Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 129 Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Langkah kaki Puteri Juwita begitu ringan mengikuti langkah pemuda di depannya. Hutan masih gelap ketika mereka meninggalkan pondok. Dan kini di depan mereka sudah terhampar ribuan hektar ladang yang disirami sinar lembut matahari pagi. Titik-titik embun tampak berkilauan seperti kristal.


"Tempat ini sangat indah! " Seru gadis itu dengan penuh kekaguman.


"Benarkah? " Bagas menatap berkeliling, memandangi pemandangan yang biasa dia lihat ketika menuju ke kota Otep. Baru kali ini dia menyadari betapa indahnya tempat itu.


Di kejauhan para petani mulai turun dan menggarap ladang mereka. Pakaian mereka yang berwarna-warni terlihat kontras dengan ladang pertanian yang berwarna hijau gelap.


Penggembala terlihat naik ke lereng bukit untuk menggiring domba-domba, yang dari kejauhan terlihat seperti gumpalan kapas, menuju padang rumput.


"Tidak lama lagi kita akan sampai di desa Pilv. Nanti kita akan sarapan di sana."


"Apakah kota masih jauh? " Gadis yang berpakaian seperti lelaki itu bertanya dengan antusias.


"Kita harus berjalan satu jam lagi dari desa Pilv untuk mencapai kota." Jawab Bagas sambil tersenyum.


Keduanya terus berjalan sambil sesekali menyapa orang-orang yang berpapasan di jalan. Penduduk desa memang ramah, mereka selalu menyambut para pendatang dengan hangat.


Sudah agak siang ketika akhirnya mereka sampai di kota Otep. Suasananya sangat ramai meski tak seramai ibukota Alsatia. Beberapa gedung yang sangat indah berdiri kokoh di sekitar alun-alun kota. Rumah-rumah di sana juga terlihat berkelas.


"Jangan gugup jika berhadapan dengan orang kota. Mereka terkadang licik dan suka menipu orang udik seperti kita." Bisik Bagas.


Puteri Juwita mengangguk. Penampilan orang-orang kota itu memang terlihat menawan, berbanding terbalik dengan penampilannya dan Bagas yang sangat sederhana. Pantas sekali jika mereka disebut orang udik.


Kereta-kereta kuda bersliweran dengan membawa penumpang yang terlihat anggun. Suara obrolan para penumpang itu terdengar setiap kali kereta kuda melewati keduanya.


Setelah melewati beberapa belokan dan menyeberangi sebuah jembatan batu yang menghubungkan pusat kota dan kawasan perdagangan, akhirnya mereka sampai di pasar Kevad.


Pasar itu berisi pedagang yang menjual berbagai hasil bumi, baik itu pertanian dan juga peternakan. Rempah-rempah dan tanaman obat dari berbagai daerah juga dijual di sana.


Payung-payung besar dan kain-kain berwarna cerah di pasang untuk melindungi barang dagangan dari serbuan panas sinar matahari.


"Kita ke sana. " Bagas berjalan sambil menenteng tasnya menuju pedagang tanaman obat yang dinaungi payung berwarna kuning lemon.


"Kau sudah datang? Syukurlah, sebentar lagi pelangganku yang datang dari ibukota akan segera mengambil pesanannya." Seorang lelaki tua dengan beberapa helai rambut uban yang tumbuh di atas kepala botaknya, menyambut kedatangan Bagas dengan raut lega.


Bagas segera mengeluarkan isi tasnya dan memberikannya pada lelaki tua itu. Lelaki itu segera menimbang tanaman-tanaman obat itu dan mulai menulis di buku catatannya.


"Aku akan membayarmu sepuluh keping perak. Tapi kau harus berjanji segera membawa lagi tanaman obat kemari. Beberapa pedagang kehabisan stok karena pemasok mereka tidak datang. "


"Anda jangan khawatir, Pak Gus. Saya akan tetap mengirim tanaman obat kepada bapak meskipun hujan turun terus menerus." Ucap Bagas untuk menyenangkan hati lelaki tua itu.


"Siapa gadis di sebelahmu itu? Apa dia adikmu? " Tanya Pak Gus.


"Iya, dia adik saya. Namanya.. Juwita." Bagas memperkenalkan Puteri Juwita pada Pak Gus yang memandangi gadis itu dari balik kacamatanya yang tebal.


Puteri Juwita tersenyum pada Pak Gus dengan canggung.


"Ha, jadi ayahmu menikah lagi dengan bangsa Elfian ya? " Mata lelaki tua itu menatap kedua orang di depannya secara bergantian.


Bagas menggaruk kepalanya sambil tertawa lebar. " Ayahku bertemu dengan seorang wanita Elfian yang cantik sekali. "


"Hemm, sudah kuduga. Tapi asalkan kalian akur sih, tidak apa-apa. " Lelaki itu mengedikkan bahunya.


"Ini bayaranmu. Jangan lupa belikan adikmu pakaian baru. Kulihat dia memakai kepunyaanmu." Kata Pak Gus sambil menyerahkan uang pada Bagas.


Bagas melirik Puteri Juwita yang terlihat lusuh mengenakan pakaiannya. Gadis itu dengan canggung menarik topi yang menutupi kepalanya ke bawah.


"Aku akan membelikanmu pakaian." Kata Bagas saat mereka sudah meninggalkan tempat Pak Gus. "Tapi aku tidak tahu seleramu. "


"Aku akan memakai apapun yang Kakak beri." Jawab Puteri Juwita.


Bagas kemudian mengajak Puteri Juwita ke sebuah toko pakaian yang terlihat ramai. Ada bermacam-macam pakaian yang dijual di sana. Beberapa gaun yang indah menarik perhatian Puteri Juwita. Tanpa sadar tangan gadis itu mengelus sebuah gaun biru berbahan satin halus.


"Jangan sentuh! Apa kau yakin mampu membeli gaun itu? " Seorang pelayan muncul di belakang Puteri Juwita.


"Aku.. " Puteri Juwita tiba-tiba merasa malu karena dianggap tidak mampu membeli gaun.


Seumur hidupnya dia tidak perlu membeli pakaian di toko. Para perancang dan penjahit akan datang ke istana dan membuat pakaian khusus untuknya. Gaun yang disentuhnya tadi bahkan tidak mendekati salah satu gaunnya.

__ADS_1


"Adikku bisa membeli apapun yang dia suka!" Tiba-tiba Bagas datang dengan wajah kesal.


"Boleh saja. Asal kalian tahu saja, harga gaun itu sepuluh koin perak." Jawab pelayan itu dengan angkuh.


Bagas segera mengeluarkan uangnya, namun Puteri Juwita segera mencegahnya.


"Jangan Kak, aku tidak menginginkan gaun itu." Kata Puteri Juwita.


"Jangan khawatir Juwita, aku ingin melihatmu mengenakan gaun itu. Kau pasti terlihat cantik sekali. " Kata Bagas.


Gadis itu menggeleng. Dia tahu uang sepuluh koin perak itu adalah seluruh harta yang dimiliki Bagas. Dia tidak mungkin menghabiskannya hanya untuk sebuah gaun.


"Kalian jadi beli tidak? " Pelayan sombong itu tersenyum meremehkan.


"Aku yang akan membelinya. " Sebuah suara mengagetkan mereka.


Bagas dan Puteri Juwita berbalik bersamaan. Mereka terlihat sangat terkejut melihat siapa yang berada di sana.


"Halo, Juwita. Lama tidak berjumpa. "


*****


Raja Gaurav menghempaskan tubuhnya di samping Raja Satria yang tengah berbaring. Raja Satria mengerang kesal karena punggung Raja Gaurav menindih tangannya.


"Kau ini apa-apaan sih, Gaurav? Kenapa tidak tidur di tendamu sendiri? " Teriak Raja Satria sambil mendorong tubuh pria itu.


"Aku ingin di sini sebentar. Kau jangan pelit seperti itu. " Raja Gaurav berbicara dengan nada lemah.


"Kau ini kenapa? " Tanya Raja Satria heran.


"Aku tidak tahu harus bicara apa padamu. Yang jelas aku merasa risau. "


"Apa sih yang kau risaukan? " Raja Satria melihat wajah Raja Gaurav yang terlihat sedih.


"Devi." Ucap Raja Gaurav pelan.


"Kenapa kau merisaukan Devi? Seharusnya kau bangga padanya. "


"Jangan berpikir yang macam-macam. Devi gadis yang baik. Perubahan yang ada pada dirinya kupikir malah sangat positif. Aku saja bangga padanya. " Raja Satria menepuk pundak Raja Gaurav untuk menenangkannya.


"Sebagai ayah aku bisa merasakannya. Aku melihat kebengisan di matanya setiap kali dia membantai para Daemonie." Pandangan mata Raja Gaurav seakan melayang.


"Tapi itu sudah tugasnya sebagai Dewi Hutama." Jawab Raja Satria.


"Aku tahu. Tapi yang kumaksud adalah... ah, dulu Devi adalah gadis yang sangat lembut. Aku masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia sekarang mampu menumpahkan darah dengan begitu bengis. " Keputusasaan terlihat jelas pada raut wajah Raja Gaurav.


"Aku tidak berpikir sampai ke situ." Raja Satria menggeleng tak percaya.


"Kau pasti juga tidak bisa membayangkan Juwita tega membunuh orang bukan? " Tatapan tajam Raja Gaurav seakan menusuk jantung Raja Satria.


"Ya. Dan mendengar tuduhan itu saja sudah membuatku murka." Suara Raja Satria terdengar geram.


"Itulah. Perasaanku terluka setiap kali melihat putriku membunuh orang, meskipun mereka adalah bangsa Daemonie. " Ucap Raja Gaurav sambil memukul tinjunya ke lantai.


Tanpa mereka sadari, seorang gadis berdiri di depan tenda dengan air mata menggenang. Hatinya sakit mendengar perbincangan dua orang pria itu. Dengan langkah pelan gadis itu pergi meninggalkan tempat itu dan kembali ke tendanya sendiri.


*****


"Kenapa kau bisa berada di sini? " Puteri Juwita tersentak kaget.


"Aku kemari untuk membeli gaun norak yang kau pegang tadi. " Jawab seorang gadis bangsawan bertubuh berisi yang tiba-tiba muncul.


"Maaf, Nona. Tolong jangan menghina gaun kami. Gaun-gaun di sini sengaja didatangkan dari Kerajaan Elfian. Mereka terkenal penghasil sutra dan satin terbaik di Liga Kerajaan. " Pelayan sombong itu berusaha membela dagangannya.


"Aku sudah pernah melihat yang lebih bagus dari gaun-gaun ini. Dan itu kepunyaan gadis itu. "


Mata pelayan wanita itu terbelalak, dia merasa tersinggung dengan perkataan gadis bangsawan yang baru saja datang itu.


"Benar kan, Juwita? " Gadis bangsawan itu mengapit tangan Puteri Juwita.

__ADS_1


Puteri Juwita tersenyum pada gadis di depannya. "Tentu saja, Ningrum."


"Cepat bungkus gaun norak itu! " Perintah Ningrum tidak kalah angkuh dengan pelayan tadi.


Pelayan itu cepat-cepat membungkus gaun tadi dan menyerahkannya pada Ningrum. Ningrum melempar sepuluh koin perak ke tangan pelayan tadi dengan tatapan garang.


"Lain kali aku tidak sudi mampir ke toko ini. Kualitas gaun dan pelayannya sama saja. Norak! " Ucap Ningrum dengan suara keras, membuat beberapa pengunjung memandangi mereka sambil berbisik-bisik.


Pelayan tadi menggenggam uang di tangannya dengan wajah merah menahan malu. Beberapa pengunjung mencelanya karena sempat melihat perlakuannya yang tidak sopan tadi.


Sementara itu Ningrum menyeret tangan sahabatnya itu meninggalkan toko tadi.


"Kenapa kalian berdua bisa bersama ?" Tanya Ningrum ketika mereka bertiga duduk berhadapan di sebuah kedai.


"Kalian saling kenal? " Puteri Juwita dan Bagas bertanya bersamaan. Keduanya saling melemparkan pandangan bingung.


"Tentu saja. " Jawab Ningrum. "Juwita, kenalkan dia Bagas kakakku. Kakak, dia Juwita temanku. " Ningrum memperkenalkan mereka dengan cepat.


"Apa? " Seru keduanya, lagi-lagi bersamaan.


"Ningrum, tapi kakakmu kan sudah.. " Puteri Juwita memberi kode dengan matanya.


"Mati maksudmu? " Ningrum memandang temannya yang mengangguk dengan polosnya. "Nyatanya tidak. Dia masih hidup dan duduk di hadapanmu sekarang."


"Ningrum, kakak bisa jelaskan semuanya." Bagas tampak gugup melihat kemarahan adiknya.


"Tentu saja Kakak harus menjelaskannya. Kakak tidak tahu kan, ayah jatuh sakit mendengar berita itu? " Mata gadis itu Berkaca-kaca.


"Maaf." Ucap Bagas. Pemuda itu merasa sedih sekali melihat adiknya menangis. Tangannya terulur untuk mengusap air mata di pipi Ningrum.


"Aku sedih sekali mendengar berita kalian berdua. Aku merasa sudah kehilangan semua orang yang aku kasihi." Pundak Ningrum berguncang.


"Maaf, Ningrum. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. " Puteri Juwita memeluk pundak temannya itu. Mereka menangis bersama.


"Syukurlah aku menemukan kalian. Minggu lalu seorang pemasok obat mengatakan telah melihat Kakak di pasar ini. Oleh karena itu aku kemari. " Ningrum memandang kakaknya.


"Bagaimana keadaan ayah? " Tanya Bagas.


"Ayah semakin parah. Ayah.. ingin bertemu Kakak sebelum.. sebelum.. " Ningrum tidak sanggup meneruskan kalimatnya.


"Aku ingin pulang, tapi tidak bisa. " Kata Bagas dengan wajah merah menahan tangis. Hatinya hancur mendengar kondisi ayahnya.


"Apa yang menahanmu? " Tanya Ningrum geram.


"Kalian bisa terbunuh jika orang-orang tahu kalau aku masih hidup." Bagas berkata lirih. Wajahnya tampak ketakutan.


"Kenapa? " Tanya Ningrum curiga.


"Karena aku mengetahui rahasia mereka. " Suara Bagas pelan dan terdengar serius.


"Mereka? " Kedua gadis itu mencondongkan tubuh ke depan, menyimak perkataan Bagas.


"Seseorang di istana merencanakan kudeta. Mereka berkonspirasi dengan para Daemonie untuk mengambil alih kekuasaan. " Bisik Bagas sambil melihat-lihat sekeliling mereka dengan waspada.


"Maksudmu semua itu telah direncanakan ?" Puteri Juwita bertanya dengan geram.


"Iya. Mereka berniat membunuh Raja dan Ratu dengan bantuan bangsa Daemonie. Aku tak sengaja mendengarnya sewaktu di asrama."


"Karena itukah Kakak pura-pura meninggal?" Ningrum menatap kakaknya dengan sedih.


"Benar. Malam itu seluruh penghuni sekolah dibantai. Aku pergi bersembunyi di gudang selama berhari-hari sampai mereka pergi, namun salah seorang dari mereka melihatku. Aku terpaksa membunuhnya karena dia menyerang duluan. Dan aku memakaikannya kalungku agar semuanya mengira bahwa aku sudah mati. " Tubuh Bagas menggigil mengingat malam ketika seluruh penghuni Sekolah Elixir dibantai dengan kejam.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan? " Tanya Ningrum.


"Kita bisa minta bantuan ayahku, dia.. " Ucap Puteri Juwita, namun tiba-tiba dia teringat dengan janjinya pada Nona Sekar.


"Tapi ayahmu pasti sedang ikut berperang." Ningrum menatap Puteri Juwita.


"Benar." Puteri Juwita mengangguk.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku akan pulang dan mengabarkan pada ayah. Kalian sementara tinggal dulu di sini. Minggu depan aku akan kemari lagi. "


"Baik." Puteri Juwita dan Bagas mengangguk setuju.


__ADS_2