Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 103 Rumah Budak


__ADS_3

Hari sudah gelap ketika seorang lelaki berjenggot tebal datang dan menyerahkan setumpuk kertas pada seorang penjaga. Kemudian penjaga itu mendekati sel dan membuka gembok.


"Keluarlah jika nama kalian di panggil! " Seru penjaga itu kepada para wanita penghuni sel.


Lelaki berjenggot tebal tadi menyebut beberapa nama dan mereka yang dipanggil segera keluar dan berbaris.


"Juwita! " Pria itu kemudian menyebut nama Puteri Juwita dan langsung membuat gadis itu gemetar.


Puteri Juwita berjalan melewati kerumunan wanita-wanita yang duduk di lantai. Saat dia keluar, pria berjenggot tebal tadi memandanginya dengan mata berbinar.


"Barang kualitas istimewa! Aku pastikan malam ini kami akan menjualmu dengan harga yang mahal! " Pria itu tersenyum puas.


Deg!


Jantung gadis itu berdentum-dentum ketika mendengar bahwa dia akan dijual sekarang. Dia tidak tahu nanti siapa yang akan membelinya. Apakah tidak ada kesempatan lagi untuk pulang pada keluarganya?


Penjaga menutup mata sepuluh orang wanita yang telah dipilih. Penjaga juga mengikat tangan mereka. Seutas tali mereka pegang agar dapat mengikuti arah dan tetap berada dalam barisan.


Sebuah kereta kuda dengan gerbong yang besar telah menunggu di halaman. Para penjaga menyuruh wanita-wanita itu naik ke dalam. Puteri Juwita meraba-raba dan kesulitan mencari pijakan untuk naik.


Karena tidak sabar, seorang penjaga membopongnya dan melemparnya ke dalam. Gadis itu meringis kesakitan karena kembali merasakan nyeri ketika tubuhnya membentur lantai gerbong kereta kuda.


Tak lama kemudian Puteri Juwita merasakan gerbong yang mereka naiki mulai bergerak. Roda-roda kereta kuda berderak-derak menyusuri jalanan berbatu. Tubuh Puteri Juwita bergoyang-goyang seiring laju kereta kuda. Gadis itu kemudian menyandarkan punggungnya pada dinding kereta.


Di dalam hatinya dia berdoa agar suatu saat akan dipertemukan kembali dengan orang-orang yang dia kasihi. Setetes air mata mengalir dari sudut matanya dan membasahi kain hitam yang menutupinya.


Kereta terus melaju melewati jalanan yang tersembunyi di dalam hutan. Jalanan yang jarang diketahui orang. Jalanan yang hanya digunakan oleh para penyelundup dan pedagang budak.


Beberapa jam kemudian, kereta kuda mulai memasuki kawasan pasar gelap di pinggiran kota Strein. Kawasan itu sangat padat dan dipenuhi para pedagang. Laju kereta agak diperlambat karena jalanan sangat ramai. Berkali-kali kereta kuda itu harus berhenti ketika ada yang tiba-tiba menyeberang.


Puteri Juwita mendengar suara-suara beraneka macam. Bunyi-bunyi roda kereta, suara-suara pedagang menawarkan barang dagangan, sampai suara alunan musik yang bercampur menjadi satu membentuk suatu irama yang asing.


Saat kereta berhenti, seorang penjaga membuka pintu gerbong dan menyuruh wanita-wanita itu turun. Mereka kembali berjalan dalam barisan sambil berpegangan pada seutas tali.


*****


Nona Sekar mendengar suara jeritan dari dalam ruangan yang tertutup. Dia tidak melihat apa yang terjadi di dalam, namun wanita itu yakin bahwa Eldrige sedang melakukan sesuatu yang membuat ketiga gadis penghuni asramanya ketakutan.


Wanita itu memutuskan untuk menjauh. Dia berjalan ke arah ruang tamu. Di sana dia melihat seorang pria berpenampilan aneh sedang duduk di kursi tamu.


Sewajarnya seorang ibu asrama, Nona Sekar berjalan mendekat untuk menyapa.


"Selamat malam, Tuan! "


Pria yang sedari tadi menunduk itu kemudian mendongakkan kepalanya. Wajahnya yang tidak asing segera berhadapan dengan Nona Sekar.


"Aku mengingatmu, peri kecil! " Suara pria itu membuat dada Nona Sekar bergemuruh. Matanya menatap tajam seakan menghipnotis.


"Apa yang kau lakukan di sini? " Suara Nona Sekar bergetar. Kakinya seakan membeku dan bayangan masa malu berkelebat di benaknya. Dia ingat saat pria itu berusaha memangsanya.


Monster itu datang? Mau apa dia?


"Apa kau tidak senang melihat kedatanganku, Sekar? " Suara pria itu seolah mengejeknya.


"Aku tidak pernah berharap untuk bertemu denganmu lagi! "


"Benarkah? Bukankah kau sendiri yang memintaku untuk memperlakukanmu dengan baik? " Pria itu tersenyum menawan.


"Aku tidak ingat pernah mengatakannya! " Bantah Nona Sekar.


"Tapi aku selalu mengingatnya." Raja Pelvis tersenyum.


"Kurasa sebaiknya kau pergi. Ini adalah asrama wanita. Jangan pernah berpikir untuk mencari pasangan di sini, gadis-gadis di sini masih di bawah umur! "


"Raja Pelvis kemari bersamaku, Sekar! " Suara Eldrige mengagetkan Nona Sekar.


Eldrige berjalan mendekat dan memandang keduanya yang terlihat baru saja membicarakan sesuatu yang serius.


"Kenapa kau mengajaknya kemari? "


"Raja Sagar telah menerima bantuan Raja Pelvis untuk menemukan para Strix. Jadi aku minta, izinkan Raja Pelvis untuk menginap sementara di sini! " Ucap Eldrige.


Bagi Nona Sekar, perkataan Eldrige itu bukanlah suatu permintaan namun sebuah perintah. Dengan berat hati Nona Sekar kembali menatap Raja Pelvis, "Baik, akan kusiapkan kamar untuk Yang Mulia! "


Wanita itu segera pergi. Raja Pelvis terkekeh pelan memandangi kepergian Nona Sekar.


"Beristirahatlah dulu, Yang Mulia. Saya ada urusan sedikit. " Eldrige berpamitan pada Raja Pelvis.


*****

__ADS_1


Eldrige pergi ke sebuah kedai minum. Pria itu melangkah ke salah satu meja. Beberapa orang dengan penampilan sangar memperhatikannya. Penampilan Eldrige memang terlihat mencolok di tempat itu.


Seorang pelayan wanita yang memakai baju dengan belahan dada sangat rendah, datang menghampirinya. Ada kilat ketertarikan pada mata wanita itu.


"Tuan ingin memesan apa? " tanya wanita itu dengan suara mendesah.


"Berikan aku minuman terbaik di kedai ini! " Jawab Eldrige tanpa memandang wanita itu sama sekali.


Beberapa pria mendekati Eldrige dan duduk di hadapannya. Mereka datang untuk membuat keributan dan menindas pria yang berpenampilan rapi itu.


"Apa kau tidak salah masuk, bocah tampan?" Seorang pria bertubuh besar dan berotot tertawa mengejek sambil menenggak minumannya.


"Tidak, aku memang bermaksud kemari." Jawab Eldrige dengan suara tenang.


"Oh, hohoho, ternyata kau ingin mencoba jadi anak nakal ya?" sindir pria tadi.


Pelayan wanita tadi datang membawakan alkohol terbaik di dalam sebuah gelas besar bergagang.


"Seleramu ternyata memang tinggi, bocah tampan! " pria tadi melirik gelas yang baru diletakkan pelayan.


"Aku kemari bukan untuk mencari minuman." Eldrige sama sekali tidak melirik minumannya.


Kumpulan pria di depan Eldrige langsung menatapnya curiga.


"Lalu apa yang kau cari? " Tanya salah satu dari mereka.


"Aku ingin membeli budak! " jawab Eldrige.


"Apa maksudmu? Tempat ini menjual minuman, bukan budak! "


"Aku bersedia membayar jika ada yang mengantarku untuk membeli budak." Eldrige mengeluarkan sebuah kantung dan melemparkannya ke atas meja. Beberapa keping koin emas tercecer keluar.


Criing..


Semua mata pria yang duduk di depan Eldrige melotot. Mereka belum pernah melihat uang sebanyak itu.


"Saya bersedia mengantar, Tuan! " seru seorang pria yang begigi hitam sambil meraup kantung berisi uang itu dengan kedua tangannya.


"Saya juga bersedia! " Teman-temannya mencoba merebutnya dari pria itu.


"Uang itu untuk kalian, tapi antarkan aku sekarang! " Tawaran Eldrige membuat mereka tersenyum gembira.


Eldrige menunggangi kudanya mengikuti orang-orang itu. Mereka memasuki kawasan hutan yang gelap, namun tak lama kemudian mereka sampai ke sebuah bangunan gedung yang terbuat dari batu bata yang hampir tak terlihat dari jalan.


"Mau apa kalian? " tanya seorang penjaga yang berdiri di depan pintu.


"Katakan pada majikanmu, ada yang ingin membeli budak! " teriak pria bergigi hitam pada penjaga itu.


"Tunggu sebentar! " Penjaga itu masuk ke dalam meninggalkan seorang rekannya.


Tak lama kemudian ada seorang lelaki gemuk keluar, tatapan matanya tajam dan licik.


"Siapa yang ingin membeli budak? " tanya pria gemuk itu.


"Tuan Rainer, Tuan muda ini yang ingin membeli budak." Pria bergigi hitam itu menunjuk ke arah Eldrige.


Tuan Rainer mengamati Eldrige dengan cermat. Dia belum pernah bertemu dengan pria berambut perak itu. Pria gemuk itu mendadak teringat dengan salah satu budaknya yang juga berambut perak. Dia curiga, mungkinkah pria itu kemari untuk mencari gadis itu?


"Kami tidak menjual budak, pergilah! " usir pria gemuk itu. Dia kemudian berbalik dan berjalan kembali ke dalam.


Brak!


Tuan Rainer tiba-tiba tersungkur menabrak pintu. Hidung dan mulutnya mengucurkan darah. Kedua penjaganya segera membantu majikannya itu untuk berdiri.


"Siapa yang melakukannya? " teriak Tuan Rainer dengan marah. Namun tak ada seorangpun yang menjawab, bahkan dirinya pun menyadari bahwa tak ada seorangpun di dekatnya saat dia merasa didorong dengan kuat.


"Apa kau yang melakukannya? Apa kau penyihir? " Tuan Rainer menatap Eldrige dengan sengit.


Eldrige tersenyum mengejek," Kalau kau menunjukkan padaku budak yang baru kau dapat dua hari yang lalu, mungkin aku takkan melakukan lebih dari ini! "


"Kurang ajar, serang dia! " Kedua pengawalnya mematuhi perintah Tuan Rainer dan segera menyerang Eldrige.


Orang-orang yang tadi mengantar Eldrige tidak ingin terlibat dengan urusan mereka dan segera pergi. Yang terpenting adalah mereka sudah mendapat bayaran.


Eldrige melompat turun dari kudanya dan meremukkan tubuh kedua penjaga itu tanpa menyentuh mereka. Pria itu berjalan melewati keduanya yang tersungkur sambil mengerang kesakitan.


Eldrige menendang pintu dan memasuki gedung berdinding bata merah itu dan langsung disambut oleh serangan dari para penjaga yang ada di dalam.


Dengan ekspresi dingin Eldrige memukul dan menendang orang-orang itu dan membuat mereka terpelanting ambruk. Eldrige terus saja berjalan menuju tempat penyekapan.

__ADS_1


"Hentikan! " Tuan Rainer berteriak ketika dia melihat Eldrige membuka pintu ruangan yang menyimpan wanita-wanita yang baru dia dapatkan tadi siang.


Eldrige hanya tersenyum sinis tanpa mempedulikan teriakan Tuan Rainer. Wanita-wanita di dalam ruangan itu keluar berhamburan namun segera dicegat oleh beberapa pria berwajah sangar.


Melihat hal itu, Eldrige segera menggerakkan jarinya lalu menghempaskan mereka ke dinding dan membuat mereka mengerang kesakitan. Wanita-wanita itu memandang Eldrige dengan tatapan penuh terima kasih.


"Terima kasih, Tuan! " ucap mereka.


"Pergilah sekarang! " perintah Eldrige.


Wanita-wanita itu segera berlari keluar. Hal itu membuat Tuan Rainer bertambah marah, namun dia tidak berani melawan Eldrige. Dia hanya bisa memandangi pria berambut perak itu berjalan mendekat.


"Tunjukkan dimana kau mengurung yang lain?" Eldrige menatap tajam Tuan Rainer.


"Saya tidak memiliki lagi, Tuan. Sungguh! " ucap Rainer berbohong.


Plak!


"Dasar pembohong! " Eldrige menampar Tuan Rainer dengan keras. Pipi Tuan Rainer seketika membiru.


"Tunjukkan sekarang, atau aku akan membunuhmu! " Ancam Eldrige.


"Baik, Tuan! " Tuan Rainer berjalan terseok-seok menuju sel tempat dia menyimpan budak-budak yang siap dijual.


Eldrige memandangi sel yang berisi wanita-wanita yang duduk di lantai dengan kondisi mengenaskan. Dia tidak bisa membayangkan Puteri Juwita berada di tempat itu.


"Buka pintunya dan bebaskan mereka! " suruh Eldrige pada Tuan Rainer.


"T-tapi Tuan! " Tuan Rainer ingin menolak karena dia sudah membayar mahal untuk budak-budak itu.


"Buka sekarang atau kau akan tanggung akibatnya! " perintah Eldrige menyiratkan paksaan.


"Baik, Tuan! " Tuan Rainer segera membuka gembok dengan kunci yang terselip di kantung celananya.


Wanita-wanita itu memandangi Eldrige dan Tuan Rainer dengan bingung.


"Pergilah kalian! " perintah Eldrige.


Wanita-wanita itu segera keluar dan berlari meninggalkan tempat itu. Eldrige kecewa karena tidak menemukan Puteri Juwita diantara mereka.


"Apa kau masih menyimpan yang lain? "


"Tidak Tuan, saya sudah tidak memiliki budak lagi! "


"Aku mencari seorang gadis berambut perak dengan tahi lalat di bawah mata. Apa kau pernah melihatnya? " Eldrige menyebutkan ciri-ciri Puteri Juwita.


Tuan Rainer langsung tahu gadis yang dimaksud oleh Eldrige. Tapi dia tidak berniat untuk mengatakannya.


"Saya tidak pernah melihatnya," dustanya.


Eldrige berjalan ke sekeliling tempat itu untuk memeriksa, dia tidak begitu saja percaya pada mulut laki-laki jahat itu.


Saat Eldrige berjalan lebih jauh lagi, dia melihat sebuah kolam pancuran untuk pemandian. Matanya tiba-tiba tertuju pada seonggok pakaian yang basah di dekat pancuran.


Eldrige segera mengambilnya dan langsung mengenali pakaian milik Puteri Juwita. Dengan geram Eldrige meremas pakaian itu.


"Katakan dimana gadis itu atau kau akan berharap tidak pernah dilahirkan!" Mata Eldrige terlihat membara.


"Saya tidak tahu apa-apa, Tuan! " Tuan Rainer masih berusaha mengelak.


Dengan marah Eldrige mengulurkan tangannya ke leher Tuan Rainer dan meremasnya. Tuan Rainer megap-megap dengan wajah kesakitan. Matanya melotot dan lidahnya terjulur keluar. Tangan Tuan Rainer berusaha melepaskan cengkeraman Eldrige dari lehernya.


"T-Tuan tolong le-paskan, sa-ya akan tun-juk-kan dimana ga-dis itu! " Tuan Rainer berbicara tersendat-sendat.


Eldrige kemudian melepaskan tangannya dari leher Tuan Rainer. Lelaki gemuk itu terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya.


"Cepat katakan, dimana gadis itu! " Tanya Eldrige tak sabar lagi.


"Dia ... sekarang ada di rumah lelang, di kawasan pasar gelap kota Strein." Akhirnya Tuan Rainer mengaku.


Sebelum pergi, Eldrige menjentikkan jarinya dan membuat tubuh Tuan Rainer terlontar dan tercebur ke dalam kolam.


Byuur!


Eldrige kemudian berjalan melewati para penjaga yang tergeletak pingsan di lantai.


"Tuan Eldrige! " Sebuah suara lemah terdengar di telinga Eldrige.


Eldrige memandang ke dalam ruangan yang sangat gelap yang tadi didobraknya. Sebuah tangan di lantai terjulur keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2