
Eldrige sedang melaporkan kejadian yang menimpa Puteri Elok kepada Raja Satria. Tentang bagaimana Puteri Kerajaan Alsatia itu diculik oleh Raja Pelvis.
Mendengar penjelasan Eldrige itu membuat Raja Satria menjadi geram. Namun mengingat bahwa Raja Pelvis yang sudah menyelamatkan nyawanya, membuat penguasa Elfian itu menahan emosinya.
"Apakah yang melakukan pembunuhan wilayah Kerajaan Elfian juga adalah Raja Pelvis? "
"Raja Pelvis memang membunuh seorang pelayan di istana Alsatia, pengasuh Puteri Elok. Namun saya tidak yakin kalau Raja Pelvis yang melakukan pembunuhan-pembunuhan di Elfian. "
"Lalu siapa yang melakukannya? " Raja Satria mengetatkan rahangnya.
"Menurut saya, pelakunya adalah seorang wanita bangsa Rusalqa yang berasal dari rawa-rawa desa Yaselda. Dia sebenarnya adalah calon pengantin Raja Pelvis, namun ada seseorang yang telah menculiknya. "
"Siapa orang itu? "
"Sayangnya sebelum wanita itu bisa ditanyai, dia telah lebih dulu terbunuh. "
"Terbunuh? "
"Raja Pelvis membunuhnya karena wanita itu mencoba menyakiti Puteri Elok. "
Raja Satria menghembuskan napas kasar. Ternyata Raja Pelvis juga telah menyelamatkan sepupunya. Mungkin dia akan menaruh sedikit kepercayaan pada pria itu.
"Kurasa Raja Pelvis tidak terlalu buruk, ya? "
"Saya rasa juga begitu, Yang Mulia."
"Kurasa kita harus melanjutkan penyelidikan meskipun pelaku pembunuhan itu telah terbunuh. Aku khawatir jika masih ada orang lain yang terlibat dalam kasus ini. "
"Besok dampingilah para Penyidik Kerajaan untuk menyelidiki lebih jauh! "
"Baik, Yang Mulia! "
Raja Satria berbincang dengan Eldrige hingga larut malam. Banyak hal-hal yang mereka diskusikan. Mengingat kondisi Raja Satria yang belum pulih benar, maka pekerjaan yang agak berat akan dia limpahkan pada orang-orang kepercayaannya.
Tiba-tiba punggung Eldrige menjadi tegak. Dia merasakan ada aura jahat di udara.
"Sepertinya saya harus permisi sekarang Yang Mulia. Ada hal mendesak yang harus saya lakukan! "
*****
Raja Pelvis berendam di dalam bak mandinya sambil memejamkan mata. Pori-porinya menyerap energi yang dia dapatkan dari air. Sisik-sisik yang muncul di sekujur tubuhnya terlihat berkilauan di bawah cahaya lilin.
Tiba-tiba dahinya berkerut karena mendeteksi hadirnya energi yang kuat di dekatnya. Sebuah energi yang membuat tubuhnya tiba-tiba terasa melemah.
__ADS_1
Raja Pelvis berdiri dan melangkah keluar dari bak yang berisi air. Langkahnya meninggalkan jejak basah di lantai kayu yang berwarna coklat gelap. Pria itu terus berjalan sambil membaui udara. Mencoba mencari tahu asal energi yang mempengaruhi kekuatannya itu.
Dari jendela kamarnya dia menatap lurus keluar, pelataran istana tampak temaram. Dengan mengandalkan ketajaman indera penciumannya dia dapat merasakan kehadiran seseorang diluar tembok istana.
Tanpa menunggu lama, Raja Pelvis melompat keluar jendela dan menggunakan pucuk tiang sebagai pijakan sebelum membuat loncatan besar di udara yang langsung membawa tubuhnya mendarat di atas tembok istana.
Matanya memindai ke segala arah sambil mengendus udara. Tak berapa lama dia menajamkan penglihatannya dan melihat seseorang sedang berdiri, tersembunyi di bawah bayang-bayang pepohonan.
"Siapa kau? "
Orang itu hanya diam dan malah berjalan menjauh. Jubah hitamnya berkibar-kibar seperti kepakan sayap kelelawar.
Raja Pelvis segera melompat turun. Dia berjalan cepat, berusaha mengejar orang berjubah hitam itu.
"Tunggu! " Panggilnya.
Namun seberapa cepat pun Raja Pelvis melangkah, dia tetap tak bisa menyamai langkahnya. Seolah ada suatu dinding penghalang yang memisahkannya dari orang itu.
Cukup jauh Raja Pelvis mengikuti orang itu. Hingga puncak-puncak menara Istana Elfian kini hampir tak terlihat. Jalanan yang mereka lalui kini di penuhi semak belukar dan pepohonan yang tinggi. Raja Pelvis baru menyadari bahwa mereka sudah memasuki kawasan hutan.
Tiba-tiba orang di depannya berhenti. Pria itupun secara reflek menghentikan langkahnya. Dia menunggu pergerakan orang itu.
Saat orang itu akhirnya berbalik dan menghadap padanya, Raja Pelvis mengerutkan keningnya.
"Kau pernah bersama Viviane, aku mengenali baumu!"
"Jangan mencoba mempermainkanku! Siapa kau? " Raja Pelvis merasa tidak sabar.
"Tenang Raja Pelvis, aku bukanlah musuhmu." Wanita itu kembali bersuara.
"Kalau kau bukan musuhku, lantas kenapa kau menyimpan benda itu? " Raja Pelvis menatap dengan tajam. Dia tahu orang itu menyimpan sebuah benda keramat.
"Maksudmu ini? " Sebuah cincin bermata safir terlihat berkilauan melingkar di jarinya ketika orang itu mengeluarkan tangannya dari balik jubah.
"Ini hanyalah benda yang akan mengeratkan hubungan kita." Orang itu membolak balik telapak tangannya di udara.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang benda itu! " Raja Pelvis menyeringai mengerikan.
"Oh ya? Kurasa aku sudah cukup menguasai benda ini. Kau mau coba? " Tangan wanita itu bergerak diudara dan telapaknya mengayun seperti menghalau nyamuk.
Brakk!!
Tiba-tiba tubuh Raja Pelvis melayang di udara, kemudian terhempas dan menabrak batang pohon dengan keras. Tubuh Raja Pelvis luruh ke tanah. Tulang punggungnya terasa sakit karena terbentur dahan pohon yang lancip.
__ADS_1
"Apa maumu? " Raja Pelvis bangkit perlahan, matanya bersinar bagaikan sepasang lentera di kegelapan.
"Aku mau kesetiaanmu! Kau telah membuatku kesal dengan mengabaikan pesan-pesanku! "
"Rupanya kau yang berusaha mempengaruhi pikiranku? Tidak semudah itu! " Suara Raja Pelvis bernada meremehkan.
"Meskipun aku memiliki ini? " Wanita itu tersenyum mengejek sambil menunjukan cincin safir di jarinya.
Cahaya yang menyorot dari mata Raja Pelvis meredup. Tubuhnya mendadak terasa melemah, seolah-olah energi di dalam tubuhnya tersedot keluar. Raja Pelvis kembali tersungkur ke tanah.
"Siapa kau sebenarnya? Dan apa maumu? "
Wanita itu menarik tudung yang menutupi kepalanya ke belakang. Seraut wajah cantik dengan rambut keemasan berpendar di bawah sinar bulan yang temaram.
"Aku adalah Mayang. Kau pasti tahu apa yang kuinginkan! " Bibirnya yang merah membentuk senyuman.
"Aku tidak mau membunuh Raja dan Ratu Elfian! " Mata Raja Pelvis menunjukkan perlawanan.
"Tahukah kau bahwa sangat mudah bagiku untuk menguras habis telaga tempat kalian, makhluk-makhluk kotor, berkembang biak? " Bibir Mayang menyeringai.
"Mulutmu lebih berbisa daripada bangsa Rusalqa! "
"Hahaha... Aku tersanjung mendengar pujianmu." Wanita itu tertawa geli.
Mayang berjalan bagaikan kijang ke arah Raja Pelvis yang tersungkur tidak berdaya. Tangan wanita itu mengelus kepala Raja Pelvis dan mengurai rambutnya yang basah.
"Bagiku kau tak lebih dari binatang buas yang kutaklukkan. Aku bisa menghancurkanmu kapanpun aku mau! "
Jari-jari Mayang yang lentik mencengkeram rahang Raja Pelvis hingga ujung kukunya yang tajam menusuk kulit pria itu. Kepala Mayang menunduk dan lidahnya menjilati rahang yang tegas bagai pahatan itu.
"Berhenti menjilatiku seperti anjing! Kau sama sekali tidak bisa membangkitkan hasratku. Aroma tubuhmu lebih busuk dari bangkai binatang! " Raja Pelvis menatap mata Mayang dengan tajam.
Plak!!
Mayang menampar wajah Raja Pelvis. Pria itu menggerakkan kepalanya kesamping sambil terkekeh pelan.
"Kurasa bangsa Rusalqa mulai sekarang tidak membutuhkan seorang raja. Cukup aku sendiri yang akan memimpin mereka! "
Mayang mendorong tubuh Raja Pelvis, kemudian wanita itu berdiri tegak. Wajahnya yang cantik terlihat sangat marah. Urat-urat kebiruan mulai bertonjolan di pelipis dan lehernya.
"Sekarang kau akan tahu kekuatanku yang sesungguhnya! "
Tangannya mengacung tinggi di udara. Sebuah cahaya biru kehijauan yang berkilauan memancar kuat dari batu safir di cincin yang dikenakan Mayang.
__ADS_1
Cahaya itu menyorot bagai laser ke angkasa. Langit di atas sana terlihat bercahaya. Cahaya berwarna biru kehijauan itu bergulung-gulung bagaikan aurora.
"Ucapkan selamat tinggal pada hidupmu yang menyedihkan, Raja Pelvis! "