
Nona Sekar baru saja menemui Pangeran Awang. Pemimpin sementara Kerajaan Alsatia itu meminta Nona Sekar untuk mencari jejak Eldrige dan Puteri Juwita. Pria itu tidak ingin keberadaan mereka akan menyulitkannya suatu saat kelak.
Hal itu membuat Nona Sekar merasa harus memikirkan sekali lagi keputusannya untuk tetap tinggal di Alsatia. Dia jelas tidak akan pernah menyerahkan Eldrige pada Pangeran Awang meskipun pria ambisius itu telah menawarkannya sebuah jabatan yang cukup menggiurkan.
Tujuannya membeberkan rahasia Puteri Juwita yang menyembunyikan Daemonie adalah untuk menjauhkan gadis itu dengan Eldrige. Cintanya pada pria itu begitu dalam sehingga dia tidak akan membiarkan Eldrige mengambil langkah yang salah. Jadi sama sekali bukan karena jabatan ataupun rumah mewah yang kini ditempatinya.
Oleh karena itu dia berusaha menyembunyikan Eldrige di rumahnya. Dia ingin menyelamatkan pria itu. Dia memahami kondisi fisik Eldrige yang menurun drastis karena berangsur-angsur kehilangan kekuatan sihirnya. Jadi tidak mungkin Eldrige mampu melawan prajurit-prajurit Alsatia.
Ketika sedang memikirkan permintaan Pangeran Awang itu, Nona Sekar berpapasan dengan dua orang bocah kembar anak almarhum Raja Sagar, Lintang dan Wulan. Mereka terlihat sangat pendiam.
"Halo, anak-anak. Apa kabar kalian? " Sapanya dengan tubuh agak membungkuk ke arah kedua bocah itu.
Keduanya menatap ke arah wanita itu tanpa menjawab sehingga membuat suasana menjadi kikuk.
"Maafkan mereka, Nona. Pangeran Lintang dan Puteri Wulan belum mau bicara sejak.. " Seorang pelayan yang mendampingi kedua bocah kembar itu ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Jangan khawatir, saya mengerti. " Jawab Nona Sekar. Hatinya agak sedih melihat keadaan mereka. Dia masih ingat betapa cerianya kedua bocah itu sebelum kematian orang tua mereka.
"Itulah manusia. Kejahatan mereka membuat sesamanya menderita." Gumam Nona Sekar.
Wanita itu sudah sering melihat manusia saling menghianati untuk kepentingan mereka sendiri. Namun dia bertekad untuk tidak ikut campur dengan urusan mereka. Karena itulah saat Pangeran Awang mulai mendesaknya untuk menyerahkan Eldrige, dia mulai merasa muak.
"Kau masih di sini, Nona Sekar? " Pangeran Ryota yang kini menjabat sebagai Adipati di salah satu wilayah Kerajaan Alsatia.
"Iya. Saya baru bertemu dengan Pangeran Awang. " Jawab wanita itu.
"Tidakkah sebaiknya kita mulai memanggilnya Raja Awang mulai sekarang?" Perkataan Pangeran Ryota membuat dahi Nona Sekar berkerut.
"Tak lama lagi Pangeran Awang akan dinobatkan menjadi raja. Tapi ini masih rahasia, belum banyak yang mengetahuinya." Pemuda itu tersenyum bangga.
Nona Sekar tersenyum datar. Dia bukannya tidak tahu kalau pemuda di depannya itu menjual kesetiaannya pada Pangeran Awang untuk mendapatkan jabatannya sekarang.
"Bagaimana dengan Pangeran Lintang dan Puteri Wulan? " Tanya Nona Sekar ingin tahu nasib kedua bocah malang itu.
"Mereka masih kecil. Mereka bukan apa-apa." Jawab Pangeran Ryota dengan santai.
Nona Sekar semakin muak dengan Pangeran Ryota, namun dia tidak ingin terlibat lebih jauh. Dia cukup tahu saja. Yang terpenting kedua bocah itu tetap dibiarkan hidup dan diperbolehkan tinggal di istana.
"Kalau begitu, saya permisi dulu. " Nona Sekar segera berlalu dari hadapan Pangeran Ryota dan segera pulang ke rumahnya.
Dia duduk berpikir di kamarnya. Dia akan mencoba mencari Eldrige. Wanita itu mengira-ngira apa yang akan dilakukan Eldrige selanjutnya.
*****
Raja Satria terkejut ketika melihat Eldrige berdiri di pintu tendanya. Dengan tergesa-gesa dia menghampiri pria itu.
"Eldrige, kau kemana saja? Mana Juwita? " Tanya Raja Satria dengan tidak sabar.
Wajah Eldrige yang tampak murung membuat Raja Satria sangat cemas.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya kehilangan Puteri Juwita. "
"Apa maksudmu? Bukankah kau menyelamatkannya dari tiang gantungan? "
"Saat lari ke hutan, tidak sengaja kami jatuh ke jurang." Suara Eldrige bergetar mengingat pertemuan terakhirnya dengan Puteri Juwita.
"Lalu bagaimana nasib Juwita sekarang? " Raja Satria merasa cemas luar biasa.
"Maaf, saya tidak tahu. Saya pingsan beberapa hari dan bangun di rumah Sekar. Dia yang menyelamatkan saya. "
"Apa Sekar tidak tahu di mana Juwita?"
"Dia mengatakan hanya menemukan saya di dasar jurang. Itu memberi keyakinan pada saya bahwa Tuan Puteri masih hidup. "
Raja Satria terdiam beberapa saat sebelum kembali menatap Eldrige. "Kenapa kau bisa pingsan berhari-hari? "
"Tubuh saya melemah, Yang Mulia. Saya telah kehilangan kekuatan sihir saya. "
"Apa? Kenapa? "
"Sepertinya saya berangsur-angsur berubah menjadi makhluk fana. "
__ADS_1
"Kenapa bisa begitu? " Raja Satria merasa sangat kaget.
"Boleh saya berterus terang, Yang Mulia? "
"Katakan saja. "
"Saya jatuh cinta dengan Tuan Puteri. "
"Apa? " Kepala Raja Satria seakan dihantam gada. Dia sama sekali tidak menyangka perkataan itu akan didengarnya dari mulut Eldrige. "Eldrige, kau mengasuhnya sejak bayi. Kau menggendongnya kemana-mana seperti ayahnya! "
"Yang Mulia boleh marah pada saya. Tapi saya tidak akan menyesalinya. Selama 300 tahun hidup saya terasa hampa. Puteri Juwita memercikkan api dalam diri saya dan mencairkan hati saya yang beku. "
Perkataan Eldrige menyentuh hati Raja Satria. Eldrige adalah makhluk yang kesepian selama 300 tahun. Hidupnya hanya untuk melindungi Kerajaan Elfian dari serangan sihir.
"Eldrige, bukannya aku merendahkanmu atau menolakmu tapi.. apakah cinta putriku pantas kau tukarkan dengan keabadianmu? " Raja Satria menatap iba.
"Puteri Juwita sangat berharga bagi saya. Saya bahkan tidak keberatan untuk memberikan nyawa saya."
Meskipun sebagai seorang ayah Raja Satria merasa tidak rela ada seorang pria yang mendekati putrinya, namun dia tahu bahwa Eldrige tidak pernah main-main dengan perkataannya. Dan dia sangat menghargainya.
"Baiklah, Eldrige. Anggap saja kau tak perlu merisaukan restu dariku, namun tetap saja kau harus bisa menemukan Juwita. "
"Saya berjanji, Yang Mulia. Saya berjanji akan menemukan Puteri Juwita meskipun harus mencarinya ke ujung dunia. "
Perkataan Eldrige yang terdengar lucu di telinga Raja Satria membuat pria itu hampir tertawa. Namun dia tidak ingin menyurutkan semangat mantan peri itu.
"Bagus, Eldrige. Aku menyukai semangatmu." Raja Satria menepuk bahu Eldrige. "Apa rencanamu selanjutnya? "
"Saya kemari untuk ikut berperang bersama pasukan Elfian sebagai tanda bakti saya yang terakhir. "
"Tidak usah, Eldrige. Aku mencemaskan Juwita. Dia sendirian di luar sana. Dan jika benar rasa cintamu sebesar itu, tolong bawa kembali Juwita dalam keadaan selamat." Ucap Raja Satria.
"Baik, Yang Mulia. " Eldrige menunduk hormat.
*****
Desa Kulm adalah desa kecil dengan jumlah penduduk kurang dari seratus kepala keluarga. Mereka saling mengenal dan masih saling terikat tali kekerabatan.
Selama beberapa hari pertama kedatangan mereka, hampir setiap hari ada saja warga yang datang. Mulai dari yang hanya sekedar menyapa dan berkenalan, sampai ada beberapa yang membawakan berbagai makanan dan hasil ladang mereka. Mereka bahkan membantu mereka memasang papan nama balai pengobatan.
"Ayah, kurasa keputusan kita untuk pindah kemari sudah sangat tepat." Ningrum memandang puas rumah mereka.
"Jadi kau senang? " Tabib Bagio yang kesehatannya pulih sejak pertemuannya dengan Bagas memandangi putrinya.
"Tentu saja, Ayah. Aku senang di sini kita dikelilingi oleh orang-orang baik."
"Gawat! Ada satu keluarga yang sekarat. Mereka sedang dibawa kemari! " Tiba-tiba seorang warga datang sambil berteriak-teriak.
"Bagas, pergi bantu mereka kemari! " Tabib Bagio berkata pada Bagas, lalu menoleh pada Puteri Juwita dan Ningrum. " Kalian cepat siapkan ruangan dan peralatan! " Perintah Tabib Bagio.
"Baik! " Jawab mereka serempak.
Mereka segera melaksanakan tugas masing-masing. Bagas pergi bersama warga tadi ke tempat para pasien. Sedangkan Puteri Juwita dan Ningrum menyiapkan beberapa tempat tidur dan juga peralatan medis milik Tabib Bagio. Tidak lupa mereka merebus air dan menyiapkan beberapa selimut.
Ketika para pasien yang terdiri dari empat orang itu datang, mereka segera ditempatkan di atas ranjang-ranjang yang sudah disiapkan.
"Kalian cobalah tangani pasien masing-masing satu, kalau ada kesulitan segera panggil Ayah. " Kata Tabib Bagio yang kini mulai memeriksa seorang anak lelaki kecil yang sedang pingsan. Tubuh anak itu penuh muntahan.
"Apakah mereka baru saja menyantap sesuatu? " Tanya Tabib Bagio pada salah satu warga.
"Mereka baru saja makan siang. Tapi saya tidak tahu apa yang mereka makan. "
"Bisakah bawa kemari makanan dan minuman mereka? Saya curiga jika mereka keracunan. " Kata Tabib Bagio.
Beberapa warga segera pergi ke rumah pasien untuk mengambil makanan dan minuman mereka. Sementara itu Tabib Bagio terus bekerja. Dia memeriksa denyut nadi pasien dan tanda-tanda vital lainnya.
"Ada ruam kemerahan di beberapa bagian tubuhnya, bagaimana dengan mereka? " Tanya Tabib Bagio kepada ketiga anaknya.
"Pasien ini juga memiliki ruam di sekitar leher dan dada. Dia juga terus muntah-muntah dan suhu tubuhnya semakin naik. " Jawab Puteri Juwita yang sedang menangani pasien wanita berusia pertengahan tiga puluhan.
"Pasien ini juga muntah-muntah tetapi dia tidak demam dan juga tidak ada ruam." Seru Ningrum yang menangani seorang wanita muda.
__ADS_1
"Tubuh pria ini menggigil dan habis muntah juga. Dia tidak memiliki ruam." Bagas melaporkan hasil pemeriksaannya.
"Kompres pasien yang demam. Beri mereka minuman hangat dengan campuran jahe dan madu. "Kata Tabib Bagio sambil menekan perut anak laki-laki itu dan merasakan dengan jarinya. Mata anak itu perlahan-lahan terbuka.
Puteri Juwita segera ke dapur setelah mengompres pasiennya. Dia membuat minuman yang diperintahkan oleh Tabib Bagio. Kemudian gadis itu memberikannya pada Tabib Bagio dan Ningrum serta Bagas.
Kini mereka mulai memberi minum pasien mereka. Tak lama kemudian warga yang disuruh mengambil makanan tadi datang.
Tabib Bagio segera membawa makanan dan minuman itu ke ruangan khusus. Di sana dia mengujinya. Namun anehnya, dia sama sekali tidak menemukan racun ataupun bahan makanan yang dapat menimbulkan alergi atau keracunan makanan.
"Mereka jelas-jelas menunjukkan gejala keracunan. Meskipun begitu, hal itu tidak disebabkan oleh makanan dan minuman ini. " Tabib Bagio mulai berpikir keras untuk memecahkan masalah ini.
Kemudian dia kembali ke ruang perawatan. Pasien wanita yang ditangani Puteri Juwita tampaknya sudah agak baikan dan bisa diajak bicara. Tabib Bagio menghampirinya.
"Bisakah Ibu menceritakan kepada saya kenapa kalian bisa sampai seperti ini?" Tanya Tabib Bagio.
"Saya tidak tahu. Kami menyantap makan siang seperti biasa, saya tidak membuat hidangan yang aneh-aneh." Kata wanita itu.
"Baiklah. Anda sebaiknya kembali beristirahat." Tabib Bagio meninggalkan wanita itu dengan pikiran berkecamuk.
Puteri Juwita dan Ningrum kemudian menghidangkan sup ayam yang dibumbui rempah-rempah yang dapat menetralisir racun dan menguatkan pencernaan. Para pasien memakannya dengan lahap karena seluruh isi perut mereka telah terkuras.
"Hati-hati memakannya, sup itu masih panas." Puteri Juwita tersenyum melihat anak lelaki yang tadi ditangani Tabib Bagio menyantap sup ayamnya dengan buru-buru.
"Sini, biar aku suapi. " Gadis itu kemudian menyuapi anak itu dengan telaten.
"Apa sekarang tubuhmu sudah agak mendingan? " Tanya Puteri Juwita.
"Iya. Terima kasih. "
"Apa kau tahu kira-kira apa yang menyebabkan kalian jadi sakit seperti ini? "
Anak itu mendadak gugup dan terlihat ketakutan.
"Apa kau tidak mau mengatakannya? " Puteri Juwita mengelus kepala anak itu dengan lembut.
"Saya takut. " Ucap anak itu lirih.
Puteri Juwita merasa heran. Dia kemudian menoleh pada ketiga pasien yang lain. Ada sesuatu yang janggal. Mereka adalah satu keluarga yang terdiri dari Ayah, ibu dan seorang anak laki-laki. Lalu, siapa wanita yang satu lagi? Usia wanita itu terlalu tua untuk menjadi anak di keluarga itu.
"Apakah anda juga anggota keluarga? " Tanya Puteri Juwita pada wanita itu.
"Saya.. " Wanita muda itu tampak gugup.
"Dia bukan anggota keluarga. " Serobot sang istri.
"Lalu, kenapa dia bisa bersama kalian? "
"Itu kesalahan suami saya! " Wanita itu menunjuk suaminya. "Dia membawa wanita ****** itu ke rumah kami. "
"Rani, tolong jangan mulai keributan lagi!" Pinta suaminya.
"Kenapa? Kau merasa malu? " Rani, sang istri, mendelik ke arah suaminya. Rasa marah meluap-luap di dadanya.
"Sayang, kau lihat sendiri istrimu begitu menakutkan. Dia pasti yang telah meracuni kita. " Wanita yang rupanya adalah wanita simpanan itu mulai merajuk.
"Diana, diam! " Bentak pria beristri namun juga memiliki kekasih lagi itu. Dia merasa malu kedua wanita itu bertengkar di depan gadis cantik yang belum pernah dilihatnya.
Puteri Juwita merasa prihatin melihat Rani dan anaknya. Namun dia tidak ingin menyaksikan drama keluarga itu. Gadis itu kemudian menutup tempat tidur anak laki-laki itu dengan tirai.
"Sekarang kau tidak perlu melihat mereka." Suara gadis itu sangat merdu dan menenangkan.
Anak itu tiba-tiba menangis tanpa suara. Hanya tubuhnya saja yang terguncang-guncang dan air mata membasahi pipinya. Kemudian setelah anak itu tenang, dia menatap Puteri Juwita.
"Apa ada yang ingin kau katakan?" Tanya Puteri Juwita.
Anak itu mengangguk. " Kami memakan manisan setelah makan siang. Tapi.. saya sempat mendengar kalau.. "Air mata kembali menetes dari sudut mata anak itu.
"Kalau apa? " Desak Puteri Juwita.
Anak laki-laki itu mendekat ke telinga gadis itu dan membisikkan sesuatu. Wajah Puteri Juwita mendadak merah menahan geram.
__ADS_1