Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 61 Malam Yang Panas Di Istana Baiyun


__ADS_3

Chen berjalan memasuki ruangan yang gelap itu. Matanya memicing, berusaha menyesuaikan penglihatannya dalam kegelapan.


Suara langkah kakinya menggema dalam ruangan. Berdentum-dentum seirama dengan degup jantung Ratu Gita. Wanita itu tidak ingin bertemu pria yang telah menculiknya itu. Tanpa sadar, dia menahan napas.


"Oh, Fen... dimana kau? " Chen memanggilnya dengan intonasi lembut namun mengerikan.


Langkah Chen semakin mendekati tempat persembunyian Ratu Gita. Wanita itu bersembunyi di balik rak buku di baris paling belakang. Ketika Chen sudah hampir sampai, Ratu Gita mundur perlahan ke sisi rak yang lain.


"Jangan bersembunyi, Fen. Aku tak marah padamu, Sayang. Kau diculik, merekalah yang kubenci." Suara Chen tepat di balik rak.


"Kita akan segera menikah, kau ingat? Kita akan menemui ibuku di desa. Ibuku sungguh ingin bertemu denganmu, Fen, calon menantunya. "


Entah kenapa suara Chen terdengar menyedihkan dan putus asa. Hingga timbul perasaan bersalah dan iba di hati Ratu Gita.


Hampir saja wanita itu keluar dari persembunyiannya, ketika tiba-tiba seseorang datang dan berbicara kepada Chen.


"Baiklah aku ke sana sekarang. " Terdengar suara Chen menanggapi orang itu. Kemudian terdengar langkah-langkah kaki keluar ruangan.


Ratu Gita menghembuskan napas lega. Dipeluknya bayi dalam gendongannya. Dia berjanji tidak akan berubah pikiran lagi demi anaknya.


Bagaimanapun juga Chen telah memisahkan dia dari bayinya, hingga bayi yang masih kecil itu harus mengalami hal yang mengerikan ini.


"Eldrige, kau di mana? " Gumam Ratu Gita di dalam kegelapan.


"Kita pergi sekarang."


Ratu Gita terlonjak ketika ada seseorang berbicara di belakangnya.


"Eldrige? "


"Ayo, Yang Mulia."


Mereka segera masuk ke dalam lubang dimensi yang terbuka lebar. Ada sensasi aneh yang dirasakan oleh Ratu Gita saat berada di dalam terowongan yang menyerupai spiral itu.


Tak terasa dalam sekejap mereka telah sampai di ujung terowongan. Ratu Gita langsung berada di sebuah ruangan dengan dinding batu, seperti sebuah goa.


"Yang Mulia tetaplah di sini. Saya akan pergi membantu yang lain. "


Dalam sekejap, peri itu menghilang ditelan udara saat lubang dimensi tertutup.


"Jadi begitu, cara mereka datang waktu itu?" Ratu Gita teringat saat mereka datang tiba-tiba setelah menyelamatkan Pangeran Gaurav.


Ratu Gita meletakkan bayinya di atas tatami sederhana. Kasur lantai itu berisi jerami dan dialasi dengan kain berwarna merah. Bayi perempuan itu membuka matanya sambil menggerak-gerakkan tangan dan kakinya ke atas.


"Tidur lagi, Sayangku. "


Ratu Gita menepuk-nepuk pantat bayi itu sambil menyanyikan lagu pengantar tidur yang biasa dinyanyikan ibunya. Suaranya menggema di seluruh ruangan berdinding batu itu.


*****


Eldrige keluar dari lubang dimensi dan langsung bergabung dengan pasukan Kaisar Haocun di istana. Di sana sudah ada Raja Satria dan Pangeran Gaurav.


Istana Baiyun sudah berubah menjadi arena pertempuran. Para jenderal yang masih setia berusaha mempertahankan istana dan melindungi Kaisar dari para pemberontak.


Belum diketahui siapa dalang dari kudeta ini. Namun bisa dipastikan anak buah Tuan Liu berada di antara mereka, termasuk Chen.


"Trang... Trang... Trang...! "


Suara pedang yang berpadu ramai, sangat memekakkan telinga. Seperti suara orkestra kematian yang mengalun di kegelapan malam.


Pintu-pintu sorong kayu yang berlapis kertas telah terlepas dan tercabik-cabik. Guci-guci dan lukisan-lukisan yang berharga juga tak luput dari tebasan pedang.

__ADS_1


"Bagaimana istri dan anakku, Eldrige? " Tanya Raja Satria di tengah-tengah pertempuran.


"Saya sudah menemukan tempat berlindung yang aman di sebuah Yaodong yang terletak di tebing gunung."


"Trang... Trang... Trang...! "


"Terima kasih, Eldrige. Kau selalu bisa kuandalkan." Kata pria itu sambil mengayunkan pedangnya.


Pasukan pemberontak semakin banyak berdatangan, rupanya persiapan mereka cukup matang. Bahkan mungkin telah direncanakan sejak lama.


"Kita tidak bisa terus seperti ini. Pasukan Kerajaan Baiyun yang masih setia kepada Kaisar Haocun jumlahnya lebih sedikit daripada para pemberontak. " Pangeran Gaurav berteriak pada Raja Satria.


"Kau benar, kita harus melakukan sesuatu! "


"Ayo, kita temui Kaisar! " Usul Pangeran Gaurav.


Mereka menerjang prajurit-prajurit pemberontak yang menghadang dan membuka jalan menuju ruangan pribadi Kaisar Haocun.


Tanpa mengetuk mereka segera mendorong pintu dan masuk ke ruangan itu. Di sana mereka mendapati Kaisar Haocun sedang duduk dalam keadaan kacau. Rambutnya yang biasanya digulung rapi, kini tergerai awut-awutan dan menutupi sebagian wajahnya.


"Kemarilah tamu-tamu agung! Mari kita minum bersama merayakan akhir masa pemerintahanku! "


Kaisar Haocun mengangkat sloki porselen berisi arak dan mengajak tamu-tamunya untuk minum bersama.


Raja Satria dan Pangeran Gaurav saling berpandangan. Mereka tidak mengerti, kenapa di saat genting seperti ini Sang Kaisar malah mabuk-mabukan.


"Yang Mulia, kita harus melakukan sesuatu untuk mempertahankan istana. "


Kaisar Haocun menuang arak dari guci kecil ke dalam sloki dan menenggaknya dalam sekali teguk. Wajahnya merah sampai ke leher dan tubuhnya bau alkohol.


"Biarkanlah, aku sudah hancur! "


"Jangan menyerah Yang Mulia. Di luar para pengikut setiamu sedang bertaruh nyawa. Jangan kecewakan mereka! "


Kaisar Haocun terkekeh. Wajahnya basah oleh keringat dan air mata. Penguasa Kerajaan Baiyun itu terlihat menyedihkan dan putus asa.


"Sepertinya dia sudah menyerah. Apa yang harus kita lakukan? Ini bukan urusan kita." Bisik Pangeran Gaurav dengan kesal.


"Bagaimanapun juga kita adalah tamu Kaisar Haocun, kita harus membantu tuan rumah yang telah menyambut kita dengan baik." Jawab Raja Satria dengan berbisik juga.


Raja Satria menatap Kaisar Haocun dengan iba. Dia mengerti perasaan pria itu. Sebagai seorang Raja, dia pernah mengalami perasaan putus asa seperti itu.


"Bagaimana dengan permaisuri dan putera mahkota? "


"Aku sudah memerintahkan pengawalku untuk membawa mereka pergi. Biarlah aku mati di sini seorang diri." Setelah berkata seperti itu, tiba-tiba tubuh Kaisar ambruk ke atas meja. Rupanya, pria itu pingsan.


"Gaurav, bantu aku mengambil air! "


Raja Satria segera mengangkat gentong keramik yang ada di sudut ruangan dan membawanya ke hadapan Kaisar.Pangeran Gaurav masih belum mengerti apa yang akan dilakukan oleh Raja Satria.


Tiba-tiba Raja Satria mengangkat gentong itu dan menuangkan isinya ke atas tubuh Kaisar Haocun. Tubuh Kaisar Haocun yang basah kuyup karena guyuran air bergerak-gerak.


Pangeran Gaurav tersenyum melihatnya dan langsung mengangkat gentong satu lagi dan mengguyur tubuh Kaisar Haocun. Kali ini kepala Kaisar Haocun terangkat dan matanya mengerjap. Sepertinya kesadarannya mulai kembali.


"Apa yang terjadi? Kenapa tubuhku basah semua? "


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Sekarang Yang Mulia harus segera bertindak sebelum semuanya terlambat. "


"Aku sungguh malu terhadap kalian. Sikapku betul-betul tidak mencerminkan jiwa seorang pemimpin. "


Kaisar Haocun berdiri. Air Menetes-netes dari seluruh tubuhnya. Dia berjalan untuk mengambil pedangnya yang tergantung di dinding.

__ADS_1


"Aku siap. Terima kasih telah bersedia berjuang bersamaku, kawan! " Suara Kaisar Haocun kembali terdengar berwibawa.


Raja Satria dan Pangeran Gaurav tersenyum lega. Kemudian mereka bertiga keluar dari ruangan itu menuju arena pertempuran.


*****


"Jenderal Shi, perintahkan para prajurit untuk menggiring pemberontak ke luar istana. Aku akan menghadapi pemimpin mereka! "


"Baik Yang Mulia! " Jenderal Shi mengangguk patuh tanpa menghiraukan penampilan Kaisar Haocun yang basah kuyup.


Jenderal Shi bersama anak buahnya berusaha memindahkan pertempuran keluar dari istana. Para prajurit yang kelelahan dan hampir putus asa, kembali bersemangat ketika melihat Kaisar mereka ikut bertempur bersama mereka.


Baku hantam terus berlanjut dan semakin panas. Suara-suara pedang yang beradu dan suara-suara manusia yang meregang nyawa saling bersahutan dan menggema memecah kesunyian malam.


Raja Satria mendapat lawan seorang pria berkepala pelontos yang memiliki alis tebal seperti sikat. Tubuh kekar pria itu terlihat mengkilap dari balik hanfu-nya yang diikat tanpa dalaman.


Pria pelontos itu bersenjata dua bilah pedang pendek bermata ganda. Dengan lincah pria itu mengayunkan pedangnya ke arah Raja Satria.


Raja Satria bergerak cepat untuk menghindari sabetan pedang yang datang bertubi-tubi dari dua arah. Pria itu menunduk ketika pedang si pria pelontos berusaha membabat kepalanya.


Dalam posisi menunduk, kaki kiri Raja Satria menendang dan menjegal kaki lawannya. Si pria pelontos terjengkang ke belakang, namun dengan lincah dia melompat dan kembali berdiri tegak.


Wajah si pria pelontos menyeringai. Tangannya memainkan kedua pedangnya seperti seorang pemain akrobat. Raja Satria ingat pernah melihat pria itu dalam pertunjukan sirkus.


"Trang..trang..trang..! "


"Kreeeek!"


Pedang Raja Satria menahan kedua pedang si pria pelontos. Adu kekuatan itu diakhiri ketika Raja Satria mendorong pria pelontos itu ke belakang.


Raja Satria terus menyerang. Ke kanan ke kiri, ke atas dan ke bawah mengikuti gerakan pedang lawan. Si pria pelontos mulai tidak sabar dan menyabetkan pedangnya dengan brutal.


Beberapa kali kedua pedang si pria pelontos berhasil menggores lengan dan kaki Raja Satria. Pria pelontos itu tersenyum puas melihat darah mulai membasahi hanfu biru yang dipakai lawannya.


Dengan gerakan berputar di udara, pria pelontos itu menyabetkan pedangnya bertubi-tubi ke tubuh Raja Satria.


Pemimpin Elfian itu melengkungkan tubuhnya ke belakang dan berhasil mengelak meskipun wajahnya sedikit tergores ujung pedang.


"Ayo, kita selesaikan permainan ini! " Ucap si pria pelontos.


Raja Satria tersenyum mengejek. Dia juga sudah bosan meladeni si kepala pelontos.


"Baiklah, botak. Aku kabulkan permintaanmu!"


Kedua orang itu kembali saling menerjang dan menyabetkan pedang. Raja Satria menghunuskan pedangnya ke arah kaki lawannya sambil berputar rendah di lantai.


"Sreeet.. ! "


Namun si pelontos dengan gesit melompat ke udara menghindari serangan itu. Kemudian pria itu turun dengan gerakan menukik dan kedua pedangnya terhunus ke arah leher Raja Satria seperti gunting.


Raja Satria segera menghindar dan memukul tangan lawannya bertubi-tubi, sehingga kedua pedangnya terlepas dan menimbulkan suara dentingan ketika kedua pedang itu menyentuh lantai.


"Kling! "


Raja Satria berjalan maju dan menginjak pedang milik si pelontos. Pria itu memasukkan pedangnya kembali dan menghadapi si pelontos dengan tangan kosong. Jari-jari tangannya memanggil lawannya untuk mendekat.


"Hyaaaat..! "


"Bugh.. bugh.. bugh..! "


Mereka beradu tinju dan tendangan. Saling mencengkeram dan memiting lawan. Dan saat Raja Satria mendapat kesempatan, dia menendangi dada si pelontos secara beruntun.

__ADS_1


Si kepala pelontos terjengkang dan memuntahkan darah. Dia terbatuk-batuk beberapa kali. Raja Satria berdiri memandangi, kemudian berbalik meninggalkannya.


Namun tanpa dia sadari, Si Pelontos diam-diam mencabut sebilah pisau kecil dari sepatunya. Dengan cepat pria itu melompat dan melemparkan pisaunya ke arah leher Raja Satria!


__ADS_2