
Kedua pelayan pribadi Ratu, Esme dan Talitha segera di panggil.
"Kami sangat senang Yang Mulia bisa kembali dengan selamat!" Esme mengusap air matanya begitu bertemu dengan Ratu Gita.
"Aku juga sangat senang. Aku sering merindukan kecerewetan kalian!" Ratu Gita tertawa lebar, merasa sangat lega akhirnya bisa kembali ke istana.
"Yang Mulia pasti sangat kesepian selama di sana! Sayangnya kami tidak diizinkan ikut!" Talitha merasa menyesal.
"Awalnya aku memang sangat kesepian. Tapi berkat kebaikan Ratu Malea, ada beberapa peri hutan yang datang untuk menemaniku." Jawab Ratu Gita.
"Ratu Malea?" Tanya mereka berdua serentak. Wajah keduanya terlihat takjub.
"Kami hanya pernah mendengar namanya saja. Ratu Malea adalah Ratu Peri yang sangat bijaksana." Kata Thalita.
"Aku sendiri juga belum pernah bertemu, tapi peri-peri itu yang mengatakannya."
"Yang Mulia sungguh beruntung. Ratu Malea pasti mengetahui kebaikan hati Yang Mulia Ratu."
Ratu Gita termenung, ingin sekali dia menemui Ratu Malea secara pribadi untuk mengucapkan terima kasih.
"Apakah Yang Mulia sudah tahu, apa yang terjadi dengan Selir Mayang?" Esme memulai gosipnya.
"Tidak. Memangnya ada apa dengannya?" Ratu Gita menggeleng. Hatinya terasa sakit jika mengingat wanita kedua suaminya itu.
"Selir Mayang telah di hukum. Jabatannya sebagai Selir telah dicopot. Dan yang paling mengenaskan, dia di usir dari negeri ini!" Dengan suara lirih namun penuh penekanan, Esme menceritakan semua hal yang dia ketahui.
"Semua orang di istana ini sudah tahu bahwa dialah yang memfitnah Yang Mulia. Bahkan dia pernah menjelma menjadi monster burung yang mengerikan dan meneror istana!" Imbuh Talitha sambil bergidik.
Ratu Gita terbelalak. Dia sungguh tidak menyangka kalau wanita itu akan berbuat senekat itu.
"Apa kalian tahu kenapa Raja bisa terluka?" Wanita itu terpaksa bertanya pada para pelayannya itu karena suaminya enggan menjawab.
"Kabarnya Raja terluka karena bertarung dengan iblis yang merasuki Selir Mayang. Namun kami sendiri tidak tahu jelasnya." Jawab Thalita lagi.
Ratu Gita meminta mereka untuk meninggalkannya dulu karena ingin beristirahat. Akhir-akhir ini tubuhnya lebih cepat lelah.
Setelah kedua gadis berambut merah itu pergi, Ratu Gita membaringkan tubuhnya di kasur. Rasanya sangat nyaman, sungguh berbeda dengan tempat tidurnya di pondok.
__ADS_1
*****
Raja Satria hari ini tidak bertugas, dia hanya memeriksa daftar kandidat pengganti Ketua Dewan Kerajaan. Kemudian setelah selesai, dia segera kembali ke kediamannya.
Sampai di kamar, dilihatnya istrinya itu sedang tertidur pulas. Wajah wanita itu agak pucat. Dia berpikir untuk meminta tabib memberikan vitamin dan memeriksa kesehatannya.
Dielusnya rambutnya yang hitam. Dia sama sekali tidak bisa membayangkan, bagaimana bisa wanita yang sejak kecil tinggal di istana itu harus bertahan hidup di hutan selama hampir dua bulan. Sendirian!
Mengingat hal itu Raja Satria jadi membenci dirinya sendiri. Dikecupnya kening istrinya penuh rasa penyesalan.
Ratu Gita terbangun dan melihat suaminya sedang menatapnya. Wajah pria itu terlihat sedih.
"Ada apa?" Ratu Gita merasa khawatir.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya merindukanmu!" Raja Satria tersenyum.
"Kenapa kau tidak istirahat? Bukankah lukamu belum sembuh?" Wanita itu bangun dan membimbing suaminya ke tempat tidur.
"Berbaringlah, aku akan memanggil tabib."
Ratu Gita menyelimutinya, lalu beranjak pergi. Namun baru melangkah, tiba-tiba tangannya ditahan.
"Kemarilah!" Raja Satria menepuk-nepuk kasur di sebelahnya.
Ratu Gita ingin membantah namun tangannya sudah ditarik, akhirnya dia kembali naik ke ranjang.
Ratu Gita tersenyum memandangi wajah suaminya yang sedang tertidur. Wajah yang selama ini hanya bisa diimpikannya. Dielusnya pipinya yang masih agak memar itu, lalu dikecupnya dengan sayang.
Raja Satria tiba-tiba membuka matanya. Pria itu menatapnya dengan pandangan mendamba, yang sukses membuat jantung Ratu Gita berdegup kencang.
Kemudian dia menarik tengkuk istrinya dengan lembut, membuat jarak mereka semakin dekat. Ratu Gita merasa tak tahan melawan pesonanya, akhirnya memejamkan mata.
Melihat wajah istrinya yang sayu, dikecupnya bibir wanita itu dengan penuh kerinduan. Secara naluriah wanita itu membuka mulutnya dan membiarkan pria itu menjelajahi indera pengecapnya. Semakin lama semakin dalam dan penuh hasrat.
*****
Seorang tabib datang untuk memeriksa kondisi Raja. Luka dalam yang dideritanya diperkirakan dapat sembuh dalam dua minggu, sedangkan memar dan luka sobek di bibirnya bisa pulih dalam beberapa hari.
"Coba periksalah Ratu Gita!" Perintah Raja.
Tabib yang sudah agak tua itu memeriksa denyut nadi Ratu Gita. Dia sedikit mengerutkan dahi dan tampak memikirkan sesuatu. Lalu dia mengeluarkan sebuah alat yang berbentuk seperti tanduk dari tasnya dan menaruhnya di perut Ratu Gita, kemudian menempelkan ujungnya ke lubang telinganya.
Pria itu mendengarkan dengan seksama, kembali mengerutkan keningnya lalu melepaskan alat itu.
"Apa Yang Mulia rasakan? Apakah ada keluhan?" Tabib itu memandang Ratu Gita dari balik kacamatanya.
__ADS_1
"Tidak ada, hanya saja akhir-akhir ini saya sering merasa lelah." Jawab Ratu Gita.
"Apakah Yang Mulia makan teratur? Merasa mual?"
"Ada apa? Apakah lambungnya bermasalah?" Raja Satria tampak cemas, dia segera menaruh telapak tangannya di kening istrinya.
"Saya memang agak mual di pagi hari, tapi biasanya akan sembuh saat minum teh hangat." Ratu Gita berusaha menyingkirkan tangan suaminya dari keningnya.
"Aku sudah menduga kalau kau sakit. Dari kemarin aku perhatikan wajahmu sangat pucat." Raja Satria tidak menghiraukan penolakannya, dia malah mengusap-usap keringat di kening wanita itu.
Tabib tua itu agak risih melihat kemesraan mereka. Kemudian dengan sedikit berdehem dia melanjutkan analisanya.
"Saya menduga sudah ada calon pewaris tahta kerajaan Elfian dalam rahim Ratu!" Ucapnya dengan agak khawatir.
"Apa maksudmu?" Raja Satria tiba-tiba menatap tabib itu dengan pandangan tak percaya.
Tabib tua itu menelan ludah. Dia takut jika diagnosanya membuat pemimpin Elfian itu murka.
Ratu Gita juga menatap tabib itu dengan mata berkaca-kaca. Dan kedua telapak tangannya menutupi mulutnya.
"Maksud saya, Ratu Gita hamil. Namun perkiraan saya usia kandungannya baru beberapa minggu." Sebenarnya tabib itu heran dengan kehamilan Ratu Gita. Karena setahunya, Ratu Gita berada di pengasingan sudah hampir dua bulan.
Raja Satria melihat kebingungan tabib tua itu. Dia lalu memeluk istrinya sambil menatap tabib itu.
"Bayi ini milikku, Albus! Kau jangan cemas, aku yang membuatnya saat mengunjungi Ratu Gita di hutan!" Pria itu tertawa senang.
Ratu Gita memukul pelan bahu suaminya. Wajahnya merah karena malu mendengar perkataan suaminya.
"Ehemm, Kalau begitu selamat Yang Mulia!" Tabib tua itu merasa lega.
"Segera berikan vitamin untuk Ratu Gita agar tidak lemas!"
"Baik, Yang Mulia!" Jawab tabib itu.
Setelah tabib itu pergi, Raja Satria segera menyuruh Ratu Gita kembali ke tempat tidur. Kemudian dia memanggil semua pelayan Ratu dan memberikan instruksi untuk lebih memperhatikan dan menjaga kondisinya.
*****
"Eldrige, bersiap-siaplah! Mulai sekarang kau akan menjadi seorang kakek!" Kata Raja Satria ketika peri itu datang menemuinya di ruang kerja.
"Kakek?" Peri itu tampak bingung.
"Ratu Gita sedang mengandung anakku. Jika nanti bayinya lahir maka dia akan memanggilmu kakek!" Raja Satria tertawa senang.
"Aku lebih suka dipanggil paman, kalau tidak panggil namaku saja!" Protesnya.
__ADS_1
"Tidak..tidak! Usiamu bahkan lebih tua dari kakek buyutku, jadi aku akan menyuruhnya memanggilmu K-A-K-E-K!" Raja Satria terpingkal-pingkal mendengar leluconnya sendiri.
Eldrige memandang kesal ke arah calon ayah itu. Bagaimana jika anak itu nantinya betul-betul memanggilnya kakek? Apa memang dia sudah setua itu? Entah kenapa tiba-tiba dia merasa insecure.